job value: solusi keadilan untuk tukang kebunnya tukang ikan

“Kantor sialan, gue udah kerja 5 tahun, nggak pernah naik pangkat. Sedangkan si Bedul, baru 2 tahun jadi staff, tau-tau sekarang udah manager aja. Pasti ini ada permainan!”

Pernah denger curhat kaya gitu? Atau elu sendiri yang pernah ngomel begitu? Kalo iya, kemungkinan elu sedang berhadapan dengan hasil utak-atik sistem yang namanya “job value”.



Apa itu job value?

Kalo diterjemahkan secara ‘plek’, job value ya artinya ‘nilai / bobot pekerjaan’. Job value adalah besaran angka yang menggambarkan nilai suatu jabatan / pekerjaan. Makin besar angkanya, maka makin “berat” pekerjaannya – dan biasanya gajinya juga makin gede.

Kenapa perusahaan merasa perlu menghitung job value?

Terus terang gue juga nggak punya data sejak kapan ada perusahaan menerapkan job value dan mengapa, tapi sebagai ilustrasi kasus berikut mungkin bisa menjadi gambaran:

Pak Somad adalah seorang nelayan. Dia bekerja sendirian, menangkap ikan dengan jaring milik sendiri, naik perahunya sendiri. Setiap hari, rata-rata dia bisa menangkap 50 ikan, yang per ekornya laku dijual seharga Rp 1.000.

Karena rajin menabung, Pak Somad akhirnya punya cukup uang untuk beli satu set jaring baru dan sebuah kapal baru. Tapi berhubung dia nggak mungkin melaut sendirian naik 2 kapal, maka dia lantas mengontak si Sanip, pemuda tetangganya yang masih nganggur dan tiap hari cuma nongkrong main gaple di pos ronda.

Pak Somad bilang sama Sanip, “Nip, lu mau nggak jalanin kapal gue, nangkap ikan? Nanti lu gue bayar Rp. 300 per ikan yang lu tangkep. Mau?”
“Boleh dah Bang,” jawab Sanip.

Maka keesokan harinya, Pak Somad dan Sanip sama-sama melaut, dan sesudahnya hitung-hitungan hasil tangkapan. Sanip dapat Rp 300 per ikan. Tapi berhubung sekarang ikannya jadi dua kali lebih banyak, Pak Somad mulai kerepotan untuk mengangkut dan menjualnya di pasar. Maka dia pun mengontak si Jujum, teman main gaplenya si Sanip.

Pak Somad bilang sama Jujum, “Jum, lu mau gak bantuin jual ikan gue di pasar? Nanti dari setiap ikan yang laku terjual, lu gue bayar Rp 200. Mau?”
“Delapan enam, boss,” kata si Jujum.

Demikianlah bisnis Pak Somad terus berkembang. Dia dan Sanip menangkap ikan, ikannya dijual di pasar oleh Jujum. Uangnya semakin banyak, sehingga Pak Somad membeli lagi kapal-kapal baru dan merekrut lebih banyak lagi tenaga ‘sales’ untuk mengangkut dan menjual ikan di pasar.

Karena tergiur melihat kesuksesan Pak Somad, maka tetangganya yang lain ikut-ikutan jadi nelayan dan sialnya buka kios ikan persis di sebelah kios Pak Somad.

Pada suatu sore, sambil menyetorkan beberapa lembar duit lima ribuan lecek, Jujum yang saat itu sudah naik pangkat menjadi ‘Sales Supervisor’ lapor dengan nada lesu pada Pak Somad, “Boss, sori nih boss, hasil penjualan hari ini cuma 20 ribu. Pelanggan pada lari ke kios ikan sebelah, punya Pak Gofur.”
“Apa?! Sialan si Gofur! Kenapa sih kok pelanggan bisa lari ke kios dia?”
“Soalnya dia punya tukang teriak boss. Tiap hari tuh orang nongkrong di depan kios Pak Gofur, terus teriak deh, ‘ikannya ikaaan, masih baru masih seger!’. Ya kontan aja para pembeli pada demen belok ke sono, boss….”
“Ya udah kalo gitu. Gue juga bisa bayar tukang teriak doang,” jawab Pak Somad emosi.

Dia lantas menghubungi Suep, bintang rock langganan panggung tujubelasan, untuk bertugas sebagai ‘Marketing and Promotion Executive’ alias tukang teriak nawarin ikan. Suep bersedia dengan bayaran Rp. 4.000 per hari.

Belajar dari pengalaman, Pak Somad nggak mau lagi kalah set lagi dari kompetitor. Dia mengambil langkah lebih maju dengan meng-hire Ceu Neneng sebagai ‘Guest Relationship Officer’ yang tugasnya menyambut tamu dan membantu memilihkan ikan. Gajinya Rp. 2.500 per hari. Selain itu Pak Somad juga memenuhi usulan Sanip, yang sekarang sudah menjabat sebagai ‘Production Supervisor’ untuk meng-hire Jambrong sebagai ‘Safety and Equipment Officer’. Tugasnya menjahit jaring robek dan menambal kapal bocor, dengan bayaran Rp. 3.500 per hari.

Usaha Pak Somad terus maju, hingga pada akhirnya dia bersedia menyisihkan sebagian dana untuk mengadakan acara ‘Employee Gathering and Outbond’ di Ciater. Sesudah acara bersenang-senang seharian, para pegawai duduk-duduk sambil makan jagung bakar di sekeliling api unggun dan ngobrol ngalor ngidul.

Awalnya cuma pada ngobrol santai, sampai akhirnya Suep nyeletuk kepada Ceu Neneng, “Ceu, elu enak bener jadi orang ye. Kerjanya Cuma cengar-cengir doang sama tamu, dapet bayaran.”
Denger komentar seperti itu, Ceu Neneng panas. “Eh, jangan sembarangan lu ngomong ye. Lu kira kerjaan gue gampang? Gue kerja pake otak, tau, biar bisa ngebujukin pelanggan beli ikan. Lah timbang elu, cuma modal teriak doang dapet duit. Duitnya lebih gede, lagi! Padahal kan orang mau beli ikan gara-gara bujukan gue, bukan karena dengerin teriakan lo yang sember banget itu!”
“Pada berisik lu semua,” Jambrong menimpali. “Kalo bukan karena gue, tuh kapal kagak ada yang turun ke laut. Kapal nggak ke laut, kagak ada ikan yang dijual, pada pengangguran lu semuanya! Harusnya gue tuh yang bayarannya paling gede!”
“Ngomong lu sama ember!”
“Lah sama aja kan. Muke lu dah mirip ember. Amis, lagi… bekas naro ikan!”
“Ngaca lo, muka lo ruwet kaya jaring!”

Acara gathering berantakan, dan Pak Somad pusing. Masalahnya, tidak semua pekerjaan bisa dihitung-hitung nilainya secara mudah. Kalo tugasnya nangkap ikan seperti Sanip, maka hitungannya gampang: Rp. 300 per ikan, kalau nangkap 10 ya dapatnya Rp. 3.000, kalau nangkapnya 100 ya gajinya Rp. 30.000 dan seterusnya. Jelas.

Tapi untuk menentukan mengapa tukang teriak dibayar Rp. 4.000 dan tukang sambut tamu Rp. 2.500 sedangkan tukang reparasi kapal Rp. 3.500, perlu perhitungan yang sedikit lebih ruwet. Di sinilah diperlukan perhitungan job value, yang menjadi nilai standar untuk membandingkan bobot pekerjaan dari bidang yang berbeda-beda.

Bagaimana menghitung job value?

Ada macem-macem metode untuk menghitung job value, tapi biasanya dihitung berdasarkan:

1. tingkat kesulitan
diukur dengan: seberapa tinggi pendidikan yang harus ditempuh seseorang untuk melakukan pekerjaan itu, apakah memerlukan training / sertifikasi khusus, atau berapa lama pengalaman kerja yang harus dilalui

2. pengaruh finansial
diukur dengan: seberapa besar peran pekerjaan untuk meningkatkan pendapatan perusahaan, atau sebaliknya, untuk menekan pengeluaran perusahaan dan membuat proses kerja menjadi lebih efisien

3. ketersediaan di pasaran
diukur dengan: seberapa banyak tenaga dengan kualifikasi yang cocok tersedia di pasar tenaga kerja, dan seberapa banyak permintaan terhadap kualifikasi sejenis dari kompetitor.

Ketiga faktor tersebut, plus faktor-faktor lain yang dianggap relevan, kemudian dibobotkan menjadi angka, lantas diutak-atik dalam sebuah perhitungan tertentu dan keluarannya adalah sebuah nilai job value. Jadi sebuah perusahaan yang sudah menghitung job value untuk setiap jabatannya bisa bilang: Finance Manager = 50, HR Manager = 43, Sales Manager = 60, dst.

Dengan angka-an
gka baku tersebut maka perusahaan dengan mudah menentukan bahwa gajinya Sales Manager yang job valuenya 60 tadi otomatis lebih besar dari gajinya Finance Manager yang job valuenya 50. Lebih jauh lagi, job value juga membantu perusahaan menentukan susunan jenjang karir dalam perusahaan, dan menghitung biaya tenaga kerja secara lebih akurat.

Kembali ke celetukan orang yang mengawali artikel ini, kemungkinan orang yang nyeletuk itu belum menyadari perbedaan job value dirinya dengan si Bedul. Dalam sebuah perusahaan yang udah menerapkan job value, maka pendapatan seorang pegawai ditentukan oleh seberapa besar job value yang bisa diembannya. Kalau si Bedul menunjukkan bahwa dirinya mampu menangani tugas yang job valuenya lebih besar, maka dalam waktu singkat dia akan dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi dan mendapat gaji lebih besar. Sebaliknya, bila seorang pegawai dari hari ke hari cuma mengerjakan hal yang sama terus, nggak punya inisiatif untuk menambah kualitas hasil kerja atau mengajukan diri menerima tantangan tugas yang lebih berat, ya bertahun-tahun dia nggak akan merasakan naik pangkat.

Kalau semua orang di perusahaan menyadari job valuenya masing-masing, maka nggak perlu terjadi saling iri dan dengki seperti di perusahaan Pak Somad. Yang ada malah semangat persaingan yang sehat untuk meningkatkan job value masing-masing, sekalipun jabatan yang diembannya ‘cuma’ tukang kebunnya tukang ikan.

gambar: gettyimages.com

62 comments


  1. srisariningdiyah said: terima kasih teman2…we’re together forever!*nungguin eriq pulang nyiapin kerangkeng & borgol*

    pantessaaannn…… tiap gw ikutan acara MPers… disitu ada teh ari dan eyiq….*turut bahagia untuk kaliaaan*terharu iiih


  2. mbot said: eh setelah ari jadian sama eriq, wib menyesal dan sekarang malah gantian mengganggu hubungan ari dan eriq.

    iya… terusannya gwe melarikan diri, pindah ke Medan..n kayaknya bakalan stay di Medan, daripada melihat kemesraan Eriq dan Ari yang bikin hancur hati berkeping-keping..Tapi untungnya ga sampe bunuh diri kayak rencana kang Deny Baonk kalo review paksanya di tolak.*tumben banget gwe reply sampe 3 gini.. lagi kerajinan keknya*


  3. mbot said: wuahahahaha…. nanyanya di reply journal gini…. hihihihi…. jawabannya biar oleh yang bersangkutan aja dah, takut salah jawab πŸ™‚

    wah… jangan2 tuh cewek di tembak eriq…tapi dia takut ari ama eriq udah nikah :)))


  4. mbot said: Artinya, gaji seseorang ditentukan oleh seberapa tinggi kemampuannya, atau dalam konteks job value seberapa besar bobot job value yang sanggup diembannya. Kadang dalam iklan lowongan tercantum syarat minimal pengalaman kerja untuk menduduki posisi tertentu, tapi itu sebenernya hanya sebatas panduan kasar aja. Ujung-ujungnya saat proses seleksi yang dikejar adalah seberapa tinggi kemampuan si kandidat.

    Ikut nimbrung dikit buat ailtje; Di banyak perusahaan sendiri biasanya jenjang karir itu ada dua: managerial, atau professional (staf ahli), dan dua kandidat dengan pengalaman sama di bidang sama, dalam jumlah tahun sama, bisa jadi punya dua jalur karir yang sangat berbeda.


  5. ailtje said: Nah Mas Agung, kalau standard gaji ngitungnya gimana yah, misalnya: org yang punya pengalaman 5 tahun pantas ga digaji 10 juta, sementara yang pengalaman 2 tahun minta gaji 7 juta, begitchu….gimana Mas? Aku biasanya pakai ancer2 dari Kelly itu, tapi kurang mantap dan kurang details. Piye mas?

    Untuk penentuan gaji sebenernya setiap perusahaan bisa punya caranya sendiri, tapi belakangan ini faktor masa kerja sebenernya makin kurang populer sebagai faktor penentu gaji, digantikan dengan faktor kompetensi. Artinya, gaji seseorang ditentukan oleh seberapa tinggi kemampuannya, atau dalam konteks job value seberapa besar bobot job value yang sanggup diembannya. Kadang dalam iklan lowongan tercantum syarat minimal pengalaman kerja untuk menduduki posisi tertentu, tapi itu sebenernya hanya sebatas panduan kasar aja. Ujung-ujungnya saat proses seleksi yang dikejar adalah seberapa tinggi kemampuan si kandidat. Ambil contoh misalnya ada lowongan untuk posisi tukang gado-gado. Skill yang dibutuhkan untuk menduduki posisi tersebut adalah:- mampu merebus sayuran- mampu mengulek bumbu kacang- mampu memindahkan gado-gado dari ulekan ke piring tanpa tumpahberdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa rata-rata tiga skill tersebut dapat dikuasai seseorang setelah belajar bikin gado-gado selama 3 tahun. maka dipasanglah iklan;”dicari, tukang gado-gado berpengalaman 3 tahun”aneka lamaran masuk, setelah disortir tersisa 2 orang kandidat. kandidat pertama pernah magang 4 tahun pada seorang tukang gado-gado dengan posisi sebagai junior assistant tukang gado-gado. Setelah melalui proses wawancara mendalam, akhirnya diketahui bahwa selama 4 tahun itu, tugasnya hanya merebus sayuran doang. Sedangkan proses mengulek dan memindahkan ke piring dikerjakan sendiri oleh bossnya, yaitu sang tukang gado-gado. kandidat kedua juga pernah magang pada seorang tukang gado-gado, namun masa kerjanya hanya 2.5 tahun. Tapi berbeda dengan kandidat pertama, kandidat ke dua ini diserahi tugas untuk memproses gado-gado mulai dari merebus sayuran, mengulek, dan memindahkannya ke piring. kalo yang lowong hanya 1 posisi, maka otomatis kandidat ke 2 yang akan diterima, sekalipun masa kerjanya di bawah yang dipersyaratkan. kalopun dua2nya diterima, maka kandidat ke 2 akan menerima gaji lebih besar daripada kandidat pertama. kalo analoginya ditarik ke dunia pekerjaan kantoran, maka apakah seseorang dengan pengalaman 5 tahun pantas atau enggak digaji 10 juta ya balik-baliknya pada seberapa besar job value jabatan tersebut. Terkadang ada 2 jabatan yang ‘mensyaratkan’ pengalaman 5 tahun, tapi bobot job valuenya terpaut cukup jauh karena dalam penghitungan job value sendiri ada perhitungan berbagai faktor di luar masa kerja. kurang lebihnya gitulah


  6. Nah Mas Agung, kalau standard gaji ngitungnya gimana yah, misalnya: org yang punya pengalaman 5 tahun pantas ga digaji 10 juta, sementara yang pengalaman 2 tahun minta gaji 7 juta, begitchu….gimana Mas? Aku biasanya pakai ancer2 dari Kelly itu, tapi kurang mantap dan kurang details. Piye mas?


  7. srisariningdiyah said: we’re together forever!*nungguin eriq pulang nyiapin kerangkeng & borgol*

    mbak ari… tau, gaaaa…menhir ini kapan itu minta dicariin penggantimu, looohhh….makanya dia kabur ke LA… hahaha….


  8. dasar m’Agung gilaaaa!Bener-bener postingan yang enggak keren.Garing. Basi. Apa-apaan ini?!!*sengaja komen yang sangat bertolak belakang dengan apa yang ada di kepala! Biar diperhatiin … :pOu, dan ini sambil masih nyengir baca obrolan soal hubungan mesra Eriq dan m’Ari. Dooooooh kalian itu, yaaa!


  9. myshant said: hubungannya dengan Eriq lebih serius daripada hubungan dengan om Wib ? katanya cinta, gak bakalan selingkuh Ri ? :-D*makin bikin ruwet*

    jadi gini lho kronologisnya. awalnya kan spt kita tau sendiri, wib orangnya sangat ramah dan simpatik kepada semua orang. nah, rupanya sikapnya disalahartikan oleh ari, sehingga akhirnya ari naksir berat sama wib. wib sempet kaget juga, krn nggak nyangka akan diuber2 oleh ari. akhirnya wib minta tolong sama eriq untuk berperan sebagai ‘decoy’ atau pengalih perhatian. eriq yang pada dasarnya senang pada figur yang lebih mapan, langsung menyanggupi. awalnya eriq dicuekin oleh ari, tapi lama-kelamaan berkat pendekatan yang disiplin dan konsisten oleh eriq, akhirnya ari luluh juga. eh setelah ari jadian sama eriq, wib menyesal dan sekarang malah gantian mengganggu hubungan ari dan eriq. makanya sekarang eriq sama wib kan udah nggak pernah lagi jalan bareng seperti dulu. *tambah ancur.


  10. ha…ha…ha.tadinya mau komen ttg betapa simplenya contoh mbot untuk mendefinisikan job value. tp malahan kepengenan komen ttg reply yang dibawah…takut salah orang jadi ga usah komen aja deh. *loh?*


  11. srisariningdiyah said: soalnya kan dari dulu aku yang ada hubungannya sama eriq

    hubungannya dengan Eriq lebih serius daripada hubungan dengan om Wib ? katanya cinta, gak bakalan selingkuh Ri ? :-D*makin bikin ruwet*


  12. moniquemeylie said: Mas agung, mas agung..agak nyimpang nih nanyanya…dari dulu sering mampir kesini, penasaran aja gitu…kalo mas erik sama mba ari itu pacaran apa malah udah suami istri ? atau ga ada hubungan apa-apa ?

    huahahaha…. erik mana dulu nih? perasaan banyak bener orang di bumi yang namanya erik… :p


  13. sithaetfred said: Job analysis, job value, job grading, yg dr dulu suka bikin gw pusing *mending di-outsourced aje pake konsultan*Btw, bener lho, coba jd dosen deh Gung. Penjelasan Elo lbh mudah ditangkep.

    hehehe…. amiiiin, mudah2an beneran ada yang nawarin jadi dosen ya. dosen honorer jg gpp deh


  14. srisariningdiyah said: ehm…ini maksudnya ari siapa nih mbak melly…apa perlu aku samperin yang namanya “ari” itu mbak melly?soalnya kan dari dulu aku yang ada hubungannya sama eriq…*jeles berat mode on*

    jangan2 yang dimaksud si ari yang ini*mumpung orangnya lagi di papua, nggak bisa protes


  15. moniquemeylie said: kalo mas erik sama mba ari itu pacaran apa malah udah suami istri ? atau ga ada hubungan apa-apa ?

    ehm…ini maksudnya ari siapa nih mbak melly…apa perlu aku samperin yang namanya “ari” itu mbak melly?soalnya kan dari dulu aku yang ada hubungannya sama eriq…*jeles berat mode on*


  16. dbaonkagain said: eh, sory yang di atas itu kepotong.error ni hape. jadi males ngetik ulang.padaha ada terusannya. gw wanti2 juga di pm itu kalo yang ini ga maksa minta direview. jangan terlalu serius.jangan kayak kevinbacon itu. pan jadi ga enak kita. kesannya kayak ngerjain banget gitu. padahal kan memang.

    oh tenang aja. kalopun gue review pasti dengan judul ‘REVIEW PAKSA’


  17. eh, sory yang di atas itu kepotong.error ni hape. jadi males ngetik ulang.padaha ada terusannya. gw wanti2 juga di pm itu kalo yang ini ga maksa minta direview. jangan terlalu serius.jangan kayak kevinbacon itu. pan jadi ga enak kita. kesannya kayak ngerjain banget gitu. padahal kan memang.


  18. dbaonkagain said: beneran tau.dari contohnya ada 2 sistem penggajian. basis komisi yang besarnya tergantung pendapatan, dan basis fix rate salary.itu dalam itungan job valuenya gue ngerti gimana kalo harus jadi pak somad nentuin besaran nilai gaji yang pas sesudah job value pegawenya ketahuan.belum lagi ngebayangin gimana dalam praktek nyusun metode analisis dengan 3 variabel itu yang kalo dijabarin bisa jadi puluhan komponen yang saling terkait mempengaruhi satu sama lain.baru mau mikir aja udah mumet gua.

    ya ya. gue kelewat belum menjelaskan perbedaan itu, tapi sekarang dah gue tambahin di artikelnya. job value memang lebih terasa pentingnya untuk melakukan komparasi terhadap pekerjaan-pekerjaan yang keluarannya nggak ‘kasat mata’. contoh pekerjaan yang berbasis komisi seperti si sanip tukang nangkep ikan dan si jujum tukang jual ikan adalah contoh pekerjaan yang ‘kasat mata’ – jelas hasilnya berapa dan gajinya ya tinggal hasil kali-kalian antara hasil kerjanya dengan nilai unitnya. tapi di luar itu ada banyak pekerjaan yang outputnya nggak mudah diukur, contohnya ya seperti marketing, gro, atau hrd dan bagian keuangan. untuk standarisasi imbalan, maka dihitunglah job value yang mampu menjembatani perbedaan antara pekerjaan tersebut. kalo pertanyaan selanjutnya adalah ‘gimana ngitungnya’, gue sendiri juga belum pernah secara langsung menghitung job value dari awal sampe akhir, tapi kurang lebih prosesnya sbg berikut: faktor tingkat kesulitanpemegang jabatannya minimal berpendidikan…SMA = 5 poinD1=15 poinD3=20 poinS1=35 poinS2=50 poinpengalaman kerjanya minimal…baru lulus=5 poin1-3 tahun=10 poin3-5 tahun=15 poin5-10 tahun=25 poindan seterusnya. Jadi kalau ada sebuah jabatan yang mensyaratkan pemegangnya berpendidikan S1 dan punya 4 tahun pengalaman kerja, maka job valuenya berdasarkan faktor pendidikan dan pengalaman kerja doang = 35 + 15 = 50 poin. Kalau mau memasukkan faktor-faktor lainnya ya tinggal ditambahkan aja dalam perhitungan (walaupun rumusnya ya nggak selamanya menggunakan tambah-tambahan, tergantung pendekatan yang digunakan) Itu contoh sederhananya aja lho. Kalo mau diulik sampai ke dasarnya lagi, ada lagi hitungan untuk menentukan mengapa pendidikan SMA nilainya 5 poin dan D1 = 15 poin.


  19. eh, liat pm ya.yang tanya alamat itu.disitu gw ngabarinkalo engga kemis, jumat ada kiriman buku.itu proyek sosial. ada di jurnal gue.sekalian di pm itu gue juga menyelipkan harapan. sapa tau direview.kan pak agung banyak fans


  20. beneran tau.dari contohnya ada 2 sistem penggajian. basis komisi yang besarnya tergantung pendapatan, dan basis fix rate salary.itu dalam itungan job valuenya gue ngerti gimana kalo harus jadi pak somad nentuin besaran nilai gaji yang pas sesudah job value pegawenya ketahuan.belum lagi ngebayangin gimana dalam praktek nyusun metode analisis dengan 3 variabel itu yang kalo dijabarin bisa jadi puluhan komponen yang saling terkait mempengaruhi satu sama lain.baru mau mikir aja udah mumet gua.


  21. laik dis!!!saya dari dulu gak pernah ngeklik sama mata kuliah PIO, tapi klo dosennya nerangin kayak gini boleh juga, saya akan rela skip waktu tidur saya pada kuliah PIO, hehehehe..gak mau coba jadi dosen pak?


  22. moniquemeylie said: Mas agung, mas agung..agak nyimpang nih nanyanya…dari dulu sering mampir kesini, penasaran aja gitu…kalo mas erik sama mba ari itu pacaran apa malah udah suami istri ? atau ga ada hubungan apa-apa ?

    wuahahahaha…. nanyanya di reply journal gini…. hihihihi…. jawabannya biar oleh yang bersangkutan aja dah, takut salah jawab πŸ™‚


  23. moniquemeylie said: Ini apaan sih maksudnya mas Agung ?

    hehe. itu istilah yang bisa dipake di dunia kepolisian, kalo lagi saling berkomunikasi lewat HT – artinya ‘OK’ atau ‘dimengerti’. daftar lengkapnya bisa dilihat di sini


  24. dbaonkagain said: gue terharu ngeliat elu udah berusaha keras menggampangkan kerumitannya dengan contoh kasus pak somad dan kawan kawannya.lebih terharu lagi gua tetep ga ngarti.jangan suka bikin orang sedih napa pak.bunuh diri tanggung dosa lu.

    gue juga terharu ngeliat orang kaya elu yang segitu merendahnya sampe ngaku2 nggak ngerti sama soal ginian doang.


  25. gue terharu ngeliat elu udah berusaha keras menggampangkan kerumitannya dengan contoh kasus pak somad dan kawan kawannya.lebih terharu lagi gua tetep ga ngarti.jangan suka bikin orang sedih napa pak.bunuh diri tanggung dosa lu.