Cafe di kapal membuat gue mampu menghayati perasaan kambing-kambing di tanah sengketa.
Baca episode pertama rangkaian posting Oriflame Gold Cruise 2017 di sini
Sabtu 23 September 2017
Kebangun jam 4 pagi gara-gara badan gue masih merasa berada di Jakarta yang lebih cepet 4 jam sehingga dia mungkin ingin buru-buru ngantor. Mau tidur lagi nggak bisa, akhirnya gue dan Ida malah jalan-jalan keliling kapal.
Gue ngebayangin kalo ada orang masuk kapal ini dalam keadaan dibius, dia mungkin gak akan sadar bahwa dia ada di dalam kapal. Mungkin dikiranya dia ada di sebuah mall, di daratan. Foto main atrium berikut mungkin bisa sedikit menggambarkan:

Saking tingginya interior kapal ini, kamera gue nggak bisa menangkapnya dalam 1 foto. Akhirnya gambarnya gue ambil 2 kali, tapi waktu motret gue nggak ngeh di sebelah kiri ada lift lewat, jadi kepotong. deh.
Ini pemandangan kalo dari tempat gue berdiri ngelihat ke bawah:
Perlu dicatat, itu pohonnya pohon betulan ya, bukan pohon plastik. Entah gimana caranya dia bisa hidup di dalam ruangan begini.
Di seputar main atrium ini juga dipasang banner-banner raksasa bergambar Global Top 15 leader. Artinya, dari sekitar 3 jutaan konsultan Oriflame yang ada di seluruh dunia, mereka adalah 15 orang/pasangan dengan jaringan terbesar. Kerennya, 4 dari 15 orang/pasangan itu dari Indonesia!



Indonesia adalah negara yang mengirimkan wakil terbanyak di Global Top 15. Negara lain paling banyak cuma 2 orang.
Yang menarik, keempat orang/pasangan yang notabene leader dengan jaringan terbesar di Indonesia ini termasuk “baru” join Oriflame, maksudnya kalo dibandingkan dengan masa beroperasi Oriflame di Indonesia yang udah ada sejak tahun 1986. Dian Endryana, misalnya, peringkat 8 Global Top 15, baru gabung dengan Oriflame tahun 2011. Yulia Riani (peringkat 13) juga baru bergabung tahun 2011. Sebelumnya dia lebih terkenal sebagai penjual kue online lewat makicakes.com.
Sampe sini sebagian dari kalian mungkin bingung:
“Lho, bukannya Oriflame itu MLM, dan MLM kan pake sistem bertingkat kayak piramid? Harusnya orang-orang yang join duluan tahun 1986 dong yang masuk Global Top 15? Sistem MLM itu kan selalu menguntungkan mereka yang join duluan?”
Ternyata sama sekali nggak gitu sistem kerjanya.
Di posting yang ini udah gue jelasin bahwa kalo seorang konsultan Oriflame berhasil punya total poin grup 10.000 poin, maka title-nya menjadi Senior Manager. Nah, batas 10.000 poin ini punya nama lain, yaitu “split out”. Maksudnya, seorang konsultan dengan total poin grup 10.000 secara sistem akan dipisahkan (split out) dari perhitungan poin upline-nya. Dia dianggap sudah mandiri dan nggak perlu bimbingan upline lagi, sehingga bahkan catatan pembelanjaan produknya pun udah nggak bisa diintip lagi oleh upline.
Nah, jumlah split out inilah yang nantinya akan menentukan kenaikan level dan bonus seorang konsultan.
Misalnya, gue punya 2 orang downline langsung, katakanlah bernama Anto dan Budi. Mereka masing-masing udah mencapai 10.000 poin (split out) sebanyak 6 kali dalam 12 bulan, maka gue berhak menyandang title “Gold Director”. Tapi si Anto lebih rajin dari gue. Dia punya 6 orang downline langsung yang masing-masing mencapai 10.000 poin sebanyak 6 kali dalam 12 bulan, maka dia berhak menyandang title “Diamond Director”.
Akibatnya, walaupun gue upline dan Anto downline, terjadilah hal-hal berikut:
- Penghasilan bulanan gue cuma sekitar 8 – 10 juta, Anto 25 – 30 juta.
- Saat direkognisi, gue cuma dapet cash award 14 juta, Anto 42 juta.
- Gue cuma dapet cash award, Anto ditawarin cash award PLUS disuruh milih ingin dapet rumah atau mobil Honda CRV.
- Kalo ada acara jalan-jalan ke luar negeri seperti Oriflame Gold Cruise ini, gue cuma bisa pergi sendiri karena hanya dapet 1 tiket, Anto boleh ngajak 1 orang lagi untuk nemenin dia karena dia dapet 2 tiket.
- Tahun depannya, kalo gue ingin ikut jalan-jalan ke luar negeri lagi, gue harus naik level. Anto cukup bertahan di posisi Diamond Director aja udah langsung dapet 2 tiket.
Kesimpulannya, downline Anto yang 6 orang itu nggak berpengaruh apapun terhadap kenaikan title gue, karena mereka bukan downline langsung gue.
Sistem inilah yang memungkinan setiap orang di Oriflame mengejar level tanpa batas. Seorang downline bisa membalap title upline-nya. Kehadiran 4 orang Indonesia di Global Top 15 membuktikan hal itu, karena berarti mereka punya title yang lebih tinggi dari para upline yang udah duluan join sejak tahun 1986, kan?
Jadi, nggak bener kalo Oriflame cuma “nguntungin yang duluan join”. Yang bener, Oriflame cuma nguntungin yang kerjanya paling keras! Jadi, walaupun lu sekarang baru join, tetap punya peluang yang sama dengan orang yang join tahun 1986 untuk masuk jajaran Global Top 15. Mau tau caranya? Gih, tanya aja ke Ida!
Dari main atrium, gue dan Ida keluyuran ke bagian-bagian lainnya:
Ini namanya The Hideaway, ruang yang didesain untuk menyepi sambil baca-baca buku.
Ada mesin kopinya juga lho. Gue langsung merencanakan mau duduk-duduk di sini sambil ngelanjutin ngetik proyek novel yang entah udah berapa tahun nggak kelar-kelar!
Selain itu gue juga nemu teater ini:

Juga ada pameran sejarah Oriflame, antara lain menampilkan produk2 lawasnya:

Ada juga pameran produk-produk Oriflame yang belum masuk Indonesia:
Ini lorong paling bahaya buat buat yang kelebihan duit:

Yang ini Grand Foyer. Nggak jauh dari sini ada para petugas customer service menjawab segala pertanyaan penumpang.


Puas keliling-keliling di dalem kapal, kami mengarah ke luar, nonton sunrise dari Solstice Deck, dek tertinggi di kapal Celebrity Reflection.
Puas keliling-keliling, kami mampir ke Ocean View Cafe buat sarapan.
FYI, itu buah yang kayak jeruk tapi berdaging merah adalah grapefruit, yang selama ini cuma gue lihat di game Farmville.

Belum banyak orang yang muncul di Ocean View Cafe, jadi kami bisa makan tenang-tenang sambil menikmati pemandangan laut. Kapal baru akan sampe ke Mykonos besokannya, tanggal 24 September 2017, jadi hari ini hanya akan diisi dengan kegiatan di kapal. Gue memanfaatkan suasana kosong itu dengan bereksperimen di mesin kopi. Gue bikin racikan sebagai berikut:
- 1/4 gelas kopi
- 3/4 gelas susu segar
- Tambahkan coklat bubuk sachet.
Sedaaap!
Sementara itu Ida lagi-lagi menemukan satu lagi bukti betapa tingginya standar pelayanan – dan sebagai efek sampingnya – kemubaziran di kapal ini.
Ida dateng ke egg station, mau minta dibuatin omelete buat gue. Kebetulan mbak yang bertugas orang Indonesia.
“Mbak, minta omeletenya satu,” kata Ida.
“Pake semuanya?” tanya si mbak. Maksudnya, apakah omelete yang dipesan mau ditambahi segala bahan yang tersedia, meliputi daging asap, keju, tomat, jamur, dan tuna.
“Ya, pake semuanya,” kata Ida.
Mbak itu lantas mengambil sebuah mangkok kosong yang masih bersih, lalu mulai memasukkan bahan-bahan ke dalam mangkok itu: daging asap, keju, tomat, jamur, dan tuna. Rencananya setelah semua bahan masuk mangkok, baru belakangan ditambahi adonan telur kocok dan digoreng.
Baru saat itu Ida inget, bahwa gue nggak doyan tuna.
“Eh mbak, sori, nggak usah pake tuna.”
“Oh baik,” kata si mbak yang kemudian dengan santainya membuang semua isi mangkok ke tempat sampah, menyingkirkan mangkoknya, mengambil mangkok baru, dan mengulang proses pengambilan bahan – kali ini tanpa tuna.
Maksud gue, bahan-bahan itu semuanya masih bersih, ditaro di dalam mangkok yang bersih dan diambil dengan penjepit. Seandainya tuna yang batal dimasak tadi dikembalikan ke tempatnya, sebenernya nggak akan mencemari apapun. Walaupun begitu, si mbak memilih untuk membuangnya. Luar biasa!
Sekitar jam 11, Ida dan rombongan SimpleBizNet-nya ada acara pemotretan. SimpleBizNet itu grup konsultan Oriflame. Jadi tiap konsultan Oriflame yang merasa jaringannya udah cukup besar dan stabil bisa bikin grup sendiri. Selain SimpleBizNet ada banyak grup-grup konsultan Oriflame lainnya, masing-masing berlomba-lomba menyediakan program latihan dan knowledge sharing terbaik untuk anggotanya, biar makin ngebut naik title.

Para suami pendamping istri juga kebagian dapet seragam:

Gue pake jaket bukan buat gaya-gayaan, tapi anginnya beneran menusuk banget dinginnya walaupun mataharinya terang benderang di jam 11 siang.
Inilah fungsi suami-suami pendamping istri:

…buat motret!
Perhatiin deh, rata-rata kameranya sama karena sama-sama dapet hadiah dari Oriflame, Fuji XA3!
Di tengah-tengah sesi pemotretan itu gue sempet numpang duduk di bar. Eh, dideketin sama bartendernya, “Can I get you anything to drink?”
“No thank you.”
Segala macem minuman keras nggak termasuk dalam harga paket cruise ini, jadi kalo mau beli ya harus bayar sendiri. Masalahnya, penumpang kapal ini 3.000-an orang, dan sebagian besar adalah emak-emak Oriflame dari Asia. Artinya: hampir nggak ada yang kepikiran jajan minuman keras, apalagi harus bayar!
Kondisi ini nampaknya membuat para bartender jadi paceklik. Kalo biasanya para bartender sibuk melayani pembeli dengan atraksi akrobat keren seperti dalam video ini:
Sekarang mereka cuma bengong bertopang dagu. Untung kapalnya bebas nyamuk!
Nggak heran kalo kemudian mereka mulai menerapkan strategi pemasaran yang agak drastis.
“I can offer you a package,” kata bartender bertubuh gempal berkulit gelap ini.
“What package?” tanya gue iseng.
Si bartender ngambil secarik kertas, menulis “US$ 195.5”, lalu mulai presentasi, “Only pay this much, I can give you all you can drink package. Anything you want to drink; beer, vodka, whisky, cocktail, wine, from today until the day you disembark the ship!”
Gue nyalain kalkulator di HP. Dengan asumsi kurs US$1=Rp14.000 (pake kurs kartu kredit yang biasanya lebih tinggi) nilai tawaran dia adalah sekitar Rp2.700.000. Di Jakarta, harga segelas minuman beralkohol antara Rp100 – 200 ribu. Katakanlah rata-rata Rp150 ribu. Kalo gue minum 5 gelas aja sehari, dan gue masih akan bercokol 6 hari di kapal ini, tawaran itu sebenernya murah banget!
Tapi tentunya minuman keras kan dilarang agama ya, plus masa gue selama 6 hari cuma mau teler doang, tawaran tersebut gue tolak.
Sesi foto-foto akhirnya selesai, waktunya makan siang. Gue bareng rombongan SimpleBizNet menuju Ocean View Cafe dan… kaget setengah mati!

Tinggalkan Balasan ke enkoos Batalkan balasan