Carmukker – Bab 5: Dinding Merapat

Published by

on


Baca Carmukker dari awal

Andi mulai menjalani realita yang sama sekali berbeda dan nggak pernah ia sangka sebelumnya.

(not so) fun fact: tindakan-tindakan yang digambarkan di sini seperti pembatasan akses, pengawasan berlebihan, dan pengasingan struktural, adalah jurus-jurus standar yang sering dimainkan di pertempuran internal korporat. Buat yang sudah cukup lama jadi budak korporat mungkin pernah menyaksikan, bahkan merasakan. Yang baru: inilah gambaran yang mungkin akan terjadi di masa depan, nak.


Berguguran

Lantai 18 – ruang meeting direksi – Kamis, 08.55

Setiap Kamis jam 9, Direktorat Retail rutin meeting di sini. Hari ini ada yang berbeda: Direktur SME hadir menggantikan Handoko, dan ada Yeni. Seorang office boy muncul dengan kaleng pengharum ruangan di tangan. Prosedur standar: sebelum meeting, ruangan harus disemprot agar harum. Begitu melihat Yeni, langkahnya terhenti. Ia mengendus udara sejenak, lalu pergi lagi. Dengan tutup kaleng pengharum ruangan tetap terpasang. 

Di depan pintu meeting berjaga seorang executive security. Wajahnya datar. Satu per satu kadiv Direktorat Retail masuk, ia bergeming. Andi berjalan beriringan dengan Edward. Masih tanpa kata. 

Edward dibiarkan masuk. Andi ditahan. 

“Maaf Pak Andi, ada instruksi dari Ibu Yeni, Bapak tidak usah hadir di meeting direktorat hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata executive security.

Andi melihat ke dalam lewat pintu yang terbuka. Yeni menatap ke arahnya, lalu membuang pandangan. 

Andi menghela napas. Lalu balik arah dan pergi. 


Lantai 16 – Ruang Andi – 12.28

Dua layar terbuka di meja Andi: laptop dan tablet. Andi berkutat dengan keduanya. 

Orang lain: cari hiburan setelah capek kerja. Andi: menghibur diri dengan kerja, saat pikirannya capek. 

Seperti dalam sebuah momen, belasan tahun lalu.

“Minggu depan aku ada tugas ke Ambon ya!”

“Berapa hari?”

“Tiga.”

Setelah itu ia kerja. Belajar. Kerja. Belajar lagi. 

Kita tidak bisa sempurna sebagai manusia. Tapi kita bisa sempurna sebagai pekerja.
Andi mengimani itu. 

Sampai sekarang.


Lantai basement  – depan lift – 18.30

Andi melangkah keluar dari lift. Tumben, ada executive security berjaga. 

“Selamat sore Pak Andi, mohon maaf, boleh izin periksa tas Bapak?” sapa executive security sopan.

“Periksa tas saya?” Nada Andi tinggi.

“Mohon maaf sekali Pak. Instruksi Ibu Yeni.”

Andi menurunkan ranselnya. Membukakan ritsletingnya. Executive security melongok. Formalitas.

“Terima kasih, Pak. Silakan dilanjut.”


Tim yang Direbut

Danakencana Tower lantai 16 – Area kerja Bersama – Jumat, 09.05

Andi keluar Akuarium Arwana. Senyumnya lebar penuh semangat. Tangannya terayun lebar. 

“Maya dan tim desain, yuk kita meeting konsep DanaCendekia! Kita janji deliver draft 1 hari ini, kan?”

Maya beringsut di kursinya. Ekspresinya aneh. Melirik sejenak ke tim desain. Lalu menatap Andi. Berkedip dua kali sebelum ia bicara. Lambat.

“Euh… gini Mas… kemarin sore, kita dapet e-mail edaran… dari HC…”

“Mengenai?” tanya Andi tak sabar. Energi paginya meluap-luap. Butuh segera disalurkan dalam kerja. 

“Ehm… di e-mail itu dibilang, euh… kita… nggak usah koordinasi dulu sama Mas Andi.”

What? Mana lihat e-mailnya!”

Maya menggeser duduknya, dan mengarahkan layar laptop-nya ke Andi. Andi membungkuk, tangannya bertumpu meja, membaca. Seisi area kerja hening. 

Sender: Direktorat HC
CC: Yeni Sasmita

Subject: Pembatasan Akses dan Interaksi dengan Sdr. Anindito Adiningrat

[…pertimbangan keamanan…]

[…persiapan perubahan organisasi…]

[…menghentikan segala bentuk komunikasi, baik langsung maupun tidak langsung…]

[…hingga pengumuman lebih lanjut…]

Andi menegakkan tubuhnya. Wajahnya datar. Ia seperti lampu terang yang mendadak dicabut kabelnya. 

“OK. Jadi kalian harus report ke siapa?”

“Ke… Mas Santo, Mas.”


Seperti Apa Orangnya?

Lantai 18 – ruang kerja Yeni – sehari sebelumnya, 15.45

“Mas-mas ini kan sering berinteraksi sama dia, ya. Seperti apa sih orangnya?”

Wahyu dan Susanto saling pandang. “Mas Andi itu orangnya lugas, Bu. Kalau ngasih pendapat, ya langsung sikat,” jawab Wahyu, tangannya membuat gerakan menebas.

Yeni mengangguk. “Saya lihat langsung kemarin. Pak Yudha, motivator nomor satu di Indonesia itu, belum selesai presentasi udah dibantai. Padahal cuma cerita tentang burung elang yang mau mati atau gimana, gitu. Kasihan, kayak mau nangis.”

“Memang pendekatannya agak… brutal,” tambah Wahyu.

“Saya juga khawatir soal interaksinya dengan tim,” sela Susanto. “Pernah saya lihat dia berduaan di ruangan dengan staf cewek, Maya. Pintunya ditutup.  Tak lama keluar ruangan, kelabakan nyari tisu. Pas Maya keluar, awut-awutan.”

“Waduh, habis diapain tuh,” kata Wahyu sambil tertawa. Gel di rambutnya berkilauan mengikuti irama kepala yang bergoyang. 

Wajah Yeni berkerut mual.

“Maklum lah, sudah umur segitu, belum nikah,” celetuk Susanto.

“Gimana hubungannya dengan Pak Handoko?” tanya Yeni.

“Dekat sekali,” kata Wahyu, menyatukan dua jari. “Manggilnya aja ‘Abang’. Dari 20 ribu karyawan, berapa orang sih yang berani gitu?”

“Makanya… aneh juga dia nggak diajak,” ujar Yeni sambil merenung. 

“Buat saya justru nggak aneh. Disisakan satu di sini, biar bisa supply ke sana,” kata Wahyu.

Supply apa?”

“Yah… mungkin data. Dia punya akses level 4, bisa buka hampir semua dokumen digital perusahaan. Termasuk data penjualan dan database nasabah. Kalau itu bocor ke bank sebelah… tamat, Bu.

Eh tapi ini saya nggak nuduh lho, ya…” tambah Wahyu.

“Lagipula saya pribadi nggak ada masalah. Santo ini malah sering saya kirim ke Marketing untuk bantu-bantu shooting. Iya kan, To?”

“Iya Bu. Saya kan dulu pernah kerja di EO,” ujar Susanto. 

“Santo suka bikin-bikin video yang lucu-lucu di HP. Yah, kurang lebihnya samalah kayak kerjaan Si Andi. Coba tunjukin, To,” cerocos Wahyu seperti tukang obat memamerkan atraksi kobra.

Susanto membuka ponsel. Menunjukkan video dirinya goyang Stecu. Yeni terkekeh pelan. 

“Desain juga bisa?”

“Yah, sedikit-sedikit bisa, Bu,” jawab Susanto. “Kebetulan sudah 2 tahun ini saya dipercaya jadi sekretaris RT. Jadi kalau ada tujuhbelasan, saya yang desain umbul-umbulnya.”

“Dia punya aplikasi khusus untuk desain Bu. Bagus sekali hasilnya. Malah kadang saya lihat, lebih bagus daripada timnya Andi. Nama aplikasinya apa To? Kan… kan.., apa, gitu,” Wahyu mendorong bola ke depan gawang.

“Canva, Pak.”

“Nah, itu. Bukan abal-abal hasilnya, Bu.”

Yeni menjentikkan jari. “Pas banget. Untuk mencegah kebocoran, sementara saya akan alihkan dulu aktivitas Divisi Marketing ke Mas Santo.”

Wahyu mengingatkan dengan wajah prihatin, “Kalau cuma sementara, masih bahaya, lho Bu…”

“Sementara, sampai struktur organisasi baru terbentuk,” jawab Yeni tenang. “Nanti bisa kita permanenkan.”

Wahyu dan Susanto tersenyum serempak.

Gol.


Lantai 16 – Ruang kerja Andi – Hari ini, 12.55

Andi menggigit bibir. Gemas. Pasti ada solusinya. Pasti ada sebuah memo, prosedur atau apa pun, yang mengatur hak karyawan. Untuk tidak digeledah, dihadang meeting, atau dicabut dari timnya seperti ini. 

Andi membuka Digital Library di laptop. Klik policies. Muncul pesan: 

[insufficient security clearance]

Klik Profil. Barangkali profilnya logged out

Profil terbuka. Foto dan namanya terpampang. Masih logged in

Klik policies.   

[insufficient security clearance]

Andi mengangkat telepon. 

“Halo, IT Helpdesk? Kayaknya ada masalah sama user intranet saya nih. Saya nggak bisa buka Digital Library. NIK saya 0000938. Anindito Adiningrat. Baik, saya tunggu.

Halo. Ya? Munculnya tulisan ‘insufficient security clearance’

Ya. 

Saya di level berapa?

Sori, berapa? 

Nol?

Boleh tolong dicek lagi Mas. Saya Kadiv Marketing. Harusnya saya level 4. 

Oh, begitu.

Boleh tolong dibenerin, Mas?

Oh? Di-lock? Atas permintaan siapa?

Oh…  Baik. Terima kasih, Mas.” 


Lantai 16 – Area Kerja Bersama – 16.05

Andi berdiri di depan Akuarium Arwana. Di hadapannya: seluruh tim Marketing berdiri acak di area kerja bersama. 

“Teman-teman, untuk sementara, kalian berkoordinasi dengan Mas Santo dulu ya. Saya yakin setelah urusan pengunduran diri Pak Handoko bisa diklarifikasi semuanya, kita akan kerja bareng lagi. Paling lama juga sebulan, lah.”

Andi tersenyum. Tapi timnya menatap khawatir. 


Lantai Basement – depan lift – 17.09

Andi melangkah keluar dari lift. Seperti kemarin, Executive Security menanti. 

“Selamat sore Pak Andi, mohon maaf, boleh izin memfoto tas Bapak?” 

“Foto? Kemarin cuma dicek biasa aja lho Mas. Perlu banget foto tas saya?”

“Mohon maaf Pak. Permintaan dari HC.”

Andi membuka ranselnya. Lebar.  Laptop, tablet, tumbler dan kotak makan bergelimpangan di dalamnya. Executive security membidikkan ponsel, mengambil foto. 

“Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan.”


Pengawasan Elektronik

Danakencana Tower lantai 16 – Ruang kerja Andi – Senin, 08.18

Seseorang berdiri di depan dinding kaca. Mengetuk. Masuk saat dipersilakan. 

“Selamat pagi Pak, saya dari tim CybSec – Cyber Security, IT.” Orangnya bermata cekung, berambut lurus, dan berjaket gombrong. Ia membawa laptop terbuka. Andi menebak dalam hati, kamarnya pasti penuh komik anime.  Saat ia mendekat, terlihat di lengan kanan jaketnya tersemat emblem bajak laut bertopi jerami kuning. OK confirmed

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Andi tenang. Sudah tidak ada lagi yang bisa mengejutkannya. Ini pasti tidak kalah aneh dari yang sebelumnya.

“Saya mau menginformasikan, mulai hari ini, selama Bapak terhubung dengan wifi kantor, aktivitas online Bapak akan kami awasi.”

Ada beberapa momen di mana orang merasa kesal yang amat sangat sehingga akhirnya tersenyum. Itulah yang terjadi pada Andi sekarang. 

“Jadi, kalian sudah berhasil mendeteksi aktivitas kriminal saya yang mana saja?”

“Belum ada sih Pak. Tadi pagi kan Bapak googling ‘cara mengusir kucing liar’, lalu ‘semprotan anti kucing’, lalu ‘tips menghalau kucing liar’. Di rumahnya banyak kucing liar ya Pak? Sama, Pak. Jok motor saya sampe brudul digarukin…” Mas Jaket Gombrong gagal menangkap pertanyaan retoris.

Sepi. 

Mas Jaket Gombrong bingung kenapa Andi tidak tertarik melanjutkan obrolan. Padahal tadi kan dia sendiri yang nanya. 

“Baik Pak, untuk sementara ini dulu. Selamat pagi.”

‘Sementara’. Artinya, bisa jadi akan ada lagi yang lain. Yang lebih aneh.


⏪Nomor Kontak Diamond Club

“Buat apa Bapak butuh nomor kontak semua anggota Diamond Club?”

Tiga tahun lalu, di ruang kerja Yeni. 

Handoko duduk di kursi tamu, dengan senyum cerahnya yang khas. 

“Sekadar untuk menjaga silaturahmi saja Bu. Saya sudah berikan nomor saya ke mereka, tapi nampaknya pada sungkan untuk mengontak saya langsung. Jadi saya yang mau jemput bola.”

“Maksudnya, Bapak mau chat mereka satu per satu, gitu Pak? Seratus orang? Rajin sekali ya.” Walau mengandung kata positif, nada suara Yeni sulit digolongkan sebagai pujian. 

“Untuk sesuatu yang sangat penting, saya selalu sempat, Bu,” jawab Handoko sambil tersenyum.


Hari itu Bank Danakencana menggelar RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) untuk menyetujui pengunduran diri Handoko dan menunjuk Direktur SME (Small Medium Enterprise – direktorat yang melayani nasabah perusahaan kecil – menengah) sebagai Pelaksana Tugas (Plt) sampai direktur pengganti ditunjuk. Dalam konferensi pers disebutkan bahwa Handoko Tantosudibyo mengundurkan diri karena “ingin fokus pada pengembangan karir pribadi” dan Bank Danakencana mengucapkan terima kasih atas dedikasinya yang tinggi. Bank Danakencana memastikan tidak ada gangguan pada pelayanan nasabah karena bank dalam kondisi baik. 


Danakencana Tower lantai 18 – ruang meeting direksi – tiga hari sebelumnya, 15.25

Berlangsung rapat KNR (Komite Nominasi dan Remunerasi) untuk menentukan kandidat Direktur Retail yang baru. 

“…berarti kandidat kita tinggal dua,” kata Komisaris Utama. Dua berkas di tangan kanan dan kirinya. “Saudara Wahyu Kencono dan Saudara Edward Sampaga. 

Pak Dirut, Anda tidak punya suara untuk voting, namun bisa memberi masukan. Mana di antara kedua kandidat ini yang lebih Anda rekomendasikan?”

“Direktur Retail itu jabatan yang sangat strategis,” Direktur Utama memulai, “Tujuh puluh persen portofolio kita datang dari Retail Banking. Oleh karena itu kita perlu orang yang bukan cuma kuat jualan, tapi bisa berpikir strategis.
Saat krisis ini terjadi, ada satu kandidat yang datang kepada saya menawarkan bantuan. Beliau lah yang membantu saya mengeksekusi berbagai langkah pengamanan dan investigasi…” 


Danakencana Tower lantai 18 – ruang kerja Yeni – hari ini, 16.58

Ketukan di pintu. Pintu terbuka, lalu tertutup. 

Yeni menatap tamunya sambil tersenyum. 

“Mas, besok boleh datang agak siang. Paginya urus SKCK dulu ya. Kita akan ajukan Mas untuk fit and proper test, sebagai Direktur Retail Bank Danakencana.”

“Siap, Bu. Terima kasih,” jawab Wahyu sambil tersenyum. 


Gaji Buta

Hari-hari berikutnya makin absurd untuk Andi. Dia, The Golden Boy, tadinya sibuk diminta ‘kasih masukan’ sana-sini. Sekarang: kayak tongcai di mi ayam: ada nggak dianggap, nggak ada pun tak dicari. Sesuai instruksi HC, Tim Marketing berkoordinasi penuh dengan Susanto. Akibatnya: banjir curhat ke Andi.

“Mas Andi, aku disuruh Mas Santo ngitung, dari follower Instagram kita yang 300.000, berapa yang udah buka tabungan…”

“Mas Andi, kata Mas Santo sebagai social media strategist aku harus tahu, dari 4.500 likes yang masuk, berapa yang bener-bener suka, berapa yang sekadar basa-basi, berapa yang salah pencet.”

“Mas Andi, Mas Santo nyuruh aku desain billboard pake Canva karena Adobe produk asing. Emang dia kira Canva buatan Cimanggis apa gimana ya, Mas? 

Andi menyimak semuanya, dan meminta semuanya bersabar. 

Peraturan-peraturan aneh terus bertambah. 

Setelah tas Andi digeledah, lalu difoto, yang terbaru: dilarang bawa pulang laptop

“Mas, saya dikasih laptop sama perusahaan kan supaya saya bisa kerja dari rumah bila diperlukan,” jelas Andi kepada executive security. Tapi tidak mengubah keadaan. 

Maka rutinitas pulang Andi menjadi: turun lift ke lantai 7, isi formulir penitipan laptop, simpan formulir, turun lift ke basement, pulang. Esok paginya: naik lift ke lantai 7, tukar formulir dengan laptop, baru naik lift lagi ke lantai 16.

Suatu hari Nabil mengajukan pertanyaan sekaligus ide brilian, “Mas, kan sekarang udah nggak ngurusin kerjaan marketing. Jadi kerjaan Mas ngapain?” 

“Gue juga bingung, Bil.”

“Kalo gitu, ngapain capek-capek ngambil laptop? Kan nggak ada yang harus dikerjain?”

“Cerdas banget lu Bil, kok gue nggak kepikiran, ya.” Andi menepuk punggung Nabil keras.

Maka pada suatu sore, Andi menitipkan laptop ke lantai 7 dan sejak itu tidak pernah diambil lagi. 


Jam kedatangan Andi juga berubah. 

Kegiatan pagi Andi sebelumnya: 

7.30 sampai kantor

7.30 – 8.00 menyusun to do list

8.00 – 9.00 mengoreksi artikel dan konten tulisan

9.00 – 12.00 pekerjaan di luar ruang kerja, misalnya shooting atau meeting

12.00 – 13.00 makan siang di break room

Hari-hari awal lepas dari aktivitas marketing: 

7.30 sampai kantor

7.30 – 12.00 bengong

12.00 – 13.00 makan siang di Break Room

Setelah beradaptasi:

11.30 sampai kantor

12.00 – 13.00 makan siang di Break Room

Andi juga dilepas dari semua kegiatan meeting. Bukan cuma meeting rutin direktorat. Meeting dengan tim-tim lain yang sebelumnya sudah dijadwalkan, satu per satu dibatalkan. Berhari-hari kalender meeting Andi kosong. 

Pada suatu hari, muncul notifikasi di ponsel. “Undangan meeting launching DanaCendekia.” Dari Nala. Beberapa saat Andi menatap penuh haru, tak mengira bisa dapat undangan meeting lagi. Tapi kemudian Nala menelepon, “Mas Andiii… maaf, tadi aku salah klik…”

Dalam kesendiriannya di ruang kerja, Andi menyaksikan media sosial Danakencana yang dibangun selama ini ambruk pelan-pelan. Di bawah arahan Santo, tim video membuat rangkaian video joget untuk promosi produk. Semuanya dibintangi oleh Tasya.

Promo Tabungan Pensiun: Tasya joget sadbor. 

Promo KPR: Tasya joget Stecu. 

Promo KTA: Tasya joget Ubur-Ubur Ikan Lele . 

Konon sekarang Tasya mem-private semua akun medsosnya. Tidak kuat menanggung citra diri yang terus merosot serta serbuan DM dengan ajakan-ajakan yang kurang mengundang selera. 

Follower semua akun medsos Danakencana terus berkurang, diikuti engagement rate yang juga melempem. Andi mendatangi tim Social Media Strategist, “Kalian lapor dong ke Santo, engagement rate kita turun terus!”

“Udah lapor kok, Mas.”

“Apa katanya?”

“Dia nanya, engagement rate itu apa. Abis itu nyaranin kita beli follower.”

Andi balik masuk ke ruangan.

Keputusan Andi tidak mengambil laptop akhirnya membuahkan surat edaran baru. Kali ini ada tambahan aturan: Andi wajib ambil laptop jam 8.00, dibuktikan dengan foto selfie dengan staf Cyber Security, lalu wajib mengembalikan selambatnya 17.30. Juga dengan selfie. Tujuannya jelas: mengontrol keberadaan Andi.

Dengan demikian jadwal pagi Andi menjadi:  

7.30 sampai kantor

7.45 selfie dengan Mas Jaket Gombrong dari Cyber Security lantai 7

17.15 ulangi.

Andi belum pernah melihat wajah Mas Jaket Gombrong dengan begitu banyak ekspresi… sampai diminta selfie tiap hari.

Sebagai orang yang terbiasa menghibur diri dengan kerja, tidak punya kerjaan adalah sangat melelahkan untuk Andi. Selama ini kantor hanya untuk kerja. Buka medsos hanya untuk mengamati kompetitor, dan mencari tren terbaru yang sedang laku. Untuk diamati, dimodifikasi, dan diviralkan. 

Sekarang tiba-tiba dia punya 9 jam kosong setiap harinya. Dia bukan hanya dipenjara, tapi masuk sel isolasi. 

Satu-satunya kegiatan yang masih terasa seperti kerja adalah baca berita. Setiap hari Andi menamatkan berbagai artikel di situs warta. Topik-topik mulai peraturan tenaga kerja, tren desain, videografi, hingga strategi marketing terbaru ia ringkas dan rangkum. Yang relevan dengan aktivitas marketing, ia kirim ke para staf. Andi tidak peduli apakah rangkuman itu akan ditindaklanjuti, yang jelas ia merasa gila bila tidak melakukan apa-apa. 

Tiga minggu setelah hari H, yang oleh kalangan Danakencana disebut “Hari Handoko”, Andi menemukan berita tentang sebuah bank kecil yang baru mendapat suntikan modal besar. Bank ini mencanangkan fokus pengembangan di bisnis retail dan mikro. Unit bisnisnya akan dipimpin oleh seseorang bernama Handoko T. Tidak ada fotonya, tapi Andi yakin yang dimaksud adalah Bang Han. Terjawab sudah satu pertanyaan, ke mana. Yang belum terjawab: masih banyak. Salah satunya: mengapa Direktur Retail dari bank terbesar keempat di Indonesia mau pindah ke bank kecil sebagai kepala unit bisnis, bukan direktur. 


Malam harinya, Handoko hadir di mimpi Andi. Dengan senyum cerah dan batik mewah, seperti biasa. Andi bertanya, “Bang Han, pergi ke mana sih? Kenapa harus dengan cara seperti ini? Saya kan jadi tertuduh di sini Bang!”

Bang Han hanya tersenyum, lalu menunjuk ke arah belakang Andi. Andi menoleh. Tidak ada apa-apa. Saat menghadap kembali ke depan, Bang Han juga sudah lenyap. 

Mungkin sekadar ekspresi kerinduan. Mungkin juga firasat.

Bersambung ke Bab 6: Era Baru

Satu tanggapan untuk “Carmukker – Bab 5: Dinding Merapat”

  1. Carmukker – Bab 4: Hari H – (new) Mbot's HQ Avatar

    […] Bersambung ke Bab 5: Dinding Merapat […]

    Suka

Ada komentar?

Eksplorasi konten lain dari (new) Mbot's HQ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca