Miracle Delivery (3/4) Ayah macam apa yang mondar-mandir di lorong?

<<sebelumnya

12.00
Orang tua Ida datang dari Bandung, diantar adiknya Ida (Novel). Lagi-lagi dilatarbelakangi sebuah peristiwa ‘kebetulan’. Weekend itu, sebenernya si Novel yang sekarang kerja di Jakarta nggak berencana pulang ke Bandung. Tapi karena mendengar ada promosi travel Cititrans “beli tiket one-way dapat tiket pp” maka Jumat malam berangkatlah dia ke Bandung. Eh… ternyata kepulangannya itu seperti disiapkan untuk mengantar kedua orangtua Ida berangkat ke Jakarta!

Yah namanya orang tua, ngeliat anaknya merintih-rintih gitu malah jadi ikutan bercucuran air mata. Merasa ditangisi, Ida jadi ikutan cengeng deh. Berantakan sudah semua upaya hiburan gue dari tadi, termasuk dongeng “kanguru dan buah nenas”.

Soal sakit menjelang melahirkan ini emang serba salah sih. Progres bukaan jalan lahir memang sakit, jadi sakit adalah baik – dalam arti prosesnya berjalan lancar. Tapi sakit kan juga nggak enak, dan nggak ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk meringankannya, maksud gue dibius, misalnya. Bius malah akan mematikan kontraksi otot yang mendorong bukaan jalan lahir.

15.00

Akhirnya proses bukaan mencapai kemajuan: bukaan 3. Nanin kirim SMS:

[gimana perasaannya menyambut kelahiran bayi, lo mondar-mandir di lorong nggak spt para ayah di film2?]

gue jawab dengan,

[oh enggak. hanya para ayah dungu yang melakukan hal seperti itu]

Dari tadi pagi gue liat pelayanan di RS ini cukup meyakinkan kok, jadi gue nggak (belum) punya alasan untuk kuatir. Detak jantung bayi diperiksa berulang-kali dan gue juga bisa denger sendiri keadaannya baik-baik aja. Dokter juga tadi udah menjelaskan bahwa proses dari bukaan 1 ke bukaan 5 memang lama, tapi dari bukaan 5 ke 10 akan cepet sekali. Sekarang udah bukaan 3, berarti ada kemajuan yang menggembirakan. Gue bahkan bisa dengan santainya meninggalkan RS sebentar, ngurus penginapan di hotel terdekat buat para mertua.

16.00

Bukaan 4. Latihan senam hamil selama ini ternyata membantu banget. Ida inget pesan instruktur senam hamilnya untuk nggak membuang banyak energi dengan berteriak-teriak. Kalaupun sakit, lebih baik mengatur nafas biar badan tetep dapet oksigen. SMS dan telepon terus bermunculan, antara lain dari Bayu dan Ade yang lagi nengok kelahiran Freya, putri Victor dan Lala. Katanya mereka mungkin akan mampir juga sepulang dari sana.

Kedua orangtua Ida memutuskan untuk mampir dulu ke hotel, mandi dan ganti baju.

bersambung>>

19 comments


  1. myshant said: mungkin karena bapak2 itu terlihat tidak melakukan sesuatupun yg bisa membantu istrinyamendingan bantuin mijitin istri atau berdoa sekalian buat kelancaran kelahiran πŸ™‚

    hahaha iya bener gitu shant, kan masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat untuk dilakukan ketimbang cuma mondar-mandir di lorong :-))


  2. myshant said: pemberial ILA tidak mempengaruhi kemampuan ibu untuk mengedan, bahkan membuat ibu lebih nyaman untuk mengedan tanpa rasa sakit

    ada resiko / efek samping apan dengan metode itu shant? kaya epidural itu kan disuntik ke susunan saraf pusat di tulang belakang – kayanya gede juga tuh resikonya kalo salah2 dosis.


  3. waks, bisa ngamuk suamiku kalo dikategorikan ‘dungu’ … he he he … kalo menurut aku sich wajar aja kalo suamiku mondar-mandir, kami pernah kehilangan baby dan yang kedua ini, istrinya mesti kesakitan 24 jam sebelum si baby lahir …belain suami ah … he he he …


  4. pinkq said: btw, kenapa dibilang ‘dungu’ Mbot ? utk para bapak2 yang bulak – balik di lorong

    mungkin karena bapak2 itu terlihat tidak melakukan sesuatupun yg bisa membantu istrinyamendingan bantuin mijitin istri atau berdoa sekalian buat kelancaran kelahiran πŸ™‚


  5. kalau suamiku dulu waktu aku melahirkan anak pertama dan kedua bawaaannya sholat aja habisnya dia kaga tahan melihat istrinya lagi kesakitan……dia bilang mendingan sholat berdoa pada yang Maha Kuasa biar lancar aku lahirannya …..Alhamdulillah siy lancar……..


  6. eh, tapi hari gini ada teknologi yg namanya ILA (Intratechal Labor Analgesia) yaitu teknik untuk menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri pada masa persalinan lhobeda sama epidural, pemberial ILA tidak mempengaruhi kemampuan ibu untuk mengedan, bahkan membuat ibu lebih nyaman untuk mengedan tanpa rasa sakit*ini yg aku baca dari website RSIA Hermina*th. 2000 lalu, waktu ngelahirin di RSIA Harapan Kita, gak ditawarin apa-apa siy, jadinya ya pasrah aja menikmati kontraksi.tapi ntar kehamilan kedua ini, kalau jadi ngelahirin di Hermina, dan sakitnya melebihi yg pertama dulu, mau minta ILA ah …:)


  7. mbot said: Tapi sakit kan juga nggak enak, dan nggak ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk meringankannya, maksud gue dibius, misalnya. Bius malah akan mematikan kontraksi otot yang mendorong bukaan jalan lahir.

    Setuju banget, dan sebagai perempuan setelah semua proses selesai (anak sudah lahir) rasanya justru kangen pengen mengulang rasa sakit itu. Halah…


  8. mbot said: [oh enggak. hanya para ayah dungu yang melakukan hal seperti itu]

    Kebetulan Bryan lahir di YPK juga. Membaca journal mu seakan membawa kembali masa masa kelahiran Bryan, yang garis besar cerita hampir sama, hanya statement mu ini bikin aku tergelitik untuk memanggil papanya Bryan untuk ikutan baca. Karena aku ingat betul ini yang dia lakukan waktu menunggu kelahiran Bryan, setiap kali dia masuk di ruangan bersalin, wajahnya pucat dan mulai keringat dingin. Aku bilang berdoa dong biar tenang, akhirnya dia bisa melihat proses sampai anaknya keluar ke dunia.*Dia baca ini statement pake senyum kecil, nanya lagi memang aku dulu kaya orang dungu ya? aku bilang memang*