Honeymoon hari 4: kecapean, ketemuan, dan keujanan

Ini, mudah2an, akan jadi journal honeymoon terakhir yang gue tulis dari Bali. Wah, tadi sempet gue baca2 selintas tulisan2 yang udah gue post tentang honeymoon ini, ternyata masih banyak salah dan bolongnya. Nanti deh kalo udah sampe Jakarta, kalo ngetiknya udah nggak pake senewen dikejar argonya warnet, gue update lagi. Dan gue juga mau bilang makasih untuk yang udah sempet mampir dan ngasih comment, maaf ya belum sempet gue reply satu-satu. Nanti insya Allah akan gue jawab semuanya.

Update tanggal 20 Desember 2005 malam: gue berhasil merekatkan asbak yang terbelah tiga tersebut dengan keretakan yang ‘nyaris’ tak terlihat.

21 Desember 2005

H

ari ini sepagian bermalas-malasan di hotel. Akumulasi kelelahan setelah beberapa hari jalan kaki ke sana ke mari, apalagi kemarinnya ditambah dengan beban 5 kilo kacang, mulai menunjukkan efeknya. Capek banget, dan males banget rasanya untuk berpisah dengan para bantal. Jadi, warning untuk yang berminat ‘berlibur’ ala kami, kondisi fisik harus fit banget! Dampak positifnya, gue yakin ada -lah beberapa gram lemak di perut yang meleleh, tapi kalo badan lagi nggak fit bisa masuk angin juga. Makanya jangan lupa, VCO dapat membantu menjaga kondisi tubuh serta meningkatkan kekebalan terhadap virus! (pesan sponsor).

Dengan bayangan menu sarapan sebagai motivasi utama, akhirnya gue berhasil juga menyeret diri ke ruang makan. Thanks God, jerih payah gue nggak sia2. Harus gue akui, walaupun dari segi penampilan kamar kurang meyakinkan, sarapannya Hotel Alam Kulkul oke banget. Mulai dari kopinya aja udah special. Biasanya, di coffee-shop hotel waktu sarapan akan berkeliaran seorang petugas menenteng 2 buah teko, satu berisi teh dan satunya kopi. Nanti dia akan nanya, kita mau kopi atau teh, terus dituangin deh isi teko sesuai permintaan ke dalam gelas.

Nah kalo di sini, kopi dan tehnya dibikin langsung saat ada request! Malahan, kopinya dibuat dengan mesin espresso gitu. Top banget. Udah gitu, di section buah juga tersaji buah langka di menu sarapan hotel: MANGGA. Biasanya nih, sarapan hotel nggak akan jauh dari semangka, melon, dan nenas. Pokoknya buah2 berukuran besar sehingga akan lebih ekonomis untuk disajikan secara massal. Lima bintang gue kasih untuk menu sarapan hotel ini.

Kenyang sarapan balik lagi ke kamar, terlalu males untuk berenang sekalipun. Gue nelepon penyewaan mobil, dan dia mau anter ke hotel. Gue sewa mobil karimun, supaya hari ini dan besok bisa menjangkau tempat2 yang lebih jauh secara lebih efisien. Waktu ke bali tahun lalu, gue sewa katana tua. Emang lebih murah dari karimun, tapi yang ada gue sport jantung terus2an karena remnya rada molos. Harus ‘dikocok’ beberapa kali kayak obat batuk sebelum bisa dipake ngerem. Udah mana waktu itu gue keluyuran sampe ke GWK yang berlokasi di perbukitan, sebuah lokasi yang sangat kurang ideal untuk ditelusuri menggunakan mobil dengan rem dodol.

Beres urusan sewa-menyewa mobil, kami kembali bermalas-malasan sampe lewat waktu makan siang. Gue sms-an sama Kikie, temen kuliah gue yang juga mau honeymoon-an di Bali. Dia bilang akan sampe di Bali sekitar jam 2-an karena pesawatnya delay, abis itu akan langsung ke hotel di area Nusa Dua naik jemputan dari hotel.

Karena kebetulan salah satu planning Ida hari ini adalah nyoba Flying Fish di Nusa Dua, maka kamipun langsung janjian untuk ketemuan sama Kikie di hotel. Kalo nggak salah sekitar jam 3 kurang kami berangkat dengan Karimun sewaan menuju Nusa Dua. Ida berperan sebagai navigator, dengan berpedoman pada peta-peta gratisan. O iya, satu lagi nih tips buat yang mau ke bali: nggak usah repot2 beli peta bali di jakarta. Apalagi peta bali yang lengkap biasanya keluaran periplus yang harganya relatif mahal (85 ribuan). Di airport banyak banget peta gratisan, dan lebih updated karena pembuatannya dibiayai oleh toko2 dan hotel2 di bali. Tiap kali ada hotel / toko baru buka, tentunya mereka mau lokasinya tercantum di peta, kan? Selain itu, di banyak toko dan restoran juga tersedia peta2 sejenis, bahkan ada yang lengkap banget, memuat tempat2 wisata se-bali lengkap dengan deskripsi singkat untuk masing2 lokasi.

Nusa Dua
Ok, pokoknya, dengan panduan peta gratisan tersebut, gue dan ida berhasil mencapai lokasi Nusa Dua. Ini juga kali pertama gue menginjak kawasan ini. Wah, bagus banget ya. Seluruh areanya tertata rapi, dan ada penjagaan segala di pintu masuk kayak mau masuk ke perumahan elit. Tapi buat yang niatnya jalan2 keluyuran seperti gue dan ida kayaknya kurang cocok nginep di sini, karena nggak banyak tempat yang bisa ‘dikeluyuri’. Sebagian besar area tersebut adalah hotel. Toko dan restoran jarang banget, sekalinya ada toko, tokonya bermerek SOGO. Hiy, dari tampilan luarnya aja udah lebih serem dari SOGO jakarta – abis kayaknya eksklusif banget! Kayaknya kalo gue coba2 masuk ke situ dengan segala sendal jepit dan ransel kacang 5 kilo gue itu, udah keburu diusir sejak dari pintu masuk kali.

Setelah beberapa kali nyasar, akhirnya kami berhasil menemukan hotel tempat Kikie menginap. Nah ini hotel juga terhitung ‘serem’ buat gue. Nih ya, asal tau aja: seluruh petugasnya berseragam putih bersih dan rapiii… bangunannya juga putih-putih dengan gaya minimalis, udah gitu sepiiii… banget nggak keliatan orang mondar-mandir. Settingnya dibuat sedemikian rupa sehingga tempat para tamu menginap bener2 ekslusif dan putus hubungan dengan dunia luar, termasuk lobby.

Baru turun dari mobil udah ada security yang menghampiri dan nanya, “ada yang bisa dibantu, mau ketemu siapa?”

Baru turun dari mobil udah ada security yang menghampiri dan nanya, “ada yang bisa dibantu, mau ketemu siapa?” Setelah menyebutkan nama Kikie dan suaminya, gue dan Ida dipersilakan nunggu di lobby seperti lagi berkunjung ke kantor orang. Kikie nelepon ke HP gue, nyuruh gue langsung masuk aja. Gue bilang, “nggak boleh Kie, kata satpamnya gue harus nunggu di lobby nih…” akhirnya Kikie sendiri yang keluar dan mengajak kami ke kamar.

Kamarnya asik banget, ada private pool, dan ranjang open-air buat leyeh2 siang2. ada kamar mandi terbuka juga. Settingnya mirip bungalow gitu, tapi antara satu bungalow dengan bungalow lainnya – selain dipisahkan tembok – juga berbeda ketinggian karena seluruh hotel itu penuh dengan undak2an. Masing-masing bungalow juga terlindungi tembok dan gerbang kayu sendiri-sendiri, sehingga meminimalkan kemungkinan ada orang lewat yang iseng ngintip2 kegiatan di dalamnya. Pokoknya, super private dan eksklusif deh. Gue ngebayangin kalo gue disuruh nginep di sini mungkin nggak berani nyalain tivi kali, takut mengganggu keheningan yang menyelimuti seluruh tempat ini… heheheh…

Kikie dan Noven, suaminya, ternyata juga udah punya mobil lengkap dengan supirnya, jd dari sana kami konvoi ke tanjung benoa. Toh di sana juga pusatnya watersport, siapa tau ada flying fish juga.

Tanjung Benoa
Ini juga jadi kunjungan pertama gue ke Tanjung Benoa. Waktu pertama kali ke Bali tahun 94 udah sempet muncul ide berkunjung ke sini, tapi secara waktu itu masih mahasiswa dan ongkos untuk nyoba watersport yang termurah sekalipun setara dengan uang jajan sebulan, maka niat dibatalkan.

Tempat ini bahkan lebih sepi dari Ubud. Bener2 kayak kota mati. Pantainya penuh dengan kapal2 speedboat yang terbengong-bengong menanti order. Beberapa restoran tutup siang2 saking nggak ada pengunjung. Untung kami berempat nemu satu resto yang masih buka, itupun cuma kami doang pengunjungnya. Ida, entah karena lagi laper atau karena lagi asik ngobrol dengan kenalan baru, malah jadi nggak terlalu berminat lagi dengan flying fishnya setelah sampe di sini. Gue pesen nasi goreng yang tampangnya mengingatkan pada nasi goreng tektek dan harganya mengingatkan pada nasi goreng Hilton. Ida nggak berminat liat nasi goreng gue, cuma sharing beberapa suap Tom Yam milik Kikie dan Noven. Akhirnya kami cuma sebentar di sana, dan beranjak lagi menuju GWK.

Garuda Wisnu Kencana
Message friendster pertama gue ke Ida gue kirim bulan Mei 2004. Awal Juni 04 gue jalan2 ke bali, antara lain ke GWK ini. Gue foto2 di sana. Pertengahan Juni, sebelum jadian jarak jauh via ICQ, kami kirim2an foto dan sebagian di antaranya adalah foto2 di GWK ini. Ida belum pernah ke GWK, dan hari ini gue merealisasikan satu lagi janji untuk jalan2 ke sini. Bagusnya, dengan adanya Kikie dan Noven, jadi semakin memudahkan proses foto2an. Kami gantian saling memfoto. Semuanya excited liat patung raksasa itu. Nggak sabar ingin lihat jadinya kayak apa nanti. Kata guidenya, patung itu kalo udah jadi semuanya akan setinggi 146 meter; 70 meter tinggi bangunan penyangganya, 76 meter tinggi patungnya sendiri. Gue juga menunjukkan satu tonjolan di dinding batu yang diukir membentuk kepala kura-kura. Konon, tonjolan itu bandel banget, nggak mempan dipotong atau diratain. Akhirnya berdasarkan wangsit, diukir jadi kepala kura-kura. Mengenai kebenarannya, tolong dikonfirmasikan kepada yang lebih tau.

Jimbaran
Setelah puas foto2 di GWK, kami konvoi lagi menuju Jimbaran. Walaupun nggak doyan seafood, gue penasaran juga kepingin tau kayak apa sih tempat yang sampe segitu hebohnya diomongin sama semua orang. Katanya kan di sini suasananya ‘romantis’ banget, bisa dinner di tepi pantai, bahkan kadang pasang lautnya suka naik sampe menyentuh kaki.

Setelah sampe sana… hmmm… awalnya emang iya sih, asik banget makan malem sambil menghadap laut dengan hiasan lampu-lampu kota di kejauhan. Tapi, nggak lama kemudian…
“Mutiara… mutiaranya pak, bu…”
“nggak mas, terima kasih…”
“Asli Pak, mutiara lombok…” sebuah informasi yang kurang menarik bagi gue, mau mutiara lombok kek, mutiara sani kek, mutiara jurusan surabaya kek….
“Nggak mas…”
“diliat dulu mas, nggak beli nggak papa…”
“enggak.”
Pergilah sang tukang mutiara. Nggak lama kemudian terdengar sebuah lagu, mirip suara ringtone HP.
“eh, handphone sapa tuh bunyi?” tanya Noven.
Kami berempat celingukan. Nggak ada satupun HP kami yang bunyi. Pas gue noleh ke belakang, nah itu dia biang keroknya… dengan tampang bangga ada seorang mas2 mengacungkan dagangan berupa mainan mirip bola disko yang kalo dipencet nyala2 dan bunyi.

…dengan tampang bangga ada seorang mas2 mengacungkan dagangan berupa mainan mirip bola disko yang kalo dipencet nyala2 dan bunyi.

Setelah melambai pada si mas, kami meneruskan ngobrol, sampe nggak lama kemudian terjadi lagi: “eh HP siapa tuh bunyi…?”
Haduuuh….. cape benerrr….
Gangguan menjadi sempurna saat beberapa tetes air datang dari langit. Ujan.
“Halah, ujan lagi. Yuk, pindah ke dalem aja.”
Semua menyambut dengan perpaduan antara lega dan kecewa.

Sekitar jam 9 malem kami berpisah di Jimbaran. Kami berpisah menuju hotel masing2. Menjelang belok menuju pantai Kuta, Ida inget pesenan Shanti untuk mensurvey hotel Oasis di Tuban. Berdasarkan ancer2 dari Shanti, hotel itu terletak nggak jauh dari waterboom. Waterboomnya ketemu, tapi udah sampe lewat 2 kali kami nggak ngeliat hotel bernama Oasis. Maap ya Shant, mungkin matanya udah agak siwer kena pantulan lampu disko dagangan mas2 di Jimbaran. Tapi kalo emang mau nginep di daerah situ kayaknya cukup seru juga. Kehidupan malemnya nampak lebih rame ketimbang di Kuta.

Setelah misi survey gagal direalisasikan, gue dan Ida puter balik menuju hotel. Tentunya mampir dulu di sini, di warnet 24 jam yang seandainya kami tau dari hari pertama udah pasti main ke sini melulu. Cuma 6000 per jam dan kecepatannya lumayan banget! Udah gitu entah kenapa pengunjungnya kebanyakan cewek2 dengan model busana yang sangat tinggi kepeduliannya akan krisis (baca; irit bahan).

Sampe detik terakhir journal ini ditulis, ida masih smsan sama dheq, MPers Bali yang saat ini lagi nonton kerispatih di hardrock. kemungkinan malam ini akan ada ketemuan lagi!

Ok guys, see you di jakarta, foto2 akan gue upload dari rumah aja ya!

Foto: gue di lobby The Bale, hotel honeymoon yang canggih itu.

22 comments


  1. rizkiearthasari said: btw, gw kemaren ditanyain (sambil disesalkan) keluarga gw kenapa gak foto2 pake baju bali… haeh… beruntung lah elo gung…. (regardless musti pake lipstick merah kinclong hehehehe)

    SEE!!!!tuh yang, orang lain aja ampe nyesel nggak photo adat bali..huhuhuuu…trims untuk dukungannya ya ki..hehehehe


  2. mbot said: trus sekarang2 ini lo merasakan ada yang lain nggak ki… terutama saat lo lagi sendirian, ada yang kayak berdiri di belakang lo gitu misalnya… atau mimpi aneh…?hiiy… jgn2 ada yang “ikut” ke jakarta tuh.

    gak sih gung, so far baek2 aja…. cuma sekarang ini gw sering dikirain anak SMA gituuu…. hehehe…. (bo’ong banget….)btw, gw kemaren ditanyain (sambil disesalkan) keluarga gw kenapa gak foto2 pake baju bali… haeh… beruntung lah elo gung…. (regardless musti pake lipstick merah kinclong hehehehe)


  3. prajuritkecil said: setelah bolak balik baca jurnalnya Agung dan Ida…. akhirnya gw temukan makna kata-kata Ida, tentang Agung yang “kesurupan” MP….Jangan-jangan MP itu istri Agung yang kedua setelah komputer, dan sebelum Ida…

    orang idanya juga semangat kok nyari warnet, ingin buru2 nulis pengalaman hari ini… πŸ™‚


  4. rizkiearthasari said: iya…gw iseng aja gara2 ngeliatin ada ibu2 lagi nongkrong disana… jadi gw okeh2 aja disuruh nyobain “air suci” yang disendok dari bolongan di lantai… tapi gw asli gak nyangka pake acara ciprat2an gitu, jadi waktu gw liat foto yang dijepretin agung, muka gw asli culun banget saking kagetnya dicipratin ama ibu2 itu…btw, emangnya untuk awet muda yah? baru tau gw….

    trus sekarang2 ini lo merasakan ada yang lain nggak ki… terutama saat lo lagi sendirian, ada yang kayak berdiri di belakang lo gitu misalnya… atau mimpi aneh…?hiiy… jgn2 ada yang “ikut” ke jakarta tuh.


