Trip to Bandung: makna standby di Indonesia

“Suami lagi ngapain…?”
“Lagi standby.”
“Standby untuk apa?”
“Istri… istri… rupanya kamu belum memahami konsep standby ya…”

Cerita berawal beberapa minggu yang lalu, di mana boss di kantor merencanakan untuk menggelar workshop penyusunan budget 2007 di Bandung. Tadinya yang ditunjuk sebagai panitia urusan akomodasi adalah temen gue yang bernama Nanda, tapi karena ybs sakit pada saat-saat genting menjelang hari-H, maka guelah yang mendapat “kehormatan” menduduki “tahta” sebagai seksi akomodasi.

Singkat cerita, dengan perjuangan yang sulit dan berliku, akhirnya gue berhasil membooking hotel Bilique di bilangan Setiabudi Bandung. Boss menugaskan gue melakukan seluruh proses booking, tapi guenya nggak perlu ikut workshop. Nanti saat workshop berlangsung, gue tinggal oper urusan akomodasi di lapangan kepada the one and only Oom Jo.

Tanggal 11 September, sehari sebelum para peserta dijadwalkan mulai check-in ke hotel, seluruh urusan booking hotel dan ruang meeting udah gue beresin dari Jakarta, termasuk booking restoran2 tempat makan malam. Gue udah happy aja ngebayangin mulai tanggal 12-16 September kantor akan kosong yang mana merupakan iklim yang sangat kondusif untuk makan siang secara molor dan pulang kantor secara on-time. Sementara itu, Om Jo kebagian tugas menjemput boss yang baru pulang dari luar negeri (Thanks God kali ini dia nggak makan indomie sebelum berangkat).

Dalam perjalanan dari bandara menuju kantor, terjadi perbincangan yang kurang lebih berbunyi sbb:
“Jo, gimana hotel, udah beres?”
“Udah mbak.”
“Jadinya kita pake berapa kamar?”
“Hmm… lupa. Daftarnya ada di Agung.”
“Trus nanti kita makan malam di mana aja?”
“Tauk ya. Agung tuh yang atur.”
“Mobilnya cukup nggak nih untuk ngangkut peserta dari hotel ke restoran?”
“Cukup kali ya? Daftarnya ada di Agung.”
“Haduuuuh….gimana sih ini, jadi nggak tenang saya, ya udah kalo gitu Agung besok diajak aja ke Bandung!

=GUBRAXXXXX!!=

Seandainya si boss mau nunggu beberapa puluh menit lagi untuk menanyakan pertanyaan2 tsb di kantor…. tapi ternyata takdir menentukan lain. Maka besokannya berangkatlah gue ke Bandung diiringi derai air mata istri yang seumur-umur pernikahan belum pernah ditinggal lebih dari 1×24 jam. Setelah gue sampe di Bandung, terjadilah pembicaraan telepon di awal posting ini.

“Suami lagi ngapain…?”
“Lagi standby.”
“Standby untuk apa?”
“Istri… istri… rupanya kamu belum memahami konsep standby ya…”

Jadi begini ya, istri. Di Indonesia dikenal sebuah kegiatan bernama “standby”. Untuk lebih jelasnya tergambar dari jadwal kegiatan gue selama di Bandung berikut ini:

12 September 2006

18.00 Sampe di Bandung mendahului rombongan untuk ‘mempersiapkan segala sesuatu’ (yang mana udah siap dari kemarin). Makan malam di Suis Butcher Setiabudi. Menu: Chicken Cream Soup dan Tenderloin steak. Beli Tiramisu juga, dibungkus.
19.30 Sampai di hotel Bilique, ngecek ruang meeting yang akan dipake besok. Ada sedikit kesalahan lay-out ruang.
23.00 Kesalahan lay-out ruang berhasil diperbaiki oleh pihak hotel. Gue balik ke kamar, standby sambil main game di laptop. Makan Tiramisu.

13 September 2006

01.00 Rombongan dari Jakarta sampe di hotel. Ngobrol-ngobrol sambil ketawa-ketawa. Bikin desain kartu ucapan terima kasih bagi peserta meeting hari pertama.
03.00 Tidur
08.30 Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30 Mengemban misi, “nyetak digital ucapan terima kasih buat peserta”. Berangkat naik angkot ke Balubur.
10.15 Selesai nyetak digital di Balubur, jalan-jalan ke warnet Atheroz di Sulanjana. Ngempi.
11.30 Mulai lapar. Pergi dari Atheroz menuju resto “Nyonya Rumah” di Tirtayasa. Eh, kebetulan di tengah jalan ketemu mertua. Nemenin mertua makan ikan bakar di jalan Diponegoro sambil ngobrol ketawa-ketawa.
12.30 Mertua selesai makan ikan, gue melanjutkan perjalanan ke Nyonya Rumah. Makan sate campur gado-gado lontong… hmmm… yummy.
13.45 Selesai makan siang, balik ke hotel.
14.15 Sampe di hotel, standby sambil bobo siang.
16.00 HP bunyi, dari Oom Jo di ruang meeting. “Friend, kita lagi coffee break nih, banyak makanan.” Turun ke ruang meeting, nyemil sambil ngopi.
16.30 Balik ke kamar, melanjutkan standby sambil bobo siang.
18.00 Mandi, siap2 makan malam
19.00 Makan malam BBQ di depan api unggun. Steaknya empuk dan sedap. Gue makan 3 potong.
21.00 Jalan2 ke Kampung Daun, booking tempat untuk acara makan malam besok.
23.00 Balik ke hotel, orang2 lagi pada karaokean. Ikutan nyanyi sampe serak.

14 September 2006

02.00 Capek karaokean, pindah ke Famestation nonton band.
03.00 Balik ke kamar hotel, tidur.
08.30 Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30 Mengemban misi, “mau nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke dua”. Berangkat naik angkot ke Balubur. Kenapa nggak sekalian dicetak kemarin? Supaya hari ini ada alasan jalan2, gitu loh.
10.00 Selesai nyetak, jalan2 ke warnet Atheroz. Ngempi.
11.30 Lapar. “Hmmm… makan siang di mana ya?” Oh iya, besok kan rombongan mau makan malam di Bumbu Desa, kalo gitu makanannya harus dibooking dari sekarang dong. Berangkat ke Resto Bumbu Desa Pasir Kaliki untuk ngatur menu.
11.40 Pas lagi nunggu angkot mendadak timbul ide, “jalan2 dulu ah ke toko Celebrate Dago, liat2 mainan”.
12.20 Puas liat2 mainan, betulan berangkat ke Bumbu Desa PasKal, pesen makanan.
12.50 Selesai urusan di Bumbu Desa, jalan2 di Istana Plaza cuci mata.
13.30 Makan siang di resto “The Taste”. Menu: Nasi tutug oncom dengan dada ayam goreng kering. Hmmm… yummy….
14.00 Selesai makan siang, beli donat J.Co buat cemilan di hotel. Balik naik angkot.
14.30 Sampe di hotel, standby sambil bobo siang.
15.00 Boss nelepon dari ruang meeting “Gung, kamu ada di mana?”
“Di kamar, kenapa mbak?”
“Ooo… kirain udah pulang ke Jakarta, abis perasaan selama di sini saya nggak pernah ketemu kamu.”

Huhuhu… nyindir niii….

16.00 Siaran ulangan. “Coffee break friend…”. Turun ke ruang meeting, numpang nyemil doang, naik lagi ke kamar, nerusin bobo siang.
18.00 Mandi dan siap2 makan malam.
19.00 Makan malam di Kampung Daun. Menu: karedok, sate ayam dan kambing, gurame bakar. Selesai makan dilanjutkan dengan ngobrol ngalor-ngidul, sambil cengengesan.Standby.
22.00 Bersama rombongan balik ke hotel.
22.30 Karaoke lagiiii….

15 September 2006

03.00 Selesai karaoke, tidur.
08.00 Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30 Kembali mengemban misi, “mau nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke tiga”. Kali ini beberapa temen gue kebetulan mau belanja di FO Dago. Nebeng sampe Dago.
10.00 Selesai nyetak, nongkrong minum Capucinno Blazt di FO Uptown bareng temen2.
12.00 Sholat Jumat di mesjid Salman ITB.
13.30 Balik ke hotel, standby sambil bobo siang.
16.00 Biasa… coffee break.
18.00 Boss mengadakan meeting kecil dengan panitia, say thank you atas partisipasi dan “kerja keras“-nya. Peserta ternyata langsung membubarkan diri, acara makan di Bumbu Desa dibatalkan.

16 September 2006

10.00 Pulang ke Jakarta, bawa oleh2 kue Prima Rasa.

Atau berdasarkan definisi, “standby” di Indonesia berarti:

stand.by /[stænd-bahy]/
-verb, noun, adjective, slang.
Kata lain untuk kegiatan nongkrong-nongkrong, ketawa-ketawa, ngerokok, tidur-tiduran, main-main, serta kegiatan kontra-produktif lainnya sebagai akibat dari ketidakjelasan pengaturan tugas dan/atau saat seseorang dilibatkan dalam sebuah kegiatan yang sama sekali tidak memerlukan kehadirannya. Merupakan kegiatan yang paling digemari serta paling dikuasai oleh orang Indonesia.

Contoh lain aplikasi istilah “standby“:

  • Kalo di kelurahan lagi ada acara panggung tujubelasan, lantas semalam sebelum hari H para pemuda setempat kedapatan ngobrol ngalor ngidul semaleman di lokasi acara, sambil ngopi dan ngemil kacang asin, maaf, mereka bukannya lagi iseng. Mereka lagi standby.
  • Kalo lagi ada acara bakti sosial yang butuh kegiatan mengangkat-angkat barang sumbangan tapi ternyata ada sebagian peserta yang bukannya bantuin nggotong malah nongkrong sambil cengengesan, maaf, mereka bukannya males. Mereka sedang sibuk standby.
  • Kalo abis lebaran orang pada masuk kantor cuma buat salam-salaman dan ngemil lapis legit serta bertukar pengalaman mudik dilanjutkan dengan browsing detik.com sampe sore, mereka bukannya kurang kerjaan. Lha itu, mereka lagi repot-repotnya standby.

Jadi, standby ya standby, nggak perlu penjelasan standby untuk apa – yang penting standby, gitu loh istri…. jadi jangan sirik yah kalo suami 4 hari terkesan cuma tidur2an dan piknik dibayarin kantor, ini suami lagi sibuk standby…

Foto dari sini

34 comments


  1. mbot said: aduuuh sedih amat standbynya :-(eh emangnya orang sakit gigi bisa emergency juga ya? Suruh minum ponstan aja, trus tunggu sehari, kan nggak akan mati πŸ™‚

    hihihi….try to tell that to my patients , Gung…kalo ga dipentung sama management atau si boss begitu hari kerja. Gak denk…seriously….banyak lagi dental emergency,…jatoh dari tangga, kuda, kebentur adek, kakak,…giginya patah, lepas, ngilu.dll, dst…Gak koq..i’m not complaining,….dah jadi bagian dari ‘paket’ jadi pelayan pelayan anda smuaaaaaa


  2. nicelovelydentist said: kalo bagi gw, kata ‘standby’ artinya ngerelain hari minggu ato libur apa pun ditelepon dari klinik dan harus ‘terbang’ ke klinik karena ada emergency

    aduuuh sedih amat standbynya :-(eh emangnya orang sakit gigi bisa emergency juga ya? Suruh minum ponstan aja, trus tunggu sehari, kan nggak akan mati πŸ™‚


  3. kalo bagi gw, kata ‘standby’ artinya ngerelain hari minggu ato libur apa pun ditelepon dari klinik dan harus ‘terbang’ ke klinik karena ada emergency (seperti hari ini, hiks…) dan itu…hampir selalu terjadi kalo pas giliran gw yang stenbai. ‘rejeki’ gw kali yeeeee untung taun ini giliran standby dapetnya pas natalan , bukan lebaran….phiuuuh…lega.


  4. menhariq said: kayanya ga maksud soal rata tengah deh…soal miring itu maksudnya, naro gelas miring yang kayak waktu dulu dipraktekin waktu gue mampir.. huhu.. dasar

    loh trus apa hubungannya gelas miring dengan jadwal gue…?


  5. menhariq said: hehehe.. jadwalnya dibuat biar istri ga senewen yah? kayak naro gelas miring aja… rame… xixixii……. :))

    maksudnya dibikin rata tengah? aneh riq, di ie dia rata tengah, tapi di FF dia rata kiri. akhirnya daripada senewen gue bikin rata kiri semua. terus fitur upload image yang baru juga nggak jalan di FF gue.