rafi dan mi tengah malam

Gue punya kebiasaan, kalo lagi begadang di tengah malem suka tiba-tiba merasa kelaperan setengah mati. Rupanya, kebiasaan ini menurun ke Rafi. Sekitar setengah jam yang lalu (sekitar jam 1/2 12 malam), tiba-tiba dia ngomong, “Bapak, Rafi kelaparan…”

Dengan niat nggak ingin menularkan kebiasaan buruk pada generasi penerus bangsa, gue jawab, “Rafi tidak mungkin lapar. Rafi kan tadi sudah makan.”

“Tapi Rafi lapar sekali Bapak…”

“Enggak. Udah sana nonton TV.”

Untuk sesaat dia anteng, tapi nggak lama kemudian kumat. “Bapak… Rafi lapar sekali bapak… tolong bikinin mi, Bapak…” Nadanya memelas seperti orang abis nyasar 3 hari 3 malam di gurun pasir tanpa makan dan minum.

“Bapak nggak punya mi. Udah sana nonton TV.”

“Punya. Bapak liat dulu di lemari.”

Nggak terima mendapatkan mosi tidak percaya, gue buka lemari penyimpanan mi. “Tuh liat, minya abis, belum beli. Udah sana nonton TV. Orang tadi udah makan kok bisa kelaparan kaya gini sih.”

Sesaat dia mau anteng, tapi upaya persuasi rupanya belum berakhir.

“Bapak, tolongin Rafi bapak… Rafi lapar sekali…”

Ini harus ada solusinya. Kalo enggak, gue nggak akan bisa facebookan dengan damai. Tiba-tiba gue inget, Ida punya spaghetti di kulkas. Tinggal dikasih meatball sauce dari atas kompor, beres. Gue ajak bocah gembul ini ke kulkas.

“Nih liat… bapak punyanya mi kaya gini, mau?”

Dia nampak ragu-ragu sejenak. “Mau deh.”

Spaghetti dingin dari kulkas, gue tuangi meatball sauce setengah dingin dari panci, maka terhidanglah sepiring kecil “mi”. Untunglah dia mewarisi kesaktian lain dari gue, yaitu sanggup makan makanan dingin baru keluar dari kulkas πŸ™‚

“Sini, makan mi disuapin bapak ya…”

Kami duduk di depan TV baik-baik, makan “mi”. Dia makan sesuap demi sesuap, nampak agak sedikit heran karena dikasih mi sedingin es batu, tapi rupanya berprinsip tak ada rotan APAPUN jadi.

“Enak nggak minya?” tanya gue.

“Enak, bapak…”

“Nih makan mi pake baksonya. Jamurnya mau nggak?”

“Nggak mau. Baksonya aja.”

Kira-kira udah tinggal dua suap lagi di piring, tiba-tiba Rafi ngomong, “Bapak…”

“Apa?”

“Ini mi, ya?”

“Iya.”

“Ooo… BUKAN SPAGHETTI ya?”

:: Pesan moralnya, jangan under estimate anak… biarpun umurnya baru tiga, rupanya dia tau bedanya mi dengan spaghetti… πŸ™‚

42 comments


  1. Hehehe, hati2 Gung anak kecil itu peniru ulung, mungkin kita gak sadar kalau setiap hari dia melihat kita. Kadang-kadang gue sendiri terkagum-kagum, anak gue yg baru belajar ngomong bisa bilang WOW, gara-gara iklan kopi yg gue sendiri baru lihat hari ini.


  2. mbot said: Ibarat pemain musik, perhatiin deh; kebanyakan yang punya latar belakang belajar musik klasik secara baik dan benar punya kemampuan lebih baik daripada yang sekedar coba-coba iseng. πŸ™‚

    Iya juga ya… dasar yang baku itu penting. Pantesan dulu di kuliah desain kami diajarinnya lebih ke Modern style, Bauhauss, German oriented, karena strukturnya kuat, “klasik”, jadi bisa mudah diaplikasikan kemana-mana.


  3. mbot said: Kalopun nanti sesudah besar Rafi memilih untuk berbahasa secara lebih ‘kasual’ ya itu terserah dia, tapi minimal dia udah tau struktur bahasa indonesia yang baik dan benar.

    Pendidikan pertama berawal di rumah, betul itu


  4. hadiiiiir…hihihihihi.. semua bertanya-tanya.. ini emaknya rafi kemana semalam?ya tiduuuuuur laah.. kikikikikikrafi dan agung punya jam tidur yg sama, rata2 jam 1 pagi!!!nah, emaknya ya mana sanggup suruh melek sampe jam 1 pagi tiap harinya, jadi, jam 11-an emaknya udah tidur, bapak dan anak asyik bercengkrama dengan hobi bergadang mereka..Itu adalah father-and-son-time mereka..biasanya bapaknya ntar ngedongeng, atau nonton tipi bareng, atau bapaknya main game fesbuk anaknya asyik nonton playhouse.Semua happy.. hihihihiemak gak kurang tidur, bapak-anak bisa bercengkrama plus menyalurkan hobi ngalong mereka..demikianlah penjelasannya.. kikikik


  5. buat vina dan bayu: Iya, beneran. Karena gue prihatin ngeliat temen2 gue yang sampe udah setua-tua ini masih kebingungan menentukan mana kata benda dan mana kata kerja, mana subyek, predikat dan obyek dari satu kalilmat, karena sejak kecilnya nggak terbiasa dengan bahasa yang baik dan benar. Dari segi kosa kata, kita juga sangat terbatas pengetahuannya atas bahasa kita sendiri. Beberapa waktu yang lalu gue mau membuat slogan menggunakan kata ‘bernas’, dan semua orang di kantor yang gue tanyai tentang slogan itu kebingungan mengartikan kata ‘bernas’. Masih mending kalo cuma nggak tau artinya tapi minimal pernah denger; lha ini banyak yang mengaku sama sekali belum pernah denger kata ‘bernas’. Kalopun nanti sesudah besar Rafi memilih untuk berbahasa secara lebih ‘kasual’ ya itu terserah dia, tapi minimal dia udah tau struktur bahasa indonesia yang baik dan benar. Ibarat pemain musik, perhatiin deh; kebanyakan yang punya latar belakang belajar musik klasik secara baik dan benar punya kemampuan lebih baik daripada yang sekedar coba-coba iseng. πŸ™‚