“Gung, tulisin review film ‘anu’ dong, di blog lu! Menurut gue tuh film keren deh.” “Lho kenapa nggak lu aja tulis sendiri? Kan lu udah nonton?” “Nggak bisa ah, nggak ngerti gue nulis-nulis review kaya gitu.”
Udah beberapa kali gue mengalami dialog seperti pembuka blog ini: seorang teman yang terkesan pada sebuah film, ribut mendesak gue untuk menuliskan reviewnya dengan alasan yang kurang lebih bernada ‘dia kurang kompeten untuk mereview film’.
Benarkah menulis sebuah review film itu butuh batas kompetensi minimal?
Dalam pandangan gue, film adalah sebuah produk industri, sama seperti sandal jepit, obat nyamuk atau kompor gas. Kita adalah para konsumennya. Kita bayar sejumlah uang untuk menontonnya, dan kita semua berhak untuk puas atau tidak puas dengan sebuah produk film, sama seperti kita bisa ngomel kalo sandal jepit yang baru dibeli kemarin tiba-tiba udah putus.
Bedanya mungkin adalah karena untuk urusan film, unsur subyektifitasnya lebih besar dalam menentukan “bagus” vs. “jelek”. Ekspektasi orang atas sepasang sandal jepit jauh lebih obyektif, sehingga kalo nggak puas maka konsumen bisa ngomel secara tenteram karena hampir pasti disetujui oleh lawan bicara. Karena hampir semua orang, secara obyektif, akan setuju bahwa sandal jepit yang putus kurang dalam tempo 24 jam adalah sandal jepit yang jelek.
Sedangkan untuk film, walaupun ada faktor-faktor yang bisa dinilai secara obyektif, tapi tetap aja unsur subyektifitasnya lebih dominan. Waktu era kejayaan Laser Disc tahun 90-an dulu, seorang mas-mas penjaga tempat penyewaan LD pernah merekomendasikan sebuah film yang dibintangi oleh aktor laga Billy Blanks dengan pengantar sebagai berikut,
“Ambil film yang ini aja boss… rame… badan gede, berantem terus dari awal sampe akhir.”
Kalo saat itu gue ngotot sampe urat leher nongol bahwa “badan gede berantem dari awal sampe akhir” belumlah cukup untuk mengindikasikan sebuah film adalah film yang bagus, maka gue jamin akan terjadi perdebatan kusir tak berujung dengan si mas penjaga. Jelas buat dia film bagus adalah film yang dibintangi pria berbadan gede yang berantem dari awal sampe akhir.
Jaman masih di kampus dulu, senat suka bikin acara ‘bedah film’ Film-film yang diangkat tentunya film yang ‘berkualitas tinggi’ (menurut versi panitia) seperti Dead Poet Society atau The Remains of the Day. Acaranya sederhana aja: bawa TV yang rada gede ke kantin, setelin LD sewaan, terus dilanjutkan dengan diskusi. Ternyata, acara seperti ini sepi peminat. Gue lantas mengusulkan, “Gimana kalo untuk bedah film berikutnya, kita bedah filmnya Billy Blanks, Frank Zagarino atau Cindy Rothrock aja. Pasti rame deh pesertanya.” Sayangnya usul tersebut ditolak mentah-mentah oleh panitia dengan alasan kesulitan menemukan materi diskusinya nanti.
Beberapa waktu kemudian, angkatan gue lagi butuh dana besar untuk bikin acara angkatan, dan sekali lagi usul sejenis gue lontarkan. Berhubung panitia lagi desperado butuh duit, maka usul gue diterima dan diadakanlah acara bedah film dengan mengangkat film Sliver, dibintangi oleh Sharon Stone yang waktu itu lagi booming setelah tampil nekad di Basic Instinct. Film Sliver sendiri digadang-gadang bakal lebih ‘hot’ daripada Basic Instinct. Hasilnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tiket acara ‘bedah film’ sold-out, penonton sampe rela duduk di lantai karena nggak kebagian kursi.
Dua pengalaman tadi membuktikan, film adalah produk yang sangat subyektif. Dan subyektifitas film ini bisa membuat kegiatan mereview film menjadi sangat sulit, atau justru sangat gampang – tergantung gimana kita menyikapinya.
