Gemma Arterton, itulah satu-satunya faktor yang menarik gue menonton film ini. Gue nggak pernah main (sampe tamat) game-nya, nggak kenal Jake Gyllenhaal kecuali sebatas info bahwa dia main film yang gue ngeri banget untuk tonton yaitu adalah Brokeback Mountain, dan pada dasarnya gue kurang tertarik dengan film ber-setting jaman dahulu kala di mana orang-orangnya masih naik kuda yang nampak lamban dan bau.
Tapi ternyata gue cukup terhibur dengan film ini. Yang menarik adalah bahwa elemen di game-nya, yaitu gerakan lompat-lompatan di dinding ala parkour dikasih porsi cukup banyak sehingga membuat ‘feel’ film ini nyambung dengan game-nya. Untuk sebuah film yang diangkat dari video game, ini faktor yang sangat penting karena pada akhirnya, buat apa mengangkat sebuah game jadi film kalo filmnya terasa beda banget sama game-nya, kan?
Ceritanya juga lumayan. Dengan bumbu-bumbu intrik dan pengkhianatan dalam rangka perebutan tahta kerajaan, ceritanya jadi nggak terasa cemen-cemen amat – walaupun tetep aja ketebak, sih. Mau tau siapa penjahatnya? Lihat aja tokoh yang tampangnya paling nyebelin 🙂
Karena ekspektasi yang nggak terlalu tinggi, gue cukup memaafkan kehadiran tokoh Sheik Amar (diperankan Alfred Molina, si Doc Ock di Spiderman 2) si penjahat kelas teri, pengusaha dari dunia gelap yang kerjanya sedikit tipu sana tipu sini, rada licik tapi belakangan membuktikan diri sebagai orang yang berhati nurani dan setia kawan – tipe karakter yang udah lumayan basi dipake di berbagai film Hollywood. Inget Leo Getz di serial Lethal Weapon?
Begitu juga dengan adegan-adegan ‘klasik’ (baca: sering banget muncul di aneka film) tentang tokoh jagoan cowok dan cewek yang kerjanya cekcok melulu sambil saling mengkadali padahal diem-diem naksir, gue nikmati aja.
Mungkin karena ada neng Gemma yang kecantikannya menggemaskan (walaupun di film ini nampak rada gendutan, dagunya sampe ada 2), mungkin juga karena pengemasan adegan berantem yang cukup seru dan variatif. Walaupun ujug-ujug ada serombongan Hassansin, pembunuh bayaran padang pasir yang jurus-jurusnya nampak keninja-ninjaan sekali dan terasa agak ganjel di tengah setting film ini, tapi yang penting seru lah.
Akhir kata, gue sekarang mengerti kenapa cewek-cewek yang abis nonton film ini pada tergila-gila sama Jake Gyllenhaal. Pembawaannya nampak natural sebagai sosok pria macho – atletis – jago berantem tapi diliputi aura main-main yang kekanak-kanakan; sedikit mengingatkan pada Mel Gibson (waktu masih muda tentunya) atau Robert Downey Jr tapi pada saat yang bersamaan nggak intimidatif bagi para pria, nggak seperti Antonio Banderas atau Jason Statham atau Daniel Craig. Eh, ini rasanya baru pertama kali gue mengomentari aktor pria di review… huff… jangan-jangan abis ini jadi tertarik nonton Brokeback Mountain, lagi. Hiiy… udah ah, tidur!

Tinggalkan Balasan ke natali25 Batalkan balasan