quarantine

masih dalam rangkaian kebut nonton mengisi liburan tahun baru πŸ™‚

Quarantine menceritakan pengalaman Angela Vidal (Jennifer Carpenter), seorang reporter televisi yang sedang meliput kegiatan tim pemadam kebakaran. Angela dan cameramannya ikut dalam truk pemadam kebakaran yang mendapat panggilan emergency dari sebuah apartemen tua. Ternyata panggilan yang awalnya cuma melaporkan seorang nenek tua yang berteriak-teriak sambil mengunci diri di apartemennya itu berkembang jadi menegangkan saat si nenek ngamuk dan melukai beberapa orang. Keadaan makin memburuk saat tiba-tiba aja apartemen itu disegel dari luar oleh pihak berwajib, tanpa penjelasan apapun.

Film ini ternyata remake dari sebuah film Spanyol berjudul [REC] yang dirilis November 2007. Untuk ukuran sebuah Hollywood remake, ini termasuk super kilat karena jaraknya cuma sekitar setahun. Seluruh adegan dalam Quarantine diambil dari sudut pandang kamera yang menyorot Angela, secara ‘live’. Kurang lebih mirip seperti film Cloverfield – yang mana sangat menyebalkan buat gue karena bikin pusing. Tapi memang film ini membuktikan bahwa film yang ‘bagus’ nggak selamanya ‘nyaman’ ditonton. Yang jelas, film berbiaya relatif irit ini (USD 12 juta) udah untung besar dengan perolehan box-office seluruh dunia yang mencapai lebih dari USD 37 juta.

Sebagai film bergenre horror / suspense, Quarantine cukup berhasil bikin gue terkaget-kaget mengikuti tempo penuturannya yang super kilat. Nggak terlalu banyak waktu dialokasikan untuk set-up cerita, cuma sekitar 15-20 menit untuk menjelaskan siapa Angela dan apa yang dilakukannya di markas pemadam kebakaran. Selanjutnya udah langsung masuk ke inti cerita, ngubek-ubek apartemen tua yang mendadak dikarantina.

Sudut pandang gaya liputan kamera ikut menambah efektivitas suasana tegang sepanjang film, karena tau sendiri; sudut pandang kamera kan serba terbatas, sehingga saat kamera menggeser sudut pandang, tiba-tiba… HUAAA… ada yang mau nyaplok! Apalagi menjelang akhir film saat listrik di apartemen diputus dari luar, sehingga pencahayaan cuma mengandalkan lampu dari kamera yang nyala-mati-nyala-mati, bikin tambah males.

Nonton film ini serasa naik Tornado di Dufan: lo ngantri atas kemauan sendiri, bayar pake duit sendiri, tapi begitu atraksinya mulai lo ingin cepat pulang aja. Cuma gue kasih bintang 4 karena penampilan pemeran Angela-nya kurang ‘cihuy’. Mungkin kalo diganti dengan Jennifer Connely atau Charlize theron lebih pas (maksa). Dan oh iya, sama karena hingga akhir film, nggak ada penjelasan tuntas tentang apa yang sebenernya terjadi di apartemen itu. Konon film [REC] ngasih penjelasan yang lebih memuaskan daripada film ini. Tapi endingnya gue suka, nggak terpaku dengan ending ala Hollywood yang basi itu.

10 comments


  1. dbaonkagain said: kalo gue menyarankan nonton SHAUN OF THE DEAD.asli.

    kalau gw menyarankan nonton Dawn of The Dead nya dulu den, biar lebih “ngerti” dan lebih ngakak nontonin hal-hal trivial yang ditayangin di Shaun of The Dead nya =)


  2. sebenernya ini film standard banget ya..malah rada maksa dan terkesan ‘oon’… abis pada dasarnya di tengah cerita ud ketawan gitu lho yang nyebabin mereka di karantina kan karena ada virus rabies yg mbuat mereka jadi zombie.. harusnya kan tinggal ditembak2xin aja tuh.. (tapi nanti malah jadi kaya resident evil ya?? ) tus ud gitu kok sempet2xnya ya ada usaha nolong mereka yg tergigit. mendingan nih..nonton dawn of the dead atau 28 weeks later deh…lebih keren….