kisah di balik rumah

Published by

on


“Setiap rumah memiliki kisah”, kata iklan semen Holcim.

Hari ini, sayangnya, gue ketemu dengan rumah yang kisahnya nggak terlalu menyenangkan.

Berawal dari kunjungan Ibu Penulis Nadnuts ke rumah gue beberapa waktu yang lalu. Salah satu topik obrolan waktu itu adalah tentang rumah. Ida nanya2 sama Nadnuts, kira-kira di sekitar rumahnya di Tebet sana ada rumah yang lagi dijual atau enggak. nadnuts malah menyarankan agar kami berburu di daerah Pal Batu, nggak jauh dari Tebet. Masih di tengah kota, tapi banyak rumah yang ditawarkan dengan harga relatif terjangkau.

Maka minggu lalu gue dan Ida iseng keluyuran di daerah Pal Batu, berburu rumah. Bener-bener iseng karena kami nggak punya informasi sama sekali tentang rumah yang lagi dijual di sana. Main nyelonong aja dan nanya2 sama tukang ojek, tukang warung, dan bapak-bapak yang lagi nongkrong di pinggir jalan. Eh, nggak taunya walaupun tanpa planning kaya gitu, kami berhasil menemukan beberapa rumah yang lagi dijual.

Salah satunya adalah rumah milik ibu Retno (bukan nama sebenarnya). Terpasang pengumuman ‘rumah ini dijual ‘ beserta sebuah nomor telepon. Kami udah mencoba ketok-ketok, tapi nggak ada yang bukain pintu. Maka beberapa hari kemudian Ida mencoba nelepon ke nomor itu, dan bicara langsung dengan Ibu Retno-nya sendiri.

Harga yang ditawarkan Ibu Retno ternyata rada di atas budget kami, tapi…”…kalo mau rumah yang rada murahan, saya masih ada stok rumah lainnya lho!” kata Bu Retno.
“Lho, ibu rumahnya banyak ya?”
“Bukan, itu ‘titipan’ temen2n saya. Saya ini kan… ehm… makelar… Ayo kalo mau liat-liat saya anterin!”

Maka hari ini gue dan Ida kembali berkunjung ke rumah Ibu Retno, yang langsung disambut secara antusias, “Saya baru dapet info rumah baguus… sekali mau djual di sekitar Saharjo! Rumahnya baru, besar lagi. Bisa masuk mobil!”
“Waduh, jangan-jangan harganya nggak kebeli, lagi bu…” kata Ida.
“Enggak! Dia jual murah banget, cuma sekian sekian juta. Gila nggak?”
“Loh, kenapa dia jual semurah itu?”
“Soalnya, gini lho…” Bu Retno merendahkan suara dengan ekspresi gosip, “…pemiliknya itu kan… itu lho… anu… istri ke dua… nah selama ini istri tuanya nggak tau suaminya kawin lagi. Eh begitu tau, didatengin deh rumahnya si istri muda ini, dilabrak abis-abisan! Si istri muda ini ketakutan trus kabur nggak mau tinggal di situ lagi…”

Beberapa menit kemudian kami udah berada di depan rumah yang dimaksud. Rumahnya nyelip, agak menjorok di belakang rumah-rumah tetangganya. Bu Retno memanggilan seorang ibu tua untuk membukakan rumah ini. Belakangan gue tau ibu tua ini adalah ibunya si pemilik rumah yang mana adalah ‘istri ke dua’ tadi.

Sebenernya sejak pertama ngeliat rumah ini gue udah nggak terlalu sreg. Masalahnya ditimbang dari warna cat rumah yang kuning kunyit dengan hiasan ornamen2 putih melingkar-lingkar plus ubin warna belang hijau putih – kayaknya rumah ini butuh biaya gede untuk renovasi. Tapi begitu masuk ke dalam rumah, gue malah jadi tertarik sama hal lain, yaitu ‘kisah’ di balik rumah ini.

Dinding ruang tamu penuh dihiasi dengan foto2 sang pemilik rumah dalam ukuran 10 R. Ada foto si suami, lagi salaman sama seorang pejabat tinggi Indonesia. Juga foto pernikahan mereka, dalam busana adat salah satu daerah di Sumatera. Istrinya nampak jauh lebih muda dari suaminya yang gue perkirakan berumur 40-an. Siapa sih sebenernya si bapak ini? Orang partai-kah? Atau pejabat? Gimana ceritanya sampe bisa ketemu dan menikah dengan si bapak? Apa yang dibilang oleh si bapak sehingga akhirnya dia mau dikawini?

Di antara ruang makan dan ruang tamu ada sebuah keyboard beserta beberapa buah buku partitur. Siapa yang suka main musik di rumah ini? suaminya atau istrinya? Atau keyboard ini buat pengisi waktu si istri saat suaminya lagi jadwal kunjungan ke rumah istri tuanya?

Di sudut lainnya ada foto anak mereka, umur 9 bulan – nggak beda jauh dengan bayi Rafi – lagi tertawa lebar di atas sofa. Di sudut lainnya ada foto anak ini dijejerkan dengan foto ayahnya waktu berumur 9 bulan – nampak mirip sekali. ada sebuah kamar di bawah, nampaknya kamar si anak. Ada gambar tempel Spiderman di pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca bening. Di depan kamar terparkir dua buah mobil-mobilan. Apa yang terjadi dengan anak ini sekarang? Apakah dia ikut menyaksikan waktu ibunya dilabrak oleh perempuan galak yang nggak dikenalnya? Apakah di tempat persembunyiannya sekarang dia bisa main mobil-mobilan seperti di rumah?

Lantai atas dipakai untuk gudang dan ruang setrika. Ada beberapa keranjang plastik berisi tumpukan pakaian bersih yang baru diangkat dari jemuran dan belum sempet disetrika. Segini banyak pakaian yang ditinggal, lantas waktu pergi si ibu bawa apa? Anaknya dibawain baju berapa potong? I can almost hear the child cries.

“Terima kasih ya bu, biar kita rundingin dulu. Nanti kita kontak-kontak lagi lewat bu Retno ya..” kata Ida kepada Ibu tua yang megang kunci. Tapi diam-diam kami sepakat nggak akan ambil rumah itu.

Kisahnya terlalu menyedihkan.

*sebuah posting yang secara tumben-tumbenan sentimental.

23 tanggapan atas “kisah di balik rumah”

  1. mbot Avatar

    trizyalempicka said: kisah nya jadi mengingetkan novel-novel mira w, v lestari, motinggo busye.. :p

    waduh nggak tau ya, belum pernah baca novel2nya mereka sih.

    Suka

  2. mbot Avatar

    agusdidin said: wah, tumben ceritanya sedih… ;-(

    gpp kan sekali-sekali yak.

    Suka

  3. mbot Avatar

    kangbayu said: pengamatan yang teliti…

    kebiasaan mendarahdaging dalam mengobservasi lingkungan 🙂

    Suka

Ada komentar?

Eksplorasi konten lain dari (new) Mbot's HQ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca