
Penemuan ini terjadi di suatu malam di mana Ida harus tidur lebih awal karena besoknya mau ada pesanan kue subuh-subuh, sementara Rafi masih belum berminat tidur. Masalahnya, Rafi hanya mau tidur sama bundanya, sementara konsep tidur bersama bapak dipandangnya sebagai malapetaka. Misalnya,
“Rafi, ayo mandi dulu!”
“Nggak mau!”
“Ya udah, kalo gitu yuk bobo sama bapak…”
“Mbaaak… mau mandi ajaaa…”
Maka malam itu bisa dibayangkan drama yang terjadi ketika Ida mengunci diri di kamar tamu untuk mengumpulkan energi, sementara Rafi terkurung di kamar utama bersama bapaknya.
“Huaaaa… bapak, mau sama bunda ajaaa….”
“Sama bapak aja ya…”
“Nggak mau, nggak mau, nggak mau….!”
“Bundanya mau tidur, mau bikin kue…”
“Mau cium bunda, mau cium bunda, mau cium bunda!”
Maka dalam kondisi genting tersebut, sang bapak berhasil menemukan sebuah jurus ampuh bernama “DONGENG INTERAKTIF”.
Caranya sederhana: ketimbang harus ngapalin cerita rakyat yang penuh dengan konsep raksasa, naga, anak durhaka yang dikutuk jadi batu, dan pangeran yang ngebet kawin dengan putri, maka gue menciptakan dongeng di mana tokoh utamanya adalah Rafi sendiri. Bukan cuma itu, Rafi juga bebas menentukan jalannya dongeng sedemikian rupa sehingga bapaknya nggak usah capek-capek mikirin cerita yang utuh.
“Eh dengerin dulu, bapak mau cerita.”
“Cerita apa?”
“Cerita tentang anak yang lucu, pintar, sopan, baik hati, rambutnya keriting, namanya…?”
“Rafi!” jawab Rafi dengan penuh rasa percaya diri.
“Nah, pada suatu hari, Rafi sedang main di rumah bersama siapa hayo….?”
“Sama mbak Inah, sama mbak Tini,” katanya menyebut nama dua orang asisten rumah tangga.
“Nah, tiba-tiba bel pintu berbunyi, ‘net-not’, terus Rafi membuka pintu. Ternyata di depan pintu ada siapa hayo…?”
“Ada Barney!”
“Iya betul!. Trus ada siapa lagi?”
“Ada Bibibop! (maksudnya Baby Bop)”
“Nah, Barney dan Bibibop mau mengajak Rafi pergi. Pergi ke mana, hayo…?”
“Ke rumah eyang!”
…dan seterusnya. Cerita ini gampang dimodifikasi dengan mengganti-ganti tokoh yang muncul di depan pintu, bisa Barney, Thomas, atau Elmo. Tujuan perginya juga bisa ke rumah eyang, ke pasar, atau ke sekolah. Nanti stelah cerita berjalan, biasanya Rafi sendiri yang sibuk meneruskan, apa yang akan terjadi sesudahnya. Bisa aja pergi ke rumah eyang, terus di rumah eyang ketemu Elmo yang mengajak ke kebun binatang naik kereta Thomas, misalnya. Atau pergi ke rumah eyang, abis itu pergi lagi ke rumah eyang, terus pergi lagi ke rumah eyang. Bebas-bebas aja terserah Rafi mau mengarahkan ceritanya ke mana.
Pada kesempatan selanjutnya, metode Dongeng Interaktif juga bermanfaat untuk menyampaikan pesan moral. Gue menciptakan tokoh bernama Rafa yang kerjanya dimarahin bunda melulu karena nakal (buat yang anaknya bernama Rafa jangan protes ya, nama anaknya gue jadiin tokoh antagonis, hehehe…). Misalnya,
“Bapak mau cerita tentang anak kecil yang bernama Rafa…”
“Bukan Rafi?”
“Bukan. Kalau Rafi kan pintar lucu sopan, kalau Rafa sering dimarahin bundanya.”
“Dimarahin kenapa?”
“Masa bundanya lagi sibuk bikin kue, eh tau-tau kuenya diambil Rafa, nggak minta ijin dulu, terus dimakan…. boleh nggak begitu?”
“Nggak boleh!” (Padahal sendirinya habis melakukan tsb 5 menit yang lalu).
“Itu namanya nggak so…?”
“…Pan!”
“Jadi Rafa kalau ingin kue harus bagaimana coba?”
“Harus bilang dulu, bunda, nyuwun kue boleh? Gitu…”
Sejak saat itu, acara bobo bersama bapak menjadi acara yang menarik buat Rafi 🙂
foto: rafi abis ‘membantu’ bunda membuat kue

Ada komentar?