Microphone background, musical equipment

kalo si mbot naik panggung stand up comedy

Pernah ngerasain mules kayak usus lu dikepang, diperes-peres, trus dimasukin ke mesin cuci yang lagi dipasang ke “spin dry mode”?

Gue pernah, dan semua itu gara-gara Isman menerapkan prinsip MLM dalam merekrut stand-up comic.

Isman Si Pakar Komedi

Sejak dulu kala, Isman memang terobsesi sama berbagai jenis humor. Dia satu-satunya orang yang gue kenal mampu menyebutkan di luar kepala aneka jenis sitcom beserta para pemerannya, serta apa ciri khas para komediannya. Dia juga orang yang cukup iseng menghitung jarak antar joke di film Simpsons the movie adalah konstan sekian detik dan menjelaskan mengapa film itu lucu banget. Sementara buat orang sekelas gue, humor ya buat diketawain, bukan buat dihitung.

Salah satu obsesi Isman adalah humor dalam format stand-up. Komediannya tampil sendirian di panggung, biasanya berdandan rapi kayak mau meeting, dan mencoba memancing tawa hanya dari cerita verbal dengan gerakan seminimal mungkin – kalaupun ada, gerakan tidak menjadi elemen utama dari humornya. Format ini boleh dibilang berseberangan dengan format humor yang umum di Indonesia, yang cenderung lebih ‘fisik’: saling toyor, saling kepruk dengan props dari gabus, atau saling jatuh-jatuhan.

Banyak orang punya obsesi. Bedanya Isman dengan orang-orang lainnya adalah: dia nggak pernah berhenti, dan nggak pernah putus asa mewujudkan obsesinya. Sampe pada suatu hari dia BBM gue:

“Gung, Kompas TV ngadain audisi untuk Stand Up Comedian, ikutan nggak?”

Memang sebagian besar tulisan gue di blog ini bernada humor, buku Ocehan si Mbot juga adanya di rak humor, tapi humor di tulisan dan di atas panggung stand up itu beda buanget. Bedanya sejauh antara jadi komentator bola sama main bola di lapangan. Humor di tulisan bisa dipikirin berhari-hari, sebelum dipublish bisa dibaca lagi tenang-tenang, kalo kurang lucu bisa diedit dulu, sedangkan kalo di atas panggung segalanya harus dipikirin dengan cepet. Kesimpulannya: gue sama sekali nggak berminat maupun merasa berbakat jadi stand up comedian. Jadi, tawaran Isman itu gue lewatkan.

Kirain ditolak sekali dia nyerah. Eh taunya beberapa waktu kemudian muncul lagi di twitter.

“Akan ada open mic, ikutan nggak?”

Apa Itu Open Mic?

Open mic adalah ajang di mana para stand up comedian amatir boleh saling unjuk kebolehan. Sifatnya informal, nggak ada batasan waktu, nggak ada persyaratan apapun. Semua hadirin boleh langsung naik panggung kalo mau (dan berani). Gue nggak merasa dua-duanya.

“Coba dulu lah, apa ruginya sih,” kata Isman.

Nah di sini gue mulai pikir-pikir. Selama ini kan gue orang yang selalu berprinsip, “kalo belum nyoba, pantang bilang nggak bisa”. Ini berlaku untuk semua hal, termasuk kalo ada orang yang ngaku ke gue, ” kayaknya gue emang orang yang nggak mungkin kurus” – nah biasanya gue akan menjawab dengan kalimat barusan. Sekarang untuk urusan stand up comedy, giliran gue yang kepentok dengan prinsip gue sendiri. Iya juga ya, kalo belum dicoba mana mungkin gue bilang nggak bisa? Sedangkan di sisi lain, nggak mungkin gue bilang nggak tertarik pada stand up comedy – lha tulisannya aja selama ini bertema komedi. Kalo lagi promo buku, apa lagi caranya kalo bukan dengan sesi stand up comedy?

Tapi sebelum gue main bilang iya, gue tonton dulu video-video para komedian yang udah duluan tampil di account-nya standupcomedyindo di Youtube. Abis itu gue dateng di sebuah acara open mic di Comedy Cafe Kemang, buat ngerasain langsung suasana sebuah ajang open mic. Hasilnya: mules. Padahal waktu itu gue cuma dateng untuk nonton, tapi rasanya bisa ngerasain ketegangan para stand up comedian yang lagi ngantri nunggu giliran tampil. Biarpun gitu, yang gue suka dari komunitasnya adalah, karena mereka umumnya para penggemar stand up comedy yang sama-sama bervisi menumbuhkan stand up comedy di Indonesia, maka sikap mereka cenderung positif dan saling mendukung. Kalo yang tampil gugup atau lupa, nggak ada yang ngeledek atau menghina, mereka malah bertepuk tangan untuk menyemangati.

Dukungan Istri Tercinta

Cuma yang bikin proses pengambilan keputusan untuk mencoba stand up comedy tidak menjadi lebih mudah adalah komentar dari istri tercinta:

“Kamu, mau ngelucu di panggung? Nanti kalo garing gimana?

Ih terima kasih LOCH istri, atas dukungannya…

Sementara itu Isman terus meneror gue hingga di satu titik gue mulai mikir, “Ada orang lain yang segitu percayanya dengan kemampuan gue membawakan stand up comedy, masa gue segitu underestimate-nya sama diri sendiri?” hingga tau-tau aja gue akhirnya mengiyakan tawaran Isman untuk tampil dalam sebuah acara Stand Up Nite di Bandung, tanggal 10 September. Stand up nite, relatif lebih ‘formal’ daripada open mic. Ada jatah waktu tampil untuk setiap komedian secara pas, nggak boleh lebih atau kurang.

Gue kira setelah bilang iya gue aman dari kejaran, dan rasanya 10 September masih cukup lama untuk mempersiapkan mental. Ternyata salah.

“Karena tanggal 10 September nanti mau tampil di Bandung, gimana kalo sekarang latihan dulu di acara open mic di Jakarta?” katas Isman, nemplok seperti lintah.

“Nggak Man, makasih.”

“Eh coba aja, bener deh. Si anu dan si anu (menyebut nama dua orang) kemarin nyesel loh karena langsung tampil di Stand Up Nite, nggak nyoba dulu di Open Mic…”

Ini si Isman pake mengatasnamakan pengalaman orang lain gini, udah persis taktik persuasi agen MLM merekrut anggota baru.

“Tapi materinya belum siap Man, kan gue taunya mau tampil tanggal 10 September, masih lama,” kata gue mencoba bertahan.

“Gampang… pake aja materi dari buku si mbot. Ini kan open mic, santai aja. Pokoknya coba aja dulu, yakin deh pasti abis ini akan ketagihan ingin naik panggung terus,” kata Isman, lagi-lagi kayak agen MLM.

Hari H

Akhirnya… tanggal 10 Agustus minggu lalu muncullah gue di Comedy Cafe Kemang dengan keringat dingin bercucuran dan perut mules. Di kantong tersimpan ketikan materi humor yang sedari siang gue hafal mati urutannya. Gila, sidang sarjana pun rasanya gue nggak setegang ini loh. Sekalipun kalo lagi nongkrong bareng temen-temen gue termasuk yang bawel, tapi naik panggung open mic itu lain cerita. Di tongkrongan, kalo lawakan lu gagal lucu, lu bisa berkelit, ’emang gue cuma mau sharing aja kok.” Lah kalo udah naik panggung gini kan dengan kata lain lu udah mendeklarasikan diri bahwa lu akan lucu. Jadi kalo ternyata enggak lucu, malunya 10 kali lipet.

Yang jelas, kalo suatu hari nanti gue jadi boss, maka gue akan bikin peraturan semua Kepala Divisinya wajib naik panggung stand up comedy. Ini bener-bener ujian mental sekaligus ujian ego yang paling berat. Bayangin, siapapun elu, betapapun kerennya latar belakang lu, di panggung stand up comedy maka nasib lu ditentukan oleh simpati penonton. Kalo penonton suka sama lu maka hidup lu bahagia, kalo enggak ya mampus. Sesederhana itu.

Satu demi satu para stand up comedian naik ke panggung, dan semuanya berhasil bikin penonton ketawa. Yang mana ini bikin gue tambah mules – karena merasa kalah kualitas dari mereka. Tapi kalopun mereka semua nggak berhasil bikin penonton ketawa, juga bikin tambah mules sih – karena ngebayangin siksaan yang mereka alami di atas panggung. Akhirnya, setelah penantian beberapa belas menit yang rasanya kayak berhari-hari, gue dapet giliran kelima untuk naik panggung. Edan, gue, untuk pertama kalinya dalam hidup, naik panggung stand up comedy!

Agung "si mbot" Nugroho openmic stand up comedy

Pastinya kalian bertanya-tanya, seberapa garingnyakah gue di atas panggung?

Hm, kalo mau tau, kalian bisa tunggu videonya diupload di account standupcomedyindo atau dateng aja langsung ke Bober Cafe Bandung, tanggal 10 September yak!

33 comments


  1. mas agung…. penasaran! suer! kok videonya belom di upload juga ya? (ngikutin setiap video disana).sebenernya isi blog ini bikin saya ngakak nggak berhenti… kang Isman semangat banget promosinya, bener2 kayak agen MLM :Dtapi saya juga yakin kok mas agung bisa standup comedy juga πŸ™‚ toh dasarnya udah ada, hohoho XD –> ikutan mbujuk