Padibu itu untuk apa ya mbak?

Gue pilek. Berhubung sekarang di rumah ada bayi, maka gue butuh masker supaya nggak menulari. Sepulang kantor gue mampir ke apotik di daerah Cikini Raya untuk beli masker.

Apotik ini sebenernya apotik lama, tapi kayaknya dia mau niru servicenya apotik2 ‘modern’ seperti Century dan Guardian dalam melayani pengunjung, yaitu kalo ada pengunjung dateng langsung disambut dan dibantu oleh pramuniaga.

“Selamat sore Pak, ada yang bisa dibantu?” demikian sang mbak pramuniaga ber-rok mini menyambut gue.
“Saya butuh masker mbak,” jawab gue.
“Oh ada Pak, di sebelah sini… eh, atau sebaiknya saya panggil ‘MAS‘ aja ya?” katanya sambil mengerling centil.
Gue, sayangnya, nggak terlalu berminat menanggapi. Pertama karena lagi pilek. Kedua karena memang kurang hobi bercentil-centil dengan pramuniaga.

Kompak Centilnya

Tadinya gue kira cuma mbak yang itu doang yang centil. Eh taunya setelah bayar-membayar gue mendengar dialog yang lebih spektakuler antara mbak pramuniaga yang lain dengan seorang oom-oom pengunjung.

Oom berbaju polo corak meriah dan berkalung emas itu nampak sedang menimang-nimang sebotol PADIBU (obat penambah “vitalitas”* pria) sambil bertanya, “…jadi, ini bisa untuk menambah gairah ya mbak?”
“Oh iya Pak, dijamin deh, namanya aja PADIBU – PAPAH DI ATAS BUNDA… hihihihi…”
*gubrax*

Hmm… kayaknya ada yang salah deh dengan definisi ‘customer service’ yang diterapkan apotik tersebut. Siapa sih trainernya, pingin kenal gue.

*kenapa sih obat-obat sejenis selalu dibilang penambah vitalitas? Vital kan artinya ‘hidup’ – seharusnya yang disebut obat penambah vitalitas itu obat penguat jantung…

39 comments


  1. prajuritkecil said: kimia farma sebelah KFC situ ya…? perasaan belum pernah nemu pramuniaga yg ajaib kayak gitu gung… bukannya yang ngelayanin bapak-bapak…trus kasirnya ibu-iibu yang udah 40-an tahun gitu…???

    cikini raya itu jalan yang panjaaaang sekali Ira… πŸ™‚


  2. myshant said: huahahaa …hari ginih, papah masih di atas ajah ??gak ada gaya lain apa ? :))))

    mungkin krn abis minum PADIBU si papah jadi penuh semangat sehingga mintanya di atas mulu deh…*journal yang satu ini jadi makin menjurus gini*


  3. mbot said: “Oh iya Pak, dijamin deh, namanya aja PADIBU – PAPAH DI ATAS BUNDA… hihihihi…”*gubrax*Hmm… kayaknya ada yang salah deh dengan definisi ‘customer service’ yang diterapkan apotik tersebut. Siapa sih trainernya, pingin kenal gue.

    Betul! Kasi tau trainernya kalau kemampuan nerjemahin anak buahnya masih payah! Karena secara struktur kata, “DI” pada kata “PADIBU” bisa memiliki arti luasss sekali, sebut saja “DIPINGGIR”, “DIMASAKIN”, even “DIGAMPAR”.


  4. armansyah said: kimia farma ya gung? emang cuma bungkus aja tu yang dituker jadi agak modern… pramuniaga mah teteeeb dari jaman purba kaya’nya πŸ™‚ –purba ‘n centil pula ya?!

    hahahaha… nggak sebut nama ah…(tapi kayaknya nggak ada apotek lain di jalan itu, hihihihi)