[Menuju Langsing] Berdamai dengan Makanan (03)

Published by

on


Sumber

Gue, dan mungkin ribuan orang lain yang bobotnya berada di sisi kanan layar timbangan, punya hubungan cinta tapi benci dengan makanan. Kami sangat doyan makan, tapi akibat dari kedoyanan yang teramat sangat itu membuat kami menderita. Pihak yang kami salahkan sebagai biang keladi? Tentu aja makanannya. Pihak yang menghibur kami kalau lagi kesal? Ya makanan juga. Begitu aja terus, terjebak dalam lingkaran setan tiada akhir.

Atau mungkin kalian lebih akrab dengan skenario berikut: makanan terbagi menjadi makanan jahat dan makanan baik. Kalau kita makan makanan yang “jahat” maka kita harus “dihukum” dengan melaparkan diri sesudahnya, atau dengan olah raga sebagai “penebus dosa“. Kalo yang dimakan adalah makanan “baik“, bebas mau makan seberapa banyak pun. Dijadiin cemilan juga boleh.

Sounds familiar?

Lalu gue menemukan video ini:

Mbak-mbak ini namanya Eve Lahijani. Dia seorang ahli gizi dan konsultan yang membantu kliennya mengatasi hubungan nggak sehat dengan makanan. Di blognya, Vitamineve.com kita bisa download e-book gratis tentang alasan orang makan berlebihan, dan bisa mendaftar sesi konsultasi via telepon (sesi pertama gratis, sisanya tentu bayar).

Dalam video ini, Eve sebenernya sedang membahas mindful eating, sebuah konsep yang akan gue ceritain di posting selanjutnya, tapi konsep yang menarik bagi gue adalah:

makanlah hanya makanan yang bener-bener diinginkan

Kalo gue pikir-pikir lagi, sering banget gue makan sesuatu yang sebenernya nggak terlalu gue inginkan, tapi tetep aja gue makan hanya karena makanan itu ada di sekitar gue.

Contoh kasus:

  • Lagi kerja di kantor, tau-tau ada yang beli gorengan dan semua orang nampak seru ngobrol sambil ngemil gorengan, lalu gue ikutan nyomot. Padahal nggak lagi laper, padahal rasa gorengan kan, yah… gitu doang.
  • Waktunya makan siang, makan apa pun yang tersedia di sekitar kantor walau sebenernya nggak terlalu memuaskan
  • Tiap kali nonton bioskop, pasti beli pop corn dulu. Belum tentu karena saat itu lagi ingin pop corn, tapi karena biasanya nonton bioskop sambil makan pop corn
  • Ngumpul bareng temen-temen di restoran yang makanannya nggak terlalu menggugah selera, tapi karena udah kadung ada di situ dan merasa aneh sendiri kalo nggak makan, akhirnya ikut pesen

Mbak Eve berpesan, hubungan yang sehat dengan makanan dimulai dengan memakan apa pun yang benar-benar diinginkan. Kata kuncinya adalah “benar-benar diinginkan”. Maka gue kembali ke praktik hypnolangsing dan cara makan yang pernah gue coba dulu, yaitu:

  • Mencoba makan secara sadar sepenuhnya. Makan dalam posisi duduk, konsentrasi penuh, bukan sambil ngobrol, main HP, nonton TV, atau kegiatan-kegiatan sambilan lainnya.
  • Apresiasi makanannya. Kadang makanan terlalu gampang didapat sampe kita lupa bahwa nggak semua orang bisa menikmati makanan sebaik kita. Inget juga bahwa terhidangnya makanan di hadapan kita adalah berkat kerja keras banyak orang, mulai dari petani yang nanem bahan makanannya, orang-orang yang mengantar bahan itu hinggaa bisa dijual di pasar, orang yang beli bahan itu di pasar hingga orang yang memasaknya sampe siap dimakan. Luangkan waktu untuk bersyukur atas semua kontribusi mereka.
  • Taro alat makan setelah setiap suapan.
  • Kunyah makanan sebaik-baiknya, kenali rasanya, kalo perlu coba perkirakan bumbu-bumbu apa aja yang ada di dalamnya.
  • Setelah makan, kenali sensasi apa yang ditimbulkan makanan itu di dalam badan kita. Karena intermittent fasting, proses pengenalan ini akan lebih mudah dilakukan karena kita nggak makan sesering biasanya. Dengan demikian bisa dikenali makanan mana yang nyaman di perut, dan mana yang bikin perut panas, bergas, melilit, perih, dan sebagainya.
  • Terakhir, dalam kasih nilai makanan itu, dalam skala 1 (terburuk) sampai 10 (terbaik).

Gue menilai satu per satu makanan/minuman yang biasa gue santap, dan secara mengejutkan gue menemukan banyak yang tadinya gue kira gue doyan, ternyata setelah dikonsumsi pelan-pelan malah memuakkan. Terjadi juga yang sebaliknya: ada makanan yang selama ini gue nggak terlalu doyan, ternyata setelah dimakan pelan-pelan baru terasa enaknya.

