Ceramah Anti-Ngantuk

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan pertama di kantor yang baru. Tahun lalu, berhubung kantor gue relatif kecil, acara ceramah Ramadhannya cuma diadain beberapa kali. Itupun cenderung begitu-begitu aja karena para pegawai di sana emang rata2 lebih ‘santun’. Yang rame malah ceramah nggak resminya, biasanya sekitar Ashar, di musholla.

Di kantor yang sekarang, berhubung sektor permodalan juga lebih kenceng, ada ceramah tiap hari. Dan baru kali ini gue liat hadirin berhasil memprovokasi penceramahnya.

Tema ceramah hari ini adalah “Konsep pendidikan dalam Islam” dibawakan oleh seorang uztadzah. Baru 5 menit duduk, gue udah mulai manggut-manggut fly.

“…jadi, saudara-saudara sekalian, baginda Rasulullah telah mengajarkan pada kita, bahwa pendidikan itu harus dengan tauladan. Percuma saja kita mengajarkan teori-teori, kalau tidak disertai dengan praktek. Rasulullah mengajarkan demikian, mencontohkan langsung perilaku yang baik, agar kita bisa mengikuti. Contohnya masalah sholat. Apakah kita sebagai orangtua telah memberikan teladan kepada anak2 kita dengan sholat 5 waktu? Apakah saat anak sholat kita memberikan perhatian? Apakah…”

“…..” para hadirin nampak terkantuk-kantuk. Gue juga. Man… this is so boring.

“…jangan-jangan anak malah belajar sholat dari tetangga, karena kita, orangtuanya, kurang memberikan teladan. Siang hari, saatnya sholat zuhur, anak main di rumah tetangga, kita tidak tahu apakah mereka sholat atau tidak…”

=duk= gue kejedot dinding akibat ayunan kepala yang terlalu drastis. Ngantuknyaaa….

“…demikianlah saudara-saudara sekalian, materi dari saya siang ini. Segala kekurangannya mohon dimaafkan. Sekarang kita masuki sesi tanya jawab. Silakan bila ada yang mau bertanya.”

“Saya bu.” seorang ibu mengacungkan jari.

“Silakan pertanyaannya.”

“Mengenai pendidikan anak ya bu, saya tertarik dengan blablabla… karena berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang ibu, blablabla….”

“Oh, begini ibu. Sebagaimana telah saya jelaskan tadi, konsep pendidikan dalam Islam mengatur bahwa blablablablablabla….” jawab ibu uztadzah, bersamaan dengan Ida lewat sambil bawa sepiring spaghetti saos jamur dan es teh manis sambil nanya, “kamu mau makan di depan tivi atau di meja makan?” dan gue jawab, “besok aja, sebab komputernya kan harus direstart dulu…” LOH…? Wah kayanya gue udah mulai ngimpi nih.

“Bagaimana, cukup jelas, ibu? Oke… ada pertanyaan lain?”

“Saya…” seorang bapak yang gue nggak tau dari divisi apa mengangkat tangan.

“Silakan, bapak yang di ujung sana…”

“Begini ya bu. Tadi kan ibu bilang kita harus meneladani Rasul ya bu. Nah saya ingin tanya bagaimana dengan teladan Rasul dalam hal poligami…”

Beberapa hadirin langsung berdiri kupingnya. Nah, ini baru seru…

“Memang kalo hadirinnya bapak-bapak pasti yang ditanyakan soal poligami. Baiklah saya coba jawab. Kita jangan cuma melihat poligaminya saja, tapi bagaimana agar dapat bersikap adil…” kemudian ibu uztadzah menjelaskan panjang lebar bahwa poligami memang boleh, tapi harus adil dan dengan niat untuk ibadah. Seperti Rasul, yang dikawini adalah janda-janda tua, yang ditinggal mati suami di medan perang. Tujuannya untuk melindungi, mengangkat harkat kehidupan para janda tersebut. “Nah, apakah bapak-bapak di sini mau mengawini janda tua?”

“…yah… asal masih kenceng sih…” celetuk seseorang entah siapa, disambut kikikikik hadirin.

“Tuh kan. Memang orang jaman sekarang yang dipikirkan syahwat melulu sih. Bagaimana mau adil. Niat awalnya hanya untuk cari kepuasan aja, kenal-kenalan sama perempuan di jalanan, di mall, lantas diam-diam kawin. Istri yang lama ditinggal. Bagaimana mau dibilang ibadah?”

“Dia tuh bu yang suka gitu.. saya mah enggak…” Ada lagi yang nyeletuk. Hadirin udah 100% melek, 85%-nya tersenyum lebar.

“Tanya bu” seorang bapak dengan jenggot lancip mengangkat tangan di tengah suasana yang mulai menghangat.

“Ya pak?”

“Berdasarkan statistik kan penduduk dunia sekarang udah makin nggak imbang bu. Rata-rata perbandingan laki-laki dan perempuan 1 : 8, bahkan di beberapa tempat 1 : 10 (entah dapet data statistik dari mana nih si bapak). Ini kan harus ada solusinya. Kita mah cuma mau nolongin aja, bener nggak bapak-bapak?”

Huahahaha…. hadirin pada ngakak tanpa sungkan-sungkan. Berhubung telat dateng, gue duduk di luar sehingga nggak bisa ngeliat gimana ekspresi ibu uztadzahnya, tapi dari nada suaranya kayaknya sih doi mulai panas.

“Itu data dari mana ya Pak. Satu banding delapan itu kan campur pak, termasuk di dalamnya ada ibu-ibu, nenek-nenek… tapi kalo bapak disuruh milih pasti nyarinya yang masih gadis aja. Bener kan? Lantas bagaimana dengan teladan Rasul untuk melindungi janda-janda yang sudah tua itu? Asal tahu aja nih pak, perempuan jaman sekarang lebih banyak dari laki-laki karena para laki-laki memang lebih cepat dipanggil Allah!!”

Ruangan serasa pecah oleh suara ketawa. Ini udah kaya shooting Bajaj Bajuri.

“Jelas aja kami cepet mati bu, kecapean meladeni yang satu banding delapan itu tadi…” Masih ada aja yang nyeletuk. Beberapa orang ibu sampe nutup muka pake sajadah saking nggak kuat nahan ketawa.

“Pokoknya begini ya Pak! Prinsipnya tuh pertama-tama harus atas dasar niat beribadah. Yang ke dua; harus adil. Seringkali terjadi, begitu punya istri baru, yang lama dilupakan! Mentang-mentang istri tuanya sudah beberapa kali melahirkan anak, bentuk tubuhnya sudah tidak bagus lagi, suami jadi lebih sering di tempat istri muda yang lebih cantik, pakaiannya lebih bagus, sering ke salon!!”

“Loh itu kan justru adil bu!”

“Adil dari mananya pak?!”

“Dulu waktu istri tua masih muda kan sudah pernah merasakan kita servis bu. Sementara yang muda ini kan belum pernah merasakan dibelikan barang mahal-mahal. Selain itu, kalo kita bicara inventaris, kan yang tua udah kena penyusutan bu, jadi wajar kalo harga turun…” Kayaknya bapak yang ini kerjanya di bagian Rumah Tangga Kantor. Beberapa hadirin sampe ada yang nungging saking ngakaknya. Belum sempat ibu uztadzah menjawab, udah ada yang angkat tangan lagi.

“Bu jangan didengerin bu. Dia emang kalo nanya ngaco. Saya mau nanya beneran nih, serius…”

“Iya, silakan pak.”

“Begini bu. Ya udah kalo memang di dunia ini sulit untuk menerapkan poligami. Harus niat ibadah, harus adil segala macem. Oke deh. Tapi saya ingin ada jaminan dulu: Nantinya di surga kita masing-masing dapat jatah bidadari berapa orang nih bu…?! Bukan apa-apa, kalo kurang biar kita nyicil dulu dari sekarang, gitu…”

“YANG BILANG BAPAK PASTI MASUK SURGA SIAPA PAK??!!” Ibu uztadzahnya udah sewot berat, sehingga langsung di-cut oleh moderator, “Rekan-rekan, berhubung waktu sudah tidak memungkinkan, saya cukupkan sampai di sini….”

Nggak lama kemudian nampak ibu uztadzah keluar dari ruangan dengan wajah bersungut-sungut, diikuti beberapa hadirin yang masih ketawa-ketawa kecil sambil mengusap air mata.

Acara ceramah terlucu yang pernah gue ikuti.

Image dari sini.

68 comments


  1. maryamilyas said: Mas Agung, baru baca niy, ada yang nge-link. Lucu dan seru Mas! πŸ˜€ πŸ˜€ Lumayan buat ngendorin suasana, lagi ada perdebatan seru soal poligami di sini. Makasih Mas…

    tips kalo mau dapet banyak pengunjug di MP-nya: angkatlah isu poligami :-)) akan lebih seru lagi kalo penulis journalnya mengambil sikap (setuju / nggak setuju) thd poligami, wah pasti replynya rameeee deh.


  2. he he he…persis ama pengajian minggu lalu di kantor gw, btw, ustadzah gw sih lebih jago n’ kalem + lucu, trus kata beliau sih, klo sebaik2nya istri tuh yang ikhlas karena Allah , untuk dimadu, tapi sebaik2nya suami adalah yang nisa menahan sahwatnya buat punya lebih dari satu karena Allah, nah suami yang kaya’ gini bakalan dapet ” 72 BIDADARI + bininya di dunia “, di sorga kelak, n’ para istri jga gak boleh semena2 ama suaminya ntar di musuhin ama bidadari2 ituh he he he he…;p


  3. jomblo said: Saya gak niat nyerang apa-apa loh ya. Thanks sebelumnya.

    Apakah ini berarti saya ngga’ boleh mengadakan ‘perlawanan’ … hehehe. Thanks juga lho atas ngga’ niat nyerangnya ^_^1. Pandangan tentang seks. Kebanyakan dari kita menganggap hina seks, sehingga jika ia menjadi orientasi suatu perbuatan kesannya jadi jelek. Padahal (menurut saya) seks sendiri ngga’ bisa dibilang jelek dan baik, yang membedakannya adalah dimana ia disalurkan. Halal or haram.Dan seks yang menurut kita hina itu, ternyata telah menjadi penyebab berbagai bentuk kejahatan/pelanggaran, ketika disalurkan dengan cara yang tidak benar. Artinya, kita menganggapnya kecil/hina, tapi ko’ nyatanya efeknya besar banget. 2. Tentang bekal nikah. Memang dalam hadits yang menyuruh nikah (barang siapa yang sudah memiliki kemampuan, menikahlah, jika tidak bisa nikah maka berpuasalah, karena puasa itu adalah benteng dan lebih bisa menahan pandangan dan menjaga kehormatan), soal kemampuan di sini ulama’ memang berbeda pendapat. Tapi yang masyhur adalah kemampuan membuahi (syahwat kepada lawan jenis). Jadi hadits itu bermakna, barang siapa sudah punya syahwat kepada perempuan, maka nikahlah. Kalo ngga’ bisa nikah (karena belum punya bekal atau mental) maka puasalah…Masalahnya sekarang, karena berangkat dari pandangan yang ‘menghinakan’ seks, kemudian mementingkan persiapan bekal dan mental tapi ngga’ mau melakukan puasa (sebagai alternatif ngga’ nikah), padahal syahwatnya sudah butuh pemuasan, akhirnya terjadilah pemuasan seks secara tidak bertanggungjawab, alias dijalur haram/zina (didahului dg pacaran, atau lewat jajan). 2. Tentang perintah agama. Hehehe, kayaknya kita berangkat dari start yang ngga’ sama. Versi saya nih ya, ketika ada perintah, yang pertama kali dicari adalah, benarkah itu perintah agama? apa dalilnya? kuat ngga’? Bukan kenapa agama menyuruh begitu? Karena perbuatan Alloh itu tidak dipertanyakan. Laa yus’alu ‘amma yaf’al wahum yus’aluun (Al Qura’an). Allah ngga’ ditanya kenapa Dia nyuruh/berbuat begini dan begitu, kitalah manusia yang akan ditanya kenapa kita berbuat begini dan begitu.Jadi.. ketika kita mencari tahu tentang kenapa Allah memerintahkan sesuatu, itu hanya sebatas mencari hikmah yang tidak boleh bersifat pasti. Dan landasan kita menjalankan perintah itu, bukan karena hikmah tersebut, tapi karena Alloh memerintahkan demikian.Nah, kembali ke prinsip menghindari zina, kenapa Mas Adith mengatakan prinsip ini terkesan lemah? padahal kalo dilihat dari dalilnya jelas kuat banget. Wong ancaman zina itu dirajam, dan ngga’ mungkin suatu perbuatan diancam dengan ancaman yang pedih jika bukan perbuatan yang besar. Dan menghindari perbuatan dosa besar apakah sesuatu yang remeh? Bagaimana kita meremehkan suatu perbuatan yang oleh Alloh dianggap sangat besar? So, berangkat dari sinilah, makanya sangat wajar sekali jika persoalan nikah/poligami dimudahkan dan semua pihak diharuskan mendukung kemudahan tsb—> biar orang ngga’ zina—>karena zina itu perbuatan dosa besar. Karena, kenapa sih orang bisa berzina? karena syahwat dia ngga’ ada penyaluran yang halal, atau ada tapi kurang, tapi nambah yang halal ngga’ boleh/bisa, gitu kan?Seperti halnya mencuri, hukumanya potong tangan (ngeri kan?), berarti mencuri adalah perbuatan besar dimata Alloh, makanya semua pihak harus berusaha agar jangan sampai ada yang mencuri. Pemerintah mengusahakan lahan pekerjaan, gaya hidup jangan mewah2 karena bisa bikin iri, yang kaya jangan pelit…. dst…dst.. Karena berapa banyak orang yang mencuri karena kondisi menuntut dia begitu. Jadi semuanya saling terkait.Gimana? ngerti ngga’ maksud saya? hehehe, nyontek. Maksud saya, sudah nyambung ngga’ dg maksud mas Adith? Udah ketemu kan why poligami boleh? Jawaban saya, ya karena Allah membolehkan ^_^(dalilnya bilang begitu). Hikmahnya, mungkin… biar orang yang pengen nambah jatah ngga’ berbuat zina. Yang pengen punya anak kandung padahal istrinya mandul, ngga’ perlu menceraikan istri pertama yang juga dicintainya. Yang pengen nolong janda2 miskin/kaya ngga’ perlu kena fitnah macam2. Perawan2 tuwa/berwajah biasa/cacat yang ngga’ dilirik sama perjaka, bisa dapat suami. Anak2 yatim yang ngga’ punya bapak bisa punya bapak. Dan hikmah2 ngga’ pasti laennya. Karena bukan hikmah ini yang membuat poligami boleh atau sunnah. Dalilnya lah yang menjadi standar. Sederhana banget ya? Emang ! ^_^


  4. emprit said: Selain itu, dalam Islam, selama seseorang itu mempunyai syahwat kpd lawan jenis (bukan dari golongan ghoiru ulil irbah), maka kondisi menikah adalah lebih baik dari melajang. Dengan penjelasan logis bahwa selama ada syahwat pasti memerlukan penyaluran, dan jika penyaluran yang halal tidak ada, maka kemungkinan besar akan disalurkan pada yang haram.

    Thaks Fi. Namun sayang sekali kalo dari sudut pandang saya pribadi dalam mencerna agama yang saya anut ini, saya gak pernah mau berpegang pada prinsip itu. Maksudnya perintah menikah untuk menghindari zinah atau fitnah.Kesannya lemah sekali umat manusia? Masak iya orang nekat nikah bener2 gak pake planning cuman gara2 gak kuat syahwat? Ya gak? Itu mendegradasikan arti pernikahan itu sendiri malah.Udah nih nikah. issue syahwat udah selesai. Tapi untuk nikah itu sendiri kan butuh banyak sekali bekal dan kekuatan mental. Ngerti kan maksud saya Fi? Intinya di sini saya ingin menggali persepsi yang benar akan segala sesuatu. Kenapa agama kita menyuruh A? Adalah tugas umat kita untuk mencedaskan diri untuk tahu ada apa dibalik perintah itu. Poligami boleh. Oke gue setuju, but lets find out why. gitu maksud saya. Saya gak niat nyerang apa-apa loh ya. Thanks sebelumnya.


  5. imazahra said: Eh, tapi Mba Afiyah jago soal poligami lho! Kalo saya mah pendukung semangat monogami

    hahaha, pembaca jangan percaya omongan Mbak Ima… sebelum membuktikan sendiri …hihihiMasalahnya bukan jago atau tidak…. saya kasih tahu behind the scene nya saya mendukung poligami ya .. ^_^1. Saya tidak tahu takdir saya, apakah nanti jadi istri pertama atau tidak (saya mendukung poligami sejak saya masih gadis lho).2. Fakta yang saya lihat, ibu saya setelah menjadi janda mati, dinikahi oleh seorang pria kaya beristri dan istrinya tidak rela yang akhirnya jadi suka ‘menyakiti’ ibu saya. Jika takdir saya jadi istri pertama, maka saya akan mendukung poligami, karena rela atau tidak, jika suami saya nikah lagi, maka pernikahannya tetap sah. Kalo karena tidak rela lalu saya ‘menyakiti’ istri kedua /ketiga/keempat suami saya, saya akan menjadikan dia seperti ibu saya, menderita lahir bathin. Belum lagi dosa yang mesti saya tanggung karena merongrong sebuah pernikahan yang sah dan diridloi oleh Alloh. Dan jika takdir saya jadi istri kedua (ternyata itu bukan takdir saya ^_^), maka saya mendukung poligami (hahaha, jelas banget yak???). Maksudnya begini… banyak kan kita dengar ceritanya wanita yang ingin dinikahi oleh pria beristri (bahkan beranak) trus mensyaratkan ‘mau dinikahi asal istri pertama dicerai’. Nah kalo memang MISALNYA jodoh saya pria beristri, saya nggak akan minta dia untuk menceraikan istri pertamanya, karena itu DOSA!!! . Sebuah hadits menyebutkan bahwa Alloh akan melaknat seorang wanita yang menyuruh cerai agar si laki2 menjadi suaminya, atau seorang wanita yang minta cerai tanpa sebab syar’i. Diantara sebab yang tidak syar’i itu ya minta cerai dengan ALASAN suami nikah lagi.3. Saya mendukung poligami sebagai sebuah aturan Islam secara umum. Artinya dibuat untuk manusia secara umum. Adapun secara individu maka poligami akan berobah hukumnya sesuai dengan kondisi tiap individu. Bisa menjadi wajib pada si A, tapi bisa jadi haram pada si B. Jadi hukum boleh itu umum sifatnya. 4. Sebagai seorang wanita, untuk persoalan yang sangat sensitif ini, saya jadi tertantang aja. Soalnya poligami jika disampaikan oleh laki2, kesannya karena dia yang akan enak. Padahal ngga’ juga. Adil, sebagai konsekwensi (bukan syarat lho ya ^_^) itu ngga’ gampang, dan ancamanya di akherat berat banget itu. Belum lagi soal kemampuan. Berapa persen sih laki2 yang ‘kuat’ ? (orang indonesia maksudnya, kalo orang arab mah huhui ^_^). Suami saya kenal dengan seorang pria beristri 3, setiap hari dia harus suply sekian jamu kuat, sekian daging… de el el…agar bisa menjalankan kewajiban dia melayani 3 istrinya … SETIAP HARI!! ini serius lho hehehe)Makanya sebagai istri, saya ngga’ takut dg poligami. Yang penting saya menyiapkan diri (diantaranya dengan ini), selain itu saya akan membantu suami memahamkan beratnya konsekwensi dari poligami. Kalo suami kita paham betul konsekwensinya dan dia merasa mampu, silahkan. Insya Alloh poligaminya akan dilakukan dg penuh tanggungjawab. Dan semua pihak akan diuntungkan, terutama istri barunya dan anak2 yang akan dilahirkan. Indah kan? hehehe (buat saya memang masih teori, tapi sudah ada/banyak lho yang membuktikan).Sedang kalo yang menyampaikan poligami adalah seorang wanita, pasti kesannya lain… iya ngga’ sih ??? (semoga jadi amal shaleh buat saya.. amiin). Soalnya, kalo kita ngga’ rela suami nikah lagi, kita menderita dunia akherat.1. Minta cerai… dosa, kalopun akhirnya kita dicerai, emang enak menjanda??? janda mati aja ngga’ enak banget, apalagi janda cerai (yg ini ngga’ perlu dibahas kayaknya udah jelas banget yak???!!!)2. Ngga’ minta cerai tapi ngga’ rela…. kita sakit hati, dongkol… padahal suami kita lagi enak2 ‘beribadah’ (keciaaaan deh kitanya ^_^)3. Merongrong istri barunya… dosa juga…So… ngga’ ada pilihan laen, selain MENYIAPKAN DIRI. Kalo kita dah siap ternyata ngga’ dipoligami… ya ngga’ rugi toh..??? daripada ngga’ siap trus dipoligami… gubrag… heheheUdah ah… sori kalo kepanjangan ^_^


  6. jomblo said: Mungkin kiranya Afi bisa berikan contoh pada saya, kekayaan nabi setelah turun wahyu? Karena jika sebelum turun wahyu

    Yang paling jelas, kekayaan Rasululloh setelah menjadi Nabi berasal dari harta rampasan perang. QS 8:41 menjelaskan dengan jelas jatah Rasul tsb. Kalo setiap perang dapat 1/humus (humus=1/5) kita bisa bayangkan betapa kayanya Rasululloh, apalagi kalo dikumpulin :), bisa jadi konglomerat beliau… hehehe. Masalahnya ya itu tadi, gaya hidup Rasululloh itu miskin, jadi setiap ada harta langsung deh dibagi-bagi.Selain itu, mungkin lho ya (ngira-ngira ^_^) mertua Rasululloh kan kaya (Abu Bakar dan para ketua kabilah), menantu beliau juga (Utsman), mungkin ngga’ ya mereka juga ikut memberi income?, ya kalaupun ngga’ langsung kepada Rasul mungkin kepada anak2 mereka yang merupakan istri Rasululloh. Meskipun ada juga kisahnya bahwa para sahabat kaya itu pernah kelaparan karena suatu hari tidak menemukan apa yg mereka makan. Subhanalloh ya… Contohnya baru ini mas Adith, semoga tidak puas…. jadi bisa nyari sendiri tambahannya^_^


  7. emprit said: Meski pertanyaanya buat mBak Ima, boleh dong saya ikut urun pendapat :-))

    Boleh banget, secara keilmuan soal poligami Mba Afi mungkin lebih pakar dari saya yg masih belajar dan berproses ini ^_^ Makasih sudah membantu menjawab pertanyaan Mas Adith ^_^ Syukran!


  8. jomblo said: Koreksi dikit. Gak semua wanita yang nabi nikahi adalah janda tua atau anak yatim. Beberapa wanita nabi nikahi untuk kepentingan perdamaian. Coba baca “Islam” oleh Karen Armstrong.

    Mas benar ^_^ Saya kurang lengkap menambahkan informasinya, terima kasih ^_^ *saya juga sudah membaca buku itu*Maaf saya belum bisa reply sekarang, untuk topic seserius ini ^_^ Soalnya saya sedang disibukkan persiapan acara akan didatangi petinggi2 KBRI. Kebagian masak Sop Buntut dkk nya neh :-(Eh, tapi Mba Afiyah jago soal poligami lho! Kalo saya mah pendukung semangat monogami, baca di sini dan landasan teologis semangat monogami di sini


  9. emprit said: Setahu saya Rasululloh itu kaya. salah satu buktinya, saya pernah baca entah dimana πŸ™‚ bahwa mahar beliau untuk para istrinya adalah mahar tertinggi di kalangan quraisy waktu itu. Tapi… kita jangan salah paham, bliau kaya tapi GAYA HIDUP miskin.

    Gitu ya Fi? Memang sebelum wahyu turun ke nabi, Nabi itu adalah pedagang yang luar biasa mahsyur dan sukses. Afi benar sekali bahwa mahar nikahnya kepada Khadijah memang yang termahal. Sekitar 300 ekor unta jika saya tidak salah. Nabi juga disukai banyak orang, dinamakan Al-Amin krn reputasi jujurnya.Yang saya pernah baca adalah bahwa setelah nabi mengemban perintah menyebarkan Islam (setelah turun wahyu) beliau dikucilkan dari dunia bisnis.Mungkin kiranya Afi bisa berikan contoh pada saya, kekayaan nabi setelah turun wahyu? Karena jika sebelum turun wahyu, Nabi tidak ditekan siapa2 makanya bisnisnya cukup baik untuk dia bisa bayar mahar sebesar itu.Untuk pejelasan poin keduanya, iya itu make sense. Memberikan rasa aman ya, thanks.


  10. gue yakin ibu uztadzah di journal ini nggak pernah menyangka isi ceramahnya yang saat dibawakan cuma jadi bulan-bulanan orang iseng, sekarang malah jadi diskusi serius di internet :-)kita doakan semoga pahalanya mengalir kepada beliau ya….


  11. jomblo said: Sori mau nanya lagi secara munkin aja pengetahuan Imazahra lebih dalam dari saya.

    Meski pertanyaanya buat mBak Ima, boleh dong saya ikut urun pendapat :-)) kalo ngga’ boleh, minta sama om mbot biar didelete .. hehehe1. Setahu saya Rasululloh itu kaya. salah satu buktinya, saya pernah baca entah dimana πŸ™‚ bahwa mahar beliau untuk para istrinya adalah mahar tertinggi di kalangan quraisy waktu itu. Tapi… kita jangan salah paham, bliau kaya tapi GAYA HIDUP miskin. Jadi ketika ada harta banyak (biasanya setelah perang) langsung dibagikan. Jadi yang namanya nyimpen2 dan menumpuk harta itu ngga’ ada dalam kamus beliau yang kemudian diikuti oleh keluarga dan sahabatnya (tahu kan cerita Aisyah, ketika dapat rizki langsung dia bagi2 sampe lupa njatah dirinya sendiri, kalo ngga’ diingetin sama ‘pembantu’nya, padahal waktu itu lagi puasa). Nah, yg cerita Hafshah dan istri yg lain minta jatah nafkah itu, pas Rasululloh lagi ngga’ punya. Jelas sedih lah, lagi ngga’ punya trus dimintain sama istri. Jadi Umar waktu hampir nampar Hafshah itu, bukan karena minta jatah nafkah, tapi karena bikin sedih Rasululloh.2. Mas Jomblo memaknai penyantunan disini cuma bersifat material. Padahal yang dibutuhkan seorang janda adalah lebih dari itu. Apalagi kalo janda mati (FYI, ibu saya janda mati, jadi saya mngkn agak lebih tahu perasaan janda mati). Nafkah mungkin bisa dicari sendiri (salah seorang istri Nabi, ada yg dijuluki ummul masakin, karena bliau bekerja memintal benang, habis itu hasilnya disedekahkan kpd fakir miskin, berari setelah dinikahi Nabi tidak lantas ngga’ kerja), tapi bagaimana dengan kebutuhan rasa aman, dilindungi, dan dihibur oleh kehadiran suami?. Disamping itu menjadi istri Nabi adalah satu kehormatan besar yang karenanya bisa mengangkat derajat seorang wanita (dalam sebuah ayat disebutkan bahwa para istri nabi mendapatkan pahala dua kali lipat jika berbuat baik, sebaliknya jika berbuat ngga’ baik juga dosanya dua kali lipat). Apakah ada santunan yang lebih besar dibanding sebauh penghormatan? bahkan sekarang aja ada penyerahan nobel, adikarya de el el yang sifatnyan memberi penghormatan.Selain itu, dalam Islam, selama seseorang itu mempunyai syahwat kpd lawan jenis (bukan dari golongan ghoiru ulil irbah), maka kondisi menikah adalah lebih baik dari melajang. Dengan penjelasan logis bahwa selama ada syahwat pasti memerlukan penyaluran, dan jika penyaluran yang halal tidak ada, maka kemungkinan besar akan disalurkan pada yang haram. Sehingga kehadiran janda2 ini sangat tidak ‘bagus’ dalam masyarakat Islam. Baik dari segi yang melihat ataupun dari segi si janda sendiri. Makanya sebisa mungkin para janda itu dinikahi. Dan karena Rasululloh menganjurkan istri pertama adalah seorang gadis (spt dlm sebuah hadits), maka posisi janda ya jadi istri kedua, ketiga dst. Begitu mngkin kasarnya :-)). Untuk pernyataa mas Jomblo yang ini :”Islam adalah agama yang segala aksi memiliki penjelasan logis”, jangan sampe kepercayaan ini membuat mas tidak percaya suatu aksi Islam ketika belum menemukan penjelasan logisnya. Karena Islam itu satu kesatuan yang menyeluruh, jadi memahaminya juga harus menyeluruh. Ketika dipahami secara persial, seringkali memang ngga’ logis dan membingungkan.Semoga bermanfaat, maaf jika ada salah kata.


  12. imazahra said: 3. Yang dinikahi pun janda-janda tua akibat perang atau anak yatim, kecuali Aisyah seorang.

    Sori mau nanya lagi secara munkin aja pengetahuan Imazahra lebih dalam dari saya.Satu hal yang saya gak pernah ngerti dari poligaminya sang nabi adalah begini: kebanyakan mengklaim bahwa nabi menikahi janda tua dan janda perang untuk menyantuni mereka. pertanyaan gue:1. Nabi sendiri kan miskin. Anak dari Abu Bakar dan anak dari Umar yang keduanya adalah istri nabi pernah hampir ditampar masing-masing bapaknya ketika mereka menuntut nabi untuk uang belanja lebih karena household mereka simply gak cukup. Ini nunjukkin bahwa untuk mensustain householdnya aja, nabi udah kesulitan secara independen. Dia tertolong oleh santunan banyak orang. Harap catat bahwa santunan dari banyak orang ini akhirnya diresmikan oleh masyarakat islam Mekkah di saat pemerintahan ABu Bakar karena Abu Bakar suau hari menyatakan menyerah membagi waktu menjadi khalifah dan mencari uang.Pertanyaan saya pada Imazahra, bagaimana Nabi menyantuni janda sebagaimana layaknya suami pada istri jika menyantun istri2 yang ada saja sudah terbukti susah (cerita ini valid lo, saya pernah baca versi islam dan versi baratnya)2. Sepertinya jelas sekali bagi kita semua bahwa untuk menyantuni seseorang, kita tidak perlu menikahi orang itu. Buktinya banyak. Kita yang orang islam menyantuni banyak fakir miskin tapi gak mesti kan kita nikahin? Pertanyaan saya, apa yang membedakan penyantunan janda-janda perang itu sehingga nabi harus menikahi mereka?Sampai sejauh ini, saya berpegang pada penjelasan pada klaim bahwa Nabi menikahi janda-janda perang untuk memberi contoh kepada suami2 yang luar biasa mampu untuk kasihan dengan janda2 perang yang suaminya meninggal di medan perang terutama setelah perang kedua Islam di mana Islam pertama kalinya kalah.Namun yang tidak membuat penjelasan itu puas adalah, apa bedanya cara penyantunan itu sehingga kok ya harus dinikahi?Saya udah baca banyak referensi dan masih belum menemukan penjelasannya. Dan saya termasuk yang percaya bahwa Islam adalah agama yang segala aksi memiliki penjelasan logis.Mohon penjelasannya.Rgds.


  13. imazahra said: 3. Yang dinikahi pun janda-janda tua akibat perang atau anak yatim, kecuali Aisyah seorang.

    Koreksi dikit. Gak semua wanita yang nabi nikahi adalah janda tua atau anak yatim. Beberapa wanita nabi nikahi untuk kepentingan perdamaian. Coba baca “Islam” oleh Karen Armstrong.Berdasarkan buku itu, jaman dahulu, yang namanya persekutuan atau perjanjian damai dapat dengan mudah diingkari. Nabi melihat kelemahan ini dan akhirnya menempuh jalan perdamaian dengan bani-bani lainnya dengan cara menikahi anak-anak dari kepala suku (bani) itu. Gue mencatat setidaknya 2 kali beliau melakukan hal ini.Logikanya, seseorang mungkin aja membunuh suku lain, tapi masak iya seseorang akan membunuh suami dai anaknya sendiri? gitu lo, paradigmanya.Ada lagi dia menikahi seorng budak yahudi hasil persembahan pharaoh (baca: fir’aun) di saat itu. Katanya ini yang paling cantik dan yang spektakuler, dari budak ini seorang anak laki lahir namun meninggal di saat bayi.Semua keterangan dari buku ‘Islam’ Karen Armstrong.Rgds.


  14. imazahra said: Pertanyaanku belum dijawab πŸ™ Apa pendapat Ida sendiri???*eh eh, sejak married Ida kok jadi jarang ngempih siyyyyyyy Mas? Fans protes!*

    aduuuh, aku ditodong pertanyaan niiih! hehehehe..Pada dasarnya ima, aku juga punya pendapat yg sama dengan ima mengenai poligami ini. Jadi, memang dibolehkan agama, tapi syaratnya sangat berat dan ga bisa seenaknya aja dijadikan pembenaran oleh kaum pria yg ingin beristri lebih dari satu. Menurutku, kalo bisa setia dengan satu pasangan tentunya jauuh lebih baik.. :-))Aku jarang posting? iya nih ima, bikin tulisannya sih dah banyak, tapi separoh jalan ditinggal, coz ada aja yg mesti dikerjain duluan..akhirnya numpuk didocument deh..entar deh, pada aku posting-in ya..banyak cerita menarik seputar profesi sebagai guru..lucu2 deh kalo berhadapan ama anak2! hehehehehe….sabar yaaaa!! :-)))makasih dah dikangenin!!! :-)))


  15. imazahra said: *eh eh, sejak married Ida kok jadi jarang ngempih siyyyyyyy Mas? Fans protes!*

    tauk tuh, di harddisk sini sih banyak tulisannya, tapi rata2 pada belum selesai. Padahal suaminya nggak ngelarang lho…!


  16. mbot said: mudah2an salah ketiknya bukan akibat emosi soal poligami πŸ™‚

    Emosi………?, tidak laa yau ^_^ Yang saya sampaikan (uraian ber point) itu sumbernya dari al-Qur’an kok ^_^Pertanyaanku belum dijawab πŸ™ Apa pendapat Ida sendiri???*eh eh, sejak married Ida kok jadi jarang ngempih siyyyyyyy Mas? Fans protes!*


  17. kunyik said: Huahaaahaaahaaa…..Ini persis sama daily dialogue antara gue yang tukang sewot dan suami gue yang doyannya gangguin istri….. *Gue seperti uztadzah yang sewot, suami seperti bapak2 yang jail…..*Biasanya kalo udah begini berakhir dengan suami gue merah2 dicubitin sama gue yang marah2….. Huahahahaha…..

    Hahaha… Nanda temen kantor gue tuh juga paling demen bikin sewot ibu2 dengan ngomongin poligami. Dianya mungkin asal aja ngomong, tapi ibu-ibu yang denger sewot beneran, sampe besokannya ada yang lapor semalem habis mimpi buruk ditinggal kawin lagi sama suami…!! hehehehe..


  18. aburasyidin said: hahaha…kalo aku ngitung nilai server di kantor, karena penyusutan 5 tahun nilai bukunya udah nol, jadi boleh ganti server baru…

    waduh, mudah2an nggak ada suami yang menyamakan istrinya dengan server ya..! πŸ™‚


  19. mbot said: kalo soal NGOMONG-in (sebatas ngomong doang lho ya) soal poligami, kayaknya sebagian besar bapak2 mendadak jadi super pede semua deh

    Hehehe, sudah saya duga. Beraninya ngomong doang. Kalo bener berani, buktikan dong dg penuh tanggungjawab (ya iya, kalo ngga’ bertanggung jawab mah semuanya juga bisa ^_^)Setuju mbak Ima, mbot dah pantes tuh jadi ustadz…. berani jamin kayaknya ngga’ ada yg ngantuk apalagi ampe kejedut dan ngimpi2in istri… kikikiki


  20. mbot said: kan yang tua udah kena penyusutan bu, jadi wajar kalo harga turun…”

    hehehe yang ini asli bikin ngakak =))salam kenal mas agung. Pertama baca mp mas agung dari waktu misteri telp caca, dan sampai sekarang saya pembaca setia journal ini πŸ˜€


  21. mbot said: “Berdasarkan statistik kan penduduk dunia sekarang udah makin nggak imbang bu. Rata-rata perbandingan laki-laki dan perempuan 1 : 8, bahkan di beberapa tempat 1 : 10 (entah dapet data statistik dari mana nih si bapak). Ini kan harus ada solusinya. Kita mah cuma mau nolongin aja, bener nggak bapak-bapak?”

    Huahaaahaaahaaa…..Ini persis sama daily dialogue antara gue yang tukang sewot dan suami gue yang doyannya gangguin istri….. *Gue seperti uztadzah yang sewot, suami seperti bapak2 yang jail…..*Biasanya kalo udah begini berakhir dengan suami gue merah2 dicubitin sama gue yang marah2….. Huahahahaha…..


  22. ladymotts said: Kalau niatnya untuk meneladani Rasulullah SWT ..

    Diskusi ini emang gak ada habisnya, setua peradaban manusia kayaknya ^_^Kalo misinya meneladani Nabi, ikutin urutannya dulu dunk: 1. Nabi memilih menikah dengan Khadijah yg 15 tahun lebih tua dari beliau, Muhammad 25 tahun dan Khadijah 40 tahun, bisa dibayangkan kan spt apa perempuan berusia sepantaran Khadijah2. Beliau tidak menikah dengan siapapun hingga Khadijah meninggal! 3. Yang dinikahi pun janda-janda tua akibat perang atau anak yatim, kecuali Aisyah seorang.So, kalo mau meneladani Nabi, mustinya jangan sepotong2 yang diambil, salah kaprah dan seenaknya jadinya πŸ™


  23. imazahra said: Kalo saya kembali ke Qur’an saja, poligami bukanlah KEWAJIBAN <——— yang parah, salah kaprah poligami dianggap sebagai kewajiban dan sunnah ini yg kacau πŸ™ Poligami (dirujuk dari tafsir manapun) adl sebuah KEBOLEHAN dengan sekian aturan main. Inti pesan yg disampaikan Qur'an adl kebolehan itu muncul jika kita sanggup berlaku adil, then ukuran ADIL sendiri abstract banget kaaaaaaaan ^_^

    *ngutip dari yg saya baca, tapi lupa linknya apa* … dari sekian banyak hal yang disunahkan … kok ya milihnya yang susah… πŸ™‚ Kalau niatnya untuk meneladani Rasulullah SWT .. masih banyak cara2 lain yang *mungkin* lebih mudah dijalani, dan lebih sedikit *godaannya* πŸ™‚ hehehe kok malah jadi mbahas ininya …


  24. mbot said: Pada prinsipnya, menurut gue ceramah harus disesuaikan dengan para pendengarnya

    setuju !!!kadang ada ceramah di kampung, tapi yg dibahas politik, istilah2 sok keren yg malah bikin bingung yg dengerin.


  25. agungks said: asli lucu neh…pasti mayoritas peserta pengajian bapak2 tuh, kalo ada ibu2 kan lumayan ada yg ngebelain si ustadzah * dakwah memang berat, Bu he he he *

    padahal sekitar 1/3 peserta ceramah kemarin ibu2, malah ikutan cekikikan… kasihan ya ibu uztadzahnya… (kasihan kasihan tapi ikutan geli juga) πŸ™‚


  26. mbot said: Kok jadi panjang sih?

    Soalnya Om Mbot cocok menggantikan si Ibu Ustadzah nya ^_^ Huehehehe hehehehehe….Saya nanya karena buat saya pribadi, belajar sendiri tentang sesuatu (termasuk agama) jauuuuuuuuuuh lebih mudah daripada menyampaikan kembali ilmu (termasuk agama) yang sudah saya dapat ke orang lain.Soal poligami issue, sila diliat link yang saya buat, kayanya Mas juga udah baca kok ya *kok aku sok yakin gini sih ^_^ *Kalo saya kembali ke Qur’an saja, poligami bukanlah KEWAJIBAN <——— yang parah, salah kaprah poligami dianggap sebagai kewajiban dan sunnah ini yg kacau πŸ™ Poligami (dirujuk dari tafsir manapun) adl sebuah KEBOLEHAN dengan sekian aturan main. Inti pesan yg disampaikan Qur'an adl kebolehan itu muncul jika kita sanggup berlaku adil, then ukuran ADIL sendiri abstract banget kaaaaaaaan ^_^Ida sendiri pendapatnya gimana nih soal poligami, isu ini pan paling ditakuti perempuan dan dicintai laki-laki, huehehehe hehehehehe hehehehe


  27. myshant said: mudah-mudahan suami gue gak termasuk golongan suami bersyahwat gedhe yg gak cukup dgn satu istri, ataupun kalau misalnya iya, mudah-mudahan gue sanggup meladeni syahwatnya :p*ikutan ima, ini doa serius*

    amiiin… walaupun kalo menurut gue sih yang namanya syahwat nggak akan bisa dipuaskan krn nggak ada abisnya. syahwat itu hanya bisa dimanage, nggak bisa dituntaskan.


  28. emprit said: mbot, kalo saya jadi ustadzahnya akan saya jawab gini :”lho kalo bapak emang syahwatnya gedhe, yang dengan satu istri ngga’ cukup, emang mendingan bapak poligami yang halal dari pada ‘jajan’ yang haram. Dan kalo dg 2 istri masih ngga’ cukup, boleh ko’ 4 sekaligus”.

    nah itu dia, masalahnya kelihatannya si ibu uztadzah ini diam2 nggak setuju dengan konsep poligami emprit. makanya beliau jadi ‘panas’. (begini nih kalau psikolog ikutan ceramah, uztadzahnya dianalisa juga)


  29. imazahra said: Whuehehehe hehehehe…. ^_^Btw, kasih tips dunk Mas gimana format pengajian biar gak boring??? *ini nanya serius*

    waduh.. apa ya tipsnya? gue juga nggak sering2 amat ikut pengajian. tapi berdasarkan pengalaman kemarin kita bisa belajar dari kesalahan si ibu utadzah dan moderator:Topik awalnya “konsep pendidikan dalam Islam”, tapi muncul pertanyaan yang nyeleweng dari topik (tentang poligami) dibiarkan aja. Harusnya moderator cut di sini biar nggak ngelanturIbu uztadzahnya memasukkan preferensi pribadinya (soal poligami) dalam menjawab pertanyaan. Ini yang bikin beliau jadi emosi, karena pertanyaan2 nyeleneh yang muncul diterima sebagai ‘serangan’ terhadap pendapat pribadinya. Seharusnya, beliau hanya sebatas menyampaikan aja apa yang menjadi ketentuan dalam agama, nggak usah mencampur adukkan dengan pandangan pribadiPenggunaan contoh yang relevan dengan kondisi audience. Misalnya contoh yang beliau berikan soal teladan anak. Kondisi anak sering keluyuran siang-siang di rumah tetangga mungkin nggak bisa dihindari oleh sebagian besar audience karena banyak yang suami-istri bekerja. Seharusnya, kalau beliau mengangkat contoh seperti ini, disertai solusi “lantas pasangan suami – istri yang siang2 ngantor harus gimana biar anak tetap dapat teladan yang baik??”Pada prinsipnya, menurut gue ceramah harus disesuaikan dengan para pendengarnya. Kaum menengah yang rata2 berpendidikan tinggi nggak akan masuk kalau isi ceramahnya cuma nakut2in ancaman dosa dan neraka. Ada satu ceramah AA Gym yang gue inget sampe sekarang karena penyampaian yang bagus banget: beliau menganalogikan kehidupan rumah tangga dengan customer service management. Petikannya kurang lebih;”Anggap suami dan istri kita sebagai customer yang harus mendapat pelayanan terbaik. Kalau customer puas, bisnis akan lancar kan? Bagaimana mau menuntut suami tetap sayang kalau istri ogah2an melayani, suami pulang istri belum mandi? Bagaimana mengharap istri tetap cinta kalau suami kurang perhatian dan kurang mesra?”Kalau untuk konteks kantoran, analogi dengan terminologi bisnis seperti ini sangat kena dan sumbernya nggak akan habis. Kok jadi panjang sih?


  30. ti2n said: hihihi… iya, bapaknya yang nanya kePEDEan banget sih…huehuehue

    kalo soal NGOMONG-in (sebatas ngomong doang lho ya) soal poligami, kayaknya sebagian besar bapak2 mendadak jadi super pede semua deh… entah kenapa, mungkin krn merasa dapat privilese lebih daripada para ibu.


  31. *ngakak*wadooh, kocak banget seehh. =)) itu luapan stres gara-gara neraca saldo (bapak ‘penyusutan’ dari divisi rumah tangga), atau emang hobi ngeprovokasi yak…?sableng, uedaan…!! kalo gw, gak tega. walk out aja, buu!! πŸ˜›


  32. emprit said: :”lho kalo bapak emang syahwatnya gedhe, yang dengan satu istri ngga’ cukup, emang mendingan bapak poligami yang halal dari pada ‘jajan’ yang haram

    mudah-mudahan suami gue gak termasuk golongan suami bersyahwat gedhe yg gak cukup dgn satu istri, ataupun kalau misalnya iya, mudah-mudahan gue sanggup meladeni syahwatnya :p*ikutan ima, ini doa serius*


  33. mbot, kalo saya jadi ustadzahnya akan saya jawab gini :”lho kalo bapak emang syahwatnya gedhe, yang dengan satu istri ngga’ cukup, emang mendingan bapak poligami yang halal dari pada ‘jajan’ yang haram. Dan kalo dg 2 istri masih ngga’ cukup, boleh ko’ 4 sekaligus”.