majalah “koenjit”

Pas lagi mampir di toko M&M Dago, Bandung, gue tertarik liat ada sebuah kaleng krupuk warna kuning ngejreng bertengger di meja kasir. Di bagian depannya ada foto perempuan berlumuran kunyit, dan tulisan “koenjit – perjalanan rasa. Edisi Perdana Mei – Juni 2008 GRATIS!”

“Ini isinya majalah gratis, mbak?”
“Iya,” kata si kasir
“Kalo gitu saya boleh ambil ya?”
“Tapi minimum pembelanjaan 100 ribu pak”

Satu lagi ciri khas ‘melayu’, belum terbiasa dengan promosi via media gratisan jadinya salah kaprah gini: dibuat seolah jadi iming-iming hadiah bagi pembelanjaan nilai tertentu. Praktek yang mirip juga terjadi di sejumlah cafe. Media yang jelas-jelas bertuliskan ‘GRATIS’ ditulisi ‘milik cafe, jangan dibawa pulang’ – karena cafe ybs ingin punya nilai ‘plus’ dengan menyediakan bacaan buat pengunjung, tapi terlalu pelit untuk beli majalah berbayar!

Untunglah gue berhasil menemukan kaleng krupuk kuning lainnya di markas Cititrans waktu mau berangkat pulang ke Jakarta.

Sekilas penampakan, majalah ini tampil cukup mewah untuk sebuah majalah gratisan. Yah minimal nampak jauh lebih meyakinkan ketimbang majalah gratisan lainnya yang isinya copy paste dari internet. Foto covernya keren, sedemikian realistiknya sampe salah seorang temannya Bayu dan Ade yang suka ngintil melulu kemanapun mereka pergi berkomentar, “Makanya kalo naro majalah jangan sembarangan dong, liat nih sampe kotor gini…” Selain itu tulisan logo “koenjit” pake finishing UV segala!

Majalah ini memuat 52 halaman (tidak termasuk 4 halaman cover) dengan ukuran yang lumayan unik karena ‘tanggung’, 17 x 24 cm. Ada 15 rubrik di dalamnya, sebagian besar konsisten mengulas tentang makanan – kecuali sebuah rubrik berjudul ‘bungkus’ yang menghabiskan 4 halaman untuk foto orang lagi piknik naik vespa tanpa keterangan apapun. Sungguh sebuah rubrik yang kurang jelas dan kurang penting, untungnya rubrik lainnya nggak demikian.

Ada ‘santapan utama’ (headline) yang membahas kuliner tradisional sunda, ada ‘djadoel’ yang ngomongin perbedaan kemasan makanan dulu dan sekarang, ada resep masak cumi, komik, dan yang lebih penting info soal jajanan baru di Bandung. Semua artikelnya dihiasi dengan foto-foto keren, terutama sebuah foto essay di halaman 28-31 tentang proses pembuatan oncom.

Secara umum “koenjit” mengisyaratkan diri sebagai sebuah majalah yang dikelola serius, dan menurut gue pangsa pasarnya gede banget. Salah satu tujuan utama orang jalan2 di Bandung, selain beli baju, adalah nyari tempat makan baru, kan? Makanya harapan gue porsi tentang info tempat jajanan baru ditambah.

Mudah-mudahan majalah ini panjang umur dan banyak peminatnya, dan nggak dititipkan di tempat yang salah kaprah seperti M&M Dago.

10 comments


  1. kangbayu said: Bilang gitu kalo dah dimuat di blog nya mbot pasti banyak dicari, jadi jangan lupa kirimin Agung satu edisi tiap terbit ya diah =)

    bwahahahha.. udah aku bilang kang.. udah diliat ma dia.. malah dijadiin status YM segala :))iya ntar aku bilangin ma dia suruh kasih mas agung satu tiap terbit ;))