Ada satu merk kopi botolan yang tadinya kedoyanan gue banget. Sedemikian doyannya sampe temen-temen pada inget gue tiap kali lihat kopi itu saking seringnya ngelihat gue nenteng botolnya. Gue sering bilang, “rasa kopi ini bener-bener rasa otentik kopi di warung kopi tradisional”. Eh setelah gue coba minum pelan-pelan, sesruput demi sesruput, baru terasa berbagai rasa artifisial yang akhirnya malah bikin eneg. Dengan sangat menyesal, kopi itu gue kasih skor 4. Lagipula, kopi botolan itu harganya 7.000an, sementara sekarang bermunculan kedai kopi kekinian yang menyajikan kopi ‘betulan’, digiling langsung dari biji kopi dan bukan esens kimia, harganya cuma 15 ribuan. Selisih 8 ribu lebih mahal tapi kepuasannya lebih maksimal, ya mending gue beli kopi kekinian lah.

Sebaliknya, tadinya gue nggak doyan bubur ketan item. Tapi setelah gue coba makan pelan-pelan, ternyata rasanya lumayan juga, walaupun nggak sampe masuk dalam daftar makanan favorit gue. Skornya cukup 7.

Perpaduan dan reaksi makanan dalam perut juga gue nilai. Gue suka apel, dan gue suka kopi susu. Masing-masing nilainya 9 dalam skala gue. Tapi pernah gue ngopi dalam keadaan perut kosong, abis itu makan apel. Reaksinya langsung setara dengan skala 1. Don’t try this at home lah pokoknya.

Nilai makanan itu gue jadikan acuan saat memilih makanan di jam makan. Udah tau kapasitas perut mulai terbatas, maka gue harus ekstra selektif memilih makanan. Gue menetapkan, hanya makan makanan yang gue kasih skor minimal 8. Perlu dicatat, skor ini berasal dari kepuasan gue saat memakannya ya, bukan dari harganya. Jadi nggak selamanya makanan dengan skor tinggi harganya lebih mahal daripada makanan dengan skor rendah.

Contohnya, ketoprak Aji Sari seharga 17 ribu yang suka mangkal di depan BNI cabang Tebet Timur setiap jam 10 malem, skornya 8, lebih tinggi daripada sebuah pizza restoran seharga 60 ribuan yang paling mentok gue kasih skor 5. Ayam Bakar Christina deket kampus gue dulu, yang kursinya pake kursi plastik, skornya 9, lebih tinggi dari ayam goreng Pak Kolonel (8) yang restonya ber-AC.

Gue juga lebih serius menghadirkan makanan yang memang benar-benar gue inginkan. Dulu memang pilihan makan siang gue memang lebih terbatas cuma di sekitar kantor. Sekarang? Kan ada Go Food. Siomay di sekitar kantor baunya bikin mual? Ya tinggal pesen Siomay Perintis. Lagi ingin makan bakmi goreng terenak di Indonesia? Go Food dari Pondok Mirah Tebet. Soto Betawi dengan toping daging rica paling jos? Go Food Soto Dudu. You can eat anything from anywhere, udah bukan zamannya lagi bilang “habis adanya cuma ini”.

Intinya, gue mencoba membuat aktivitas makan sebagai aktivitas yang sepenuhnya sadar, bukan refleks, bukan kebiasaan, bukan rutinitas, bukan ikut-ikutan. Kalau setiap makanan yang gue makan udah melalui proses seleksi ketat dan petimbangan matang, maka nggak ada lagi rasa bersalah akibat makan makanan “jahat’. Lagipula, semua makanan yang layak makan (maksudnya: nggak beracun atau bikin alergi) itu nggak punya sifat jahat atau baik, kok. Dampak baik dan buruknya terhadap badan ditentukan oleh bagaimana cara kita memakannya.

Dan itu akan gue ceritain di posting berikutnya.

 

7 tanggapan atas “[Menuju Langsing] Berdamai dengan Makanan (03)”

  1. Cikarang8 Avatar

    nah ini bagus banget artikelnya mas bro.
    Makanlah makanan yang diinginkan adalah inti dari pengaturan berat badan kita.
    kalo saya makan buah dulu sebelum makan berat, apalagi untuk kita yang mendapatkan jatah catering.
    Bintang 8 deh buat artikelnya.

    Suka

    1. mbot Avatar

      Terima kasiiih

      Suka

  2. ndu.t.yke Avatar

    Wah ini, 5MR-nya Hypnolangsing pernah sukses di aku lho Mas pas libur mengajar. Makan cm dikit tp dalam kondisi sadar/mindful eating, akhirnya ya gampang kenyang. Badan lekas susut. Pas udah balik ngajar, makan di kantin kan ga mungkin nasi cm minta 2 sendok makan. Jadilah membesar kembali.

    Suka

    1. mbot Avatar

      Iya problem kita sama: seringkali dihadapkan pada porsi makanan di luar kekuasaan kita. Saat sinyal kenyang terasa padahal nasi tinggal 2 suap lagi kan sayang, akhirnya dimakan juga. Padahal dlm 2 suap itu mungkin terkandung sekian puluh kalori yang kalo diakumulasi secara harian bisa jadi banyak, ya.

      Suka

    2. ndu.t.yke Avatar

      Klo makan di luar kayaknya sisanya lbh dr 2 suap deh, hehehe

      Suka

  3. @nurulrahma Avatar

    Whaaaaa, ini makanan yg direkomen kok sukses bikin ngecesss 😀
    Artikelnya cihuyyy banget, Bang.
    Aku juga berada di tahap pengin bgt mindful eating

    Suka

    1. mbot Avatar

      Yuk sama-sama kita coba! Memang perlu banyak latihan untuk bisa menguasainya.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke @nurulrahma Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari (new) Mbot's HQ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca