minggu pagi di victoria park

Sebelumnya sori banget nih, karena gue nggak bisa memenuhi target gue memposting review film ini pada tanggal 8 malem. Soalnya pemutaran filmnya yang di jadwal tertulis jam 19.00 ternyata baru mulai jam 21.00-an (kalo nggak salah). Jadi sampe rumah gue dihadapkan pada dilema: posting review vs tidur karena mau ngantor. Gue akhirnya memilih yang ke dua.

Sedikit cerita tentang Gala Premierenya:
seperti yang gue tulis di jurnal yang ini, gue beruntung bisa dapet tiket premiere hanya karena produsernya, Dewi Umaya, adalah temen SMA gue. Kalo diliat-liat jaman SMA dulu sih dia nggak ada tampang produser sama sekali, eh taunya sekrang jadi orang hebat. Pesan moralnya: baik-baiklah pada teman, karena kita nggak pernah tau di masa depan dia bisa jadi apa πŸ™‚

Lanjut…

Satu hal yang langsung menarik perhatian gue dari film “Minggu Pagi di Victoria Park” (MPDVP) ini adalah betapa sadisnya para tukang make-up dan tukang kostumnya mendandani para pemain, sedemikian rupa sehingga ngedrop tingkat kecantikannya hingga beberapa level. Tentu aja memang harus begitu karena film ini bercerita tentang kehidupan para TKW di Hong Kong, dan logisnya kecil kemungkinan ada TKW dengan tongkrongan kaya Titi Sjuman atau Lola Amaria bisa selamat kerja baik-baik di sana. Akibatnya, sampe pangling gue liat Titi Sjuman di sini nampak seperti habis cuci muka pake kemoceng saking dekilnya. Dan pemeran tokoh Sari, misalnya, ternyata aslinya jauh lebih cantik ketimbang di film. Belum lagi pilihan kostumnya yang sengaja dibuat sering tulalit antara atasan dan bawahan, bener-bener menggambarkan figur para TKW secara sangat realistis. Sungguh sebuah film yang menuntut keberanian tersendiri dari para pemerannya.

Waktu tau film ini disutradari oleh Lola Amaria, yang langsung terbayang di kepala gue adalah trauma film “Betina” garapannya yang menampilkan adegan ngeri: Kinaryosih peluk-pelukan sama sapi sambil dilalerin. Yaiks. Kinar, how could you? Itu, digabung dengan informasi bahwa ceritanya seputar kehidupan TKW, hasilnya bukan ekspektasi yang terlalu optimis. Tapi setelah filmnya mulai, fiuh… ternyata gue bisa bernafas lega.

Cerita dijalin secara hati-hati sehingga tidak terjerumus pada propaganda lewat dramatisasi berlebihan atas nasib TKW. Sempet muncul kekuatiran di benak gue, MPDVP akan menggambarkan kehidupan para TKW secara sangat suram, ngeri, disiksa, dan diakhiri dengan gugatan agar penonton turut peduli dan memperhatikan nasib mereka. Ternyata enggak. Film ini memposisikan diri sebagai potret yang netral tentang TKW. Bahwa biar gimanapun menjadi TKW bisa membawa perubahan yang sangat signifikan bagi perekonomian keluarga. Bahwa memang benar profesi ini penuh risiko, tapi juga nggak lantas berarti hidup mereka semata-mata penuh duka lara dirundung derita. Victoria Park yang menjadi judul film ini adalah taman tempat berkumpulnya para TKW dari Indonesia, sebagai sarana rekreasi dan sosialisasi mereka.

Di beberapa bagian, sempet ada dialog yang terdengar terlalu ‘konseptual’ untuk diucapkan seorang TKW seperti misalnya mempertanyakan makna istilah ‘pahlawan devisa’ yang mereka sandang, tapi selebihnya dialog terdengar natural – apalagi karena ngomongnya beneran pake bahasa Jawa logat Suroboyoan. Hampir 20 menitan di awal film, dialognya kalo nggak pake bahasa Jawa ya bahasa Kanton. Titi Sjuman sukses mengadopsi logat Surabaya nyaris tanpa cela, sedangkan Lola Amaria kadang terpeleset menggunakan logat Jawa Tengah. Tapi ini kelemahan kecil kali ya, karena yang bisa mengenali paling cuma para penonton berbahasa Jawa (terlepas dari fakta bahwa sebagian besar penduduk Indonesia adalah orang Jawa, hehehe…)

Satu tokoh yang berhasil mencuri perhatian gue adalah Tuti (maap nih gue lupa nama-nama asli para pemerannya). Tampil gaya pake topi miring ala Janet Jackson tahun 80-an, dia sukses mendapat sambutan meriah dari para penonton saat dengan sok tahunya ngajarin arti kata ‘Delayed’ dan ‘Cancelled’ di bandara kepada salah satu temennya yang mau pulang mudik. Andaikan gue nggak tahu bahwa ini film fiksi, dia beneran bisa gue kirain TKW asli. Pas banget!

Yang rada mengganggu gue dari MPDVP adalah bagian awalnya sempet bikin gue terseok-seok mengikuti alur cerita saking banyaknya tokoh yang disodorkan sekaligus. Untungnya makin ke belakang makin jelas peran masing-masing tokoh, dan bagusnya film ini tetap nggak terasa over crowded walau tokohnya banyak. Lainnya adalah iklan layanan Firecash dari BCA, seperti biasanya para sponsor di film Indonesia nampak terlalu ngiklan banget, karena digambarkan baik nasabahnya maupun petugasnya sama-sama mengulangi informasi “kiriman uangnya bisa langsung sampai saat ini juga, aman karena pengambilannya menggunakan KTP dan PIN”. Sampe apal deh gue.

Akhir kata, film ini adalah film yang informatif, secara simpatik mengajak penonton untuk melihat lebih dekat kehidupan para TKW, mempertanyakan apakah penonton telah peduli, tapi tanpa nada menggugat yang intimidatif. Dewi, film lu kali ini OK banget dah!

18 comments


  1. mbot said: betapa sadisnya para tukang make-up dan tukang kostumnya mendandani para pemain, sedemikian rupa sehingga ngedrop tingkat kecantikannya hingga beberapa level.

    berarti bukan make-up dong … tapi make-down πŸ™‚


  2. Aku udah nonton td pagi. Filmnya asik u ditonton, tp ada beberapa adegan yg hollywood bgt… Seperti mo bunuh diri di kamar mandi n pacaran di atas kapal. Yg seru adalah ketika para TKI berdialog dg bahasa Jawa Timuran. Intinya sih film ini Lola Amaria bgt!