aktu pertama kali dikabarin Ibu sakit di Makassar dan dirawat di RS setempat, pertanyaan pertama gue adalah, “Butuh berapa lama sebelum kondisi ibu cukup stabil untuk dibawa ke Jakarta?”
Pikiran gue: rumah sakit di seberang pulau, pasti serba terbatas dan asal-asalan. Daripada ngambil resiko yang nggak perlu, kan mending ibu dirawat di RS di Jakarta yang lebih ‘genah’. Keraguan gue makin menebal waktu ngeliat sendiri fisik bangunan rumah sakitnya. Bangunan kuno bekas peninggalan jaman belanda dengan pilar-pilar gede plus patung raksasa ala gothic – ini RS pasti penuh demit.
Eh taunya…never, ever judge a hospital from its statue.
Poin positif pertama buat kekompakan tim dokternya.
Berhubung ibu gue punya diabetes, tentunya dokter yang menangani adalah seorang internis. Setelah memeriksa ibu, dokter membuat dugaan penyebab penyakit ibu. Dugaan pak dokter ada infeksi di sendi tangan dan kaki ibu, menyebabkan demam dan sakit pada seluruh persendian. “Tapi untuk pastinya, biar saya konsultasikan dulu dengan rekanan saya yang ahli bedah”
Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali gue ketemu dokter yang nggak sok tau. Banyak dokter yang bersikap seperti para dewa maha tau. Sekalipun jelas-jelas penyakit pasien berada di luar kompetensinya, masih aja nggak mau ngerujuk ke dokter lain. Sedangkan di sini, tim dokternya kompak dan saling menghargai bidang keahlian masing-masing. Sebelum ngambil tindakan yang kiranya akan berdampak bagi penanganan dokter lainnya, mereka akan saling berkomunikasi dulu.
Poin positif ke dua gue berikan untuk kelengkapan informasinya. Dengan kedatangan gue, berarti si dokter menghadapi 3 anak ibu yang bawel melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar penyakit ibu. Kenapa penyakit ibu seperti akut, tiba-tiba muncul dan memburuk? Apa pemicunya? Kalo memang ada sejak dulu, kenapa baru sekarang muncul? Apa itu radang sendi? Apa itu osteoporosis? Apa hubungannya dengan diabetes ibu? Kenapa bengkak di daerah tertentu sakit bila disentuh, sementara di daerah lainnya enggak? Seluruh pertanyaan itu dijawab oleh dokter dengan sabar. Malah dokternya bersedia berlama-lama menjelaskan istilah-istilah kedokteran dengan bahasa awam, dan ini dilakukan oleh semua dokter yang memeriksa ibu, bukan cuma dokter tertentu aja.
Poin positif ke tiga: para susternya. Yang jadi perhatian gue mulai dari hal sederhana aja: gimana suster merespon pertanyaan dari pasien. Kadang gue atau kakak gue menanyakan sesuatu yang nggak bisa dijawab langsung oleh para suster. Mereka akan bilang, “Sebentar ya, saya tanyakan dulu ke dokternya” lantas pergi sebentar dan nggak lama kemudian udah balik membawa jawaban. Sedangkan yang gue temukan di sejumlah RS Jakarta, kalo susternya bilang “sebentar ya, nanti saya tanyakan” atau “habis ini akan saya kerjakan” itu artinya dia sebentar lagi mau ganti shift dan udah males ngerjain apa-apa lagi.
Minus pointnya ya terletak pada kondisi gedungnya itu. Sebagai gambaran aja nih, di ruang ronsen ada poster yang memuat posisi-posisi anggota tubuh diperagakan oleh model, yang gue yakin modelnya pasti udah meninggal saking tuanya tuh poster. Mesin ronsennya juga kayaknya buatan jaman sebelum Gestapu, serta kondisi toilet umum (yang ada di luar kamar pasien) mirip TKP kasus pembunuhan bayi. Andaikan tim dokter dan perawat di sana dikasih gedung yang lebih canggih dan modern, gue akan dengan senang hati ngasih 5 bintang untuk RS ini.


Tinggalkan Balasan ke myshant Batalkan balasan