Beberapa bulan yang lalu, Rafi (lagi-lagi) nemu seekor kucing liar yang memutuskan untuk bersarang di rumah gue. Berhubung warna bulunya coklat, maka kucing itu dia kasih nama… *drum rolls*… Choco. Ini dia penampakannya:
Sama seperti waktu punya piaraan si belek dulu, Rafi sayang sekali sama si Choco ini. Sampai tibalah saatnya… musim kawin.
Sejak hormon mengambil alih kontrol, Choco jadi jarang pulang. Pulang kalo laper doang, begitu kenyang langsung ngeluyur lagi nyari cewe. Yang paling menyakitkan hati Rafi, Choco yang dia temukan lagi nongkrong di depan rumah seekor kucing cewe, sama sekali mengabaikan panggilannya.
“Choco! Choco!” panggil Rafi gemes. Sementara yang dipanggil sama sekali nggak bereaksi.
Dasar baper, dicuekin kucing pun dibawa ke hati.

Tentunya agak susah menjelaskan kepada anak kelas 4 SD kenapa kucing jantan lebih suka nongkrongin kucing cewek daripada main sama majikan. Akhirnya malam ini gue menemukan sebuah solusi.
“Rafi, tau nggak alasan sebenarnya kenapa Choco nggak noleh waktu Rafi panggil?” kata gue.
“Enggak. Kenapa?” tanya Rafi.
“Dia sebenernya malu.”
“Hah, malu kenapa?”
“Dia kan lagi kenalan sama kucing-kucing cewek. Tau nggak, dia itu ngaku-ngaku namanya Joni!”
“Oh, gitu?”
“Iya. Jadi waktu Rafi manggil, ‘Choco, Choco’, kucing ceweknya bilang, ‘eh lu dipanggil tuh.’ Trus Choco jawab, ‘siapa yang dipanggil? Bukan gue. Orang nama gue Joni.’ Mungkin menurut Choco, nama Choco itu kurang keren. Makanya dia malu.”
“Ooo…” kata Rafi. Mukanya serius memandangi Choco si kucing.
Lalu sesaat kemudian Rafi memanggil, “Joni, Joni…!”
Langsung kedengeran suara ibunya ngakak dari dalam kamar.
kampret loe om… udh serius gw bacanya…. sue dah…. hahahahah
Sabar… sabar… masih banyak posting lain yang lebih menipu dari ini 😀
Ih.. Bapak berlebihan, akukan gak panggil “joni joni” 😠😠
Iya sih
hahaha.
btw rafi skrg kurusan ya?
Iya, sejak diet gula
HWAHAHAHAHAHAHAHA