Carmukker – Bab 2: Sebuah Misi

Published by

on


Bab ini menceritakan awal misi rahasia Wahyu dan Susanto, serta gambaran interaksi Andi dengan para anggota timnya.

Fun fact: coretan spidol permanen umumnya bisa dihapus dengan tisu basah, sekalipun jenis yang tidak beralkohol.

Kumis Bandel

Di lantai 17, ruang kerja Wahyu Kencono yang beraroma campuran cengkeh, kayumanis, cendana, dan gel rambut tertutup rapat. Sayup-sayup terdengar lolongan memilukan.

Lima menit sebelumnya, Susanto masuk dengan muka merah. “Pak, kumis ini udah saya cuci tiga kali, nggak hilang! Kata Nabil spidolnya bisa dihapus, taunya permanen!”

Wahyu mencoba memasang muka iba, tapi gagal. 

“Sini, ambilin tisu basah dari tas suvenir.”

Susanto ragu. “Kan mau dibagiin buat nasabah, Pak?”

“Gayamu, kayak nggak pernah nyolong aja.”

“Pak…” sahut Susanto dengan ekspresi terluka.

Susanto duduk. Wahyu berdiri di depannya, lalu mulai menggosok kumis spidol yang membandel. Keras-keras. Seperti mengamplas lemari.

“Aduh Pak, sakit Pak!”

“Mau hilang nggak?”

“Pakk… SAKET!” Perubahan huruf ‘i’ jadi ‘e’: indikator rasa sakit yang sangat intens. 

Kumis tetap membandel.

“Udahlah, nanti juga hilang sendiri. Paling seminggu,” ucap Wahyu kalem sambil kembali ke kursinya.

“Seminggu? Pak… sore ini saya mau meeting sama vendor hotel!”

“Siapa tahu vendor-nya suka pria berkumis. Lagian kamu juga sih, mau aja dikibulin Nabil. Anak buah dan atasan sama kurang ajarnya memang.”

“Saya dengar, tadi pas Bapak meeting sama Pak Handoko, ada Mas Andi ya?” Volume bicara Susanto berubah, nyaris menjadi bisikan.

“Iya. Tadinya saya yakin Pak Handoko sudah tertarik sama tas batik kita. Eh tahu-tahu manggil Andi. Begitu Andi ngomong, buyar semua.” 

“Terus gimana dong ini, Pak?”

“Berarti pakai plan B.” 

“Siap Pak.”


Akuarium Arwana

Andi kembali ke ruangannya di lantai 16. Dari lift, Andi mengarah ke kiri, melewati access door. Belok  kiri sekali lagi untuk melintasi sebuah lorong yang di sebelah kanannya berjajar 2 pintu. Keduanya mengarah ke gudang, makanya oleh tim Marketing disebut ‘Lorong Waktu’. Lorong yang berisi barang-barang masa lalu. Andi berjalan lurus, dan akhirnya sampai di area kerja bersama untuk sekitar 10 orang. Tidak ada sekat kubikel, hanya ada beberapa meja lebar yang masing-masing dikelilingi kursi-kursi ergonomis. 

Ruang Andi ada di sisi kiri, bila dilihat dari arah keluar Lorong Waktu. Tiga sisi ruang kerjanya berdinding solid sementara sisi depannya kaca, menghadap area kerja. Akuarium Arwana, julukan untuk ruang itu dari tim Marketing. Sama-sama ruang berkaca, yang penghuninya suka mondar-mandir sambil cemberut. Bedanya, sebagian dinding kaca ruang Andi dilapisi sandblast yang memburamkan pandangan.

Tim Marketing sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Beberapa tampak mengetik, sebagian lagi sibuk rapat kecil berdua atau bertiga. Tapi begitu Andi lewat, semua refleks duduk lebih tegak.

Meja Nabil pas di depan ruangan Andi. Ia sedang duduk sambil menatap layar. Saat Andi datang, ia tersenyum dan berdiri. 

“Mas Andi! Nih, udah mulai saya potong-potong footage-nya. Yang bagian Mpok Midah udah rapi.”

