alangkah lucunya (negeri ini)

Ngeliat film-film Indonesia yang beredar belakangan ini, gue sering ngebayangin di kantor-kantor penyandang dana film terpampang maklumat sebagai berikut:

PERHATIAN!
Bagi para penggagas cerita film yang ingin minta modal, kami beritahukan bahwa kami kami hanya berminat para tema-tema berikut:
– percintaan (harus ada seks)
– horror (harus ada seks)
– komedi (harus ada seks)
– percintaan – religi (harus berdasarkan novel laris)
– umum (harus berdasarkan novel laris)
Di luar tema-tema yang telah kami sebutkan, mohon tidak membuang-buang waktu (dan duit) kami.

Memang sekarang jaman susah, gue maklum kalo para pemilik modal ogah mengongkosi produksi film dengan tema yang belum terbukti akan mendatangkan penonton. Maka gue sungguh salut atas keberanian orang-orang di balik film Alangkah Lucunya (Negeri Ini).

Alkisah, Muluk (Reza Rahadian) adalah sarjana manajemen yang setelah sekian lama lulus belum juga berhasil dapet kerja kantoran. Bapaknya, Makbul (Deddy Mizwar) adalah seorang tukang jahit yang rajin mengaji bersama Haji Rahmat (Slamet Raharjo) dan Haji Sarbini (Jaja Miharja). Menyikapi status pengangguran Muluk, Makbul sebagai bapaknya masih bersikap optimis dan yakin anaknya akan mendapat pekerjaan yang baik. Sebaliknya, Haji Sarbini mendesak Makbul agar mau menyuruh Muluk segera buka usaha agar bisa segera menikahi Rahma, anaknya, yang juga sedang dipepet oleh Jufri (Edwin), seorang caleg.

Di tengah perjalanannya mencari kerja, Muluk berkenalan dengan seorang copet kecil bernama Komet. Komet ternyata anggota sindikat yang dipimpin oleh Jarot (Tio Pakusadewo). Muluk akhirnya berkenalan dengan Jarot dan menawarkan jasa manajemen untuk mengelola uang hasil nyopet mereka. Jarot menerima tawaran ini, dan Muluk lantas merekrut 2 orang temannya yaitu Syamsul (Asrul Dahlan) dan Pipit (Ratu Tika Bravani). Selain mengelola uang hasil nyopet, mereka bertiga juga memberikan pendidikan kepada para bocah pencopet, mulai dari belajar membaca, berhitung, pancasila, dan agama.

Konflik mulai terjadi saat Makbul dan kedua haji temannya penasaran dengan “proyek” yang ditekuni anak-anak mereka dan berkunjung ke markas para copet. Di sana mereka terkaget-kaget dan kecewa karena anak-anak mereka ternyata selama ini makan uang haram dari hasil mencopet.

Satu hal yang sempat gue khawatirkan dari film garapan Deddy Mizwar pada umumnya adalah kebiasaannya untuk menokohkan diri sebagai sentra kesucian dan kebenaran, tampil berkopiah dan kostum haji, berzikir dan memberi petuah sakti yang mampu meluruskan segala jenis kebathilan dan kemungkaran. Seperti bisa membaca kekhawatiran gue, rupanya kali ini Deddy Mizwar memilih jadi satu-satunya tokoh yang belum haji di antara 3 tokoh berkopiah yang sering duduk berzikir di film ini πŸ™‚

Secara umum film ini sangat keren, jenius, bahkan jauh lebih bagus daripada Nagabonar (jadi) 2 yang dulu rame dielu-elukan orang sebagai film bagus. Film ini cerdas dan berani, terasa seperti memotret realitas bangsa Indonesia dari seorang bapak tua yang jidatnya berkerut prihatin lantas ketawa getir. Sebagai penonton gue diajak mikir, bukan dalam arti berpusing-musing mikirin cerita yang ruwet tapi dalam konteks peletakan baik-buruk dan benar-salah yang dipertanyakan ulang. Nyopet itu profesi haram, uangnya uang haram, tapi bagaimana dengan orang yang mengelola dan mendidik para pencopet untuk menjadi orang yang lebih baik? Siapa yang lebih baik, orang-orang yang berusaha mengentaskan para copet dari profesinya namun turut menikmati uang haram, atau mereka yang tidak ikut makan uang haram namun tidak berbuat apa-apa? Saat kita memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan yang menghasilkan duit haram, lantas bagaimana dengan orang lain yang kecewa lantaran sempat menemukan makna hidup dan harga diri dari pekerjaan haram tersebut?

Dengan cerdik film ini melontarkan kritik-kritik sosial dengan cara yang ‘manis’ dan ‘aman’. Contohnya adegan waktu anak-anak pencopet diajak ‘field trip’ mengunjungi gedung DPR-MPR, beberapa kali mereka melontarkan pertanyaan ‘di dalam sana ada copet juga nggak?’. Atau simak juga adegan lainnya di mana tokoh Jufri si caleg, dengan bangga menenteng laptop ke rumah Rahma hanya untuk menunjukkan…. screensaver bergambar aquarium! Kena banget dengan ribut-ribut pembelian laptop berharga puluhan juta untuk para anggota dewan yang masih belum jelas bisa makenya atau enggak. Atau adegan Syamsul, sang sarjana pendidikan yang bertahun-tahun nganggur dan biasanya menghabiskan umur dengan main gaple di pos ronda berusaha menjelaskan pentingnya pendidikan bagi anak-anak pencopet. Ternyata kesimpulan yang mereka ambil adalah, ‘pendidikan itu penting karena bila kita punya pendidikan tinggi maka kita bisa mengeruk uang lebih banyak sebagai… koruptor’.

Secara mengejutkan gambar-gambar film ini sangat bagus, pemilihan lokasinya pas dan yang lebih istimewa lagi pemilihan pemerannya: bener-bener mirip copet. Apalagi tokoh yang bernama Glen, tampangnya nyolotin abis dan gue ngebayangin kalo tongkrongan kayak dia berkeliaran di Grand Indonesia sangat berpotensi disamperin satpam. Asrul Dahlan kembali mencuri perhatian gue seperti yang telah dilakukannya waktu berperan sebagai supir Padang yang mengantar tokoh Guntur naik truk sewaan di film King.

Kalaupun ada kelemahan, itu adalah kemunculan konflik yang terasa terlambat. Setelah semuanya berjalan lancar, baik, dan maju, tiba-tiba konflik dan tau-tau film selesai. Padahal karakter keras para bocah pencopet sebenarnya potensial sebagai sumber konflik, misalnya antara tokoh Komet dan Glen yang nampak kurang akur. Atau misalnya kemunculan tokoh Jufri sebagai kompetitor Muluk mendekati Rahma. Atau kecemburuan tokoh Rahma terhadap Pipit. Selain itu, penggambaran manajemen Muluk nampak kurang tergarap dengan jelas. Yang terlihat di layar hanyalah dia menabungkan sebagian hasil nyopet di Bank Muamalat (hehe) dan tahu-tahu aja saldonya udah 21 juta. Padahal andaikan aktivitas manajemennya sedikit lebih ditonjolkan, akan memperkuat kredibilitas sosoknya sebagai orang yang sebenarnya cerdas tapi nggak mendapat kesempatan. Faktor lainnya yang juga mengganggu adalah kemunculan para sponsor dalam adegan-adegan yang terasa terlalu ‘vulgar’. Yang paling kacau adalah adegan Muluk mengantarkan satu dus produk sosis siap santap ke rumah Haji Rahmat dan pak haji langsung menikmatinya dengan ekspresi yang berlebihan. Tapi yah, problem ini memang selalu ada di berbagai film Indonesia sejak era 80-an.

Untunglah film akhirnya ditutup dengan ending yang sangat natural. Lagu ‘Indonesia Tanah Airku’ ciptaan Ibu Sud dengan aransemen ngerock karya Ian Antono menjadi penghantar yang sangat kena dan bikin merinding saat layar menyuguhkan kembali berbagai elemen realita masyarakat yang terus dipertanyakan noleh film ini. Rombongan murid-murid SD dipimpin oleh ibu guru yang memberikan komando ‘kalau nanti mobil presiden lewat, lambaikan benderanya ya’ berbagi layar dengan upaya para bocah pencopet saat untuk menerapkan apa yang diajarkan ketiga guru mereka selama ini. Keren banget! Kalo soundtracknya dijual, gue yakin akan beli.

Kesimpulannya: ini adalah film yang sangat Indonesia, bikin malu dan bangga pada saat yang bersamaan – malu karena ngeliat potret betapa noraknya masyarakat kita, juga bangga karena hari gini masih ada sineas Indonesia yang cukup punya otak untuk bikin film secerdas ini. Keren!

21 comments


  1. kewl review mas agung! thumbs up! pengen banget nonton dari awal promonya muncul di tivi, tapi blm kesampean juga sampe sekarang. gue juga selalu suka dengan garapan Pak Dedi Mizwar, dari serial tivinya jg, akting tokoh2nya lumayan natural dan kisah yg diangkat dekat dgn kehidupan sehari2, ga dibuat2, tapi tetep menarik..mgkn gw akan beli dvdnya buat mendukung karya pak Dedi..hehe


  2. emang..aku aja masih menganggap, klu film bagus tuh, kalau film itu di garap dari novel terkenal, sutradara yang dapet penghargaan… tapi setelah lihat review dari om mbot… aku jadi mikir lagi, hehe… keren reviewnya..besuk nonton aahhh…!


  3. ini serius bintang lima gung?bukan karena lu kasian aja? :pbtw, film ini dimana-mana dapet penilaian bagus.ok deh. gue akan nonton dengan membawa semangat dari rumah : ini film pasti jelek, jadi sepanjang nonton akan gue cari kejelekannya, dan nanti tulis review yang menjelek-jelekkan.haha.


  4. Ini film terbaik yg aku tonton dalam beberapa bln terakhir. Film yg bikin nangis, bikin sesek tapi juga bikin tersenyum2 geli. Reza rahardian kembali menunjukkan kualitas aktingnya setelah jadi zein di emak ingin naik haji…