Kalo kita menulis review film dengan tujuan mengangkat kebagusan atau kejelekan sebuah film secara absolut, dan berharap semua pembaca setuju sama pendapat kita, maka mereview film adalah pekerjaan yang sangat sulit, bahkan mustahil.
Sedangkan yang gue lakukan adalah, sekedar menuliskan apa kesan-kesan gue sebagai seorang konsumen sebuah produk industri yang udah mengeluarkan duit untuk mendapatkannya.Gue menulis review dengan kerangka pikiran bahwa di luar sana, dari sekian orang yang baca blog gue, pasti ada segelintir orang yang kurang lebih selera filmnya mirip dengan gue. Maka saat menulis review, gue membayangkan lagi berada dalam posisi orang yang baru keluar dari gedung bioskop dan kebetulan ditanya seorang temen yang lagi ngantri tiket, “Eh gimana, filmnya bagus nggak?”. Gue sekedar menceritakan kesan-kesan gue, sementara keputusan untuk tetap menonton atau batal gue serahkan kembali ke para penanya. Dan untuk melakukan itu, menurut gue, adalah hak setiap konsumen, dan bisa dilakukan siapa aja.
Beginilah langkah-langkah gue saat mereview sebuah film…
Buat yang suka baca-baca review gue sejak awal terbitnya blog ini mungkin mengamati, bahwa ada perubahan cara gue mereview film.
Dulu, review adalah sarana ‘pelampiasan’ kalo kebetulan apes nemu film yang jelek. Maka review-review gue penuh bertaburkan aneka plesetan, sindiran dan bahkan curhat colongan yang seringkali nggak relevan dengan isi filmnya sendiri. Gue paling foya-foya melakukan ini di reviewnya film Terowongan Casablanca. Terkadang, gue malah sengaja nonton film yang emang kemungkinan besar jelek, hanya untuk gue tulis sebagai bahan bulan-bulanan di review.
Tapi kemudian gue mengubah gaya itu akibat 2 hal:
Film Ratatouille. Di film ini ada sebuah kutipan yang bikin gue tertohok banget, yang kurang lebih intinya berpesan, “sejelek-jeleknya hasil karya seseorang, masih lebih baik (dan lebih sulit) daripada kerjanya kritikus yang bisanya cuma komentar doang”.
Komentar beberapa pembaca review gue yang bilang “Oh, jadi menurut lo filmnya jelek ya? Oke deh, gue nggak akan nonton.” Waduh, ternyata tulisan asal cuap gue beneran digubris oleh para pembaca. Artinya, gue harus lebih hati-hati menulis review, karena sedikit banyak bisa mempengaruhi ‘rejeki’ para pembuat film tersebut!
Dalam rangka membuat review film yang lebih ‘bisa dipertanggungjawabkan’, maka gue membiasakan diri untuk melakukan langkah-langkah berikut saat menulis review:
Menyebutkan ekspektasi gue atas film tersebut. Landasan utama untuk menentukan sebuah film ‘bagus’ atau ‘jelek’ adalah seberapa tinggi ekspektasi gue sebelum nonton. Contohnya: andaikan ada film yang disutradarai Steven Spielberg, bintangnya Tom Hanks dan Robert De Niro, penata musiknya Hans Zimmer, tapi ternyata jadinya ‘cuma’ sekualitas film ‘Pretty Woman’, maka film itu mungkin akan gue kasih bintang 1 atau 2. Tapi sebaliknya, film garapan Koya Pagayo, bintangnya Dewi Perssik dan judulnya ‘Hantu Pocong Kamar Mayat Mati Kemarin Saat Lagi Datang Bulan’ tapi ternyata kualitasnya setara film Shutter atau The Eye, maka bisa-bisa film itu langsung gue nobatkan sebagai film bintang 5. Maka gue merasa para pembaca perlu untuk tau seberapa tinggi ekspektasi gue, sehingga bisa memahami mengapa akhirnya film itu gue nilai bagus atau jelek.