Andi melongok ke monitor. 

Terpampang timeline video yang barusan diambil gambarnya. Andi mengerutkan kening. Wajah Mpok Midah alias Tasya mendominasi dari awal sampai akhir, sementara Bang Udin hanya terlihat tangannya saat membuka DanaOne. 

Andi menoleh ke Nabil,

“Menurut lu nggak ada yang aneh di sini, hmmm?”

Nabil menahan senyum, “Saya rasa normal aja sih Mas…”

“Normal bagaimana maksud lu, Tutup Galon. Masa adegannya dialog dua orang, tapi yang muncul di layar cuma satu. Kalo naksir jangan dicampur sama kerjaan. Ngedit yang bener!” kata Andi sambil menepuk sandaran kursi Nabil.

“Siaap, Boss… wah panjang umur nih,” Nabil menunjuk ke arah Lorong Waktu dengan dagunya yang memang sedikit lebih maju. Ada Tasya berjalan mendekat, diikuti Nala. 

“Mas Andi, boleh minta waktunya sebentar?” kata Tasya. “Kita mau minta support untuk launching produk baru Tabungan DanaCendekia…”

“Oh boleh! Yuk, di ruangan saya aja. Saya harus ngajak Maya nih, karena dia Senior Writer. Eh Mbak Maya mana Bil?”

Nabil mengangkat bahu. “Dari pagi belum ketemu sih Mas… Apa untuk sementara saya aja yang ikut meeting, gantiin Mbak Maya?” tanyanya sambil nyengir. Matanya terarah ke Tasya.

“Terus siapa yang ngerjain video? Sembarangan. Kalau Maya dateng tolong disuruh langsung nyusul meeting, ya!”

“Siap Boss!” Nabil membuat salut militer. Andi berjalan ke arah ruangannya, membukakan pintu. “Silakan, silakan.” Tasya dan Nala mendahului masuk. Duduk di kursi tamu. Andi menyusul.

“OK, ceritain ke saya aja dulu, nanti saya terusin ke Maya. Gimana konsep produknya?”

“DanaCendekia ini produk tabungan yang ada asuransi jiwanya Mas. Target market kita sih pasangan muda yang anaknya masih balita…” Tasya mulai membeberkan keperluannya. Andi menyimak. 


Tiga puluh menit kemudian…

Product manual untuk DanaCendekia udah bisa saya download kan ya?” tanya Andi. 

“Udah, Mas. Seperti biasa di Digital Library Divisi Product.”

“Sip. Jadi sekarang kita kerja paralel ya. Tim Product akan bikin timeline launching-nya, sementara kami di sini akan brainstorming untuk konsep promosi yang pas. Sama pastinya butuh tagline yang catchy ya?” ringkas Andi. 

“Bener Mas. Yang singkat tapi bisa langsung menggambarkan DanaCendekia adalah tabungan plus asuransi,” jawab Tasya bersemangat. 

“Beress… Saya pikir first draft konsep dari kita bisa siap di akhir Jumat minggu ini. OK?”
“OK banget, Mas. Aku pamit dulu ya,” kata Tasya, sambil berdiri, lalu memberi kode halus ke Nala sebelum melangkah keluar. Nala berdiri perlahan dari duduk,  canggung dan tertunduk. Kedua tangannya erat memegangi buku catatan. 

“Ya, kenapa Nala?” tanya Andi heran. 

“Eh… anu, Mas… saya mau minta maaf. Saya beneran nggak tahu, kalau harusnya tadi… saya nggak boleh ganggu Mas makan siang, apalagi duduk di meja Mas Andi…”

Andi tertawa keras. “Nala, kamu mau aja dibohongin sama orang-orang di sini. Nggak ada larangan duduk di meja saya. Semua orang bebas duduk di mana aja. Kan fasilitas bersama.”

“Tapi tadi kata Mbak Tasya…”

“Dia cuma bercanda,” potong Andi. “It’s OK Nala. Besok-besok kalau kamu masih mau duduk bareng saya, silakan.”

Nala mengangkat kepala. Alisnya terangkat. “Serius, Mas? Jadi, karier saya di sini aman?”

Andi mengangguk walau agak bingung dengan kalimat terakhir itu. Nala berpamitan, lalu pergi. Andi menghela napas. Ruangannya kini beraroma permen.  

Sepeninggal Nala, suasana di area kerja bersama seperti berubah suhu. Maya datang. Rambutnya kusut, langkahnya berat, matanya sembab. Andi menyipitkan mata. Ada sesuatu yang tidak beres.

Andi melirik jam. Sudah hampir jam 2, Maya baru datang. Dari mana dia? Ada apa? Tidak biasanya Maya datang terlambat tanpa berita. Andi menimbang-nimbang sesaat, apakah perlu langsung memanggil Maya. Tapi kemudian terdengar suara tawa beberapa staf Divisi Marketing yang sedang brainstorming tema video berikutnya.

Terlalu ramai. Kalau ia langsung memanggil Maya sekarang, malah akan bikin teman-temannya penasaran dan jadi omongan.  


Menjalankan Misi

Kegiatan operasional Bank Danakencana didukung sistem yang cukup canggih. Salah satunya terkait penggunaan ruang meeting. Di lantai 11 Danakencana Tower ada puluhan ruang meeting yang hanya bisa dipesan lewat aplikasi. Dari aplikasi ruang meeting, setiap karyawan bisa melihat ruang mana saja yang sedang terpakai, dan siapa pemakainya.  

Susanto di lantai 17 juga sedang menatap layar aplikasi tersebut. Tanpa berkedip.  Dibacanya satu per satu daftar nama pemesan, sampai ditemukan satu nama. Dia melirik jam di dinding. Nama itu sudah  mulai meeting 5 menit yang lalu. 

Susanto berdiri. Menyambar map plastik.  Bergegas menuju tangga darurat. Hanya perlu naik satu lantai. Tidak butuh lift. 


Tragedi Ponsel Rusak

Jam tiga lewat, area kerja sedang sepi. Hanya ada Maya dan Nabil. Karena pekerjaan divisi Marketing yang dinamis, ini hal biasa. Para staf sering berada di luar area kerja untuk shooting, meeting dengan divisi-divisi klien, atau dokumentasi acara seremonial. 

Andi memutuskan ini waktu yang tepat untuk memanggil Maya. 

Begitu duduk, Maya langsung berkata, “Maaf Mas, saya baru sampai dan nggak ngabarin dari pagi.”

Andi mengangguk pelan. “Saya yakin ada alasannya.”

Maya mulai cerita: pagi tadi, ia balik ke rumah karena HP ketinggalan. “Suami saya sudah 5 bulan di rumah, kena PHK. Pas saya buka pintu… dia lagi di sofa sama babysitter anak saya.” Suaranya bergetar. “Saya langsung lari ke kamar, ambil HP. Saya videoin mereka. Dia rebut. HP terbanting. Rusak.”

Ia menunjukkan ponsel dengan layar retak. “Anak saya nangis. Saya bawa ke rumah orang tua. Baru habis itu ke kantor. Tapi karena HP rusak, saya nggak bisa ngabarin.”

Tangis Maya pecah tiba-tiba.

Andi pias melihat air mata seperti PKL melihat Satpol PP. Dia buka laci, kosong. Buka lemari, nihil. Akhirnya berdiri, berkata gugup, “Tunggu ya. Saya cari tisu dulu.”

Di ruang meeting, Andi sangat ditakuti. Pandangannya kritis dan tak kenal ampun. Jurus paling mengerikan dari Andi adalah “belum lewat otak”. Dalam suatu meeting ia pernah merespon presentasi seorang kadiv dengan, “Ide bapak ini kelihatannya belum lewat otak sudah keluar ya, Pak. Sayang, keluarnya lewat jalur bawah.” Andai hinaan ‘bodoh’ adalah level 1, kalimat barusan adalah hinaan level ultimate combo super amazing fatality

Tapi Andi punya satu kelemahan: begitu terjebak dalam situasi sensitif, sistem operasinya langsung error. Wanita menangis memuncaki peringkat situasi paling mati kutu untuk Andi. 

Dia keluar ruangan, nyaris tersandung harness ranselnya yang tergeletak asal-asalan, membentur kaca. Membuka pintu.  “Bil! Punya tisu nggak?”

“Nggak punya, Mas. Buat apaan?”

“Buat apaan, kek. Cariin, cepet!”

Nabil berlari ke tengah area kerja bersama. Mengangkat kotak tisu dari plastik, melempar, tapi meleset dan kena jidat Susanto, yang pas baru muncul dari Lorong Waktu.

“Aduh!” jerit Susanto.

“Sori To!” seru Andi dan Nabil bersamaan. Andi memungut tisu, kembali ke ruangan.

Maya masih terisak. Andi menyerahkan tisu dengan kaku. Berjalan kembali ke posisinya di seberang Maya, berbatas meja. 

Setelah reda, Maya berkata, “Saya tahu, lagi begini pasti susah konsentrasi. Tapi saya nggak tahu harus ke mana, Mas.”

Andi mengangguk sambil menelan ludah. “Kamu harus tenang dulu. Dan soal HP…”

Ia membuka lemari, mengeluarkan kotak putih.

“Ini HP lama saya. Masih bagus. Kamu pakai aja. Nggak usah beli HP baru dulu. Uangnya buat beli susu anak aja.”

Maya menerima dengan mata berkaca-kaca. “Makasih banget, Mas…”

“Ya… sama-sama…” jawab Andi dengan ekspresi orang salah masuk toilet.

Maya maju seperti akan memeluk. Andi mundur dan jatuh di kursinya sendiri.

“Mungkin… kamu bisa balik ke meja…BUKAN berarti saya nyuruh kerja… atau ke break room, atau… Kantin Sauna… mana aja, boleh,” katanya terbata.

Maya pamit. Andi menghela napas panjang. Satu lagi momen awkward terlewati. Mungkin tidak dengan sukses, tapi yang penting kan lewat. 


Bom Waktu Terpasang

Lantai 18 – depan ruang kerja Handoko

Setiap direktur Bank Danakencana punya sekretaris pribadi, termasuk Handoko. Meja kerja para sekretaris ini selalu berhadapan langsung dengan ruangan direktur yang dilayani. 

Sekretaris Handoko bernama Desi. Di usia menjelang 40, penampilannya khas sekretaris direksi: elegan dan efisien. Blus putih dengan sedikit aksen di leher. Celana panjang kelabu. Sepatu tertutup berhak sedang. Rambutnya model bob yang jatuh sedikit di bawah dagu. Rapi, tidak butuh jepit, tak perlu dikuncir. Praktis. 

Susanto muncul.

“Sore Mbak…” sapa Susanto dengan senyum lebar. 

“Eh Santo, tumben ke sini. Tambah ganteng lho.”

“Memang ganteng dari lahir, Mbak,” jawab Susanto sambil membetulkan kerah bajunya yang tidak miring. 

“Itunya lho yang bikin tambah ganteng,” jawab Desi sambil menggerakkan telunjuk melintasi atas bibir. 

Susanto tersedak. Dia baru ingat kumis spidolnya masih belum berhasil dienyahkan. 

“Biasalah Mbak, abis shooting. Bapak ada?” tanya Susanto buru-buru, mencegah topik kumis mendominasi. 

“Bapak lagi meeting di 11,” jawab Desi. “Baru aja mulai.”

“Oh iya, tentu saja aku tahu Bapak lagi meeting, kan udah aku cek di aplikasi ruang meeting,” jawab Susanto dalam hati. Yang keluar dari mulutnya: “Oh gitu ya Mbak? Waduh, gimana ya, apa Mbaknya bisa bantu saya ini?”

“Bantu apa To?”

“Gini lho Mbak, tadi pagi kan boss aku, Pak Wahyu, habis meeting di sini. Eh siangnya dia baru sadar, ada amplop penawaran vendor yang hilang. Kayaknya ketinggalan di sini deh. Apa… boleh minta tolong Mbak lihatin ke dalam?” Susanto memiringkan kepala, maksudnya agar nampak memelas. Sayangnya, kumis spidol membuatnya terlihat kurang waras. 

“Oh boleh. Sebentar ya.” Desi berdiri. Masuk ke ruang Handoko. Hanya para sekretaris yang boleh masuk ke ruang atasan saat pemilik ruangan sedang tidak di tempat. 

“Amplop panjang gitu Mbak. Putih. Ada logonya PT Prima Service,” kata Santo keras. Mata Susanto mengarah ke meja sekretaris. Ada 2 tumpukan dokumen. Tumpukan pertama dalam baki biru, dan tumpukan kedua baki merah. Kode warna itu ada artinya. Biru, untuk di-review dan diputuskan akan didisposisikan kepada siapa. Merah, dokumen urgent, sudah selesai di-review dan disetujui lisan, tinggal ditandatangani. Semua dokumen di baki merah, biasanya, akan langsung ditandatangani tanpa dibaca lagi. 

“Kok nggak ada ya?” terdengar suara Desi. 

“Coba deket rak buku, Mbak,” jawab Susanto santun. Tangannya bergerak cepat membuka map plastik yang dibawanya. Mencabut selembar kertas. Di bagian atasnya tercetak judul besar, “Lembar Persetujuan Pembelian”. Di kolom keterangan terbaca tujuan transaksinya: pembelian 50.000 tas batik. Tangan Susanto sedikit bergetar saat menyelipkan dokumen itu ke tengah tumpukan baki merah. Kumis spidolnya membentuk sudut lancip saat bibirnya menguncup penuh konsentrasi. Susanto tersenyum sendiri. Tanpa dia, Wahyu bisa apa, sih. 

“Nggak ada, tuh!” suara Desi mulai meninggi. 

“Oh… ya sudah kalau tidak ada Mbak, saya permisi dulu. Barangkali Pak Wahyu salah ingat. Sore Mbak!” Susanto segera bergegas pergi. 

Sesaat kemudian Desi muncul dan bergumam, “Apaan sih tuh orang… ngerepotin gue aja…”

Desi tidak tahu, kunjungan Susanto tidak ada hubungannya dengan amplop ketinggalan. Tapi pembelian yang harus segera digolkan. Sebelum terlambat…


Pisau yang Akan Patah

Ada sebuah cafe kecil di lobby Danakencana Tower, namanya After Office Cafe. Walaupun setiap hari dilewati ribuan orang, selalu sepi. Rahasianya terletak pada harga-harga bombastis yang tercantum di menu: 

  • Espresso: 100 ribu
  • Long Black: 120 ribu
  • Cappuccino: 145 ribu

Kata para pegawai kelas mendang-mending, nama “After Office Cafe” bukan berarti tempat nongkrong sepulang kerja. Melainkan: saking mahalnya, nyicil secangkir kopi sampai pensiun pun belum tentu lunas. Andi berjalan melewati cafe ini. Tujuannya: keluar. Ia butuh udara segar setelah momen yang menguras energi mental bersama Maya.

Tiba-tiba ada yang memanggil.

“Andi, mau ke mana lu? Sini temenin gue ngopi!” Andi menoleh. Handoko. 

Andi menghampiri dengan senyum lebar. Duduk. Memesan. Selera sejuta umat: kopi susu gula aren versi premium. Harganya 155 ribu. Handoko yang bayar.  

“Kalo lu cuma berani minum kopi yang dicampur-campur kaya gitu: campur susu, campur gula aren, artinya lu tuh sebenernya nggak doyan kopi, Ndi,” kata Handoko sambil memandangi kopi Andi.

Andi terkekeh. “Kayaknya begitu sih, Bang. 

Soalnya kopi item kaya Abang gini, saya nggak nemu enaknya di mana.”

“Oh gitu… karena nggak ketemu enaknya, lantas lu tutupin pake sesuatu yang enak, ya?”

“Ya iyalah Bang. 

Eh sebentar,” Andi memiringkan kepala dan menyipitkan matanya, memandang Handoko dengan tajam,”Ini masih ngomongin kopi, kan?”

Handoko tertawa keras. Andi terlalu kenal kebiasaannya yang gemar menyelipkan pesan tersirat dalam ucapan tersurat. 

“Masih, masih kopi,” jawab Handoko sambil menepuk bahu Andi. “Gue cuma mau bilang, elu kan nggak mau minum kopi kalo rasa aslinya nggak ditutup pake campuran lain… 

…tapi kenapa, elu demen banget maksa orang untuk nerima rasa asli elu?”

“Gimana Bang? Bingung saya.”

“Kalo bingung, pegangan!” jawab Handoko sambil tertawa keras, tanpa rasa bersalah melontarkan joke  berumur hampir setengah abad. 

“Begini,” mimik Handoko mendadak serius, “Elu orang paling pinter yang pernah gue kenal… Dari 20 ribu karyawan Danakencana, gue berani taruhan banting kunci Mercy, nggak ada satu pun yang lebih pinter daripada elu.”

“Bang, nggak sampe segitunya kali…” Andi sedikit jengah. 

“Gue serius! Lu kuasain marketing tanpa lewat sekolah. Lu belajar otodidak kan?”

“Iya Bang.” Andi merasa wajahnya memanas. 

“Udah gitu, lu bisa pake ilmu itu untuk jualan. Bikin produk kita menarik. Bikin fitur yang sebenernya ribet, jadi simpel. 

Untuk nyampe ke tingkat itu, artinya lu paham juga ‘jeroan’ produk bank. Lu ngerti hitungannya gimana, jadi bisa bikin nasabah ngerti juga. Jadi tertarik. Buka tabungan. Buka deposito. Ambil KPR. Otak lu bisa ngegabungin hitungan produk bank sama seni komunikasi. Itu dua dunia yang butuh otak berbeda. Tapi di elu, entah gimana, bisa nyatu.”

“Terima kasih Bang. Tapi dari tadi saya masih nunggu…”

“Nunggu apaan?”

“Nunggu Abang bilang ‘tapi…’ Pasti di belakang ada tapinya nih.”

Handoko tertawa keras lagi. Lebih keras dan lebih lama dari sebelumnya. 

“Udah gue bilang elu pinter banget. Iyak bener. Ada tapinya. 

Ibarat perkakas, elu tuh pisau yang tajem banget, Ndi. Apa pun bisa lu potong. Masalahnya, nggak semua hal perlu dipotong. Kalo kita mau masang paku, maka kita perlu palu. Kadang kita mau masang sekrup, maka kita butuh obeng.

Kalo lagi butuh pasang paku, tapi yang nongol elu sebagai pisau yang bisanya cuma motong, kira-kira akan kepake nggak?”

“Ya pastinya enggak, sih. Tapi, sebentar Bang. Jadi menurut Abang, saya harus jadi bunglon, gitu? Hari ini begini, besok ganti lagi. Di depan orang ngomong A, di belakangnya bilang B. Itu mah namanya jadi si Wahyu!”

“Ssst, jangan sebut merk!” Tegur Handoko tapi tetap tersenyum. “Enggak lah, gue nggak butuh elu jadi Wahyu. Gue tetep butuh elu jadi Andi aja. My Golden Boy. Elu tetep aja jadi pisau. Tapi jangan cuma bisa memotong. Orang lagi butuh masang paku, lu kasih gagang. Orang lagi butuh masang sekrup, bisa pake punggung pisau. Lu tetep pisau, tapi pisau yang multifungsi. Jago motong, tapi juga luwes menyesuaikan diri. Kepake di berbagai situasi.”

Andi terdiam. Lalu bergumam, “Ini pasti gara-gara tas batik tadi pagi…”

Handoko terkekeh. “Off the record ya Ndi, gue setuju 1.000% sama elu. Itu tas batik emang jeleknya nggak ketulungan. Nggak mungkin masuk untuk nasabah Ultima. Tapi kalo gue boleh ngasih saran nih, lu bisa kok ngomong rada enakan dikit. Lu parah sih tadi, ngomong begitu ke Wahyu depan gue.

Gue manggil elu tadinya berharap lu bisa kasih masukan yang rada konstruktif. Mungkin dari segi desain atau warnanya. Atau lu mungkin punya ide, selain tas batik apa lagi yang cocok buat Ultima. Taunya lu main babat aja. Makanya buru-buru gue suruh lu cabut. Gue ngeri si Wahyu lompat dari jendela, nggak kuat denger omongan lu,” Handoko geli dengan imajinasinya sendiri. 

“Tapi emang parah kan Bang, tasnya? Saya ngomong apa adanya lho.”

“Setuju. Jelek emang. Tapi kalo cara ngomong lu kayak tadi, orang nggak akan nerima itu sebagai kritik. Bukannya introspeksi, yang ada malah dendam.

Kayak elu sama kopi. Lu kan nggak doyan rasa asli kopi, maka lu tambahin tuh segala susu sama gula aren. Karena kalo disuruh minum kopinya doang, lu nggak doyan. Sebaliknya, elu juga nggak bisa terus-terusan maksa orang untuk nerima aslinya elu. Lu nggak bisa terus berlindung dengan kata-kata, ‘tapi kan yang gue omongin bener’.”

“Artinya saya harus pinter pura-pura, gitu Bang?”

“Tambeng banget nih bocah!” kata Handoko sambil menepuk punggung Andi. “Lu ibarat pisau super tajam. Bisa motong segala macem. Tapi… sekuat-kuatnya pisau, kalau semua hal mau dipotong, suatu hari  akan ketemu sesuatu yang nggak mempan dipotong. Akhirnya dia sendiri yang patah.

Percuma lu tajam, kalau lu nggak ngerti cara mainnya.”

Andi terdiam lama. “Terima kasih masukannya Bang…” sahut Andi pelan. Nadanya terdengar berat. Alisnya masih bertaut. 

Handoko terkekeh sambil menepuk pundak Andi, “Mulut lu bilang makasih, alis lu belum ikhlas! Yah, anggep aja ini nasehat dari abang sendiri ya Ndi. Mumpung abang lu ini masih ada, masih bisa ngingetin elu…”

“Lah, Bang Han mau ke mana emangnya?”

Handoko berhenti terkekeh. Lalu terdiam sambil tersenyum tipis. 


Pulang Naik Apa, Nala?

Hampir jam tujuh malam waktu Andi masuk lift. Kotak bekal sudah aman dalam ranselnya. Next stop: rumah. 

Di lantai 12 pintu lift terbuka. Andi sedang asyik memandangi ponsel. Semerbak wangi permen membuatnya mengangkat kepala. 

“Selamat malam Mas,” Nala mengangguk. 

“Malam. Pulang?”

“Iya Mas.”

“Jangan kapok ya, baru hari pertama udah harus pulang jam segini,” kata Andi. 

“Gak lah. Seru kok kerjaannya!” jawab Nala riang. 

Lift sampai di lantai basement. “Eh pulang naik apa?” tanya Andi.

“Naik… eh sebentar Mas. Halo? Ya…” Nala mendekatkan HP di tangannya ke telinga. Tak ingin mengganggu, Andi melambaikan tangan dan lanjut berjalan ke mobilnya. 

Nala berbicara beberapa saat ke HPnya, sambil mengawasi Andi menjauh. Ditunggunya hingga Andi masuk ke mobil, dan mobilnya berlalu. Barulah Nala menurunkan HP dari telinganya. 

Dari tadi memang tidak ada telepon yang masuk. Dia hanya tidak ingin menjawab pertanyaan Andi, “pulang naik apa?”

Kenapa, Nala?

Bersambung ke Bab 3: Jagoan Canggung

Ada komentar?

Eksplorasi konten lain dari (new) Mbot's HQ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca