Ada 2 (dari banyak) hal yang selama ini gue yakini kebenarannya, yaitu:
- Gue benci game dengan first person view. Bangsanya ‘Doom’, ‘Counter Strike’, ‘Medal of Honor’ dan sejenisnya buat gue sangat menyebalkan karena bikin pusing dan bikin gue merasa dibatasi sudut pandangnya.
- Gue nggak pernah takut sama segala jenis horror-horroran. Kalo nonton film horror gue malah lebih tertarik mengamati special effectnya ketimbang ngeri.
Ternyata game ini membuktikan sebaliknya.
Gara-gara postingan arddhe di sini, gue iseng nyoba main. Tadinya sempet ragu-ragu untuk daftar karena di persyaratan sebelum sign-up tertulis harus aktifkan webcam dan microphone – benda-benda ngggak tersedia di komputer gue. Tapi karena penasaran terus, akhirnya gue coba aja daftar dan ternyata bisa. Maksudnya bisa masuk untuk stage2 awal, tapi gue yakin di stage ke sekian pasti kedua benda itu dibutuhkan.
Ceritanya nggak pake banyak basa-basi, dengan sudut pandang orang pertama digambarkan kita terbangun di sebuah kamar hotel yang spooky banget karena denger suara-suara aneh dari koridor, dan sebagaimana yang lazim terjadi di film-film horror lainnya, tokoh kita dengan sok kerennya malah keluar ke koridor dan sejak itu mulai tertimpa kesialan-kesialan. Maksud gue, kalo seorang tamu hotel yang waras dan normal merasa terganggu dengan suara-suara dari koridor, kenapa nggak angkat telepon dan komplen ke resepsionis aja sih?!
Anyway, tokoh kita yang sok tau keluar kamar dan dia disergap oleh bayangan hitam mirip yang muncul di film Ju-On. Dan oh iya, perlu gue tekankan di sini bahwa tampilan grafis game ini adalah real-life movie, alias film betulan, bukan kartun atau animasi, dan gue bisa bilang bahwa mas-mas designernya sungguh amat sangat serius menggarap settingnya. Singkatnya, suasananya SPOOKY mampus, deh.
Kalo lo berhasil lolos dari sergapan kabut hantu, lo akan masuk ke sebuah kamar. Apakah di kamar ini tersedia welcome drink, pelayanan yang ramah dan handuk dingin? Tentu tidak. Ruangannya gelap gulita, dan tugas lo di sini bener-bener asik dan funky, yaitu memotret mukanya setan, close-up. Jadi yang muncul di layar adalah tangan si tokoh lagi megang kamera digital, dan setiap kali lo klik mouse, kamera itu mengambil gambar dengan menyalakan flash. Ini sama aja kayak lo dapet tugas ngambil sampel kentut gajah: lo ingin berhasil menunaikan tugas, tapi pada saat yang bersamaan juga nggak terlalu antusias untuk mengetahui seperti apa hasil akhirnya.
Setelah berhasil motret muka setan, lo harus lari lagi dari kejaran kabut gelap, dan berikutnya ujug-ujug lo sampe di kamar yang ada tempat tidur bayinya. Tugas lo nyetelin lagu biar bayi itu tetap tidur nyenyak. Emang kenapa kalo dia bangun? Soalnya kalo sampe bangun ternyata tu bayi BERTARING. Huanjreeett… gue kaget banget waktu muka tu bayi tiba-tiba menuhi layar komputer aja gitu. Bulu-bulu di punggung gue sampe berdiri semua, padahal selama ini gue kira punggung gue nggak berbulu. Seandainya gue kucing mungkin buntut gue udah bengkak jadi segede kemoceng saking kagetnya.
Gue mentok di stage di mana kita harus mengklik foto kita sendiri untuk lolos dari situ. Mungkin itulah maksudnya dia minta pemainnya pasang webcam kali ye. Singkat kata, game ini bener-bener anjrit, kurang ajar, sialan, bikin gue melek di tengah malam buta padahal besok udah bercita-cita bangun pagi, game kampret, nggak mendidik, meresahkan masyarakat, tapi bikin penasaran terus. Kurang ajarnya lagi, game ini hanya bisa dimainkan jam 6 sore sampe jam 6 pagi. Jadi lo mau nggak mau harus main game ini saat suasana udah gelap. Laknat, memang.
Buat yang koneksi internetnya dial-up, atau pake batas kuota bandwith, gue sarankan jangan main game ini karena akan bikin tagihan internet lo “kurang sadar krisis”.
Demikian review kali ini, dan sekarang gue harus cari akal gimana caranya bisa tidur nyenyak dengan bayangan setan-setan sialan tadi terus bergentayangan di kepala.

Tinggalkan Balasan ke uyung95 Batalkan balasan