Despicable Me

despicable me movie posterBerhubung nontonnya juga udah telat, review ini pun sangat telat kalo dibandingkan review2 gue lainnya. Tapi atas permintaan dari seorang pembaca, ya sud lah gue tulis.

Ide cerita film ini sebenernya sangat standar, dan udah cukup sering diangkat di film-film lainnya: seseorang ‘berhati batu’ akhirnya luluh oleh kepolosan dan ketulusan anak-anak. Sebut aja film-film seperti “Kindergarten Cop”, “Three Man and a Baby”, The Pacifier, bahkan yang agak baru “The Hangover” juga sempet menyenggol tema yang sama. Selain itu, kebetulan tokoh utama film ini juga seorang ‘penjahat super’, mirip tema cerita “Megamind” yang sama-sama dirilis tahun 2010. Apakah berarti “Megamind” menjiplak “Despicable Me”? Rasanya sih kecil kemungkinannya ya, karena selisih kemunculan kedua film ini hanya beberapa bulan aja.

Tokoh utama film “Despicable Me” adalah seorang penjahat super bernama Gru (disuarakan oleh Steve Carrell – Date Night dan Get Smart). Tentunya ‘penjahat’ dalam konteks film animasi ya gitu deh, lebih banyak bloonnya daripada seremnya.

Gru digambarkan sebagai sosok anti sosial yang menyebalkan, tega bikin nangis anak orang dan nggak sungkan menggunakan senjata canggih hanya untuk nyerobot antrian di resto cepat saji.

Pada suatu hari, Gru yang merasa dirinya adalah “The Greatest Criminal Mind in the World” ini panas hati karena ada seseorang yang berhasil mencuri piramid. Padahal prestasi terbesarnya baru mencuri TV raksasa di stadion dan replika patung Liberty di Las Vegas. Gru lantas berambisi mencuri benda yang lebih spektakuler dari piramid, yaitu bulan!

Untuk menjalankan rencananya, Gru membutuhkan senjata pengerut yang mampu mengecilkan ukuran bulan menjadi sebesar bola tennis. Sayangnya, senjata pengerut itu ada di tangan Vector, ‘penjahat super’ lainnya.

Sementara itu, nggak jauh dari rumah Gru dan Vector, ada panti asuhan yang dihuni 3 kakak beradik Margo, Edith, dan Agnes. Pemilik panti yang berotak dagang tulen memanfaatkan tenaga mereka untuk jualan kue kering. Pada suatu hari, mereka bertiga lewat di depan rumah Vector dan berhasil menjual beberapa kotak kue. Melihat kejadian ini, Gru jadi dapat ide untuk memanfaatkan mereka bertiga sebagai pembuka jalan mencuri senjata pengerut.

Komentar gue:
Seperti yang gue bilang di awal, film ini sebenernya mengangkat ide cerita yang terhitung ‘basi’. Untungnya, ide ini bisa dikembangkan menjadi sebuah tontonan yang menarik. Kalo menurut pendapat gue, kekuatannya terletak pada rancangan bentuk dan gerak para karakternya yang sangat ‘hidup’. Yang bikin gue sangat terkesan adalah penokohan ketiga anak yatim piatu penjual kue. Margo yang paling tua nampak paling serius dan protektif terhadap adik-adiknya, Edith si nomor dua nampak pembangkang (sesuai teorinya Alfred Adler :-)) dan Agnes si bungsu nampak super kelincahan, sibuk mengeksplorasi sana-sini penuh rasa ingin tahu. Selain itu juga ada Kyle, anjing peliharaan Gru yang galak, jelek, nggak jelas rasnya apa, tapi takut setengah mati sama Agnes!

Dari semuanya, tentu aja yang paling sering memicu tawa gue adalah ulah para ‘minion’, makhluk-makhluk kuning peliharaan Gru yang tingkahnya lucu-lucu udik. Hint: adegan waktu Gru dan dua minionnya lagi mengendap-endap di lorong ventilasi udara itu kocak buanget!

Kesimpulan akhir: film yang nggak terlalu orisinal, tapi dikemas secara baik dan menghibur. Nggak rugi juga untuk dikoleksi DVD originalnya πŸ™‚

12 comments