Buku ini bercerita tentang 4 orang sahabat sejak bangku SMA: Francis, Yusuf, Farah dan Retno – yang sekarang tinggal mencar di berbagai penjuru dunia. Salah satu dari mereka akan kawin di Barcelona dan mengundang 3 teman lamanya itu. Undangan ini jadi ‘kejutan’ bagi mereka karena ternyata ada di antara mereka yang diam2 HHC pada si calon pengantin. Eh, atau tepatnya, ada saling-silang perHHCan di antara mereka berempat. Buku ini menceritakan pengalaman mereka ber-backpacking menuju Barcelona.
Pertama-tama gue mau minta maaf pada keempat penulis buku ini karena ternyata tempat input nama penulis di Multiply terbatas. Pas gue mau masukin empat-empatnya nggak muat. Jadi, gue tulis di sini aja ya, para penulis buku ini adalah:
Gak kebayang deh gimana caranya nulis buku berempat. Walaupun bab-babnya dipisah berdasarkan narasi dari 4 tokoh cerita yang jelas ditulis oleh 4 orang yang berbeda, tapi gimana ya cara nentuin plot utamanya? Trus gimana caranya nulis dialog saat keempat tokoh itu akhirnya ketemu dan ngobrol? Yang jelas, dari keempat tokoh cerita itu, gue berani taruhan iris kuping bahwa tokoh Yusuf ditulis oleh Adhit. Gaya penulisannya yang ‘khas’ (mulai dari kebiasaannya mengaku-ngaku ganteng, style jokenya yang ironis waktu mengkaitkan praktikum pembedahan kodok dengan saat berseminya cinta, sampai minatnya yang detil terhadap fakta-fakta sejarah) nampak mendominasi buku ini. Sementara Ninit kayaknya kebagian tugas menghidupkan tokoh Farah (tapi gue nggak berani taruhan iris kuping krn nggak terlalu yakin).
Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman keempat penulisnya mengunjungi berbagai pelosok dunia. Buat pengunjung setia blog mereka, akan dengan mudah mengenali penggalan kisah dan foto yang pernah mereka posting. Ya, buku ini ada ilustrasinya lho, berupa foto-foto tempat yang jadi setting cerita. Sayangnya beberapa fotonya jadi kurang efektif karena dicetak hitam-putih – sementara obyeknya sendiri berwarna gelap (contohnya foto di halaman 106, 108, atau 159). Untungnya foto di halaman2 awal bab berwarna semua, dan bagus-bagus semua.
Sebagai sebuah bacaan, buku ini adalah 2-in-1. Maksudnya, bisa dilihat sebagai karya fiksi yang mengambil setting berbagai tempat di dunia, atau sebagai referensi wisata yang dikemas dalam jalinan fiksi. Yang jelas, perpindahan sudut pandang 4 tokoh yang bergantian muncul dari bab ke bab bikin buku ini enak dibaca. Rasanya ingin buru-buru pindah bab karena ingin segera tau apa yang terjadi dengan tokoh lainnya. Para penulisnya juga cukup mampu menahan diri dengan tidak berpanjang-panjang ngoceh tentang pernak-pernik tempat yang mereka jadikan setting – sehingga nggak membosankan. Biar bagaimanapun, tokoh-tokoh utama cerita ini adalah orang-orangnya, bukan lokasinya.
Yang bisa dibilang kelemahan dari buku ini adalah karakterisasinya. Seperti gue bilang di awal review ini, tokoh Yusuf tampil sangat kuat dan dominan sementara yang tiga lagi nampak masih samar. Maksudnya, kalo gue ditanya ‘seperti apa sih sifat tokoh-tokoh dalam buku ini?’ maka gue hanya bisa menjelaskan tentang tokoh Yusuf – sementara untuk yang lainnya gue merasa nggak bisa menjelaskan banyak hal. Selain itu yang juga rada mengganggu buat gue adalah mulai dari halaman 191 sampai akhir, buku ini terkesan mendadak ingin buru-buru selesai dan mengaplikasikan solusi gampang bin kebetulan untuk beberapa permasalahannya. Terus terang gue juga nggak punya ide yang lebih baik sih tentang bagaimana seharusnya mengakhiri cerita ini, tapi somehow endingnya terasa kurang sreg buat gue.
Terlepas dari kekurangan di bagian akhir, secara keseluruhan buku ini adalah buku yang menarik, baik sebagai referensi para (calon) backpacker maupun para penikmat fiksi. Tema yang diangkatnya terasa segar dan baru di tengah membanjirnya buku-buku “Jomblo-wannabes” yang ceritanya muter-muter sampe kusut di seputar perjalanan para remaja jomblo mencari pacar. Gue nggak akan heran kalo ada banyak pembacanya yang mulai mempertimbangkan untuk mencoba backpacking setelah membaca buku ini! Empat bintang dari gue.
Btw, buat para pembaca buku-bukunya Adhit (terutama Jomblo) pasti kenal dengan joke-joke ‘obsesif’-nya terhadap penyiksaan secara anal. Nah, di buku ini kalian bisa melihat bahwa obsesi itu nampaknya menular ke penulis lainnya (baca halaman 53). I think you are contagius, Dhit!

Tinggalkan Balasan ke imazahra Batalkan balasan