Carmukker – Bab 1: The Golden Boy

Published by

on


Bab ini menceritakan keseharian Andi sebagai Kadiv Marcomm serta perkenalan beberapa tokoh kunci yang kelak berperan penting dalam cerita.

Fun fact: break room, sebuah lantai yang didedikasikan khusus untuk makan siang karyawan, terinspirasi dari salah satu gedung kantor tempat gue pernah kerja dulu.

Sutradara Pemarah

Danakencana Tower – Tiga bulan yang sebelumnya.

“Abang… tolongin… token listrik mau abis… beliin dong Bang, di warung depan!”

“Tapi lagi ujan, Neng…”

“Yaelah Bang… orang cuma gerimis doang… masa saya yang harus ujan-ujanan. Dasar ya laki-laki, dulu aja, bilangnya siap berkorban…”

“Bukan gitu, Neng, maksud Abang, daripada ujan-ujanan, mending beli token-nya di…”

“MANA SIH HUJANNYA?”

Audio bocor!” teriak soundman.

CUT!

Sutradara video pendek itu melepas kacamata two-toned klasiknya, lalu mengurut pangkal hidung sambil mendengus keras. Orang-orang dalam ruangan terdiam. Ini bukannya hujan, ini menjelang badai. 

Dia adalah Andi, atau Anindito Adiningrat, 40 tahun, Kepala Divisi Marketing Bank Danakencana. Julukannya The Golden Boy: kesayangan dan kepercayaan direktur. 

Hari itu, Andi sedang menggarap konten medsos khas Danakencana: diperankan karyawan sendiri. Istilah kerennya Employee Generated Content. Biayanya nyaris nol, tapi dampaknya dobel: produk terpromosikan, dan perusahaan terlihat seru buat kerja.

Perlu dicatat: murah dan efektif, bukan berarti mudah

Contohnya barusan terjadi. Shooting terganggu gara-gara ada hadirin nyeletuk. 

Pelakunya Edward Sampaga, 43 tahun, Kepala Divisi Sales, rekan satu direktorat Andi. Sebenarnya ia tidak ada kepentingan untuk hadir. Tapi ia muncul juga bersama beberapa anak magang.

“Bang Edward, kalau kamera lagi roll, tolong jangan bersuara ya Bang,” tegur Andi dengan pipi berdenyut. 

“Maaf ya… soalnya tadi Santo bilang hujan, padahal kulihat, mana… nggak ada hujan kok,” sahut Edward berusaha lucu. Suaranya berat menggelegar, sepadan dengan tubuhnya yang tinggi besar berbahu lebar. Anak-anak magang di belakangnya terkikik. “Ini saya bawa anak-anak. Sekalian ngenalin suasana kantor…” Andi tak menanggapi. 

Aktor pria siang ini adalah  adalah Susanto, pemeran Bang Udin. Supervisor dari Divisi Partnership. Tubuhnya sangat ceking hingga gesper bisa mutar dua kali di pinggangnya. Wajahnya lancip mirip celurut. Demi peran, ia dirias dengan kumis tipis dari spidol. Alhasil: persis celurut. 

Lawan mainnya adalah Tasya dari Divisi Product, sebagai Mpok Midah, istri Bang Udin. Gadis cantik namun galak ini nampak lebih galak lagi karena kesal shooting terganggu. Pendingan kerjaan masih banyak.

“Kita mulai lagi ya, harap tenang. Nabil, nggak usah ambil dari awal, buang waktu. Langsung close-up pas Bang Udin bilang ‘bukan gitu neng, maksud Abang…’ dan seterusnya. OK?”

“Siap, Mas,” sahut Nabil, sang cameraman, bawahan Andi. Andi membuat beberapa coretan pada lembaran naskah di clipboard tripleks, lalu memberi aba-aba, 

Audio readycamera rollingscene 1 take 2… action!”

“Bukan gitu, Neng, maksud Abang, daripada ujan-ujanan, mending beli tokennya di aplikasi Danakencana…”

“CUT!” 

Para crew mendengus, sebagian bergumam, “Huuu…”

“Bang Udin, beli token-nya bukan di Danakencana, tapi di aplikasi DanaOne, mobile banking andalan dari Bank Danakencana. Kita kan lagi mau promosiin aplikasi DanaOne. Aman, Bang Udin?”

“Aman, Mas,” sahut Bang Udin alias Susanto sambil menelan ludah. Wajahnya memelas seperti orang yang sudah telanjur gigit cabe tapi tahunya jatuh. Melihat penampakannya sekarang, tak ada yang mengira jadi apa dia 6 minggu mendatang. 

“Yang bener dong To, gue masih banyak kerjaan, nih!” Tasya menambah tekanan. “Kalau sampai salah lagi, ganti aja deh sama Nabil!” Nabil senyum-senyum. Bukan karena ingin ikut shooting, tapi karena namanya disebut Tasya. 

“Santo panas dingin tuh, ngebayangin jadi suaminya Tasya,” celetuk Edward. Lagi-lagi disambut cekikik rombongan anak magang.

“OK siap ya, tenang semuanya… audio ready… camera rolling… scene 1 take 3… action!”

“Bukan gitu Neng, maksud Abang, ngapain ujan-ujanan. Kan bisa beli token di aplikasi DanaOne, mobile banking andalan dari Bank Danakencana.” Kali ini Susanto sukses membawakan dialog. 

“Emang bisa, Bang?” Tasya juga aman. 

“Bisa dong. Nih, Abang tunjukin…”

“HATI-HATI TASYA, DIA MAU NUNJUKIN APAAN TUH…” suara Edward kembali menggelegar. 

Audio bocor!”

BRAKK!! Andi membanting clipboard. Lantas menuding. Dadanya membusung. 

“Bang Edward, kalau cuma mau sok lucu di depan anak magang, jangan di sini deh. Ganggu orang kerja!”

Ruangan hening mendadak. Wajah Edward berubah-ubah warna, antara merah berganti dengan ungu gelap. Ucapan Andi telak menusuk jantung kewibawaan. Dari tadi memang itu yang dia maksud: tampil gaya dan lucu di depan anak-anak magang. Tapi kan bukan untuk diceploskan.

“Sok jagoan kau Ndi!” geram Edward, lalu pergi. Anak-anak magang berbaris di belakangnya, mengikuti. Nabil mengusap-usap punggung Andi tanpa berkata-kata. 

Tiba-tiba Andi merogoh saku. Ponselnya bergetar. 

Chat dari Handoko, atasannya.

⬇️ Andi, sorry ganggu shooting, tapi urgent. Bisa ke ruangan saya sekarang?

Andi kontan membalas, 

⬆️ Otw Bang Han

“Bil, saya dipanggil Bang Han. Kamu terusin ya.” Nabil Sang Cameraman mengangguk sambil memeragakan salut militer. Ceria. Bercanda. Tanpa firasat tentang peristiwa yang bakal terjadi lusa. 


Hadiah untuk Satpam

Andi sedikit mengernyit saat mendorong pintu kayu ruangan Handoko di lantai 18 Danakencana Tower. Bobotnya lumayan, sebanding dengan ukurannya yang jumbo. Di balik pintu terbentang ruangan luas dengan pemandangan kota. Sang pemilik ruangan, Handoko Tantosudibyo, Direktur Retail, berdiri di tengah dengan senyum dan tangan terkembang.

Di usia yang sebenarnya 10 tahun lebih tua, Handoko nyaris nampak sebaya dengan Andi. Wajahnya bebas kerut, lengannya padat, serta yang paling bikin Andi iri: perutnya rata. Sejarah panjang pertemanan membuat Andi nyaman menyapa dengan ‘Bang’, bukan ‘Pak’. Privilese bagi Andi seorang, di antara 20 ribu karyawan Bank Danakencana. 

Perhatian Andi langsung tersangkut pada tiga tas batik di atas meja kerja Handoko: 

  1. bergambar bunga dan sulur-suluran warna hijau-coklat, 
  2. bermotif acak warna kuning kunyit, 
  3. perpaduan warna oranye, ungu, dan shocking pink dengan gambar burung yang entah lagi terbang atau pingsan melihat tata warna yang mengelilinginya. 

Bagian pegangan tas-tas itu terbuat dari kulit, yang dari posisi Andi berdiri pun jelas imitasi. Tersemat logo Danakencana dalam sablonan pudar. 

Andi menggeser pandangan ke pria berwajah pejabat yang sedang duduk di kursi tamu. Wahyu Kencono, Kepala Divisi Partnership. Divisi ini bertanggung jawab menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan sponsor, serta mengadakan berbagai acara promosi. Ia tersenyum dan mengangguk tipis ke arah Andi, yang dibalas sekadarnya. Sama seperti Andi, Wahyu adalah bawahan langsung Handoko. Umurnya hanya 5 tahun lebih tua dari Andi. Namun berkat rambutnya yang mulai menipis, punggungnya yang sedikit bengkok ke kiri dan ekspresinya yang selalu disetel berwibawa, dia bisa dikira 5 tahun lebih tua dari Handoko. 

“Nah, ini dia jagoan gue datang. Duduk Ndi!” Sapa Handoko sumringah. 

“Terima kasih, Bang.” Andi duduk di kursi tamu, di sebelah Wahyu. 

“Coba lu lihat ini Ndi,” kata Handoko sambil menunjuk tumpukan tas batik di meja. “Wahyu mau pakai ini buat suvenir nasabah Ultima. Ada masukan?”

Ultima adalah segmen priority banking Bank Danakencana, para nasabah utama dengan penempatan dana minimal 1 miliar. 

Andi bangkit, lalu mengambil salah satu tas. Bahannya kaku, resletingnya seret, jahitannya miring. Motif batiknya tampak di-download dari Google dengan resolusi rendah. Ia menggosok sablonan logo Danakencana. Sebagian tintanya pindah ke jari. 

Ia menatap tas itu beberapa detik, lalu menaruhnya lagi. Tepatnya, melepaskan dari genggaman hingga jatuh lagi ke meja. Atau dengan kata lain, mencampakkan

“Kalau nasabah Ultima dikasih tas ginian,” kata Andi datar, “baru sampai parkiran udah mereka kasihin ke Satpam.”

Sunyi. Wahyu masih tersenyum, tapi rahangnya mengencang.

Handoko tertawa kecil. “Waduh.”

“Maaf, Bang. Tapi ini nggak layak. Bahkan buat nasabah biasa pun kelihatan murahan. Nasabah Ultima itu sensitif. Kalau dapet suvenir begini, kita bisa dibantai di medsos. 

Bank Danakencana ngasih tas beginian ke nasabah yang udah nabung minimal 1 miliar,” Andi memberikan tekanan sedemikian rupa pada kata ‘beginian’ sehingga apabila kata itu sebuah klepon, gulanya akan mejret ke delapan arah, “sama aja kayak nginep di Kempinski tapi digelarin kasur palembang.”

Andi menoleh ke Wahyu lalu berbagi info, “Kempinski itu hotel, Pak. Mahal.” Wahyu mengangguk. Ia menangkap penghinaan berbungkus penjelasan dari Andi.

“Secara kualitas udah gagal, secara konsep juga meleset. Sori ya, ini masukan. Color tone Ultima itu biru gelap. Kira-kira tas mana yang warnanya nyambung sama Ultima? Sama bungkus dodol, baru nyambung,” lanjut Andi. 

Wahyu berdehem. “Tapi maksud saya, suvenir ini kan sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mendukung UMKM dan budaya lokal, Mas Andi.”

“Suvenir kan jenisnya banyak ya Pak. Untuk Ultima, harus yang kelihatan curated. Ini… kayak barang titipan dari pakde di kampung.”

Wahyu seperti tersengat sesuatu. Matanya mengerjap. Sepersekian detik. Nyaris tak kentara. Tapi cukup jelas bagi yang memerhatikan. Sayangnya, Andi sedang melihat ke arah Handoko.

Handoko mengangkat tangan. “Oke, thanks input-nya ya Ndi. Cukup. Wahyu, nanti kita evaluasi lagi. Kita perlu pikirin beberapa opsi lain. Nanti di meeting rutin Kamis, lu presentasi opsi suvenir di depan semuanya.”

Andi melangkah keluar dari ruang Handoko. Pintu besar perlahan berayun tertutup. Samar-samar terdengar suara Wahyu,

“Bapak tadi nyuruh saya presentasi di meeting Kamis… Emangnya Bapak masih di sini?”

Hening sejenak. Lalu terdengar sahutan Handoko, agak keras. “Maksud kamu apa, Yu?”

Pintu tertutup rapat. 

Ponselnya bergetar. Chat dari Nabil.

⬇️ Shooting kelar Boss.

⬇️ Begitu Mas Andi pergi, langsung lancar.

⬇️ Kayaknya Santo stres kalo ada Mas Andi

⬇️ wkwkwkwk

Andi membalas singkat,

⬆️ OK Tks.

Andi bergerak menuju singgasananya. Wilayah keramat yang tak seorang pun berani menduduki.


Bocah di Singgasana Keramat

Break room Danakencana Tower ada di lantai 15. Satu lantai yang  khusus dialokasikan untuk tempat makan para karyawan. Interiornya mengingatkan pada food court dengan beberapa stan makanan. Tersedia juga dispenser minuman: soda, teh dan air putih; yang boleh diambil sepuasnya. Setiap karyawan bebas memanfaatkan seluruh lantai ini untuk makan siang atau sekadar rehat. Kecuali satu meja. 

Di sudut ruangan, dekat jendela, ada satu ‘singgasana keramat’. Sudah jadi rahasia umum, hanya satu orang yang boleh menempati. Andi. Karena ia paling suka duduk di sana. Selain itu, ia juga tidak suka mengobrol. Mungkin tepatnya, tidak suka manusia lain. Jadi, menjauh dari meja kesukaan Andi adalah pilihan yang paling waras. 

Jam 12 lewat 10, sang pemilik meja datang. Andi duduk, lalu mulai membuka kotak bekalnya. Uap dan wangi makanan yang baru dipanaskan di microwave menyebar. Baru mau menyendok nasi, seseorang mendekat. Berdiri di zona merah: di sebelah meja Andi. 

“Permisi Mas, boleh saya duduk di sini? Meja lain penuh soalnya.”

Break room yang tadinya ramai dengan suara ngobrol, mendadak hening.  Andi mengangkat kepala. Seorang gadis muda berdiri sambil memegang baki berisi nasi uduk, ayam kremes, seporsi buah potong dan jus. Wajahnya segar dibalut make up tipis, rambut hitamnya diikat rapi, dan tubuhnya bugar berenergi. Kemeja, celana, dan sepatu mid heel-nya bermodel sederhana. Namun bagi mata yang mengerti, semua bukan dari merek sembarangan.

Semua mata curi-curi memandang. Ini belum pernah terjadi. Ada orang lancang ingin ikut duduk di singgasana Andi. Semua napas tertahan, penasaran menanti apa yang akan terjadi.

Andi mengangguk.

Gadis itu duduk. Saat dia bergerak, samar tercium aroma permen.  “Terima kasih ya Mas. Saya Nala, hari ini hari pertama saya,” katanya sambil mengulurkan tangan. Andi menyambutnya sambil mengangguk. “Welcome aboard, Nala. Saya Andi.”

Pengunjung break room lainnya masih belum berani bernapas.

“Mas Andi dari bagian apa?” Para pengunjung nyaris tersedak. Andi, The Golden Boy, ditanya ‘dari bagian apa’ oleh seekor anak baru.

“Marketing.”

“Ooh Marketing. Aku di Product, Mas. Tadi Mbak Tasya, temen aku, bilang mau bantuin shooting video lucu di Marketing. Berarti bareng Mas ya?” 

Rumor beredar, suatu kali pernah ada seorang kadiv yang ikut duduk di singgasana Andi, lalu mengajak ngobrol entah apa. Tiba-tiba Andi berdiri dan berkata keras hingga terdengar ke ujung break room, “Maaf, ini jam istirahat. Kalau mau ngomongin kerjaan, nanti silakan ke ruangan saya di jam kerja. Hidup saya bukan hanya untuk mengurus Anda.”

Nala, tentunya belum pernah mendengar rumor itu. Maka ia terus saja mengajak ngobrol. Seperti bayi menepuk-nepuk kepala kobra karena tidak mengerti bahaya. 

“Iya.” Andi menjawab sambil tersenyum kaku. Otot wajahnya kurang terlatih memancarkan keramahan.

“Jadinya beneran lucu gak videonya, Mas?”

“Nggak terlalu sih.” Nala tertawa renyah mendengar kejujuran Andi. “Malah ada penonton yang sok lucu. Tapi Tasya bagus, sih. Nggak ada yang salah.”

“Tadi pagi Mbak Tasya sempet bilang, karyawan sini bisa makan di break room lantai 15. Katanya tadi mau nemenin aku ke sini. Tapi aku tunggu-tunggu, dia nggak dateng-dateng. Akhirnya aku ke sini sendiri, deh… Eh, ini dia orangnya datang,” Nala bercerita lantas memandang ke satu titik di belakang Andi.

Terdengar suara langkah cepat. Tasya muncul, sudah tak lagi berkostum Mpok Midah, wajahnya panik melihat Nala duduk di meja Andi.

“Nala! Ya ampun, kenapa kamu duduk di siniiii…,” katanya setengah mendesis setengah menegur. Ia lalu menoleh pada Andi, setengah membungkuk. “Maaf ya Mas Andi, mohon maklum. Anak baru.”

“It’s OK,” jawab Andi ringan. Nala mengerutkan dahi. “Lho, kenapa emangnya? Tadi semua meja penuh, cuma meja Mas Andi ini yang kosong.”

Tasya menyenggol bahunya. “Ayo, pindah ke meja sana. Yang deket colokan, lebih enak buat refill es teh.”

“Duh ini tanggung banget, aku lagi tengah-tengah makan. Mending kamu aja ikut duduk sini, yuk.”

“Biarin dia makan di sini. Gak apa-apa,” dukung Andi. 

“Jangan Mas. Kasihan Mas keganggu nanti. Nala, duduk di meja sana. Cepetan.” Tegas Tasya dengan nada seorang ibu kepada balita yang menolak tidur di jam 11 malam.

Nala berdecak dan mendengus, menuruti perintah Tasya secara ogah-ogahan. Ia mengemasi baki makannya. “Makasih ya Mas Andi,” katanya sambil tersenyum ramah.

Andi hanya mengangguk. Tak ada yang berubah di wajahnya. Tapi sendok garpunya tergeletak lebih lama dari biasanya.  

Bersambung ke Bab 2: Sebuah Misi

Ada komentar?

Previous Post

Eksplorasi konten lain dari (new) Mbot's HQ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca