Carmukker – Bab 4: Hari H

Published by

on


Baca Carmukker dari awal

Hari yang mengguncang hidup Andi, beserta segala privilesenya sebagai The Golden Boy.

Fun fact: konsep sekelompok pegawai yang diseleksi khusus benar-benar pernah gue lihat di salah satu kantor tempat kerja dulu. Bedanya: kriteria yang digunakan dalam cerita ini jauh lebih kompleks.


Meeting Darurat

Danakencana Tower, lantai 16 – Akuarium Arwana – Rabu, 10.15

Andi mengecek chat Handoko untuk keseribu kalinya. Masih belum terkirim, apalagi terbaca. 

Ia gagal menggiring fokus kembali ke laptop. Apa maksud chat Bang Han? Kenapa nomornya diblokir? Ke mana dia? 

Terdengar langkah kaki serombongan orang memasuki area kerja bersama. Dari buramnya sandblast Andi melihat, beberapa orang berdiri di depan dinding kaca. Satu orang mengetuk. 

“Masuk.”

Seorang staf FMU (Fraud Management Unit) masuk. Andi tidak kenal namanya. 

“Mohon izin, Pak Andi harap segera hadir di meeting direksi. Sekarang.” Nadanya sopan. Tatapannya memaksa. Andi bahkan merasa… diancam. Meeting direksi? Tumben.

“OK,” kata Andi sambil berdiri. “Sebentar saya bereskan laptop dulu…”

“Tidak usah bawa laptop, Pak. Langsung ke 18 saja. Sekarang.” Meeting direksi tanpa laptop. Lebih tumben lagi.

Wajah Andi mengeras. Di depan ruangannya berdiri 2 anggota executive security, satuan pengamanan direksi, berseragam safari. Tegak berdiri menghadap area kerja bersama. Beberapa orang lain, yang juga tak dikenal Andi, sedang berdiskusi. Di sekitar Lorong Waktu, ada 2 orang executive security lagi. tim Marketing memandang semua kesibukan ini sambil tercengang.

“Ada apaan sih ini?” tanya Andi dengan nada meninggi. 

Staf FMU mendorong halus punggung Andi.


Lantai 18

Pintu lift terbuka. Andi melangkah keluar, diiringi staf FMU. Berbelok ke kiri, melewati ruang Handoko yang pintunya terbuka lebar. Beberapa orang hilir mudik mengangkut kardus-kardus dokumen keluar. Desi berdiri di dekat mejanya, bicara dengan seseorang. Matanya basah. Ada gumpalan tisu di tangan. 

Andi tiba di ruang meeting direksi. Mengetuk. Melangkah masuk. 

Di dalam ada meja yang sangat panjang, mirip meja makan di film-film kerajaan. Di satu sisi duduk Direktur Utama, Yeni Sasmita si Direktur HC, dan Direktur Kepatuhan, yang membawahi FMU. Di sisi seberangnya duduk seluruh Kadiv Retail, termasuk Wahyu dan Edward. Andi yang terakhir datang. Ia duduk di sebelah kiri Edward, yang jelas masih mengabaikan Andi. 

Pak Direktur Utama membuka dengan suara beratnya. 

“Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan sekalian. Mungkin ada yang sudah tahu, ada juga yang masih bertanya-tanya, dalam rangka apa diundang ke ruangan ini. 

Pagi ini, kami, saya dan para direksi lain, menerima kabar mengejutkan dari Pak Handoko Tantosudibyo. Beliau, secara sangat mendadak dan tidak disangka-sangka, menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Direktur Retail Bank Danakencana. Via Whatsapp.” 

Seperti ada granat asap dilempar ke tengah ruangan: tak membuat ledakan, tapi mendesiskan tanya. Ruangan berdenyut oleh kegaduhan yang tak bisa dicegah. Di luar kesadaran, mulut Andi ternganga. 

Pak Direktur Utama mengangkat sebelah tangannya. Ruangan kembali tenang. 

“Bukan hanya itu. Sebanyak 76 orang anggota Diamond Club juga menyatakan mundur secara serentak.”

Ruangan kembali riuh. 


⏪Diamond Club

“Saya ingin membentuk pasukan elit.Terdiri dari staf core banking operations tingkat regional ke bawah: sales, operations, credit. Bukan hanya dari berprestasi, tapi juga berkarakter.”

Empat tahun lalu. Handoko mengundang Yeni ke ruangannya untuk merancang sebuah dream team

“Jadi kita sortir dari prestasi kerja dulu ya, Pak?”

“Bukan. Justru karakter duluan. Lakukan 360 assessment: setiap orang dinilai oleh bawahan, rekan kerja, dan atasan. Jadi nggak ada bias personal. Saring 10% yang terbaik. Baru setelah itu kita urutkan berdasarkan hasil kerjanya.”

“Berapa banyak yang Bapak mau?”

“Hanya 100 orang. Dan tidak akan bertambah. Nantinya akan ada yang tergeser keluar, ada yang terdorong masuk. Tapi jumlahnya akan tetap 100.”

“Baik. Nanti saya pikirkan nama yang cocok untuk tim ini.”

“Saya sudah punya. Tim ini akan bernama Diamond Club.”


“Melihat dari besarnya potensi kerugian yang ditimbulkan oleh peristiwa ini, maka manajemen akan melakukan investigasi penuh.” Direktur Utama melanjutkan. “Saya minta rekan-rekan dari Direktorat Retail tetap tenang, dan tidak melakukan komunikasi dalam bentuk apa pun dengan mereka yang hari ini mengundurkan diri secara tidak sepantasnya.” 


Lantai 16 – area kerja bersama

Andi baru melangkah keluar dari Lorong Waktu saat melihat pemandangan yang membuat wajahnya mengencang. Beberapa orang, entah dari divisi apa, mondar-mandir mengangkut kardus-kardus berisi dokumen dari ruangan Andi. 

“Hei, apa-apaan ini ya?” teriak Andi keras.

Seperti tak mendengar, orang-orang itu masih saja sibuk. Andi berjalan dengan langkah-langkah lebar mendekati salah satunya. Menarik kerah dari belakang.
“Ini apa-apaan, main bongkar ruangan orang seenaknya?”

Nabil dan beberapa staf Marketing yang laki-laki langsung berdiri dari kursinya, siap mendukung bila terjadi baku hantam. 

“Maaf Pak, kami hanya menjalankan tugas. Silakan ditanya ke Bu Yeni.”

“OK saya telepon Bu Yeni sekarang. Kalian berhenti dulu!” Salah satu dari mereka masih bergerak hendak masuk lagi ke ruang Andi. Andi menggebrak meja. “Dengar saya ngomong barusan? Berhenti!”

Orang-orang itu akhirnya berhenti. Menatap Andi yang sedang menekan-nekan ponsel. 

Dengan ponsel di telinga, Andi melangkah masuk ke ruangan. Menutup pintu kaca. Sempat dicegah oleh salah satu orang. “Mohon maaf Pak, pintunya jangan ditutup.” 

Andi tidak berkata apa-apa, matanya menusuk tajam. Orang itu akhirnya mundur dan membiarkan Andi menutup pintu. 

“Halo Bu Yeni. Ini ada orang-orang main angkut dokumen dari ruangan saya, untuk tujuan apa ya Bu?”

“Ya investigasi, Mas. Kan tadi Mas Andi sudah sudah dengar sendiri dari Pak Dirut.” Dari suaranya, bisa ditebak selancip apa mulutnya.

“Kok saya ikut diinvestigasi Bu? Yang resign kan Pak Handoko? Apa hubungannya sama saya?”

“Buat jaga-jaga Mas. Mana tau, kan… Mohon kerja samanya ya Mas.”

Panggilan diputus dari pihak Yeni. Kepala Andi makin panas. Jaga-jaga apa sih maksudnya?

Andi mengambil ransel, membuka pintu, dan melangkah keluar.

“Maaf Pak, Bapak mau ke mana ya?”

“Apa urusan kamu tanya-tanya?” suara Andi menggema ke seluruh ruangan. 

“Instruksi dari Bu Yeni, Bapak dilarang keluar dari gedung ini Pak.”

“Siapa yang mau keluar? Saya mau ke break room.”

“Tapi tasnya ditinggal, Pak.”

“Kamu siapa berani memerintah saya?” jawab Andi ketus dan melangkah pergi. Di bawah tatapan semua tim Marketing. 


Cahaya Kecil di Hari yang Gelap

Lantai 15 – break room – 12.15

Andi yang sudah duduk di singgasananya sejak pagi, masih ada di sana. Mencorat-coret tablet dengan digital pen. Mengetik di laptop. Sesekali mengecek chat Handoko. Masih centang satu. 

Wajah yang biasanya sudah muram, kini menggelap menjadi kelam. Beberapa orang menatap Andi. Berbisik-bisik. Kabar tentang meeting darurat tadi pagi sudah tersebar. 

“Halo Mas Andi!” Nala muncul membawa nampan makanan. Suaranya riang seperti kecipak air sungai yang segar. 

Nala duduk di seberang Andi. Tanpa sungkan, tanpa merasa perlu izin. Nampannya berisi nasi pecel dengan lauk ayam goreng, tahu, dan tempe, wadah kukusan bambu berisi 4 potong dimsum, segelas besar jus, dan segelas air putih. 

“Mas, tahu nggak, tadi di lantaiku, lantai 12, heboh. Kayak ada banyak orang masuk, mau ngangkutin dokumen gitu. Kadivku sampe marah-marah. Mbak Tasya juga. Ada apa sih, Mas?”

“Pak Handoko resign mendadak.”

“Siapa tuh Pak Handoko?”

Ketidaktahuan Nala akan sosok Handoko versus skala kegentingan terjadi akibat kepergiannya terasa seperti kontras yang lucu. Andi terkekeh kecil. Mendung di wajahnya berkurang sedikit. Mata Nala membulat. 

“Pak Handoko itu Direktur Retail. Atasan aku. Atasan kadiv kamu juga. Hari ini tiba-tiba mengumumkan resign, dan tidak bisa dihubungi.”

“Oooh… pantesan. Emang nyebelin sih kalau ada orang resign mendadak. Pegawai toko mamaku pernah tuh Mas, tiba-tiba main resign aja lewat WA. Wah, mamaku tuh kesel banget, kayak… aduuuuh, kesel banget!”

Andi terbahak. Nala mengerucutkan bibirnya.

“Kenapa diketawain sih Mas… aku salah lagi, ya?”

“Bukan, Nala,” Andi melepas kacamatanya sejenak untuk menghapus tetes bening di sudut matanya.

“Aku baru sadar lucunya perbandingan itu: resign-nya direktur bank vs pegawai toko.”

“Ya kan sama-sama resign mendadak, Mas…”

“Masalahnya, resign-nya direktur bank agak lebih repot daripada pegawai toko, Nala. Direktur bank hanya bisa resign dengan persetujuan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Nggak bisa main kirim WA.”

“Kalo orangnya udah langsung pergi, ya otomatis harus setuju dong? Kan perusahaan nggak bisa maksa Pak Handoko balik ngantor ke sini?”

“Bukan itu masalahnya, Nala. Selama pengunduran diri belum disetujui RUPS, tanda tangan Pak Handoko masih sah. Bayangin kalau tiba-tiba hari ini terbit dokumen baru yang isinya pembubaran divisi marketing. Saya bisa langsung nganggur,” kata Andi, belum sadar betapa dekatnya kalimat itu dengan realita yang segera akan terjadi.

“Dan karena resign-nya mendadak, beliau nggak akan lolos fit and proper test. Jadi mustahil langsung jadi direktur di bank lain.”

“Terus, Pak Handoko pindah ke mana dong, Mas?”

“Itu dia… kita semua bertanya-tanya yang sama.”


⏪Catat Nomor Saya

Danakencana Training Center, Bandung
Tiga tahun lalu. 

“Catat nomor HP saya, ya…” Handoko menulis di whiteboard. Dia sedang berdiri di depan 100 orang Diamond Club angkatan pertama. Datang dari berbagai penjuru Indonesia. 

“Saya akan menjadi mentor pribadi kalian semua. Kalau ada masalah apa pun, termasuk masalah pribadi, boleh hubungi saya langsung. Anytime.” 

Seratus pasang mata menatap Handoko. Penuh tekad. Penuh harapan.


Bola Salju Menggelinding

Lantai 18 – Ruang Direktur Utama

Sekretaris mengetuk dan membukakan pintu. Mempersilakan masuk. Sepasang kaki melangkah. Sekretaris undur diri. Menutup pintu.

“Selamat sore Pak… mohon izin menyampaikan beberapa informasi penting terkait peristiwa hari ini. Saya pikir, Bapak perlu mengetahuinya agar bisa mengambil keputusan yang tepat. Terutama terkait karakter Pak Handoko, dan orang kepercayaannya, Andi.”

Direktur Utama menatap kadiv yang berdiri di depannya.


Danakencana Tower, lantai 3 – Divisi Procurement – 20.45

Seorang staf mengetikkan dokumen terakhir ke dalam sistem. Lembar Persetujuan Pembelian. Untuk 50 ribu tas batik. Tercantum perintah khusus: penunjukan langsung tanpa tender. Tanda tangan Handoko terbaca jelas.

Dokumen kecil ini, akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari. 

Bersambung ke Bab 5: Dinding Merapat

Satu tanggapan untuk “Carmukker – Bab 4: Hari H”

  1. Carmukker – Bab 3: Jagoan Canggung – (new) Mbot's HQ Avatar

    […] Bersambung ke Bab 4: Hari H […]

    Suka

Ada komentar?

Eksplorasi konten lain dari (new) Mbot's HQ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca