Dilema Pembuangan Cairan Najis

Kalian pembaca lama blog gue pastinya tau ya, di gedung kantor gue ada sebuah perusahaan kosmetika terkenal. Secara berkala, mereka melakukan pelatihan menggunakan zat-zat kimia pewarna rambut. Ini acara yang paling gue benci karena zat-zat itu baunya sengit banget. Kalo mau ngebayangin, baunya kayak campuran antara bau got, bau lem aibon, dan bau kaos kaki basah. Udah gitu, baunya nggak gampang ilang. Mereka latihan sejam, baunya nempel di seluruh penjuru lantai seharian.
Di sore hari yang hujan deras dan banjir ini, sialnya, bertepatan dengan jadwal mereka latihan mewarnai rambut. Ini merupakan perpaduan yang celaka, karena: 1. zat kima pewarna yang udah selesai dipake dibuang di bak cuci pel 2. karena di basement banjir, air di bak cuci pel nggak bisa surut. Akibatnya, 1 bak penuh cairan berbau najis itu menggenang di bak cuci pel dan bertahan lebih lama mencemari udara.
Untunglah segera muncul 2 orang mas-mas berseragam perusahaan kosmetika terkait. Berikut rekaman kesigapan mereka mengatasi situasi:
Mas 1: “Baknya banjir ini! Ayo kita sedot! Cepetan, ambil alat vacuum!”
Mas 2 lari tergopoh-gopoh dan nggak lama kemudian muncul dengan vacuum cleaner besar. Dia mencelupkan selang penyedot ke bak, lalu menyalakan mesin. Lumayan, permukaan air di bak turun sekitar 5 cm. Tapi habis itu air mulai menetes-netes dari dalam vacuum cleanernya.
Mas 1: “Stop, stop! Mesinnya penuh!”
Mas 2 mematikan mesin.
Mas 2: “Mesinnya harus dikosongin dulu, ini.”
Mas 1: “Iya, airnya harus dibuang dulu.”
Mereka lantas berpandangan. “Mmm… buangnya di mana, ya?”
Untung gak ada yg mengutip Cut Tari, “Buang di luar aja, soalnya lagi gak ada tisu.”

8 comments