Dari segi pamor, alam Kulkul lagi bersinar. Sebelum berangkat jalan2 ke Bali, Ida nanya2 ke banyak orang tentang hotel yang mereka rekomendasiin, dan hampir semuanya kompakan nyebut Alam Kulkul. Setelah nyampe di Bali juga, setiap kali orang tau kami nginep di Alam Kulkul, pasti berkomentar “Wah, itu hotel bagus ya!”. Maka nggak heran kalo kami penasaran banget, kayak apa sih hotel yang dikagumi semua orang ini?
Hotel Alam Kulkuldidesain sedemikian rupa sehingga sangat alami, dengan detil2 bangunan yang serba berwarna natural dan jumlah tanam-tanaman yang cukup masif. Pokoknya, back to nature-lah. Menyediakan 2 jenis kamar, kamar hotel dan villa. Sesuai namanya, yang tipe villa lebih menyerupai rumah / bungalow. Secara keseluruhan, dengan segala tanam-tanaman yang banyak itu, serta setting tempat yang naturalis itu, bikin gue serasa nggak lagi nginep di hotel. Berita baiknya, tamu2 kota-an mendapatkan pengalaman serasa tinggal di tengah alam walaupun lokasinya di tengah kota. Berita buruknya, nginep di sini serasa lagi nginep di rumahnya salah satu bude / pakde, yang mana bisa diinepin secara gratis.
Gue nggak tau apanya yang membuat hotel ini terasa kurang ‘hotel’. Mungkin pemilihan warna dan faktor pencahayaan juga berpengaruh kali ya. Misalnya, warna ubin dan cat tembok kalo diganti dengan warna yang agak lebih terang, walaupun masih tetap warna natural, bisa sedikit mengangkat suasana. Warna natural nggak identik dengan gelap, kan? Juga pencahayaan di koridor2 antar kamar, rasanya akan lebih nyaman kalo ditambah. Buat yang suka uji nyali, boleh dicoba masuk ke hotel ini di tengah malam, di mana hampir seluruh lampu depan dimatikan (mungkin untuk alasan efisiensi), terus lo harus jalan kaki dari lobby menuju kamar yang terletak nun jauh di belakang, melintasi kerimbunan tetumbuhan yang banyak itu, hanya diterangi sedikit cahaya bulan dan tercium semilir angin membawa wangi dupa bercampur keharuman bunga kamboja…. hohohoho…. welcome to the spookyland, man!
Dari segi fasilitas hotel ini terhitung minim. Hanya spa dan 2 kolam renang, udah. Udah gitu selama 2 malam nginep di sana, kolam renang yang terdekat dengan kamar nggak bisa dipake. Terpampang pengumuman “under chemical treatment” yang cukup bikin jeri – jgn2 kalo coba2 nekad nyemplung ke situ, pas keluarnya nanti jadi mutant atau apa gitu. Koran hanya tersedia di ruang santai dekat resepsionis, bagi yang berminat baca koran silakan baca koran bersama seperti di taman bacaan.
Sesuai dengan kondisi fisik hotel yang serba naturalis, tenang, dan sunyi-senyap ini, demikian pula sikap para petugasnya. Melakukan proses check-in dan check-out, misalnya, seperti sedang menonton sunset. Pernah nonton sunset, kan? Matahari perlahan surut ke garis batas horison, sedikit demi sedikit tenggelam, hingga akhirnya lenyap sama sekali. Yak, begitulah intinya. Serba perlahan dan sedikit demi sedikit. Saat gue dateng, menyebutkan nama pemesan, maka mas petugas akan membuka buku catatan tamu, menelusuri daftar dengan jari telunjuk perlahan-lahan, lalu secara berhati-hati mengeluarkan form, meminta tanda tangan, pinjam KTP untuk di-scan juga dengan pelaaan… sekali. Bahkan mesin scannernya pun pelaaan… sekali. Saat buka kartu kredit sebagai jaminan, kertas2 bonnya ditangani secara perlahan-lahan seolah takut lecek.
Konsistensi terhadap konsep naturalis juga dipegang teguh oleh para satpam. Saat gue turun mobil dan hendak masuk ke area hotel dalam keadaan hujan, satpam yang sedang berteduh di posnya sekitar 2 meter dari posisi mobil gue tidak menunjukkan gelagat untuk meminjamkan payung atau apa kek gitu, daun pisang misalnya, padahal terlihat jelas di dekatnya ada sejumlah payung teronggok. Mungkin bagi pak satpam, yang namanya hujan kan termasuk peristiwa alamiah juga, jadi biar tamu jangan sampai ketinggalan untuk merasakannya.
Satu-satunya nilai plus dari hotel ini adalah sarapannya. Kopinya dibuat dengan mesin espresso, langsung saat dipesan. Menyediakan mangga, yang merupakan buah langka di menu sarapan. Punya koleksi daging2 asap yang lengkap, mulai dari sapi hingga kalkun. Omeletenya pake keju mozarella. Dan, memajang sertifikat halal dari MUI.
Dengan mempertimbangkan faktor sarapan tersebut di atas, maka tiga bintang untuk Hotel Alam Kulkul.
Foto: situasi di sekitar resepsionis yang sepi, sunyi, tenang….

Tinggalkan Balasan ke ida22 Batalkan balasan