Get Married

"Get Married" membuktikan bahwa film bisa menyampaikan pesan bagus tanpa harus jadi sok tau, dan bisa menghibur tanpa harus jadi tolol. Ceritanya sederhana banget: tentang upaya tokoh Mae alias Maemun yang diperankan Nirina mencari jodoh. Yang bikin seru adalah kondisi di mana tokoh Mae ini digambarkan sebagai cewe tomboi yang setiap hari kerjanya main gaple di pinggir kali, bersama 3 orang teman cowoknya (Desta, Agus Ringgo, dan Aming) yang diam-diam nggak rela ditinggal kawin oleh Mae.

Kedua orang tua Mae (Jaja Miharja dan Meriam Bellina) mengupayakan segala cara untuk nyari calon mantu ideal, tapi satu per satu ‘diusir’ oleh Mae. Caranya adalah, kalo Mae merasa kurang berkenan dengan pria yang menemuinya, dia akan ngasih kode berupa kibaran kain merah kepada 3 orang teman cowoknya itu. Berdasarkan kode itu, nanti mereka bertiga akan ‘membujuk’ si pria agar jangan pernah mampir ke kampung mereka lagi.

Komplikasi terjadi ketika Mae akhirnya menemukan calon yang diminati, tapi Aming yang buta warna salah mengartikan kode kibaran kain Mae sehingga pria idaman itu pun ikut-ikutan kena ‘bujuk’ sampai babak belur. Mae patah hati, ibunya juga jatuh sakit karena stress memikirkan putrinya nggak kawin-kawin, dan ketiga temannya merasa harus bertanggung jawab menyelesaikan urusan salah paham ini.

Hasilnya adalah adegan puncak yang kacau-balau…

Yang gue suka dari film ini adalah: dari tema yang begitu ‘ringan’, dia menyajikan potret nyata masyarakat sekarang dan ngajak penonton untuk ngetawain ulah mereka sendiri. Mulai dari beratnya tekanan sosial bagi para cewek – dan orang tuanya – untuk cepat kawin, ironisnya kebiasaan pergi ke dukun yang dilakoni oleh kaum berduit dan berpendidikan, serta masalah pengangguran yang bikin orang cepat naik darah. Sindiran terhadap masyarakat modern yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan juga digambarkan secara unik dengan kilasan-kilasan gambar manusia prasejarah yang menenteng gada.

Nirina lagi-lagi membuktikan bakatnya berakting, dan untuk cewek se-imut dia, kok ya mau-maunya tampil acak-acakan dengan coreng-moreng bedak dan lipstik di muka akibat kalah main gaple. Salut!

Aming juga lumayan berhasil keluar dari stereotipe perannya di Extravaganza, walaupun di banyak kesempatan gue nggak bisa denger dialognya saking cepetnya dia ngomong. Untuk di film selanjutnya kayaknya Aming mesti belajar teknik pelafalan dialog yang lebih jelas deh.

Agus Ringgo… yah, sebenernya sih aktingnya oke-oke aja, tapi jujur gue mulai bosen deh liat tampang dia muncul di mana-mana. Coba aja itung berapa iklan yang dia bintangi, plus film, plus sinetron, plus acara talk-shownya yang garing itu (masih tayang nggak sih acara itu?). Waktu pertama kali liat dia muncul di film Jomblo sih lucu ya, tapi sekarang kalo liat dia dengan gaya khasnya memonyong-monyongkan bibir itu rasanya pingin… AAAARRGGGHHHH!!!

Cameo yang perlu dicatat dalam film ini adalah si pemeran Rahmat di serial Jomblo yang hobinya ngomong ‘daripada’ itu… huhuhu… lucu banget!

Akhir kata, 4 bintang dari gue. Lima bintang gue kasih seandainya nggak ada Agus Ringgo.

18 comments


  1. setuju!akhirnya ada film Indonesia “non-setan’ yang bagus beredar di Bioskop akhir2 ini.dan kayaknya cukup lama juga ini film nampang di bioskop yah.keren kereenn!!! suka sama aktingnya Ira Wibowo sama Jaja Miharja. dan emang udah mulai bosen liat mukanya “bodohnya” si agus