Gue tertarik nonton film ini karena ngeliat trailernya, yang menggambarkan sebuah planet yang heboh karena kedatangan manusia. Ide dasarnya menarik, yaitu kali ini kita yang jadi alien di planet lain. Gue tadinya berharap ide dasar yang unik itu bisa berkembang jadi film yang unik juga. Sayangnya: enggak.
Awalnya cukup menjanjikan, karena film ini udah ngasih gambaran tentang betapa terbatasnya pengetahuan penduduk planet 51 tentang dunia angkasa luar. Mereka digambarkan hidup rada terbelakang, masih berkhayal bahwa yang namanya alien itu adalah makhluk-makhluk jahat bermata satu yang gemar bikin onar. Dasar cerita ini sebenernya potensial untuk berkembang jadi konflik yang menarik ketika tiba-tiba muncul astronot bumi bernama Chuck yang boro-boro mau bikin onar, dia sendiri terkaget-kaget melihat planet yang berdasarkan laporan cuma berisi batu ternyata dipenuhi makhluk berperadaban.
Sayangnya, setelah pembukaan yang bagus itu cerita seperti mengendor karena upaya penyelamatan yang dilakukan sekelompok penduduk planet 51 terasa terlalu berpanjang-panjang. Gue juga nggak ngeliat adanya solusi yang cukup kreatif untuk mengatasi problem si astronot Chuck yang kebingungan karena tiba-tiba jadi buronan nasional. Bukannya memadatkan cerita dengan adegan kejar-kejaran seru antara pihak militer planet 51 vs astronot Chuck, film ini malah kebanyakan menyelip-nyelipkan adegan yang terasa maksa, seperti sempet-sempetnya Chuck jadi mentor bagi Lem, salah satu penduduk planet 51, untuk mendekati gadis pujaannya.
Untungnya masih ada tokoh anjing Alien dan robot Rover yang tingkahnya lumayan menyegarkan, tapi selebihnya gue harus berjuang keras untuk membuka mata di sepanjang film – dan beberapa kali gagal melakukannya.
Poster film gue pinjem dari situs wikipedia.

Tinggalkan Balasan ke mbot Batalkan balasan