“Gung… gung.. ayo bertugas…” kata temen gue. Ya ya ya… ini gara2 ada latihan kebakaran beberapa bulan yang lalu, dan entah gimana tau2 gue kepilih jadi “Captain Floor”. Tugasnya memimpin arus evakuasi penghuni lantai “kalo ada apa-apa”. Sebagai “fasilitas” jabatan gue mendapat sebuah bendera segitiga bertuliskan nomor lantai gue, dan sebuah rompi berwarna ORENS JRENG-JRENG.
Gue lapor boss. “Mbak, gimana, keliatannya lebih baik anak2 mulai disuruh turun aja ya?”
“Iya deh iya…” kata boss yang mulai nampak pucat pasi.
Oke, marilah kita bertugas. Cukup dengan bendera, tanpa rompi, gue berkeliling lantai nyuruh orang-orang turun. Dan ya ampun, betapa takjubnya gue mendengar respon / pertanyaan orang-orang itu saat disuruh menyelamatkan diri.
“Ayo ayo teman-teman, kita bisa mulai turun sekarang ya, gedungnya goyang-goyang terus nih…. turunnya lewat tangga ya, jangan pake lift,” kata gue menjalankan tugas.
“Gempa ya gung?”
[Bukan, cuma ada gajah kesandung. Ya iyalah gempa! Heran.] “Iya,” jawab gue.
“Kira-kira gempanya akan lama nggak ya, soalnya gue lagi banyak kerjaan nih…”
=atau=
“Gempanya beneran akan gawat nggak nih, soalnya ntar gue udah kadung capek2 turun tangga 18 lantai trus taunya nggak ada apa-apa kan percuma…”
[Hmmm…. ntar deh ya, gue usahain banget biar gempanya rada gedean sehingga lo nggak percuma turun tangga 18 lantai]
=atau=
“Kalo sekarang gempa trus nanti malem akan gempa lagi nggak ya?”
[Tergantung. Kalo elo gue jorokin dari lantai 18 ini mungkin akan ada gempa setempat.]
=atau=
“Kenapa nggak boleh pake lift siiih, kan capek musti turun tangga…”
“Sebab kalo pake lift dan jalur liftnya retak, malah bisa kejebak di situ.”
“Tapi ini liftnya nyala…!” kata ybs sambil menunjuk pintu lift yang terbuka. “Naik lift aja yaaaa…”
“Ya udah terserah.”
Hwaduh, ampun deh tuh orang-orang, kesannya gue-lah biang keladi penyebab terjadinya gempa yang mengganggu kesibukan kerja mereka. Belum lagi ke-rese’-an2 yang timbul saat mulai bergerak ke arah tangga darurat, seperti:
“Eh bentar gue ambil dompet dulu..”
“Eh tas make up gue mana ya, ini sekalian mau ke toilet di bawah…”
“Tisu gue mana tisu…”
“Bentar dulu, bentar dulu, tungguin si ‘anu’” – sementara si ‘anu’ yang ditunggu itu lagi NYISIR. Mungkin beliau berambisi jadi mayat paling cantik kalo tau-tau ketiban reruntuhan.
Akhirnya sekitar setengah dari penghuni lantai gue mau juga mengikuti saran gue untuk menyelamatkan diri lewat tangga. Sisanya masih (sok) sibuk di depan komputer masing-masing. Kalo menurut buku panduan penyelamatan seorang Captain Floor, gue harus nunggu sampe lantai kosong. Tapi bodo amat deh, abis dibilangin pada nggak nurut.
Satu insiden lagi terjadi saat seluruh tim gue udah selamat ngumpul di halaman gedung. Anto, si klakson not-not, nggak ada.
“Anto mana Anto?” kata Ata cemas. Biarpun sehari2 suka nyelain Anto rupanya diem2 dia sayang juga sama anak itu.
Nggak ada seorangpun yang tau ke mana Anto pergi. Ata berkali-kali mencoba nelepon ke HPnya, nggak diangkat. “Wah jgn2 anak ini ketiduran di musholla…”
Setelah beberapa kali dicoba, akhirnya telepon tersambung juga ke Anto.
“Heh, di mana lu? Turun buruan, gempa nih!”
“Iya iya pak, ini gue udah turun kok…. ”
“Di mana elu? Kok nggak keliatan?”
“Di BASEMENT pak, mau beli minum, haus pak, habis turun tangga…”
Untungnya memang ternyata nggak terjadi bencana yang serius, tapi sebagai seorang Captain Floor gue berpesan kepada kalian semua, kalo someday ada kejadian kaya tadi lagi, yang harus lo lakukan adalah:
- Jangan dorong-dorongan, banyak kejadian di mana korban timbul akibat keinjek2 saat menyelamatkan diri, bukan krn bencananya itu sendiri.
- Tangga darurat adalah tempat dengan konstruksi terkuat dari sebuah gedung. Kalo ada bencana apapun, segera menuju ke sana.
- Sisir, termos, dan lipstik adalah benda-benda yang kurang esensial untuk dibawa menyelamatkan diri.
- Jangan mengajukan pertanyaan2 tolol kepada para petugas, baik itu Captain Floor ataupun petugas penyelamat lainnya. Kasihan, tanpa harus menjawab pertanyaan tolol pun tugas mereka udah cukup berat.
- Kalo elo lagi pake sepatu berhak tinggi, lebih baik copot sepatunya. Sepatu hak tinggi hanya akan memperlambat bahkan membahayakan gerakan turun tangga.
- Kalo terjadi kebakaran dan asap tebal, tutup mulut dan hidung dengan kain yang dibasahi. Lumayan bisa menyaring asap agar nggak masuk ke paru-paru.
- Bantu menjaga ibu hamil dengan memposisikan diri di DEPANNYA (bukan di SAMPINGNYA) saat turun tangga. Dengan demikian kalo dia hilang keseimbangan elo bisa membantu menahan secara lebih kuat.
- Jangan menjerit2, suara lo bisa menghalangi instruksi yang dibacakan lewat speaker.
- Jangan menelepon sambil menyelamatkan diri. Ntar aja neleponnya kalo udah sampe bawah. Turun tangga sambil menelepon bisa membahayakan orang lain krn elo jadi kurang konsentrasi dengan langkah lo.
- Jangan main tunggu2an. Ajak temen lo menyelamatkan diri, kalo dia nggak mau karena sok cool / sok keren / sok nggak ada apa2, tinggal aja.
- Tujuan utama orang turun dari lantai atas adalah untuk menghindari bahaya terjebak dalam reruntuhan gedung. Dengan demikian, nongkrong di basement untuk alasan apapun adalah tindakan yang kurang disarankan.
Akhir kata, gue juga mau mengucapkan turut berbelasungkawa atas musibah yang menimpa saudara2 kita di Jawa Barat. Gue yang cuma kecipratan satu per sekian persen dari bencana tadi sore udah ngerasa ngeri / hopeless banget. Nggak kebayang apa yang mereka rasakan saat bencana itu terjadi.

Tinggalkan Balasan ke kangbayu Batalkan balasan