Tidak Pernah Berhenti Menjadi Lebih Baik

Polda Metropolitan Jakarta baru meluncurkan buku berjudul “Tidak Pernah Berhenti Menjadi Lebih Baik” yang menggambarkan pengabdian polisi yang selalu berusaha untuk melayani masyarakat secara lebih baik.







……………………yeah, right.

(gambar bukan berasal dari buku tsb)

18 comments


  1. mbot said: tadinya mau gue masukin sebagai “humor”, sayang nggak ada pilihan tsb.

    udah liat reviewnya nicelovelydentist?harganya ce-pek ceng..!bener-bener termasuk humor kayaknya.wong mestinya dibagikan gratis sebagai bentuk pelayanan (informasi) ke masyarakat.memang wutul-wutul lutju, sayang susah dibuat nyengir.. πŸ˜‰


  2. mbot said: whuuaa… posting gue yang ini urpanya mengundang komentar2 “seru”… tapi jangan sampe ada yang pundung ya…

    saya cuma tertarik sama pemasukkan genrenya..kok jadi science fiction & fantasy?kayaknya lebih ke arah mythology deh..:)


  3. ah, gak boleh comment banyak banyak deh… tuh khan kelakuan setiap orang tuh ada sebab sebabnya sendiri sendiri…(salah satunya: psychotic)khan banyak juga psychotic people tuh… gak cuman ada di cerita film film (house of wax) ato cerita cerita fiksi (lord of the flies)… tapi mereka bener bener terjadi, maybe just next-door?? or are you the next turning- psycho??” fiction reflects reality “


  4. kalo yg begituan sih oknum. yah mau gimana lagi *angkat bahu* dimana mana juga ada. gak hanya polisi, gak hanya di indonesia. πŸ™‚ . guru guru juga gajinya kecil, gak pernah nempelengin muridnya, kalo ada kan oknum juga * apple to apple gak yah* huahahahhahahaha


  5. mbot said: tapi jangan sampe ada yang pundung ya…

    gue salut ama individu yang menyediakan diri menjadi bagian dari seluruh jajaran angkatan bersenjata republik indonesia & polri sebagai pengemban amanat & pembela rakyat & negara, seluruh jempol kuberikan kalau perlu kupinjam jempol siapapun yang rela meminjamkan…tapi kalo mengesahkan diri untuk melakukan hal-hal seperti gambar diatas, i don’t think so... bukan itu kan tujuan menjadi seorang guardian…..


  6. tianarief said: di kepala kan ada otak. anda-anda punya nggak?

    mungkin ‘karna gak punya jadi merasa ‘membolekan diri’ menaruh kaki diatas kepala orang2 yang punya… mas…. ehehheheh ehheheh ehehhe…*maap yak yang merasa, jangan tersinggung…. cuma celoteh gak guna… tapi menurut gue sih guna juga dikit…namanya juga curhat… :p*


  7. mbot said: yeah, right.

    o yeah? πŸ˜› (lihat foto itu, jadi inget bentrokan polisi dg para demonstran). terlepas dari sebab musabab konflik warga sipil-polisi, ya mbok para polisi itu jangan menangani para demonstran, dengan pukulan di kepala. pake benda keras, lagi (pentungan). di kepala kan ada otak. anda-anda punya nggak?


  8. wib711 said: mereka juga Manusia yang bisa cape..& emosi menunggu demo berhari-hari cuma dengan tambahan uang makan 2.500 perhari..

    apa ini alasan untuk mengesahkan perlakuan kaki untuk ditaruh di kepala orang?berarti… para pemulung yang berhari2 nda makan & nda dapat duit bole emosi yang serupa?


  9. srisariningdiyah said: gilingan gambarnye…. πŸ™

    diluar Gue sbg KBP… cuma mau bilang… mereka juga Manusia yang bisa cape..& emosi menunggu demo berhari-hari cuma dengan tambahan uang makan 2.500 perhari..