  5. rizkiearthasari said: gung… gw mau ralat, ranjang open-airnya gak musti cuma buat leyeh2 dan gak musti siang2 loh…. (kisah sejati nih…hihihi….)

    iya, iya… don’t bother to spare the details yaaa.. percaya kok percayaaa…. :-))


  6. mbot said: Setelah misi survey gagal direalisasikan, gue dan Ida puter balik menuju hotel. Tentunya mampir dulu di sini, di warnet 24 jam yang seandainya kami tau dari hari pertama udah pasti main ke sini melulu. Cuma 6000 per jam dan kecepatannya lumayan banget! Udah gitu entah kenapa pengunjungnya kebanyakan cewek2 dengan model busana yang sangat tinggi kepeduliannya akan krisis (baca; irit bahan).

    setelah bolak balik baca jurnalnya Agung dan Ida…. akhirnya gw temukan makna kata-kata Ida, tentang Agung yang “kesurupan” MP….Jangan-jangan MP itu istri Agung yang kedua setelah komputer, dan sebelum Ida…


  7. mbot said: si kikie tuh ikutan dicipratin dan didoa2in. gue sempet ditawarin juga sama si ibu itu, tapi…. serem aaah….. πŸ™‚

    iya…gw iseng aja gara2 ngeliatin ada ibu2 lagi nongkrong disana… jadi gw okeh2 aja disuruh nyobain “air suci” yang disendok dari bolongan di lantai… tapi gw asli gak nyangka pake acara ciprat2an gitu, jadi waktu gw liat foto yang dijepretin agung, muka gw asli culun banget saking kagetnya dicipratin ama ibu2 itu…btw, emangnya untuk awet muda yah? baru tau gw….


  8. dheq said: Sepanjang perjalanan pulang tuhhh anak2 kantor nyang pada ngefans sama Pak n Bu Mbot masih sibuk ngegosippp teruuusss .. hwahahahahahahahaha (termasuk aye…hikhik)

    hayooo..ngegosipin apa ajaa???hehehehe..


  9. mbot said: Sampe detik terakhir journal ini ditulis, ida masih smsan sama dheq, MPers Bali yang saat ini lagi nonton kerispatih di hardrock

    iyaaaaaa…. keris patihnya okeeeyy… cuma kurang komunikatiiippppppHard Rock juga ramee bangeeeett..Sayang ya Pak, malem itu ga bisa ketemuan..hikssTapiiiiii seneng dehhhh, finally bisa ketemu biar cuma berapa meniiittSepanjang perjalanan pulang tuhhh anak2 kantor nyang pada ngefans sama Pak n Bu Mbot masih sibuk ngegosippp teruuusss .. hwahahahahahahahaha (termasuk aye…hikhik)


  10. bdarma said: Gung, lo sempat ke mata air keramat yg ada dekat patung ga ?katanya berkhasiat loh (katanya), untuk awet muda atau apaan gitu (gw lupa). Biasanya kalo ke situ, terus dido’ain sama ibu2 kuncennya..

    si kikie tuh ikutan dicipratin dan didoa2in. gue sempet ditawarin juga sama si ibu itu, tapi…. serem aaah….. πŸ™‚


  11. tianarief said: hahaha. nasi goreng ajaib! cuma ada di bali ya? πŸ˜€

    bener! cuma ada di tanjung benoa. tapi terus terang bukan termasuk salah satu tempat wisata boga yang akan gue rekomendasikan sih, hehehe…


  12. myshant said: harusnya kalo’ bulan madu yg “normal”, pasti pesen kamarnya yg kek ginihtapi kalian kan emang pasangan “gak normal” jadi malah gak cucok mesen kamar model gini ..huehehehehehe

    betul sekali…. mungkin nggak banyak pasangan honeymoon yang salah satu kegiatannya keluyuran cari warnet jam 4 pagi. kalo nginepnya di nusa dua, lebih susah lagi cari warnet!


  13. mbot said: Kata guidenya, patung itu kalo udah jadi semuanya akan setinggi 146 meter; 70 meter tinggi bangunan penyangganya, 76 meter tinggi patungnya sendiri. Gue juga menunjukkan satu tonjolan di dinding batu yang diukir membentuk kepala kura-kura. Konon, tonjolan itu bandel banget, nggak mempan dipotong atau diratain. Akhirnya berdasarkan wangsit, diukir jadi kepala kura-kura. Mengenai kebenarannya, tolong dikonfirmasikan kepada yang lebih tau.

    Gung, lo sempat ke mata air keramat yg ada dekat patung ga ?katanya berkhasiat loh (katanya), untuk awet muda atau apaan gitu (gw lupa). Biasanya kalo ke situ, terus dido’ain sama ibu2 kuncennya..


  14. mbot said: Pokoknya, super private dan eksklusif deh

    harusnya kalo’ bulan madu yg “normal”, pasti pesen kamarnya yg kek ginihtapi kalian kan emang pasangan “gak normal” jadi malah gak cucok mesen kamar model gini ..huehehehehehe