Menyebutkan alasan di balik setiap penilaian Antara lain yang gue lakukan waktu mereview “My Name is Khan”, gue bilang salah satu kelemahannya adalah ‘penggunaan lensa wide angle-nya berlebihan’. Maksudnya, gue menyerahkan ke penilaian pembaca apakah kira-kira mereka akan terganggu dengan penggunaan lensa wide angle. Untuk orang-orang yang memang suka dengan efek lensa wide angle bisa berpikir, “wah kalo gitu film ini pasti akan nampak sangat keren sekali, dasar si mbot aja yang seleranya aneh”.
Meminimalkan sindiran, plesetan dan curhat colongan Karena kalo faktor-faktor itu kebanyakan, akibatnya: (1) reviewnya jadi kepanjangan sehingga bikin orang males baca; dan (2) akan bias antara lagi ‘ngereview’ dengan ‘menghasut’. Walaupun untuk beberapa film tertentu gue masih sulit menahan diri untuk nggak main plesetan saking sebelnya, contohnya film Quickie Express.
Menginformasikan kalau kemungkinan penilaian gue bias akibat terlalu ngefans sama salah satu aspek dari film tersebut. Misalnya waktu ngereview Superman Returns atau serial Star Wars. Untuk serial yang gue suka banget, maka standar gue biasanya akan menurun karena apa yang gue liat di layar akan terasa bagus-bagus aja.
Menghindari spoiler Karena gue sendiri benci banget kalo ada orang sok lucu dengan menceritakan akhir sebuah film. Biasanya gue memilih untuk menceritakan ringkasan cerita film sampe ke pemaparan konflik dasarnya aja.
Tentunya bukan berarti 5 langkah tadi adalah cara yang ‘baik dan benar’ untuk mereview film, tapi cuma sebatas yang gue tau dan gue bisa. Untuk orang-orang yang beneran ‘makan sekolahan’ bidang perfilman pastinya punya segudang referensi teknis tentang syarat review yang baik dan benar, dan mungkin 5 langkah tadi cuma mencakup sebagian kecil di antaranya.
Yang gue lakukan hanya sekedar ocehan seorang penonton awam, ditujukan buat penonton awam lainnya. Dan gue yakin setiap orang berhak, dan bisa melakukannya. Jadi, yuk, ngereview film!
evanda2 said: review itu ya bener2 isi otaknya penonton, jd apapun yang di simpulkan ya dari apa yang di tontonnya. Mo reviewnya bagus or jelek ya itu puree hasil nya dia. Jarang review sih aku, krn dah jarang nonton … ^_*
Iya, unsur subyektifitasnya sangat tinggi. Makanya gue memilih untuk minimal ngasih penjelasan di balik penilaian subyektif tsb agar pembaca bisa memilih apakah mereka punya kerangka berpikir yang sama atau enggak.
arddhe said: kalau saya, ga pernah punya pola tersendiri sih kalau nulis review…saya ga pernah membatasi sejauh mana saya mencaci-maki atau memuji-muji…saya juga ga begitu perduli kalau ada yang bilang review saya brainwash, yg mgkn berakibat mengurangi pendapatan sang filmmaker…iya benar bikin film itu susah, tapi saya sebagai konsumen merasa berhak untuk mengungkapkan betapa saya kesal atau betapa saya suka akan sebuah film…itu hak pribadi.hehe
oh ya boleh-boleh aja. itu sih pilihan masing2 pereview kok.
review itu ya bener2 isi otaknya penonton, jd apapun yang di simpulkan ya dari apa yang di tontonnya. Mo reviewnya bagus or jelek ya itu puree hasil nya dia. Jarang review sih aku, krn dah jarang nonton … ^_*
kalau saya, ga pernah punya pola tersendiri sih kalau nulis review…saya ga pernah membatasi sejauh mana saya mencaci-maki atau memuji-muji…saya juga ga begitu perduli kalau ada yang bilang review saya brainwash, yg mgkn berakibat mengurangi pendapatan sang filmmaker…iya benar bikin film itu susah, tapi saya sebagai konsumen merasa berhak untuk mengungkapkan betapa saya kesal atau betapa saya suka akan sebuah film…itu hak pribadi.hehe
Tinggalkan Balasan ke revinaoctavianitadr Batalkan balasan