Carmukker – Bab 6: Era Baru

Published by

on


Baca Carmukker dari awal

Di bab ini, situasi sudah benar-benar terbalik, dengan posisi yang sangat tidak menguntungkan untuk Andi.

Fun fact: berdasarkan pengalaman gue, semakin ‘kosong’ seorang pemimpin di kantor, semakin besar hasratnya untuk tampil di video.


The New Golden Boy

Sekitar sebulan setelah Hari Handoko, Bank Danakencana melantik Direktur Retail baru: Wahyu Kencono. Ia langsung minta dibuatkan video profil. Durasinya 57 menit, diberi judul “Inspirasi dr Bp Wahyu Kencono: Perjuangan Saccess yang Enggan Kulupakan.” Sesuai arahan beliau, penulisannya memang begitu: ‘Saccess’. Walau yang dimaksud ‘sukses’. Sempat diperbaiki oleh Nabil, tapi Wahyu minta dikembalikan seperti semula. ‘Saccess’. 

Video ini cukup emosional, karena dalam 57 menit, Wahyu 8 kali meneteskan air mata. Menurut salah satu staf Media Statistic Analyst, itu berarti rata-rata 1 tangisan per 7 menit. Fakta ini kemudian dibantah staf lainnya dengan fakta: di menit ke-36 sampai 41, Wahyu menangis 5 kali. Dapat disimpulkan terjadi penumpukan frekuensi sehingga data average menjadi semu. Hitungan ini mengundang kekaguman teman-teman mereka, karena boro-boro sampai menit 36, baru menit pertama saja sudah terjadi iritasi mata. Nabil, yang mengedit video itu selama 2 hari, berdehem. 

Video ini juga bikin Nabil nyaris baku hantam dengan salah satu temannya. Gara-garanya, si teman ini menyarankan Wahyu untuk mengunggah video ‘saccess’ ke IG reels, Tiktok, dan YouTube Shorts. Nabil menjelaskan bahwa durasi platform-platform itu terbatas. Solusi Wahyu sangat mengena, yaitu, “Ya… dibikin bersambung, dong.” Sekarang Nabil sedang lembur memotong video itu jadi 57 bagian sambil bersumpah tidak akan kenal lagi dengan si teman pemberi saran terkutuk. Di sisi lain, tim Social Media Strategist sudah fix akan melupakan makna engagement rate, saat tahu akun Danakencana berencana mem-posting 57 video dari om-om yang menangis 8 kali. 

Gebrakan pertama Wahyu sebagai Direktur Retail adalah mengadakan Town Hall: mengundang semua karyawan Direktorat Retail di ruang pertemuan utama lantai 11. Jumlahnya lebih dari 160 orang, sehingga cukup banyak yang tidak kebagian kursi. 

Kali ini Andi ada dalam daftar undangan. Dan juga Yeni. Ada Edward. Tampangnya muram dan bahunya melorot. Konon, dia habis dapat bocoran bahwa namanya terjegal di rapat KNR. 

Acara dibuka dengan pemutaran video “Inspirasi dr Bp Wahyu Kencono: Perjuangan Saccess yang Enggan Kulupakan.” Beberapa staf berbisik, judul panjang ini bisa disingkat menjadi IWAK PEYEK. 

Video baru jalan 3 menit, beberapa staf minta waktu keluar sebentar. Alasannya, untuk menenangkan diri. Tapi di depan dihalau satpam. Disuruh masuk lagi. 

Salah satu cuplikan video: 

Wajah Wahyu diambil close up sambil berkata, “Saya dari desa (muncul cuplikan pemandangan desa) merantau ke kota (cuplikan monas) mencari sesuap nasi (cuplikan orang makan di warung) demi kesuksesan (cuplikan Lionel Messi lagi angkat piala)”.

Andi yang duduk di sebelah Nabil menyenggol. “Bil, kok gini editing-nya? Kan jadi aneh.” 

Request beliau Mas,” jawabnya sambil menunjuk Wahyu nun jauh di panggung dengan jempol, “Saya mah kroco tinggal nurut.”

“Pusing gue lihatnya, Bil.”

“Lebih pusing mana sama yang harus motong ginian 57 kali, Mas?”

Video usai, penonton bertepuk tangan. Susanto di deret paling depan melakukan standing ovation dan bertepuk paling keras. Dilihatnya banyak yang masih tetap duduk, maka ia datangi satu per satu. Dia tarik sampai berdiri. Wahyu kembali meneteskan air mata. Kalau ditotal dengan yang di video, berarti ini yang kesembilan.

“Terima kasih, terima kasih, teman-teman semua,” Wahyu sesekali mengusap mata. “Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin mengabarkan sebuah perubahan kecil untuk mencapai hasil besar, khususnya di divisi Marketing dan Partnership.”

Giliran Nabil menyenggol Andi. “Mau diapain lagi kita, Mas?”

Andi hanya diam, menatap fokus ke panggung.

Wahyu berdiri di tengah, memegang lembaran teks pidato. Terpantau jumlah lembaran yang cukup mengkhawatirkan. Dia berdehem, lalu memulai,

“Berdasarkan hasil kajian multisektor, Divisi Marketing dan Divisi Partnership akan dialihkan ke dalam satu entitas sinergis bernama Divisi Markship — sebagai bentuk penyelarasan nomenklatur dan reorientasi fungsi dalam spektrum kerja yang lebih luas, sinergitas, dan kolaboratif. Divisi Markship akan dipimpin oleh Susanto. Silakan maju, Susanto!”

Susanto naik ke panggung dengan senyum lebar. Kedua tangannya melambai seperti tamu kenegaraan. Ia kemudian berjabatan, cipika cipiki, berpelukan, dan saling menepuk punggung, dengan Wahyu. Lantas ambil posisi di sebelah kanan. 

“Sedangkan untuk Mas Anindito Adiningrat, saya serahi tugas berat yang hanya mungkin dijalankan oleh beliau. Mas Andi ini orang yang paling mengerti brand. Oleh karena itu, beliau saya tunjuk sebagai Brand Enforcement and Guidelines Oversight! Silakan maju, Mas Andi!”

Terdengar sangat jernih di telinga Andi, ada penekanan lebih pada ‘oversight’. Pesan di baliknya: Andi bukan lagi kepala divisi, atau kepala apa pun. Pertanyaannya: kalau dia sekarang bukan kepala, lantas apa? Sayap? Ceker? Brutu? 

Andi melangkah ke panggung. Wahyu terus membacakan, “tugas ini diciptakan sebagai manifestasi konkret dari komitmen terhadap harmonisasi elemen visual berbasis tata nilai identitas kolektif.” Kepala hadirin berasap saat berusaha mencerna hamburan kata-kata kosong itu.

Andi sampai di panggung. Mengulurkan tangan. Di saat yang bersamaan, Wahyu merentangkan tangan, seperti hendak memeluk. Andi mundur, ragu sejenak, lalu balas merentangkan tangan. Tapi Wahyu sudah kadung ganti ke mode salaman, mengulurkan tangan. Adegan tidak nyaman ini hanya berlangsung 4 detik, tapi bagi hadirin terasa seperti 2 jam. 

Andi berdiri di sebelah kiri, lalu mereka bertiga berfoto bersama: Andi, Wahyu, Susanto.

The Golden Boy has fallen.
The New Golden Boy has arisen. 


Brand Enforcement and Guidelines Oversight 

Lantai 18 – Ruang Handoko(X) Wahyu – 13.45

Andi duduk berseberangan dengan Wahyu, dibatasi meja seluas meja pingpong. Ruangan yang dulu segar diterangi keceriaan Handoko, kini beraroma cengkeh, kayumanis, cendana, dan gel rambut. 

“Saya merasa soal brand ini perlu sangat dijaga penggunaannya, makanya saya minta peran Mas Andi, sebagai yang paling berpengalaman,” kata Wahyu sambil tersenyum. Kedua tangannya bertautan, sikunya disandarkan di pegangan kursi ergonomis berbahan kulit halus.

Andi masih diam, menunggu kejelasan seperti apa ‘peran’ yang dimaksud oleh Wahyu.

“Jadi sekarang saya minta semua penggunaan logo, baik cetak maupun elektronik, harus dengan persetujuan Mas Andi dulu.”

 “Bukannya itu tanggung jawab Kadiv Marketing, Pak?”

Wahyu terkekeh. “Mas Andi lupa ya, strukturnya kan sudah ganti. Sudah tidak ada lagi Divisi Marketing. Yang ada, Divisi Markship.”

“Iya, tapi aktivitas marketing, termasuk penggunaan logo, masuk Divisi Markship ini kan Pak? Ya harusnya pengawasan logo juga dipegang sama kadivnya, dong.”

“Lho kan tadi Mas Andi sendiri yang bilang, harusnya yang bertanggung jawab sama logo adalah Kadiv Marketing. Sekarang Divisi Marketing sudah lebur. Jadi gimana, masa nggak ada yang pegang?” jawab Wahyu sambil mengembangkan kedua telapak tangannya. 

Andi menghela napas. Tangan kirinya mengurut kening. Ia tahu Wahyu tidak terlalu pintar. Tapi ia tidak menyangka Wahyu idiot. Dan sedikit gila. Logika Andi tidak sanggup memproses: bagaimana seorang kepala divisi gabungan tidak bisa bertanggung jawab atas salah satu pekerjaan, hanya karena nama jabatannya sudah ganti. 

“OK deh. Lalu kenapa jadi saya yang harus mengerjakan?” Andi jadi penasaran, sampai sejauh apa kegilaan Wahyu akan berlanjut. 

“Ya tentunya karena Mas Andi sekarang kan Brand Enforcement and Guidelines Oversight!” sahut Wahyu dengan nada seperti menjawab pertanyaan simpel seperti: kenapa sih es kalau dipegang dingin.

“Saya luruskan ya Pak. Jadi, menurut Bapak, karena Divisi Marketing sudah tidak ada…”

“Bukan ‘tidak ada’ ya Mas. Sudah lebur. Jadi Divisi Markship,” Wahyu mengoreksi.

“OK. Karena Divisi Marketing sudah lebur jadi Divisi Markship, maka fungsi pengawasan logo, yang tadinya tanggung jawab Divisi Marketing, tidak bisa lagi dipegang oleh Divisi Markship, karena…?”

“…karena Divisi Markship kan bukan Divisi Marketing. Mas Andi ini gimana? Kok seperti susah banget mencernanya. Ini sederhana banget lho Mas!” Andi mencoba menelan fakta bahwa saat ini dia sedang dikatai bego oleh orang bego.

“Tapi Divisi Markship kan leburan dari Divisi Marketing, Pak!” Andi masih mencoba bertahan dengan alur logika. Sayangnya, kurang kompatibel dengan bagaimana otak Wahyu bekerja. 

“Sekarang gini, deh. Mas Andi tahu pecel tho?” Andi mengangguk. “Bumbu pecel itu kan campuran kacang, gula jawa, bumbu-bumbu lainnya. Diulek, ulek, ulek, dimasak, jadilah bumbu pecel. Nah, kalau sudah jadi bumbu pecel kan nggak bisa lagi kita sebut dia kacang? Gula jawa? Bumbu? Dia sudah jadi bumbu pecel. Sama dengan Divisi Markship, Mas. Sudah bukan Divisi Marketing lagi itu.”

Dalam kepala Andi muncul adegan ia melompat dari kursi, mencengkram kerah Wahyu, lalu berteriak, “Kenapa elu betah jadi orang sebodoh ini? Bukankah jadi bodoh itu capek? Kenapa elu betah? Kenapa?” Yang ia lakukan: menarik napas panjang. Panjang sekali. 

“Tapi kenapa fungsi-fungsi Divisi Marketing yang lain, seperti desain, video production, social media management, bisa ikut pindah ke Divisi Markship, Pak?”

“Lho siapa bilang pindah? Tidak, kok!”

“Tidak pindah? Lalu bagaimana Pak?” Andi cemas memikirkan nasib mantan bawahannya.

“Tidak pindah. Tapi, di Divisi Markship sudah disiapkan ‘wadahnya’. Bukan pindah lho ya. Ada wadah di divisi leburan. Untuk desain, wadahnya ‘Visual Communication’, disingkat ‘Viskom’. Video, wadahnya ‘Cinematic Communication’, disingkat ‘Sikom’. Social Media Management, nama wadahnya ‘Online Communication’…”

“Disingkat oncom, Pak?” potong Andi tajam.

“Bukan dong, Mas Andi ini ada-ada saja,” Wahyu tertawa lebar, “Disingkatnya jadi onKom.”

Andi menjatuhkan diri ke sandaran kursi. Bukan ‘hilang’ tapi ‘lebur’. Fungsi divisi leburan tidak sama dengan divisi asal. Karenanya disiapkan wadah. Yang cuma ganti istilah dari sebelumnya. ‘Peleburan’ divisi marketing ke dalam Divisi Markship, yang di kamus pun tidak ada maknanya, cuma akal-akalan gonta-ganti nama untuk terdengar keren. Padahal intinya cuma ingin mempreteli Andi dari jabatan. Andi tidak tahu harus marah atau tersanjung, ada orang yang rela sebegitu repotnya berpikir untuk menjatuhkan dirinya. 

Masih tetap dalam posisi bersandar, Andi bertanya dengan nada datar, “Jadi, teknis pekerjaan saya sebagai Brand Enforcement and Guidelines Oversight apa saja, Pak?”

“Nanti semua desain, baik cetak maupun elektronik, akan dimintakan persetujuan dari Mas Andi. Mas Andi awasi penggunaan logonya. Sudah benar belum, miring atau tidak, warnanya pas nggak. Kalau sudah, Mas Andi tanda tangan di formulir, terus lampirkan di desain, untuk diproses lebih lanjut. Jadi, fungsi Mas Andi ini krusial banget lho! Kalau belum disetujui Mas Andi, nggak bisa jalan desainnya!” Wahyu panjang lebar menjelaskan. 

“Itu kan kalau desainnya cetak, atau bisa dicetak. Kalau video bagaimana, Pak?”

“Mas Andi, Mas Andi… urusan gampang kok dibuat susah. Ya tinggal difoto saja videonya, lalu dicetak, dilampiri formulir, nanti Mas Andi tanda tangan di formulirnya!”


Sepuluh menit kemudian Andi melangkah keluar dari ruangan Wahyu dengan otak mendidih. Sambil menutup pintu dia tersadar: 

Brand Enforcement and Guidelines Oversight. 

Disingkat…

BEGO.


The Fall

Lantai 16 – area kerja bersama – 16.37

Divisi Marketing punya tradisi Ngemil Sore. Jam 4 adalah waktunya jajan: martabak, pisang cokelat, gorengan, donat kampung, kadang pizza. Tinggal pesan lewat aplikasi, lalu staf berlarian menjemput ke lobi.

Di hari-hari istimewa seperti ulang tahun, parameternya bukan ‘atau’, tapi ‘dan’. Semua hadir sekaligus: martabak, pisang cokelat, gorengan, donat kampung, DAN pizza. Berlimpah, sampai bisa dibawa pulang. Semuanya, Andi yang bayar.

Andi sadar gajinya jauh di atas staf. Ngemil sore jadi caranya menghargai dan membalas kerja keras tim.

Hari ini jajanan berlimpah. Martabak, pisang cokelat, gorengan, donat kampung, pizza, ditambah es podeng, pastel, cakwe, asinan, dan beberapa botol kopi aren literan. Tapi suasananya muram. Sudah setengah jam makanan tersaji, belum banyak yang tersentuh. Hanya martabak yang hilang sepotong. Disambar Nabil. Sisanya masih rapi di kotaknya.

Tim Marketing berdiri acak di seputar area kerja bersama, menatap Andi yang berdiri di depan Akuarium Arwana. Wajah mereka keruh.

“Tadinya saya kira pengalihan koordinasi ke Santo hanya sementara. Tapi ternyata permanen. Kalian sekarang di bawah Divisi Markship, dipimpin Santo,” ujar Andi.

Protes langsung pecah:

“IQ saya drop tiap ngobrol sama dia, Mas! Saya takut lama-lama habis…”

“Kalau ketololan Susanto bisa dijual, pasti laku mahal, Mas. Soalnya murni, tanpa oplosan.”

“Mas, bapak saya kalau marah suka ngatain saya bego. Tapi sejak saya cerita tentang Santo, tadi pagi dia bilang, ‘Selamat bekerja, jenius’.”

Andi mengangkat tangan, menenangkan.

“Nggak ada orang yang langsung pinter di kerjaan baru. Saya yakin Mas Santo akan berusaha keras mengejar ketinggalan. Sabar, ya. Kita semua sama-sama belajar.”

Ia tersenyum, tapi Maya dan Nabil menatapnya tajam. Senyum Andi tak bisa mengecoh mereka. Potongan martabak yang sempat dicomot Nabil masih tergeletak di dekat keyboard, tak habis.

“Terima kasih buat kalian semua yang sudah mendukung saya. Saya nggak ke mana-mana, masih di Akuarium Arwana ini. Kalau mau ngobrol, tinggal masuk. Buat kalian, nggak usah ngetuk. Semua tetap sama. Bedanya, saya udah nggak berkoordinasi lagi sama kalian. OK? Semangat ya. Mari ngemil!” kata Andi, berusaha ceria.

Satu per satu staf mendekat. Yang akrab, memeluk erat. Staf junior bersalaman. Beberapa mencoba mencium tangan. Andi buru-buru menarik.

Nabil memeluk, berbisik, “Ini bullshit tau nggak sih, Mas? Bullshit.”

“Ssst. Gak boleh gitu,” jawab Andi.

Maya mendekat. Merentangkan tangan. Kali ini Andi tak tersentak atau gugup. Ia  menyambut. Memeluk tanpa kata. Menepuk lembut punggung Maya, lalu melepaskan. Maya membalikkan badan buru-buru. Menunduk, lalu mengusap mata. 

They are witnessing the fall of The Golden Boy. 


Apa yang Kau Sembunyikan, Nala?

Lantai basement – depan lift – 20.07

Andi sedang mengisi formulir deklarasi tas, ketentuan baru penambah ketentuan wajib titip laptop sebelum pulang. Jadi sekarang yang perlu dilakukan Andi sebelum pulang adalah: 

  1. Titip laptop di Cyber Security lantai 7. Tak lupa selfie
  2. Geledah tas di basement.
  3. Foto tas.
  4. Mengisi formulir deklarasi.  Melaporkan apa saja isi tasnya serta menyatakan tidak ada properti kantor, baik fisik maupun elektronik, yang dibawa pulang. Tanda tangan basah.

Andi baru saja selesai membubuhkan tanda tangan ketika pintu lift terbuka. Nala melangkah keluar. Ekspresinya kaget melihat Andi. 

“Eh, Mas Andi!”

“Hai Nala. Udah mau pulang?”

“Oh belum kok… ini, cuma mau ke… minimarket.”

“Yah, minimarket udah tutup jam 5.”
“Oh gitu… yah sayang… ya udah Mas, aku naik lagi, ya!”

“OK Nala. Saya duluan, ya.”

Sambil berjalan ke mobil, Andi menyadari sesuatu. 

Nala bilang cuma mau ke minimarket. Tapi tadi dia bawa tas. 


Danakencana Tower lantai 15 – break room – keesokan harinya, 12.26

Andi menatap baki Nala: semangkok bakwan malang lengkap, rujak buah, sepotong lemper, segelas besar jus, dan air putih.

“Kamu… makannya selalu sebanyak ini, ya?”

Nala nyaris tersedak karena tawa. “Pasti Mas Andi mikir, ini cewek kok gragas, ya?”

“Bukan, saya iri. Makan dikit aja timbangan naik. Kamu kok segini-segini aja. Dunia tidak adil.”

“Aku yoga hampir tiap hari, Mas. Hari kerja latihan sendiri, weekend di studio. Lumayan ngebantu.”

“Emang yoga bisa bikin langsing? Bukannya cuma duduk doang?”

“Eh, sembarangan! Banyak yang salah paham. Yoga itu ngelatih kekuatan dan kelenturan. Makanya aku kuat,” kata Nala sambil menekuk siku, memamerkan otot biseps mungil. “Dan fleksibel!” Kedua tangannya dikatupkan di depan dada, tubuhnya digoyang seperti penari India. Andi tertawa.

“Kuat lembur juga ya. Semalam pulang jam berapa?”

“Jam… berapa ya… sampe lupa. Eh, aku baca pengumuman di e-mail. Mas Andi sekarang pegang jabatan baru, ya? Selamat!”

Andi tertawa pahit. “Judulnya aja yang baru, Nala. Kerjaannya malah dikurangi. Saya udah bukan kadiv. Gimana, kamu masih sudi nggak, makan semeja sama saya?”

Nala terdiam, bingung harus merespons bagaimana.


Mau tahu kelanjutannya? Baca Bab 7: Goyang di sini

Kalian punya dua opsi untuk baca kelanjutan cerita Carmukker:

  1. Beli seluruh bab yang tersisa secara paket. Yang kalian akan dapatkan adalah:
    • Bab 7: Goyang
    • Bab 8: Tirai Tersingkap
    • Bab 9: New Normal
    • Bab 10: The New Golden Boy Beraksi
    • Bab 11: Keluar dari Zona Nyaman
    • Bab 12: Beban yang Terangkat
    • Bab 13: Seperti Kucing Kehujanan
    • Bab 14: Gawat dan Darurat
    • Bab 15: Cahaya di Ujung Terowongan… Padam
    • Bab 16: Tangan-Tangan Terulur
    • Bab 17: Bergerak
    • Bab 18: Berangkat
    • Bab 19: Partner in Crime
    • Bab 20: Pabrik di Townhouse Desa
    • Bab 21: Kapal Mulai Miring, Kapten!
    • Bab 22: Pisau yang Tak Cuma Bisa Memotong
    • Bonus deleted scene: pembersihan kantor Wahyu (eksklusif untuk pembelian paket)
    • Bonus deleted scene: anak buah yang tertinggal (eksklusif untuk pembelian paket)
    • Bonus deleted scene: mini cooper (eksklusif untuk pembelian paket)
      Total 19 bab seharga 80 ribu dengan akses seumur hidup (tanpa batas waktu).
  2. Beli bab berikutnya secara satuan, seharga 6.000 per bab. Kalau beli dengan cara ini, maka biaya untuk membeli 16 bab tersisa adalah 96.000. Lebih mahal dari harga paketan, tapi kalian punya keleluasaan untuk berhenti kapan pun. Misalnya baru sampai bab 10 udah kurang tertarik lagi dengan kelanjutan ceritanya, maka duit yang dibayarkan baru 24.000.

Inilah keunggulan baca novel online, kalian punya opsi yang bisa dipilih sesuai selera dan kondisi keuangan.

Kalau kalian bingung cara beli novel di karyakarsa, bisa cek tutorial pembelian Carmukker di Instagram gue.

Satu tanggapan untuk “Carmukker – Bab 6: Era Baru”

  1. Carmukker – Bab 5: Dinding Merapat – (new) Mbot's HQ Avatar

    […] Bersambung ke Bab 6: Era Baru […]

    Suka

Ada komentar?

Eksplorasi konten lain dari (new) Mbot's HQ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca