Carmukker – Bab 3: Jagoan Canggung

Published by

on


Baca Carmukker dari awal

Bab ini menampilkan Andi dari berbagai sisi yang saling bertolak belakang.

Fun fact: cerita motivasi tentang elang pernah gue bahas di blog ini. Bener-bener cerita terbodoh yang sayangnya dijual para motivator dengan harga mahal.

Mereka yang Bangun Mendahului Matahari

Wangi tumisan bumbu memenuhi seluruh penjuru rumah, ditingkah suara sodet membentur wajan. 

“Ndi, hari ini bekalnya nasi goreng aja, ndak apa-apa ya?” Ibu Gantari sibuk berkutat di dapur, menyiapkan bekal untuk anak bungsunya. Di usia yang menginjak angka 75, ia belum kehilangan kesaktian meramu rasa. “Ibu bangunnya kesiangan ini, ndak sempat bikin yang lain.”

Andi keluar dari kamar sambil mengancingkan kemeja. “Ya ndak apa-apa Bu. Lagian Ibu ngapain sih, anak udah segede gini masih dibuatin bekal?”

“Ooo… malu, dibawakan bekal?” Ibu Gantari menampilkan ekspresi pura-pura tersinggung. Andi berdiri di belakangnya, meremas bahu ibunya dengan lembut. 

“Sejak kapan aku malu dibawakan makanan terenak di Indonesia buatan ibuku yang jagoan?” 

Ibu Gantari mendengus. “Gombal.”

“Aku cuma nggak mau Ibu repot tiap hari harus masak untuk aku,” kata Andi sambil memasukkan tablet ke dalam ranselnya.

“Ibu ini repot apa sih? Kerjaan Ibu tiap hari kan cuma nonton TV. Coba kalau ada cucu, nah baru deh Ibu punya kesibukan.” Gerakan Andi mengemasi tas terhenti sejenak. Ibu Gantari terdiam. Ia merasa kelepasan. 

“Masih panas. Jangan langsung ditutup rapat, nanti basi,” kata Ibu Gantari sambil menyerahkan kotak bekal. Andi menerima sambil mengangguk.

Sembah nuwun. Aku jalan dulu ya Bu…”

“Oh iya, sambil jalan keluar tolong sekalian bersihkan pot Ibu.”

“Ranjau kucing lagi?”

“Iya. Kalau didiamkan nanti anggrek Ibu mati.”

Lima menit kemudian terdengar suara pintu pagar ditutup, dan mobil Andi menderu pergi. Ibu Gantari terduduk di meja makan. Tatapannya mengarah pada kulkas yang dipenuhi tempelan magnet. Salah satunya membuat matanya terasa panas. 


Nala melirik smartwatch di tangan kirinya. Jam 7.30, lantai basement masih sepi. Ia mempercepat langkahnya, ingin segera mencapai lift

“Jangan sampai ketemu siapa-siapa. Jangan sampai ketemu siapa-siapa,” doanya dalam hati. 


Drama di Depan Lift

Danakencana Tower – lantai basement – depan lift – 7.30

Andi mengecek ponsel. Jam 7.30. Masih banyak waktu untuk ritual rutinnya: menyepi di ruangan sambil menyusun to-do list. 

Suara langkah bergegas terdengar dari belakang. Andi menoleh. 

“Selamat pagi Nala,” sapanya.
Langkah Nala terhenti. Matanya membulat seperti habis melihat pocong lompat dari liang lahat. 

“Eh.. eee… Pagi Mas Andi…” Ia tadi berharap tidak ketemu siapa-siapa. Eh, malah ketemunya dengan Andi. Masih terngiang di ingatan, sesiangan kemarin Tasya menjabarkan sejuta alasan untuk berhati-hati kepada kadiv bermuka cemberut ini. Tanpa sadar, Nala mundur selangkah. 

“Kok jam segini ada di basement? Bawa mobil?” tanya Andi. Pertanyaan wajar, karena akses basement berhubungan langsung dengan lantai parkir mobil. Para pegawai yang naik kendaraan umum masuk langsung lewat lobby. Yang naik motor, dari lantai B2.  

“Oh, ngg… ini Mas, tadi mau ke minimarket, tapi ternyata jam segini belum buka, ya?” Nala berbohong secara amatiran.

“Oh belum. Nanti bukanya jam 9. Mau beli apa?” Tiba-tiba Andi kaget dengan dirinya sendiri. Biasanya dia tidak pernah tertarik ngobrol basa-basi. Hari ini, baru jam segini, sudah 2 pertanyaan kurang esensial yang dia ajukan. 

“Ngg… anu Mas, eh… biasalah, cewek…” jawab Nala sekenanya. 

Jawaban asal-asalan ini membungkam Andi. Wajahnya memerah. Ia lantas mengeluarkan gumaman bernada rendah seperti suara AC kelurahan. Sebagai jomblo kepala 4, segala topik yang masuk kategori ‘urusan cewek’ membuatnya jengah. 

Pintu lift terbuka. Andi melangkah masuk, tapi lantas teringat tata krama untuk mendahulukan wanita. Akibatnya dia berhenti lalu mundur lagi, dan menabrak Nala. Lebih parahnya, kaki kanannya menginjak kaki Nala.

“Eh, kamu duluan…” kata Andi. 

“Lho nggak apa-apa Mas aja duluan,” balas Nala sungkan. 

Ladies first,” kata Andi sambil membuat gestur mempersilakan ke arah lift. Nala ragu-ragu. Tiba-tiba pintu lift tertutup lagi, seperti layar panggung yang capek melihat peran kikuk. Keduanya berpandangan sejenak, lalu kompak menunduk. Dengan gerakan tangan orang rabun mencari kacamata, Andi menekan tombol lift lagi. Keduanya terdiam. Menunggu lift berikut datang.

Andi menggumamkan nada lagu, entah apa. Biasanya dia tidak gentar dengan kesunyian. Kali ini, dia seperti tertekan untuk cari obrolan.
“Saya…” Tenggorokannya yang kering membuat suaranya agak fals. Andi berdehem, lalu mengulangi lagi. “Saya dari kemarin kaya nyium wangi permen terus, aneh deh.”

Wajah Nala memerah. “Ehm, mungkin… parfum saya, Mas.”

Andi merasa ingin membenturkan jidat ke dinding. “Oh. Kamu? Kamu suka jadi permen? Eh maksud saya, suka wangi permen?” Tanggung amat benturin jidat ke dinding, ke kaca pos satpam aja Ndi, biar lebih rame, kata Andi kepada dirinya sendiri. Tentunya dalam hati. 

“Iya, saya suka wangi parfum ini. Dikadoin sama Mama pas ulang tahun ketujuh belas, keterusan pake sampai sekarang,” jawab Nala. “Eh tapi kalau menurut Mas wanginya ganggu, saya bisa ganti.”

“Oh, jangan, jangan!” jawab Andi sambil menggoyangkan kedua tangannya dengan kecepatan kipas sate. “Kamu jangan berubah. Eh jangan ganti parfum. Saya suka kamu kok. Eh maksud saya, saya suka sama wangi kamu. Enak. Kayak… kayak wangi permen.” Penjelasan panjang Andi ditutup dengan kekeh gugup. Lalu keduanya diam lagi. Sampai lift datang, dan mengantar ke lantai masing-masing.  


Jadwal Handoko

Lantai 18 – 7.45
 

Handoko melangkah keluar dari lift. Hari ini ia mengenakan batik tulis lengan panjang dengan aksen tinta emas yang memancarkan aura kemapanan. Dengan langkah-langkah panjang penuh energi, ia mendatangi meja Desi. Desi langsung berdiri.
“Selamat pagi, Pak.”

“Pagi!” jawab Handoko ramah. Senyum cerahnya yang khas menerangi ruangan. “Apa agenda saya hari ini?”

“Jam 9 Bapak ada meeting sama motivator, Pak.”

Remind me. Motivator apa ya?”

“Untuk program sales booster yang di-propose HC, Pak. Kita mau sewa motivator untuk memotivasi para BM dan AO. Hari ini salah satu kandidat motivatornya mau kasih sesi perkenalan.”

“Oh, ya ya. Menurut kamu, ini bakal ngaruh gak?” Handoko bertanya tiba-tiba. Desi tertegun.

“Maaf, maksud Bapak?”

“Motivator kayak gini beneran bisa menaikkan penjualan, tidak?”

“Waduh, nggak tahu ya Pak, saya kan belum pernah jadi sales,” jawab Desi sambil terkikik. Rambut bobnya bergoyang halus.

“Hahaha, iya. Cuma bercanda kok,” sahut Handoko sambil tertawa, “Motivator ini kan direkomendasi sama…” Handoko menjentikkan jari, berusaha mengingat.

“Pak Edward Sampaga, Pak.”

“Edward. Yak, benar. Kalau nggak salah si motivator ini temen lamanya atau gimana gitu ya?”

Desi menjawab sambil membaca sebuah berkas. “Benar Pak, teman kuliah Pak Edward yang sukses jadi leader MLM, lalu jadi motivator nomor satu nasional, Pak.” Desi menyerahkan sebuah brosur berwarna. Di halaman muka terpampang wajah Sang Motivator, mengepalkan tinju dengan latar belakang ledakan api berkobar. Dengan huruf tebal yang diberi efek 3 dimensi, tertulis namanya: Yudha Saktiwicaksana – Motivator Nomor 1 Indonesia.

Handoko mengamati brosur itu sekilas, lalu mengangguk.

“OK.” Handoko melirik jam tangan mewah di tangan kirinya. “Masih ada waktu sejam lebih, saya kerja dulu di ruangan ya. Eh iya, suruh Andi ikutan acara motivator ini, ya!”

Desi mengerutkan kening, “Maaf Pak, ini acara motivasi untuk internal, apa Mas Andi… relevan ya Pak? Beliau kan marketing untuk ke luar.”

“Saya selalu percaya Andi pasti bisa ngasih masukan berharga di bidang apa pun. Undang saja dia.” Handoko mendorong pintu ruangannya. 

“Ee… sama ini Pak, kemarin sore saya sudah taruh baki dokumen di meja Bapak,” kata Desi lagi. 

“OK. Kemarin habis ngopi saya langsung pulang. Pagi ini saya akan bereskan yang baki merah sebelum acara jam 9,” kata Handoko sambil masuk ke ruangan, lantas menutup pintu. 


Lantai 16 – Akuarium Arwana – 08.21

Terdengar ketukan di pintu kaca. 

“Masuk,” kata Andi. 

Kepala Susanto muncul di celah pintu. “Pagi Mas…”

“Pagi To. Yak, kenapa?”

“Eee… ini, mau konfirmasi aja,” hidung Susanto bergoyang-goyang, kembali mengingatkan pada celurut yang sedang mengendus udara. “Sampel tas batik yang kemarin dibawa Pak Wahyu, Mas Andi setuju untuk didesain ulang kan ya?”

“Tas batik?” Andi berusaha mengingat-ingat. “Ooh… tas batik, yang norak banget itu ya?” Wajah Andi berubah sumringah. Wajah Susanto sebaliknya. “Iya, setuju banget, aku pikir tas-tas batik itu perlu didesain ulang biar sejalan sama konsep Ultima. Kalau bisa jangan terpaku pada tas. Pikirkan lagi suvenir lain yang lebih cocok sama nasabah Ultima.”

“Kata Pak Wahyu, Mas Andi pernah bilang punya kenalan vendor yang bisa bikin kerajinan batik juga. Mau dong, Mas.”

“Ah, kapan? Saya nggak pernah punya kenalan vendor kerajinan batik, To!” 

“Oh, Pak Wahyu salah inget kalau begitu. Terima kasih ya, Mas,” kata Susanto yang kemudian pamit pergi. Tak lama kemudian telepon di meja Andi berbunyi. Suara Desi terdengar dari seberang. 

“Halo? Ya Des… Presentasi motivator? Kok saya ikutan? Oo… OK. OK, saya meluncur sekarang.”

Sementara itu, Susanto berhenti sejenak di depan Akuarium Arwana. Mematikan aplikasi perekam suara di ponselnya. 


Kisah Elang Botak Berparuh Patah

Lantai 11 – Ruang Pertemuan Utama – 08.56

Ruang pertemuan utama berkapasitas 100 orang itu terisi seperempatnya. Di atas panggung hadir Yudha Saktiwicaksana, Sang motivator (yang katanya) nomor satu di Indonesia. Mengenakan polo shirt warna cerah dilapis jas santai, ia sibuk mengutak-atik bahan presentasi di laptop. Layar besar di tengah panggung menayangkan gambar Yudha, persis seperti di brosurnya: lagi mengepalkan tinju di depan ledakan api membara. 

Kursi disusun dalam formasi classroom, dengan Handoko duduk di baris terdepan. Di sebelah kanannya duduk Edward. Tubuhnya besarnya menyesaki kursi. Ia sedang mengobrol santai dengan Handoko, sambil sesekali terkekeh. Bertindak sebagai pemilik acara, Direktur Human Capital Yeni Sasmita duduk di sebelah kiri Handoko. Wanita jelang kepala lima itu berbatik cerah dengan rambut disasak keras hingga bulat mulus seperti helm. Tubuhnya menguarkan aroma parfum mahal dari bunga langka, tanpa ampun menusuki semua hidung di radius 5 meter.  Selain mereka, hadir juga sejumlah kadiv dan kadept yang relevan. Sekali lagi: yang relevan. Karena tamu berikut bikin kening Yeni yang mulus botox berkerut. 

“Lho, Mas Andi ikut hadir juga? Ngapain?” Yeni tak sadar bicara entah kepada siapa sambil melirik tajam sosok Andi.

“Mohon izin, saya yang ngajak, Bu Yeni,” Handoko menengahi sopan. 

“Oh, gitu. Saya agak bingung. Ini kan untuk motivasi internal, tapi  kok Mas Andi hadir. Kirain salah ruangan,” kata Yeni dengan bibir lancip. Dia sudah beberapa kali menyaksikan aksi mulut pedas Andi di berbagai acara. Jangan sampai acaranya hari ini menjadi arena kesekian. 

“Pagi Bu Yeni,” kata Andi sambil mengulurkan salam. Yeni menyambut tanpa kata-kata. Firasatnya agak kurang enak. Andi juga bersalaman dengan Handoko dan Edward, lalu duduk manis di sebelah kanan Edward.

“Semangat pagi Danakencanaaaa…!” Yudha menggebrak dengan salam pembukaan, diiringi lagu jedag-jedug yang biasa diputar toko kalau sedang gelar obralan. Hadirin bertepuk tangan. Edward yang paling keras. Andi bersandar dengan telunjuk kanan menempel di dagu. Ekspresinya datar. 

Yudha melonjak-lonjak di panggung, bergerak ke sana sini. Mengajak hadirin bertepuk, bergoyang, berteriak. Segenap energi dia kerahkan demi membuat hadirin terkesan. Pertaruhannya: memenangkan tender kakap. 

Direktorat Retail Bank Danakencana punya 8.000 karyawan di lini penjualan. Program motivasi ini ditujukan bagi mereka. Bila tarif per kepala dipatok 500 ribu saja, proyek ini bernilai 4 miliar. Belum termasuk uang jalan, transport dan akomodasi. Angka yang lebih dari cukup untuk membuat seorang om-om paruh baya rela berloncatan di atas panggung diiringi lagu jedag-jedug.  

“Tepuk tangan untuk kita semua!” Wajah Yudha basah keringat. Beberapa tetes menggantung di ujung dagunya yang ganda. Sisanya mengalir di leher, lalu ke dadanya yang setengah terbuka, berkilau berbarengan dengan untaian kalung emas. 

Hadirin bertepuk tangan dengan murah hati. Andi: masih bersandar dengan telunjuk kanan menempel di dagu. Edward melirik tajam ke arah Andi. Yang dilirik tidak merasa. 

“Teman-teman, dalam perjalanan karir kita, kadang kita terlena dengan rutinitas. Lalu kita tersadar, hidup kita begitu-begitu saja. Lalu akhirnya… mati…” Mengalun suara musik dramatis yang disetel staf Yudha. 

Yudha memencet clicker. Gambar di layar berganti menjadi gambar burung elang. 

“Ada yang tahu, berapa usia maksimal burung elang?” Tatapan Yudha menyapu hadirin. Seseorang berteriak di belakang, “Tiga puluh tahun!”

Yudha terkekeh, “Betul sekali… betul-betul meleset!” Berapa orang ikut tertawa. Termasuk Edward, yang dari tadi gak berhenti mengirimkan sinyal suportif kepada Sang Kawan Lama. Kening Andi berkerut. Ia membuka ponselnya, mengetikkan beberapa kata. Yudha melanjutkan, 

“Di usia 40, kondisi elang sudah payah. Bulunya sudah terlalu tebal sehingga berat untuk terbang. Paruhnya tumbuh terlalu panjang, membuat dia susah makan. Kuku-kukunya juga sudah kepanjangan,  susah untuk menangkap mangsa.
Di usia 40 ini, elang akan melakukan transformasi. Dia menyepi di puncak gunung. Mencabuti semua bulunya. Mencabuti semua kukunya. Terakhir, mematahkan paruhnya. Lalu dia bertapa 30 hari, hingga semuanya tumbuh kembali. Prosesnya menyakitkan, tapi diperlukan agar dia bisa hidup lebih lama. Sesudah itu, elang  bisa hidup sampai 70 tahun. 

Sama seperti kita. Bila ingin bertahan lebih lama, harus melewati proses transformasi yang mungkin tidak nyaman. Tapi bila berhasil melewati itu, wahai Danakencana, kesuksesan di tangan Anda!” Yudha menutup kalimat sambil mengepalkan tinju. Hadirin bertepuk tangan. 

“Sori, Pak.” Andi mengangkat tangan. Tepuk tangan terhenti. Yeni mulai mengurut kening. Edward melirik tajam. Handoko tetap tenang, melihat ke arah Andi. Senyumnya tetap hadir seperti biasa. 

“Ya Pak?” Yudha berdiri di bibir panggung, setengah membungkuk ke arah Andi. 

Andi mengacungkan ponselnya. “Saya barusan cek. Umur elang memang maksimal 30 tahun. Jadi, tadi siapa yang udah jawab 30 tahun?” Andi berdiri, menyapukan pandangan ke belakang. Sayup-sayup terdengar jawaban, “Saya.”

“Nah, elu udah bener Bro,” kata Andi sambil mengacungkan jempol. 

Yudha terkekeh canggung. Tanpa mikrofon dia bicara dengan volume rendah kepada Andi, “Mungkin itu cuma masalah statistik angkanya saja yang beda, Pak.”

“Bukan cuma angkanya yang beda, Pak. Boleh saya pinjam mikrofonnya?” Tangan Andi teracung seperti tukang parkir minimarket setelah membantu narik motor mundur. Yudha tak berdaya, kehabisan pilihan kecuali menyerahkan. Ada sesuatu di sorot mata Andi yang seolah berbisik, “Jangan macam-macam.” Sementara itu, andai Edward punya mata mata laser kayak Superman, dipastikan Andi hanya tinggal tumpukan abu. 

Tanpa merasa ada yang salah, Andi menerima mikrofon. Naik ke panggung. Sebagai kadiv dia punya akses jaringan untuk mengambil alih layar. Itulah yang dia lakukan sekarang. Dalam beberapa kali tap layar, gambar elang berganti jadi hasil pencarian google dari ponsel Andi. 

“Teman-teman bisa lihat ya. Ini dari data dari website ilmiah tentang elang. Lalu di website yang ini tertulis: kisah elang yang mencabuti bulu adalah hoax.” Andi memandang lurus ke arah Yudha dan menekankan sekali lagi, “Hoax, Pak.” Yudha mengangguk. Kedua tangannya tertaut di depan perut, seperti Camat sedang menyimak arahan Bupati.

“Elang mustahil melepas paruh karena menyatu dengan tengkoraknya. Kalau patah, tidak akan tumbuh lagi, dan elang itu akan mati karena tidak bisa makan.” 

Andi terus menyerocos. Suasana ruangan mulai meletup seperti pop corn dalam panci panas. Sebagian tertawa-tawa melihat ulah khas Andi. Sebagian lainnya berdebat, siapa yang lebih layak dipercaya. Yudha si motivator berkalung emas, atau Andi si mulut silet.

Andi mematikan koneksi ponselnya ke layar. Gambar api berkobar kembali terpampang. 

“Atau gini deh Pak,” kata Andi kepada Yudha, “Kita langsung go through aja materi presentasi Bapak.” Tangan Andi teracung. Yudha pasrah menyerahkan clicker, seperti preman menyerahkan celurit saat terjaring razia.

“Okeee… kita lihat slide berikutnya. Wah, ada gambar biola. Mau cerita apa ini Pak? Pemain biola terkenal bernama Paganini bukan?”

“I… iya, bener Pak.” Yudha sedikit tergagap. Sikap tubuhnya tidak setegak tadi.

“Ceritanya, Paganini pakai biola murah, tapi tetap main bagus? Hoax juga. Cek di Google ya Pak. 

Next… wah gambar gajah. Ini mau cerita tentang belenggu pikiran bukan, Pak?”

Yudha mengangguk lemas. Beberapa bulir keringat menetes jatuh.

“Gajah yang tenaganya besar, nggak mencoba melarikan diri walau cuma diikat pakai tali jerami. Itu karena karena belenggu di pikirannya sendiri, gitu ya Pak?

Hoax juga itu Pak. Kalau Bapak nggak percaya, mampir deh ke sirkus. Kalau sampai ada gajah diikat jerami, saya bayar 10 juta.”

Yudha terkekeh. Bukan karena geli, tapi karena tidak tahu harus apa.   

“Masukan saya, tolong cek lagi materinya di Google deh Pak. Soalnya kalau saya lihat, ini kayak belum sempat lewat otak sudah telanjur keluar ya. Sayang, keluarnya lewat jalur bawah.”

Hadirin bertepuk riuh mendengar signature move dari Andi. Andi masih belum puas,

“Kalo Bapak menang tender, Danakencana akan bayar Bapak miliaran. Masa materinya beginian? Ngomong-ngomong, siapa sih yang ngerekomendasiin Bapak ke Danakencana?” tutup Andi dengan pertanyaan. Hadirin riuh. Tapi langsung senyap oleh teriakan menggelegar, 

“Jangan lancang kau, Ndi!”

Edward Sampaga berdiri dari kursinya. Dadanya membusung, matanya menyala. Tangannya menunjuk.  Handoko yang duduk di sampingnya meremas lengan Edward, kode untuk menyuruhnya kembali duduk. Di saat yang sama, Handoko menatap lurus ke Andi, lalu mengangguk. Artinya, “Sudah, cukup.”

Andi menaruh mikrofon ke mimbar, lalu turun panggung dan melangkah cepat ke luar. Yudha terdiam di panggung. Wajah basah keringat itu kini lebih berwarna daripada polo shirt yang dikenakannya. Yeni, sang tuan rumah, naik ke panggung, berbisik ke Yudha. Handoko berdiri, lalu berjalan tenang keluar. 


Peringatan Terakhir

Setelah keluar dari ruangan, Andi menunggu di depan. Karena tahu akan ada yang menyusul. 

Dugaannya benar. Handoko muncul. Lalu mengajaknya ke salah satu ruang meeting yang kebetulan kosong. 

“Andi… bukannya baru kemarin ya gue ngomong sama elu? Belum 24 jam lho Ndi!”

“Saya cuma nggak rela ngebayangin Danakencana bayar miliaran untuk materi kaya gitu, Bang!”

“Emang nggak ada cara lain ya Ndi? Harus dengan naik panggung, bikin malu orang kayak tadi? Lu sadar nggak sih, yang malu bukan cuma Yudha. Edward juga malu.”

Andi mengerutkan kening, “Kenapa Bang Edward ikutan malu Bang?” 

“Karena Yudha itu temen kuliahnya, Andi…” Nada Handoko seperti menjelaskan kalau ada seorang wanita dipanggil ‘Bu Tono’ maka kemungkinan besar suami atau anaknyalah yang bernama Tono, bukan dia. 

Andi tercengang. Ia baru tahu soal ini. 

“Gue buka-bukaan aja sama elu ya. Cuma 2 alasan yang bikin elu, sampai hari ini, masih selamat. Satu, keahlian lu masih dibutuhin sama perusahaan. Makanya nggak bisa disenggol. 

Kedua, karena gue. Banyak yang nggak suka sama elu, tapi takut sama gue. Selama ada gue, lu aman.

Pertanyaannya: kalo keduanya udah nggak ada, nasib lu gimana, Ndi?”

“Mana mungkin dua-duanya bisa nggak ada, Bang… soalnya…”

“Nggak ada yang abadi di dunia ini Ndi. Pegang kata-kata gue,” potong Handoko, lantas berjalan keluar. 


Danakencana Tower lantai 17 – Ruang kerja Wahyu – 17.30

Wahyu sedang mengetik sesuatu di meja kerjanya saat terdengar dua ketukan di pintu. 

“Masuk.”

Susanto muncul. Menutup pintu di belakangnya dengan pelan, lalu berjalan tanpa suara mendekat ke meja Wahyu. Ia melaporkan,

“Sudah confirmed, Pak. Besok hari H.”

Wahyu mengangguk. Senyum tipis mengembang di bibirnya. 


Kos-kosan Susanto – 20.48

Tubuh Susanto yang kurus hanya terbalut singlet usang dan sarung, duduk melengkung di depan sebuah meja kecil. Walaupun gajinya sebagai supervisor bank besar lumayan, tapi kos-kosannya sangat sederhana. Hanya ada tempat tidur ukuran single dan meja kursi kayu. Tanpa lemari, tanpa kamar mandi, dan AC-nya berbagi dengan kamar sebelah. Kadang bukan hanya hawa AC yang dibagi, melainkan juga suara-suara aktivitas penghuni kamar sebelah. Sebuah privilese di masa lalu mengharuskannya berkorban lebih besar hingga hari ini, 

Susanto sedang mengerjakan sesuatu dengan ponselnya. Terdengar potongan-potongan percakapan secara acak, ditingkah dengan decak lidah Susanto. Hasilnya belum sesuai dengan yang ia harapkan. 


Lapisan Es yang Retak

Rumah Andi – 21.00

Andi melangkah masuk, berhenti sebentar di belakang kursi santai Ibu Gantari yang sedang menonton TV.

“Gimana, si Dewi jadi nikah sama cowok jahat itu nggak?” goda Andi, pura-pura mengerti jalan cerita sinetron kesukaan ibunya. 

“Ah, kamu ini! Dari berapa episode lalu juga mereka sudah nikah. Tiap kali lihat Ibu nonton sinetron kok pertanyaanmu ituuuu… terus!” sahut Ibu Gantari gemas. 

Andi tertawa. “Ya aku kan lupa ceritanya Bu. Jadi gimana nasib Dewi sekarang?”

“Dia difitnah sama kakak iparnya, dituduh nyuri saham perusahaan keluarga. Kasihan sekali.”
“Emang sahamnya disimpan di mana kok bisa dicuri?” tanya Andi, geli dengan logika sinetron.
“Ya di brankas dong. Gimana sih kamu, kerja di bank masa gitu aja nggak tahu. Mending kamu mandi aja sana, daripada ganggu Ibu nonton!” tukas Ibu Gantari tanpa melepaskan tatapan dari layar. 

Andi terkekeh lalu berlalu. 

“Eh iya, mbakmu yang di Semarang tadi telepon, salam, katanya,” teriak Ibu Gantari dari ruang TV. 

“Salam balik deh. Mbak yang di Bandung kok enggak kirim salam?”

Ibu Gantari malas menanggapi pertanyaan asal bunyi tersebut. 

Andi mengambil gelas di dapur, lalu membuka kulkas yang dipenuhi belasan magnet. Menuang segelas air dingin. Duduk di meja makan sambil membuka ponsel. Ada chat baru. Dari Handoko. Diterima jam 20.22. Masuk saat dia menyetir pulang.

⬇️ Andi, gue cuma mau bilang terima kasih buat semua dukungan lu. Gue gak enak sama elu karena obrolan terakhir kita tadi pagi kayak begitu. Despite all of the chaos, you are my greatest supporter. Gue minta maaf kalau gara-gara gue, mulai besok elu akan repot banget. I wish I could tell you more. Semua ini buat kebaikan orang banyak. Di saat yang tepat nanti semoga lu akan ngerti. Stay shiny, Golden Boy.

Andi menekuk alisnya. Langsung mengetik balasan:

⬆️ Bang, apaan sih ini? Abang sehat kan?

Send. Tanda centang tak bertambah, tak berubah. Tombol call. Terdengar deringan tunggal, lalu mati. Pertanda nomor diblokir. 

Andi membeku. Tak sengaja, tatapannya mengarah pada salah satu magnet di pintu kulkas. Terasa hawa dingin yang sulit dijabarkan menjalari tubuhnya.

Mungkin sisa tragedi masa lalu. 

Mungkin juga firasat untuk apa yang akan terjadi besok.

Bersambung ke Bab 4: Hari H

Ada komentar?

Eksplorasi konten lain dari (new) Mbot's HQ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca