Sinopsis:
Film ini dibuka dengan adegan yang memancing rasa penasaran penonton: Ujang (diperankan Daan Aria) berlari di tengah kegelapan, sambil diuber oleh beberapa orang di belakangnya. Habis itu alur bergerak mundur, menceritakan awal kisah di 3 minggu sebelumnya.
Ujang datang dari kampungnya, Cibatu, ke Jakarta, untuk menyusul Dadang (diperankan Iyang Darmawan, 40 thn) yang katanya udah hidup sukses. Kenyataannya, Dadang sebenarnya hidup susah di daerah kumuh. Tetangganya pun aneh-aneh. Ada seorang bapak yang entah kenapa selalu latihan tai-chi siang malam. Juga ada seorang perempuan yang entah kenapa selalu berteriak-teriak menyanyikan lagu Peter Pan sambil memegang gagang sapu. Dan ada Mak Tiur, pedagang warung nasi (diperankan Tika Panggabean) yang entah kenapa berkawat gigi.
Cuplikan dialog Ujang saat berpamitan mau cabut dari warung Mak Tiur:
“Saya pulang dulu ya, mangga…”
“Ah, mangga aku sudah habis…!”
[Rasa pedih yang ditimbulkan adegan tersebut setara dengan pedihnya nonton juara dunia kita Ellyas Pical dipukul KO oleh petinju Thailand Khaosai Galaxy tahun 1987.]
Dadang dililit hutang, dan dikejar-kejar debt-collector sangar. Entah kenapa dia nggak pindah aja ke perkampungan kumuh lain. Di bawah ancaman debt-collector, Dadang berjanji akan melunasi hutangnya besok, tanggal 7.
Untuk menyambung hidup, Dadang dan Ujang bekerja sebagai polisi-cepek dan demonstran bayaran. Sampai akhirnya debt-collector datang lagi, dan memukuli Dadang. Entah kenapa, saat itu kalender di dinding menunjukkan tanggal 4. Mungkin itu angka hoki dari digit depan umur Iszur Muchtar, pemeran tokoh Dewo, pada bulan Mei 2006 nanti. Dewo adalah penjahat pembobol bank yang bisa ditemui Dadang dan Ujang gara-gara mereka berlindung di dalam mobil Dewi (diperankan Wulan Guritno), istri Dewo, dari kejaran para debt-collector.
Kebetulan sekali, hari itu Dewo sedang menunggu kedatangan 2 orang calon direktur untuk direkrut ke dalam perusahaan fiktifnya. Entah kenapa Dewo percaya saat Dadang dan Ujang muncul dan mengaku sebagai kedua calon direktur tersebut. Entah kenapa Dewo memutuskan untuk merekrut keduanya. Entah kenapa dua calon direktur yang asli nggak muncul menemui Dewo lantas membongkar kedok Dadang dan Ujang.
Dewo memanfaatkan Dadang dan Ujang untuk membobol bank. Adapun cara membobol bank menurut duo-dinamik Bayu dan Chandra (sutradara, merangkap penggagas cerita, merangkap penulis skenario, pokoknya juragan-lah) adalah:
- Datang ke bank yang hendak dibobol
- Menemui ‘orang dalam’
- Tanda tangan akte kredit
- Bawa pulang uang satu travel bag.
Ah… seandainya para penjahat yang berhasil membobol bank hingga triliunan rupiah menggunakan cara seperti ini, pasti mereka semua lebih mudah ditangkap karena susah berjalan akibat terserang hernia akut.
Memang sih, yang namanya film pasti ada unsur penyederhanaan biar semua penonton ngerti apa yang sedang terjadi di layar. Dan pembobolan bank, memang sesuatu yang cukup sulit untuk digambarkan. Tapi kalo sulit, kenapa harus memilih pembobolan bank sebagai bentuk kriminalitas Dewo? Kenapa nggak kejahatan bentuk lain aja, yang lebih ‘visual’ dan mudah dimengerti? Bikin bakso tikus, misalnya ? Atau jualan tahu berformalin? Atau nipu para calon TKW? Atau terlibat pembuatan film jelek yang membahayakan kecerdasan bangsa karena bisa bikin IQ penontonnya turun 15 point?
Di lain kesempatan, Ujang berkenalan dengan Dewi di diskotik. Entah kenapa Dewi giras melihat Ujang, lantas berniat memperalatnya sebagai sarana manas2in agar Dewo cemburu.
Cuplikan adegan di diskotik:
Ujang nampak pusing mendengar musik di diskotik yang berisik. Seseorang menghampiri dan bertanya, “Kamu oke?”
“Bukan, saya Ujang.”
Bartender juga bertanya, “Kamu oke?”
“Bukan, saya Ujang,” jawab Ujang lagi. Akhirnya Ujang menemui DJ dan bertanya, “Kamu oke?”
“Ya, saya oke!” jawab DJ.
Mendengar jawaban DJ, Ujang menghentikan lagu, mengambil mike, dan mengumumkan, “Saudara-saudara, dia ini lho yang namanya Oke…!”
[Pedihnya nonton adegan ini sepedih nonton Liem Swie King yang waktu itu udah ketuaan dan kelelahan mencuri waktu dengan sok-sok ganti sepatu dan kaos kaki di tengah pertandingan Piala Thomas 1988.]
Awalnya Ujang menolak, tapi akhirnya mau juga setelah Dewi mengancam akan membocorkan identitas gadungan Dadang dan Ujang kepada Dewo. Dewi dan Ujang makan malam, dan entah kenapa Ujang memilih wig keriting mirip Edi Brokoli plus kaca mata sebagai alat penyamaran. Juga entah kenapa Dewi nggak ilfeel dan memutuskan untuk pulang aja saat melihat penampilan Ujang malam itu.
Singkat cerita, aksi ‘pembobolan bank’ Dewo mulai terendus polisi. ‘Orang dalam’ di bank sudah ditangkap, dan sekarang giliran Dadang dan Ujang jadi buronan. Entah kenapa Dadang dan Ujang masih memegang tas berisi uang, padahal kemarin baru aja mereka menyetorkan hasil ‘pembobolan bank’ kepada boss Dewo. Dadang dan Ujang dikejar-kejar oleh para tukang kepruk suruhan Dewo, antara lain diperankan oleh Joehana (38 tahun). Saat berusaha melarikan diri, Dadang dan Ujang secara tidak sengaja ditabrak oleh sebuah mobil hitam yang lagi ditumpangi oleh…. yak benar, oleh Dewi, istri Dewo (bagi yang menonton adegan ini di VCD, gue persilakan pencet tombol pause dan keluar sebentar untuk garuk2 aspal. Ini merupakan reaksi yang sangat wajar dan manusiawi. Sebenarnya gue ingin melakukan hal yang sama, sayang nontonnya di bioskop). Keliatannya tokoh Dadang dan Ujang ini punya sejenis kemampuan navigasi seperti burung merpati; tiap kali terancam bahaya, mereka selalu mampu menemukan lokasi mobil Dewi.
Keadaan sedikit bertambah runyam karena Neng, pacar Ujang yang menyusul ke Jakarta ditangkap oleh penjahat suruhan Dewo. Tapi untunglah semuanya beres berkat kerja sama Dadang, Ujang, dan Dewi serta kehadiran para polisi tepat pada waktunya.
Komentar:
Konon film ini tadinya mau dibuat sebagai propaganda anti-urbanisasi oleh Pemda DKI. Seperti dituturkan Bayu Sampurno,
Nampaknya Dewi Fortuna masih berpihak kepada Pemda DKI, sehingga mereka selamat, dan nggak terseret lebih jauh dalam pembuatan film ini. Luar biasa, bahkan Pemda DKI pun masih memiliki cukup akal sehat untuk mengambil keputusan yang bijak. Mungkin mereka kuatir juga, apa jadinya film propaganda anti-urbanisasi yang diperankan oleh sekelompok artis Bandung yang sukses di Jakarta?
Lain halnya dengan duo Bayu dan Chandra. Mereka pantang menyerah hingga akhirnya selesailah film berbudget 1.8 miliar ini.
“Film ini bukan film plesetan atau komedi, tapi drama komedi,” demikian kata Denny Chandra, personil Project P. Padahal, menurut gue, film ini justru lebih cocok disebut film misteri, saking banyaknya pertanyaan yang gak terjawab hingga akhir film.
Misalnya,
…kenapa Project P, group komedi yang akhir-akhir ini udah hidup tenang dan mapan menyambut hari tua bersama anak-istri, mau membuang waktu 28 hari untuk membuat film ini?
…kenapa kamera gemar sekali menyorot gambar orang dari samping atau belakang?
…kenapa suaranya hilang-timbul?
…kenapa sekalipun udah menurunkan standar ekspektasi serendah m
ungkin, tetep aja gue merasa bahwa film ini jelek? Eh maaf, maksud gue, jelek sekali?
…kenapa walaupun udah pake 2 sutradara (Bayu Sampurno dan Chandra Endroputro) hasilnya masih aja seperti ini?
dan misteri yang paling besar adalah:
…kenapa Bayu dan Chandra bisa merasa diri mereka lebih lucu dari Project P?
[Kutipan wawancara dengan Chandra Endroputro di official website Kejar Jakarta]
“pada saat reading, saya mencoba menangkap gaya mereka. Saya biarkan mereka berimprovisasi sebebas mungkin, asal tidak melenceng dari naskah dan tidak terseret ke gaya parodi khas Project-P. Kalau tidak lucu, saya marahi.” ujarnya sambil tertawa.
Akhir kata, gue merekomendasikan film ini untuk ditonton para produser dan sutradara film Bangsal 13, Mirror, dan Cinta Silver.
Paling enggak, mereka masih bisa bersyukur karena saat ini bisa dipastikan bahwa film mereka bukan yang terjelek sepanjang sejarah perfilman Indonesia.
referensi dan gambar:
- Official website Project-P
- Official website Kejar Jakarta
- Liputan dari Kapanlagi.com
- Piala Thomas dari Wikipedia
- Ellyas Pical dari Wikipedia

Tinggalkan Balasan ke mbot Batalkan balasan