Semoga Semua Elang di Dunia Panjang Umur

Sepuluh tahun lalu, kantor gue menyewa seorang motivator untuk meningkatkan semangat tim sales. Berhubung kantor gue punya cabang di seluruh Indonesia, maka Sang Motivator juga harus berkeliling Indonesia, tampil di (kalo gak salah) 5 kota. Gue beruntung bisa mengikuti 3 di antaranya.

Di kota pertama, penampilan Sang Motivator luar biasa. Semangatnyaa menggebu-gebu, berhasil membawa para peserta untuk larut dalam euforia. Tapi ada satu materinya yang buat gue terasa mengganggu. Dia cerita tentang burung elang, yang kurang lebihnya begini:

Burung elang adalah binatang yang umurnya sangat panjang. Dia bisa hidup sampai usia 70 tahun. Tapi untuk bisa melakukan itu, di usia 40 tahun dia harus melakukan sebuah proses yang sangat sulit.

Di usia 40 tahun itu, bulu-bulu elang sudah tumbuh terlalu tebal, sehingga terlalu berat untuk dibawa terbang. Kuku-kukunya tumbuh terlalu panjang hingga melengkung dan menyulitkannya mencengkram mangsa. Paruhnya pun sudah tumbuh terlalu panjang sehingga menghalanginya untuk makan.

Kalau burung elang tidak melakukan perubahan, maka ia akan mati di usia 40 tahun. Maka burung elang melakukan proses transformasi di usia 40 tahun. Dia akan terbang ke puncak gunung, sembunyi di gua, lalu mencabuti seluruh bulunya yang sudah terlalu tebal itu, mencabuti semua kukunya yang sudah terlalu panjang, dan terakhir membentur-benturkan paruhnya ke batu hingga patah. Setelah itu elang akan berpuasa selama 150 hari. Dalam kurun waktu 150 hari itu seluruh bulunya akan tumbuh sempurna, dia punya kuku dan paruh baru yang kuat dan elang akan hidup hingga 70 tahun.

Pesan moralnya: dalam hidup kita harus berani melakukan perubahan, walau menyakitkan, agar bisa tumbuh.

Cerita ini sangat mengganggu gue karena gue sulit membayangkan elang melakukan tindakan sekompleks itu. Dan coba deh bayangin kayak apa bentuknya seekor elang yang botak, nggak bercakar, dan nggak berparuh. Paham maksud gue kan?

Karena 10 tahun lalu HP belum terlalu nyaman buat browsing maka sepulang dari acara gue googling di rumah. Keyword: eagle lifespan. Hasilnya: rata-rata umur elang hanya 20 – 30 tahunan. Kalau dipelihara, umur elang bisa lebih panjang, tapi elang tertua hanya 38 tahun, bahkan gak sampe 40 tahun seperti dalam cerita. Snopes.com, situs andalan gue untuk mengecek hoax menjelaskan bahwa sama seperti unggas lainnya, pergantian bulu elang terjadi secara alamiah setiap tahun. Jadi para elang nggak perlu repot jauh-jauh bertapa untuk mencabuti bulu, bulunya didiemin aja juga bakal rontok sendiri kok!

Sebelum berangkat ke kota kedua, gue sampaikan temuan ini kepada sang motivator. Ternyata jawabannya sungguh BGST:

“Yang penting kita ambil hikmah positifnya aja.”

Itu 10 tahun lalu.

Kemarin, ya, kemarin banget, 26 Januari di tahun 2019 (dua ribu sembilan belas), gue ikutan sesi motivasi lagi. Kali ini motivatornya seorang anak muda, yang membuka sesinya dengan video berdurasi 3 menit 36 detik tentang berbagai prestasi serta kebisaannya sebagai motivator muda no 1 di Indonesia, direktur sebuah perusahaan, leader MLM, bahkan pernah main film segala.

Ngomong-ngomong soal nomor 1 ini, atas dasar apa ya motivator bisa mengaku sebagai no 1? Apakah pernah ada rating resminya, oleh Nielsen, barangkali? Biar adil, harusnya para motivator itu dibiarkan baku hantam dulu, baru kemudian diperingkat mana nomor 1, nomor 2, dan seterusnya. Kayak bikin peringkat petinju gitulah.

Lho motivator kok disuruh baku hantam, kan kasihan?

Supaya mereka bisa lebih menghayati kalo lain kali ngebacot “untuk mencapai keberhasilan kadang prosesnya menyakitkan

OK, setelah video usai, Sang Motivator muda memulai materinya. Dan gue langsung lemes saat di layar terpampang gambar elang.

Oh nooooo… masa cerita elang itu lagi sih…

“Bapak ibu sekalian, ada yang tahu berapa usia maksimal seekor elang?” demikian Sang Motivator melontarkan pertanyaan.

Gue udah gelisah, tapi masih mencoba berprasangka baik. Barangkali ini pembukaannya sama-sama elang, tapi ceritanya beda. Bukan cerita elang botak tak bercakar dan berparuh yang bertapa di puncak gunung. Plis bukan dong. Plis.

“Tiga puluh tahun,” jawab salah satu peserta.

“Nah ini dia… jawaban yang salah…” kata Sang Motivator sinis. “Yang benar, elang bisa hidup sampai 70 tahun… tapi untuk mencapai itu, di usia 40 tahun dia harus melalui sebuah proses yang menyakitkan… blablabla”

Dear para motivator, baik yang no 1, no 2, atau no 14 paviliun, tolong diingat dong: bayaran kalian itu mahal lho. Minimal 7 digit lah. Jadi, tolong dong pake sedikit aja dari bayaran yang mahal itu untuk googling, sebagai bentuk tanggung jawab profesi kalian. Pulsa SIMPATI yang 14 GB cuma 100 ribu kok, lebih dari cukup buat googling. Atau kalo mau lebih irit, jongkok di depan Starbuck juga bisa kok dapet samberan wifi gratis. Tugas kalian adalah meramu dan menyajikan bahan demi memasukkan pikiran positif ke dalam benak para peserta. Nah kalo kalian sendiri nggak cukup kritis saat memilih bahan presentasi, gimana nasib para peserta yang udah bayar mahal itu tadi?

Bandingin dengan koki. Tugas koki meracik bahan makanan menjadi masakan yang enak, dan aman dimakan oleh konsumen. Oleh karena itu, koki harus berhati-hati milih bahan makanan yang berkualitas, kalo mau pake ayam nggak boleh ayam tiren, kalo mau pake ikan nggak boleh ikan obralan yang matinya kena pencemaran limbah, kalo mau pake sayur harus dibersihin sehingga bebas dari segala jenis hewan merayap.

Kalau koki sampe teledor hingga masakannya nggak enak atau bahkan nggak aman dimakan, dia akan kena amuk konsumen, bahkan bisa diseret ke kantor polisi. Nah, kenapa para motivator bebas-bebas aja mencekoki pikiran para peserta dengan berbagai cerita motivasi yang ngawur?

Kalo kalian membawakan cerita elang itu sebagai ilustrasi tentang pentingnya berubah, kenapa kalian sendiri nggak merasa perlu memperbarui cerita yang umurnya udah 10 tahun atau mungkin lebih? Kenapa kalian nggak terusik dengan pemikiran, “Eh saat gue ngebacot begini, kalo disuruh praktik sanggup gak ya…”

Dear para motivator, para peserta sesi motivasi itu kan masing-masing punya keluarga ya. Bayangin kalo seusai ikut sesi motivasi mereka mendongeng kepada anaknya di rumah, “Nak, tahu nggak, burung elang itu kalo udah usia 40 tahun menyepi di puncak gunung dalam keadaan botak, nggak berparuh dan nggak berkuku… ”

Lalu apa jadinya kalo cerita ini sedemikian membekas di benak anaknya, sehingga kelak saat dewasa si anak ini berangkat ke gunung, keluar masuk gua saking penasaran ingin lihat elang botak, tapi ternyata di gua adanya ular, lalu dia dipatuk ular dan mati keracunan, ITU SEMUA DOSA KALIAN, WAHAI MOTIVATOR!

Saat Sang Motivator muda no 1 di Indonesia menutup cerita elangnya dengan, “…ini alasan kenapa kita harus siap berubah, gue pun segera memutuskan berubah. Yaitu mengubah posisi duduk gue, dari di dalam ruangan menjadi di luar ruangan, duduk-duduk di lobby sambil pesen es kopi susu.

Seperti kata pepatah;

“HIDUP ITU DIJALANI.

KALAU TERASA BERAT, YA TINGGAL NGOPI”

Tinggalkan Balasan