Setelah mengintrospeksi diri, pikir-pikir gue ini memang tipe penonton film yang recet. Kalo nonton film, bukannya anteng menikmati suguhan cerita, tapi malah sibuk nanya-nanya sama diri sendiri, “kenapa ini gini, bukannya gitu?” “kenapa tokoh itu melakukan hal itu, kenapa nggak gini aja yang lebih gampang?” “kenapa dia lari ke sana, bukannya lari ke sini?” etc etc. Contoh paling aktual dan paling kontras untuk menjelaskan maksud gue: film “Kejar Jakarta”. Review (baca: keprihatinan) gue bisa diklik di sini.
Biasanya, yang namanya film selalu ada aja celah untuk dipertanyakan. Dan kalo berhasil nemu celah kaya gini, rasanya campuran antara puas tapi rada kesel juga. Puas karena nemu celah untuk dicela, tapi juga kesel kenapa si pembuat film segitu teledornya membiarkan celah tersebut ada.
Tapi lain ceritanya untuk film Flightplan ini. Seakan bisa baca pikiran gue, justru para tokoh di dalamnya yang melontarkan pertanyaan2 recet itu, yang (hampir) semuanya bisa dijawab secara masuk akal! Bingung? Baca terus, nanti gue jelasin belakangan.
Ceritanya sederhana aja: Kyle Pratt (Jodie Foster) adalah seorang insinyur pesawat yang tinggal di Berlin. Suaminya baru meninggal, jadi sekarang dia dan Julia (Marlene Lawston), anaknya yang berumur 6 tahun, mau bawa peti jenazah suaminya pulang ke Amerika. Waktu pesawat udah terbang, Kyle ketiduran, dan pas bangun tiba-tiba anaknya udah ilang. Maka paniklah dia ngubek-ubek seisi pesawat nyariin anaknya.
Tentang jalan ceritanya, gue cuma berani kasih bocoran segitu aja. Film ini adalah tipe film yang bikin penonton, khususnya tipe yang sok tau kayak gue, terus nebak-nebak kelanjutan cerita. Bocoran sedikiiit… aja, akan merusak segalanya. Yang jelas, seperti gue bilang di atas, hampir semua pertanyaan penonton terjawab. Mulai dari pertanyaan yang paling mendasar deh: Kok bisa ada anak ilang di pesawat? Emang pesawatnya segede apa sih?
Sutradara asal Jerman Robert Schwentke menjawab pertanyaan tersebut tanpa banyak cing-cong: kamera bergerak maju-mundur, naik-turun, ke seantero pesawat. Tanpa harus dibilangin otomatis penonton akan ngebatin, “gile… tu pesawat gede amat yak!” FYI, pesawat yang dipake di film ini adalah pesawat fiktif, model AALTO Air E 474 (perhatiin nomer serinya, plesetan dari Boeing 747 gitu, hehehe..). Pesawat berkapasitas 800 penumpang ini punya 2 lantai, ada barnya segala. Jadi sangat logis kalo sampe ada anak 6 tahun nyelip di sini.
Begitulah, pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dan film ini dengan cerdasnya ngasih jawaban yang “ya ampuuun…. jadi ternyata….”. Jodie Foster seperti biasa berakting bagus banget. Gerak-geriknya seolah ngasih contoh: begini lho, caranya berakting yang baik dan benar… Memang nggak salah juri Oscar pernah ngasih piala sampe dua biji buat dia (maaf, sama sekali nggak bermaksud merujuk ke kasus FFI lhooo…). Marlene Lawston yang berperan jadi si anak ilang juga bagus. Penggunaan kameranya efisien banget: bener-bener berfungsi memperkuat cerita sehingga bisa menjelaskan banyak hal secara non-verbal. Walaupun sebagian besar setting filmnya cuma mondar-mandir di dalam interior pesawat, sama sekali nggak ngebosenin untuk ditonton. Pokoknya, ni film bagus banget deh! Sejak ngeliat trailernya, gue juga udah langsung tertarik sama film ini, tapi ada aja halangan ini-itu sehingga akhirnya hari gini baru nonton, itupun di DVD.
Sayangnya, film ini apes kebagian tanggal edar hanya sebulan dari Red Eye, filmnya Wes Craven yang juga bertema pesawat. Mungkin itu yang bikin penonton jadi nggak terlalu terkesan. Gue sendiri kebetulan nonton Flightplan sehari setelah Red Eye. Akibatnya, yang tadinya gue ngasih penilaian ‘lumayan’ buat Red Eye langsung berubah pikiran: Red Eye jadi terasa basiiiii… banget! Untungnya film ini masih bisa bertahan 7 minggu di Top 10 Box Office Amerika, dan menghasilkan lebih dari US$ 190 juta – sangat cukup untuk nutup ongkos produksi yang ‘cuma’ US$ 55 juta.
Kesimpulannya: film ini SANGAT layak tonton. Pesan gue bagi para penonton sok tau: silakan coba tebak alur ceritanya, ayo kerahkan segala kemampuan kalian, pasti pada kecele semua deh!
Referensi:
- Data tentang AALTO Air E474 dari official website Flightplan
- Flightplan di IMDB.com
- Data box-office dari The-Numbers.com

Ada komentar?