catatan pilkada: poligami yang kontra demokrasi

Hari ini ada berita gembira dari Ira sang prajurit kecil. Ceritanya, beberapa hari yang lalu Ira pesen risol kribo untuk suguhan para wartawan. Waktu itu kami berpesan kepada Ira, “Kalo bisa, fotoin Pak Adang / Pak Dani makan risol kribo dong…” Bukan apa-apa, kan bangga aja gitu, kalo risol dagangan kami sempet dicicipi orang-orang penting seperti Cagub /Cawagub DKI, hehehehe… Tapi sebagaimana ditulis Ira di postingnya yang ini, sayang sekali risol kribonya keburu ludes disikat tim kepanduan sebelum sempat sampai ke tangan Pak Adang maupun Pak Dani. Padahal konon Pak Dani adalah penggemar risol.

Makanya berita yang dikirimkan Ira hari ini adalah berita gembira, yaitu dia mau pesen risol kribo lagi untuk dikirimkan khusus buat Pak Dani. Langsung aja gue menawarkan diri untuk mengantarkan risol-risol tersebut. Toh rumah Pak Dani di jalan Kebon Pala nggak terlalu jauh dari rumah gue. Sengaja gue desain kotak khusus dengan tulisan RISOL KRIBO 5 kali lipat lebih gede dari biasanya supaya kalo difoto kelihatan, hehehehe…

Jam setengah 9 teng, dengan penuh semangat gue menggenjot sepeda menuju rumah Pak Dani. Nggak lupa kamera juga tersimpan di ransel. Ira udah menghubungi rumah Pak Dani untuk menitipkan pesan bahwa akan datang seorang tukang risol yang bermaksud minta berfoto bareng Pak Dani.

Jam 9 kurang gue berhasil menemukan rumah Pak Dani. Waduh, rame banget! Di terasnya penuh dengan wartawan aneka media. Terlihat seorang mas-mas baru menyuguhkan teh buat para wartawan. Dengan asumsi si mas ini adalah bagian dari tim Pak Dani, maka sekotak risol gue serahkan padanya. Dia masuk ke dalam sebentar, trus keluar lagi.
“Kuenya sudah diserahkan ya mas?” tanya gue.
“Sudah, terima kasih” katanya.

Gue sempet bimbang. Trus, gimana caranya gue minta foto bareng dengan Pak Dani? Kamera gue keluarin dari ransel, trus gue pikir-pikir lagi. Dengan segini banyak wartawan ada di depan rumah, dan Pak Dani ‘ngumpet’ di dalem, kemungkinan besar beliau sedang nggak ingin ditanya-tanya wartawan. Masa gara-gara seorang tukang risol mau minta foto bareng dia harus keluar dari persembunyian dan beresiko diserbu wartawan? Jadi… ya sudahlah, mungkin memang belum rejekinya gue berfoto bareng Pak Dani. Maka gue putuskan untuk pulang aja lagi.

Sesampainya di rumah, Ida mengabarkan bahwa Ira baru aja kirim SMS, ngomel2in ajudan Pak Dani yang kurang kooperatif memberikan kesempatan berfoto bareng bagi si tukang risol ini. Hehehe… nggak papa Ra, mungkin kapan-kapan kalo Pak Dani mau pesen risol lagi ya?

Nggak lama kemudian, datang kakak gue yang mau mengantar ibu untuk mencoblos di TPS. Gue ikut juga sekalian. Gue dan Ibu kebagian TPS no 18 di Taman Suropati, yang kebetulan juga jadi TPS-nya sejumlah pejabat dan mantan pejabat seperti Mantan Wapres Try Sutrisno dan Gubernur Sutiyoso. Nggak heran kalo ada banyak wartawan mangkal di TPS ini.

Berhubung sebelum sakit Ibu pernah menjabat sebagai ketua RT selama lebih dari 20 tahun, maka nggak heran kalo pas tiba di lokasi TPS banyak orang yang menyambut dan menyalami, mulai dari Hansip sampe Pak RW. Ngeliat orang-orang pada rame menyalami Ibu, rupanya para wartawan jadi salah sangka. Dikiranya Ibu gue mantan pejabat juga kali. Maka langsung aja puluhan moncong kamera foto dan televisi merekam gerak-gerik Ibu yang gue dorong di atas kursi roda: mulai dari datang, mendaftar, sampai memasukkan kertas suara. Hehehe… kasian deh pada kecele πŸ™‚

Berhubung TPSnya sepi (banget), proses pencoblosan berjalan lancar tanpa ngantri. Abis nyoblos, gue kembali pulang dan meneruskan ngeMPi.

Trus, apa hubungannya dengan judul posting ini?

Oh iya, hampir lupa.

Beberapa hari sebelum pelaksanaan Pilkada, gue mendengar sebuah kabar yang lucu namun agak mengenaskan: seorang Ketua RW di sebuah pelosok Jakarta senewen karena ada sebuah RT di wilayahnya yang proses pendataan pemilihnya terbengkalai. Udah deket ke Hri H belum ada laporan pendataan ulang calon pemilih di RT tersebut. Pak RW mencoba menghubungi Ketua RT yang bersangkutan, tapi HP-nya selalu non-aktif. Ditelepon ke rumah nggak pernah ada yang angkat. Sampe akhirnya pada suatu Pak RW berhasil tersambung ke anaknya Pak RT dan mendengar jawaban mengejutkan,
“Pak RW, papah sekarang udah nggak tinggal di sini lagi. Papah kawin lagi, terus pergi dari rumah. Sekarang Papah tinggal di rumah istri baru. Kami serumah nggak ada yang tau di mana alamatnya. Nomor teleponnya yang baru juga nggak tau. Harap maklum.”

Ealah Pak RT… Pak RT… mbok ya kalo mau poligami jangan sampe menghambat proses demokrasi dong…

Foto: kelingking gue setelah pencoblosan

27 comments


  1. mbot said: Sengaja gue desain kotak khusus dengan tulisan RISOL KRIBO 5 kali lipat lebih gede dari biasanya

    ck…ck….ck niat benerrrrrrrrrrrrrrrrrr………………………….. hahahahahahahahaha


  2. ladydhy said: hahaha aku kirain juga jari telunjuk loh!! :p

    iya, kok mirip jari telunjuk kanan ya, padahal kelingking kiri… itu secara kelingkingnya yg seukuran telunjuk apa secara mata kita yg kudu periksa di optik lagi ya? :p


  3. Wuiiiiiiiiiiiiiiiih, hampir aja ya Mas photo sama cagub, ck ck ck!Mas gagal ketemu cagub, malah ibu Mas dikira pejabat dan jadi sasaran jepret kuli tinta, hebaaaaaaaaat :-DRisol Kribonya, insyaAllah keknya bakal dipesan beliau lagi Mas πŸ™‚