Carmukker – Prolog

Published by

on


Pengantar

Setelah 20 tahun lebih berusaha menulis novel tapi cuma menghasilkan beberapa naskah mangkrak, Juli 2025 gue berhasil menyelesaikan novel pertama. Judulnya Carmukker: Gak Carmuk, Ya Gak Masuk. Latarnya tentu aja kehidupan kantoran, lingkungan yang gue paling kenal baik. Biar nggak salah dan nggak harus kebanyakan riset, gue buat juga bidang perusahaannya bank swasta, dan tokohnya kerja di divisi Marketing Communication – seperti gue.

Novel ini gue terbitkan online di karyakarsa.com deng harga 80 ribu. Tujuh bab pertama bisa dibaca gratis, karena harap maklum: ini novel pertama gue. Belum tentu bagus. Kalian baca dulu 7 bab pertamanya, kalau suka, baru lanjut beli.

Selamat membaca!


Cover novel Carmukker: Gak Carmuk, Ya Gak Masuk karya Agung "si mbot" Nugroho

REKAMAN INVESTIGASI Fraud Management Unit, Bank Danakencana

Pengakuan saksi mata terkait dugaan kasus: 

  • Penggelapan
  • Pembocoran data
  • Pelanggaran kode etik dan susila
  • Penyalahgunaan kekuasaan

Karyawan dalam pengawasan khusus: 

Anindito Adiningrat (40 tahun)

alias Andi 

alias The Golden Boy
NIK: 0000938

*****

Saksi 1: Yeni (HC)
Ibu-ibu beraroma bunga. 

“Yang saya tahu… beliau ini… agak gimana gitu, Pak. Katanya pernah berduaan sama perempuan di ruangan. Terus keluar, kelabakan, cari tisu… Maklum, beliau kan… (berbisik) …belum nikah.”

Saksi 2: Susanto (Retail)
Karyawan yang gespernya bisa mutar dua kali di pinggang.

“Andi itu ngira semua orang tolol, Pak. Kayak dia aja yang paling pinter. Saya dari dulu bilang sama dia, ngantor itu nggak bisa modal pinter doang. Harus bisa luwes, bisa menyapa, bisa… ya, berbagi, gitu lho.”

Saksi 3: Maya (staf senior)
Karyawati, ibu 1 anak. 

“Kalau ada orang di kantor ini yang paling tulus… saya akan bilang: Mas Andi. Kadang terlalu jujur, memang. Tapi justru itu yang bikin dia… susah hidup di tempat kayak gini.”

Saksi 4: Nabil (staf junior)
Anak muda berdagu maju.

“Mas Andi orang baik, Pak! Semua ini bullshit. BULLSHIT, Pak! Bapak kali yang fraud!”

Saksi 5: Slamet (karyawan Gelombang Cinta)
Berseragam biru motif gelombang, dengan bros hati di dada.

“Siang itu, saya nyaris dipaksa oleh Bapak yang satunya. Untung saya ditolong oleh Pak Andi.”

Saksi 6: Cholid (executive security Bank Danakencana)
Seperti satpam, tapi bersafari.

“Mohon maaf sebelumnya…  di tas Pak Andi, saya pernah temukan kertas bergambar wanita-wanita yang…. (memberikan gestur di depan dada)”

Saksi 7: Wawan (Penjaga Gerbang Parkir Danakencana Tower)
Sering double shift

“Pak Andi itu, begitu ada anak baru, cewek, cantik, huuuu…  tiap hari diajak makan siang di luar Pak! (berbisik) …mana kadang baliknya sore.”

Saksi 8: Mas-Mas Cyber Security
Berjaket gombrong

“Setiap hari, saya wajib selfie dua kali sama Pak Andi. Kalau enggak, saya nggak dikasih pulang. 

(hening sebentar) Ini fotonya semua ada di galeri saya. Mau lihat?” 


 

Prolog

Danakencana Tower lantai basement, parkir mobil, 23.14

Lift terbuka. Dari dalamnya muncul seorang pria bertubuh gempal, berjalan dengan bahu miring ke kiri digayuti ransel. Langkahnya pelan, sedikit tak seimbang. Diseret halus. Dari balik kacamata two-toned model klasik, pandangannya jatuh ke lantai. Bibirnya terkatup, dengan kedua ujung melorot. 

“Selamat malam Pak Andi, izin cek tas, Pak,” kata petugas berseragam safari. Ia adalah anggota executive security. Bukan satpam. Perbedaannya: seragamnya safari. 

Andi menyerahkan ransel tanpa bicara. Ditaruh di atas meja. Dibuka. Executive security memeriksa. 

Mengambil tumbler. Mengocoknya sedikit. Terdengar bunyi kecipak halus.

“Ini isinya apa, Pak?”

‘Pisang molen’ adalah jawaban yang ingin dilontarkan Andi. “Air,” adalah jawaban yang terdengar kemudian. 

“Air biasa ya Pak?” Andi mengangguk.

“Izin saya cek Pak.” Executive security membuka tutup tumbler. Mengintip isinya. Mengendus. Menutup lagi. Mengembalikan ke dalam ransel. Memotret. Menyodorkan formulir. “Silakan diisi, Pak Andi.”

Andi mengambil pulpen yang diikat kabel ke meja. Menulis. Menandatangani. 

Executive security mengecek. “Maaf Pak, ini ada yang belum dilaporkan di formulir.”

“Apaan?”

Executive security mencabut sesuatu dari tas Andi. Selembar brosur studio yoga. 

Itu, juga harus ditulis?”

“Iya, Pak. Semua isi tas Bapak.”

“Buang aja deh,” sahut Andi lemah. Wajahnya lelah.

“Tidak bisa Pak, soalnya sudah ditemukan di tas Bapak.”

Andi menghembuskan napas panjang. Menulis lagi di formulir. 

“Bapak ikut yoga?” tanya executive security . Matanya berpindah-pindah antara brosur bergambar wanita-wanita berkostum ketat dan lingkar pinggang Andi. 

Andi menoleh ke arahnya. Tidak menjawab, hanya menatap. 

Executive security berdehem lalu membetulkan kerah safarinya. “Eh, sama ini, Pak. Laptop ini kan harusnya dikembalikan ke lantai 7. Tapi ini masih ada di tas Bapak. Mohon Bapak kembalikan dulu ke lantai 7, tapi tasnya ditinggal di sini. Saya jagain.”

“Saya tadi udah ke lantai 7, tapi kosong. Mas-mas Cyber Security udah pulang.” 

“Oh kalau gitu, Bapak harus isi satu formulir lagi…” 


23.48

Andi menutup pintu mobilnya, lalu bersandar. Matanya terpejam. Nyaris 16 jam di kantor, tanpa kegiatan, rasanya jauh lebih capek daripada lembur seminggu.

Umurnya 40. Tanpa tim. Tanpa fungsi. Tanpa kepastian.

Setiap hari digeledah, diinterogasi, dicurigai.

Tapi juga nggak dibiarkan pergi. 

Andi menyalakan mesin. Mengarah ke gerbang parkir. Menyodorkan kartu parkir. 

“Biayanya 85 ribu, Pak.”

“Loh, kok bayar? Saya biasanya dapat fasilitas bebas parkir! Coba cek lagi.”

“Sebentar ya, Pak.” Petugas memeriksa. “Kartunya memang baru hari ini di-cancel, Pak. Bapak tidak dapat fasilitas bebas parkir lagi.”

Andi termenung. 

Tiga bulan sebelumnya, sama sekali tidak terbayangkan hidupnya akan jadi begini

Bersambung ke Bab 1: The Golden Boy

Ada komentar?

Eksplorasi konten lain dari (new) Mbot's HQ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca